
Aaron mengambil sebotol air mineral yang masih disegel dari dalam kulkas lalu memberinya pada Marsha.
Marsha mengucapkan terima kasih lalu meminumnya. Pikirannya terus tertuju pada dinding sebelahnya.
Kenapa juga apartemen ini harus kedap suara. Dia tidak bisa mendengar sedikit saja suara dari sebelah.
"sudahlah, jangan gelisah begitu. Spanish tadi bilang dia sudah koordinasi dengan pihak kepolisian dan katanya kakak angkatmu akan datang kesini untuk membantu" jelas Aaron.
"kak Kevin ada disini ?" Marsha balik tanya.
Aaron mengangguk, "Spanish bilang begitu" katanya meyakinkan.
Marsha menghela nafas lega. Dia sangat butuh dukungan Kevin sekarang tentang langkah yang harus dia ambil. Dalam kepalanya sekarang hanyalah emosi, memakai cara kekerasan agar Parish bisa selamat. Selain Parish, hanya Kevin yang bisa menenangkan dan mengerti emosinya.
Bel apartemen Aaron berbunyi. Dengan segera tuan rumah membuka pintu.
Seorang cowok dengan setelan kerja berdiri diambang pintu.
"aku Kevin" kata tamu itu.
Aaron mengerti, ini kakak angkat Marsha yang tadi dibicarakan Spanish di telfon "silakan masuk" katanya memberi ruang sedikit agar tamunya bisa masuk.
Kevin masuk kedalam tapi dia tidak melihat Marsha, hanya ada cewek berkacamata yang duduk santai di sofa.
Apa dia salah masuk apartemen. Pikirnya.
Tapi nomornya betul, dia tidak mungkin salah mengingat kata-kata Spanish.
Marsha beranjak berdiri memeluk kakak angkatnya. Kevin berdiri canggung. Aaron hanya tertawa kecil, dia tahu apa yang dipikirkan oleh tamunya itu.
"dia Marsha kak" jelas Aaron tertawa kecil.
Kevin kaget, dia melepaskan pelukan Marsha "Spanish bilang kamu menyamar, tapi dia tidak bilang kalau samarannya begini" katanya menahan tawa seraya melihat Marsha dari atas sampai bawah.
"hmmm dia mengerjaiku kak" gerutu Marsha.
"tapi hasilnya bagus, tadi saja Rainy tidak mengenalimu dalam lift" balas Aaron.
"trus kenapa kamu belum ganti ?" tanya Kevin.
"aku mau kasih liat Parish" Marsha terkekeh.
"awas kamu bikin calon adik iparku jantungan" Kevin meninju dada Marsha pelan.
"Mars, Parish di balkon" kata Aaron seraya menunjuk dari balik tirai.
Marsha senang, dengan segera dia menuju balkon.
Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan rindunya, melihat sosok yang dia cintai berada di seberang.
Parish yang merasa ada yang memperhatikannya perlahan menoleh. Dia melihat ada sosok cantik berkacamata di balkon apartemen milik Aaron. Parish menoleh kebelakang, dia memastikan pintu kamarnya masih tertutup. Perlahan dia mendekat sedikit ke balkon Aaron.
"kamu siapa ?" tanyanya.
Cewek itu tersenyum tapi anehnya dengan mata berkaca-kaca seperti menahan tangis. Parish tidak mengerti.
"maaf, apa kamu pacar Aaron ?" tanya Parish penasaran.
"aku pacarmu" jawab cewek itu dengan suara asli Marsha.
Parish terperanjat kaget. Dia sangat mengenal suara itu.
"Dia Marsha Rish" Aaron datang dan membongkar penyamaran Marsha dengan membuka wignya.
"sayang.... kamu lebih cantik dari aku" puji Parish menahan tawanya.
"jangan menggodaku, ini ulah kakakmu" gerutu Marsha.
Kevin lalu muncul di balkon. Parish tersenyum senang.
"kakak ada disini ?" seru Parish.
"kakak khawatir sama kamu" kata Kevin.
Percakapan mereka terhenti setelah Parish menjauh. Parish mendengar suara kunci pintu yang terbuka.
Aaron, Kevin dan Marsha bersembunyi di balik tirai.
"kamu ikut aku sekarang !" Rainy menghampiri Parish di balkon.
"kita mau kemana ?" tanya Parish berusaha sekuat tenaga untuk tidak beranjak.
"kamu mau pulang kan ?! kita akan pulang" bentak Rainy.
"pulang... terima kasih Rainy, terima kasih" ucap Parish tulus.
"pulang untuk selama-lamanya" bentak Rainy dengan nada keras.
Parish kaget setengah mati.
Dibalik tirai Aaron, Kevin dan Marsha juga tampak kaget bercampur khawatir mendengar percakapan Parish dan Rainy.
"padahal dengan menjatuhkanmu dari sini saja itu gampang tapi aku tidak mau secepat itu. Aku akan membawamu pergi jauh dari sini" Rainy menyeret parish keluar kamar.
Sementara di apartemen Aaron ...
"kita cegah di pintu" seru Marsha, dia berlari keluar apartemen sebelum Kevin dan Aaron menangapinya.
"tahan Marsha, aku telfon Spanish" pinta Kevin pada Aaron.
Aaron mengangguk, dengan segera dia menyusul Marsha.
Terlambat ! Marsha mendapati Parish dan Rainy sudah masuk dalam lift. Rainy tersenyum sinis pada Marsha.
"sial !" Marsha lalu berlari menuju tangga darurat.
*
Rainy dengan kuat memegang tangan Parish. Dia semakin mempercepat langkahnya setelah mengetahui Marsha menemukan mereka.
"polisi ! berhenti nona Rainy"
Rainy terdiam. Dia merogoh kantong jaketnya, dia mengeluarkan pisau lipat "jangan mendekat, atau dia mati" katanya dengan ujung pisau tepat di leher Parish.
Parish ketakutan merasakan pisau tajam itu menyentuh lehernya.
"lepaskan adikku Rainy !" Spanish berusaha maju.
"jangan maju. Aku tidak main-main" Rainy semakin menekan pisaunya. Ada darah yang menempel disana sesaat setelah Parish meringis kesakitan.
Polisi dan Spanish mundur perlahan mengatur strategi. Bisa bahaya kalau mereka tetap nekat. Rainy bisa lebih menyakiti Parish.
Tiba-tiba sebuah mobil box menabrak kaca lobi apartemen, membubarkan kerumunan orang-orang yang mengelilingi Rainy dan Parish. Lalu dengan cepat mobil itu melaju, bersamaan dengan hilangnya Rainy dan Parish.
"ayo kita ikuti mereka" seru Kevin dengan bergegas keluar dan menuju mobilnya.
Marsha masuk kedalam mobil Kevin sementara Aaron masuk mobil Spanish.
(dalam mobil Kevin)
"aku yakin kak, itu pasti Rain" Marsha mengacak kasar rambutnya.
"iya, aku juga berpikir begitu. Sepertinya mereka menuju Edelweis... hubungi orang-orang kita, kontak terakhirku setelah Spanish" perintah Kevin dengan fokus mengemudi agar mobil box di depannya tidak menghilang dari jarak pandangnya.
"iya kak" dengan segera Marsha menuruti perintah Kevin.
(dalam mobil Spanish)
"padahal selangkah lagi kita bisa membawa Parish pulang" ucap Spanish lirih.
"Rainy tidak ingin Parish selamat, dia memilih melihat Parish mati" Aaron menjelaskan percakapan terakhir Rainy dan Parish di balkon.
"apa ?! kenapa Rainy bersikap seperti itu ? padahal dia dulunya sosok yang baik dengan wajah cantiknya" Spanish geleng kepala.
(dalam mobil box)
Parish melihat kanan kirinya dengan gelisah. Sebelah kanannya Rain sedang konsentrasi mengemudi sedangkan Rainy disebelah kirinya memegang erat tangannya seraya masih menodongkan pisau di lehernya.
"Untung saja aku cepat suruh kamu keluar, kalau kamu masih lama di dalam. Mungkin kamu sudah ditangkap dengan mudahnya" ujar Rain.
"aku juga kaget begitu melihat Marsha mengejar kami masuk lift. Bagaimana kamu tahu kalau kita sudah ketahuan ?" tanya Rainy.
"aku melihat beberapa orang aneh mengawasi apartemen. Dan tidak sengaja aku melihat mobil Spanish" jelas Rain.
"mereka tahu dari mana kalau Parish ada sama kita ?" tanya Rainy masih penasaran.
"sepertinya orang suruhan mereka berhasil menjalankan tugasnya" sahut Rain.
Parish lega dalam hati. Mereka tidak tahu tentang apartemen sebelah mereka.
"trus kita mau kemana ?" tanya Rainy.
"hutan, tapi kita harus bebas dulu dari kejaran mereka" kata Rain.
Rainy mengangguk setuju seraya menoleh kebelakang. Tampak sebuah mobil berada di belakang beberapa mobil setelah mereka, trus mobil Spanish di belakang mobil tersebut dan beberapa mobil patroli Polisi.
"kenapa kalian tidak melepaskan aku saja" Parish mengeluarkan suaranya.
"suruh dia diam Rainy ! aku tidak bisa fokus" pinta Rain.
"bisa diam ?! atau kamu mau lukamu tambah lebar" ancam Rainy.
Mendengar kata luka, Rain melirik kearah Parish. Dia melihat ada darah mengalir dari leher Parish "gila kamu Rainy ! aku tidak mau sampai dia terluka" bentaknya.
"alaaaa hanya luka kecil begini saja" sahut Rainy.
"obati sekarang kataku" balas Rain.
"pake apa ? kita dalam perjalanan Rain...."
"pake apa kek, yang penting darahnya berhenti. Awas kalau dia kenapa-napa !!" ancam Rain.
"iyaaa... sayang banget sih sama ini cewek" Rainy mencari sesuatu, dia mendapati kotak tisu dengan beberapa lembar isinya dalam laci mobil. Dengan segera dia menutup luka Parish dengan tisu. Setidaknya dengan begitu Rain tidak semakin marah sama dia karena sudah melukai orang yang dicintainya.
__ADS_1
"kamu tidak apa kan sayang ?" tanya Rain melirik Parish sekilas lalu fokus pada jalanan.
Parish tidak menjawab. Dia enggan untuk membahas apapun. Dalam hatinya hanya ada doa agar dia bisa segera bebas dari si kembar.
"jawab aku Rish !" bentak Rain.
"sudahlah... dia tidak apa. Kamu tidak usah tanya-tanya dia, cewek manja ini lagi ngambek" komen Rainy.
Parish hanya diam.
"kita menghilang di hutan itu, aku sudah meminta orang suruhanku untuk menunggu kita disana. Begitu mobil ini berhenti, langsung lari menuju arah utara nanti kita ketemu di rumah pohon dan disana ada rumah peristirahatan juga untuk keadaan darurat" perintah Rain.
Rainy mengangguk setuju, "trus cewek ini ikut siapa, aku malas lari dengan dia" katanya.
"Parish akan ikut aku" kata Rain.
*
"kak mereka melambat, apa mereka mau berhenti ?" kata Marsha.
"apa yang mereka rencanakan ?" komen Kevin tidak mengerti.
"entahlah kak" jawab Marsha.
Mobil box itu berhenti di tepi hutan. Marsha dan Kevin segera menepi dan bergegas turun. Mereka menghampiri mobil itu, kosong ! tidak ada siapa-siapa.
Marsha melayangkan tinjunya pada badan mobil. Dia kesal.
Mobil Spanish berhenti, Spanish dan Aaron turun dan menghampiri Marsha dan Kevin. Sama, mereka juga tampak kesal mendapati mobil itu kosong.
Para polisi yang bersama mereka dengan segera berlari masuk dalam hutan mencari Rain dan Rainy yang membawa Parish.
"Aku akan masuk hutan untuk mencarinya" sahut Marsha.
Kevin menarik lengannya, "kamu jangan sendirian, aku ikut"
"aku juga" sahut Spanish.
Kevin menggelengkan kepalanya, "kalian berdua berjaga disini, kalian susuri tepi hutan ini dengan mobil. Aaron, aku minta tolong bawa mobilku. Kita akan bertemu saat kami keluar hutan" Spanish dan Aaron setuju.
Kevin menepuk pundak Marsha. Mereka berdua masuk dalam hutan.
Spanish bergegas masuk mobilnya, dia mengikuti instruksi Kevin. Aaron juga melakukan hal yang sama, dia mengemudi mobil Kevin.
*
Di rumah Mc. Milan ...
Alex menutup telfon. Dia terlihat khawatir.
Ayah Mark dan mama Jade yang memeluk Venus memandang Alex penuh harap. Semua pekerja rumah Mc. Milan berkumpul di ruang keluarga, termasuk Rome dan Tobby yang menjaga gerbang.
"jelaskan Lex, ada apa ?" tanya ayah Mark.
"mobil Rain berhenti di tepi hutan. Mereka dicurigai melarikan diri masuk kedalam hutan. Tuan muda Spanish, Marsha dan yang lainnya mencari bersama para polisi. Orang-orang kita juga sedang melakukan pencarian" jelas Alex.
"Parish..." isak mama Jade. Venus memeluk mamanya erat.
"Aunty, siapkan makanan untuk mereka. Auncle, Rome, Tobby, dan Hazel kalian makan duluan lalu antarkan makanan pada mereka. Aku tidak mau mereka ikutan drop. Kalian bantu mereka disana" pinta ayah Mark.
"baik tuan besar" seru para pekerja rumah Mc. Milan. Mereka bergegas menuju belakang, melakukan apa yang dikatakan oleh tuannya.
"terus awasi perkembangannya Lex" pinta ayah Mark.
"baik tuan besar" jawab Alex.
*
Parish melihat kebelakang, tidak ada siapa-siapa. Dia berharap ada yang menemukannya. Langkahnya terseret, dia sudah mulai lelah tapi Rain terus memaksanya untuk berlari lalu berjalan lalu berlari lagi.
"Rain rumah pohonnya sudah dekat, orang-orang kita mana ?" tanya Rainy, dia tidak melihat siapa-siapa disana.
"mereka pasti bersembunyi atau ada di dalam rumah. Sudah cepat jalannya" perintah Rain.
Rainy berlari menuju rumah pohon itu. Sekarang dia berdiri tepat di bawahnya. Perlahan muncul sosok berbadan tegap dari balik rimbunan tanaman liar. Mereka tersenyum sinis. Rainy tersenyum senang. Orang suruhan mereka sudah berjaga dan menunggu.
"selamat sore nona Rainy, tuan Rain" sapa mereka.
"siapkan mobil, kita pergi dari sini" kata Rain.
"baik tuan"
Parish gelisah, mereka akan membawanya kemana ? Dia mencari celah untuk kabur.
Saat Rain melepaskan tangannya untuk mengatur nafas karena kelelahan, Parish mengamati sekitarnya dan perlahan mengatur rencana kabur.
Dia mundur perlahan dan berlari sekuat tenaga yang dia punya.
Rain kaget, "Parish !!!!! cepat kejar dia !!!!" perintahnya. Orang-orang suruhannya berlari mengejar Parish yang sudah menghilang masuk lebih jauh kedalam hutan.
*
"itu mereka kak !" bisik Marsha. Dia hanya melihat Rain, Rainy dan dua orang berbadan tegap. Tidak ada Parish disana.
"Parish kemana ?" tanya Kevin seraya memandang Marsha.
"jangan ! kita tidak tahu kekuatan mereka. Hubungi orang-orang kita. Kasih tahu kordinatnya" bisik Kevin.
Marsha meraih ponselnya, dia sudah menyalin nomor yang ada pada ponsel Kevin ke ponselnya "sial !! tidak ada sinyal !" gerutu Marsha.
Kevin menggelengkan kepalanya, "kita awasi mereka, kita tunggu sebentar. Kita tidak bisa sampai gelap disini, akan percuma tidak keliatan apa-apa" katanya.
"jadi apa yang harus kita lakukan, kita punya kesempatan sebelum gelap" sahut Marsha.
Beberapa orang berbadan tegap menghampiri Rain dan Rainy. Mereka tidak menemukannya. Rain memukul batang pohon tempatnya bersandar dengan keras. Kenapa rencananya kacau. Selangkah lagi dia akan hidup bersama Parish keluar negeri. Menjauh dari semua orang yang mengenalnya.
Marsha dan Kevin yang mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan mendadak saling pandang dan khawatir. Parish kabur dan dia sendirian dalam hutan. Rain menyuruh Rainy pergi dengan orang suruhannya. Sementara dia akan mencari Parish sampai ketemu. Parish adalah obsesi terbesarnya, dia tidak akan melepaskan Parish begitu saja.
Rainy tampak menepuk pundak Rain lalu beranjak pergi.
Marsha dan Kevin saling memberi kode. Mereka mengendap mengikuti Rainy. Setidaknya mereka bisa menggunakan Rainy untuk mengancam Rain nanti agar bisa mendapatkan Parish lagi.
*
Sementara di tepi jalan besar, Spanish dan Aaron serta beberapa polisi berkumpul. Mereka mengatur rencana, karena tidak memungkinkan menemukan mereka dalam kegelapan hutan. Mereka harus menunggu di tepi jalan sampai mereka keluar.
Auncle Tom, Rome, Tobby dan Hazel datang menghampiri tuan muda mereka. Spanish menggelengkan kepalanya kearah auncle Tom.
"kami diminta tuan besar datang membantu" ucap auncle Tom.
"terima kasih auncle, mereka dalam hutan dan ini sudah mulai gelap. Bagaimana bisa menemukan mereka" ucap Spanish lirih.
"izinkan aku masuk kedalam tuan muda. Aku punya pengalaman menyusuri hutan RedRose. Aku yakin aku bisa menaklukan gelap" sahut Hazel.
"berbahaya Hazel, kita tidak tahu kekuatan mereka. Bisa saja mereka nekat melukai kita" sahut Spanish.
"biarkan kami masuk tuan muda" sahut Rome disertai anggukan Tobby.
Auncle Tom mengangguk pada Spanish. Akhirnya Spanish mengangguk setuju. Rome, Tobby dan Hazel masuk kedalam hutan. Spanish berdoa semoga mereka berhati-hati dan membawa Parish dengan selamat.
*
Parish bersembunyi dalam tumbuhan liar. Dia merasa orang suruhan Rain masih berada disekitarnya. Sebentar lagi gelap, Parish mulai merasa takut. Apa yang harus dia lakukan sekarang.
Aku akan baik-baik saja, aku tidak boleh lemah. Pikir Parish.
Pelan-pelan dia beranjak. Dia harus menuju arah timur agar bisa sampai ke jalan raya.
"kamu mau kemana sayang ?" Parish terperanjat kaget.
Rain berdiri dibelakangnya saat dia hendak keluar dari tanaman rambat itu.
Dengan paksa Rain menarik tangannya.
"lepaskan aku !" Parish meronta tapi pegangan Rain semakin kuat.
"diam ! atau aku akan menyakitimu. Jangan memancing amarahku Rish. Aku mencintaimu tapi kalau kamu tidak menurut, aku bisa kasar" bentak Rain.
Parish terdiam. Rain membawa Parish menuju rumah peristirahatan dekat rumah pohon. Orang-orang suruhan Rain berjaga di luar rumah.
"kamu cantik sayang" Rain mendekatkan wajahnya pada wajah Parish.
Parish membuang mukanya. Dia benci dengan perlakuan Rain.
"tadinya aku mau secepatnya bawa kamu keluar negeri agar kita bisa hidup berdua tapi polisi memblokir akses keluarku. Jadi kita akan menunggu gelap lalu menuju danau menunggu jemputan kita" jelas Rain.
"aku tidak mau ! aku mau pulang Rain" Parish mulai terisak.
Rain menghapus air mata Parish dengan kasar, "seandainya air mata ini untukku, tapi tidak ! aku membencinya. Ini bukan untukku" katanya.
"salah aku apa sama kamu Rain, kenapa kamu jahat sama aku" ucap Parish dalam isak tangisnya.
"salah kamu cuma satu, kamu buat aku jatuh cinta. Aku tergila-gila sama kamu" katanya mengelus rambut Parish.
"aku tidak mencintaimu" balas Parish.
"aku akan buat kamu cinta sama aku" Rain mendorong Parish ke sofa.
Parish merasakan sakit disekitar pinggangnya karena Rain mendorongnya kasar. Rain mendekatkan wajahnya, dia mencium bi*** Parish dengan paksa. Parish meronta, sekuat tenaga dia mendorong tubuh Rain tapi tenaga Rain terlalu kuat. Rain menindih tubuh Parish dan memegang kedua tangannya. Dia menciumi Parish dengan kasar. Parish menutup matanya, air matanya menetes, dia berteriak memohon pada Rain tapi Rain tidak memperdulikannya. Semakin Parish bersuara, semakin Rain membabi buta. Rain menekan kakinya agar tidak bisa meronta. Rain dengan leluasa menjamah seluruh tubuh Parish dengan cium** liarnya. Parish berteriak, tapi percuma tidak ada yang menolongnya.
"nona Parish.... kami datang nona... tenang" terdengar teriakan dari luar.
Parish mengenal suara itu, itu suara Hazel "kak Hazel tolong akuuuuuuu... !!!!!"
Parish mendengar suara perkelahian diluar, dia khawatir. Apa Hazel sendirian melawan orang-orang berbadan tegap itu. Tapi tadi dia bilang kami ? apa keluarganya sudah menemukannya ? Semoga saja mereka tidak terluka. Pintanya.
"polisi !" pintu di dobrak. Beberapa anggota polisi masuk dengan bersenjata lengkap.
Mereka menghentikan aksi be**t Rain. Mereka memborgol tangan Rain lalu membawanya pergi.
Parish bersandar menekuk lutut, dia menangis. Untung saja polisi cepat datang kalau tidak, dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Mungkin dia akan menjadi milik Rain dengan cara paksa. Salah satu petugas polisi menenangkannya. Dia berdiri di dekat Parish, tidak berani menyentuh Parish karena melihat Parish shock.
"Parish....." teriak Marsha.
__ADS_1
Parish hanya memandang Marsha, dia tidak berkata apa-apa. Dia merasa malu atas kejadian tadi. Dia sudah menyakiti Marsha. Marsha akan sangat kecewa kalau tahu kejadian tadi.
Marsha mendekat, dia memeluk Parish tapi Parish hanya mematung, tidak membalas.
Polisi tadi pamit, dia menyerahkan Parish pada keluarganya.
"Parish..." Spanish datang, dia menghampiri adiknya. Parish melepaskan pelukan Marsha lalu memeluk kakaknya erat, dia menangis sejadi-jadinya.
Marsha hanya melihat kejadian itu tidak mengerti. Kenapa dengan Parish ?
"bawa aku pulang kak" isak Parish.
"iya sayang, kita pulang" Spanish membantu Parish berdiri lalu berjalan dengan tetap memeluk adiknya itu.
"kita pulang Mars" ajak Spanish.
Marsha mengangguk, "tunggu Nish" Marsha menghentikan langkah Spanish dan Parish. Dia melepaskan jaketnya lalu memakaikannya pada Parish.
Parish hanya terdiam, dia membiarkan Marsha melakukannya.
"ayo kita pulang" kata Marsha seraya membiarkan Spanish dan Parish berjalan duluan.
*
Spanish masuk kedalam mobilnya yang dikemudikan Rome. Dia duduk dikursi belakang bersama Marsha dengan Parish dalam pelukannya. Di kursi depan tampak auncle Tom memandang nona mudanya dengan rasa khawatir.
Kevin mengantar Aaron pulang tapi sebelumnya mereka ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.
Sementara Tobby dan Hazel di mobil yang satunya.
Beruntung mereka tidak ada yang terluka, hanya mengalami memar karena terlibat perkelahian.
"kamu tenang sayang, kita pulang kerumah. Kakak janji, si kembar akan menyesali perbuatannya" Spanish geram.
"mereka jahat kak" Parish terisak.
"aku tidak akan membiarkan mereka" sahut Marsha.
"kamu mau dipeluk tunanganmu sayang ?" tanya Spanish. Parish menggeleng.
Spanish kaget, kenapa Parish tidak mau dengan Marsha padahal dia sangat mencintai tunangannya itu.
Sementara perasaan Marsha hancur berkeping-keping melihat gelengan penolakan sosok yang sangat dia cintai. Yang beberapa hari ini teramat dia rindukan. Kenapa Parish menolaknya, kenapa ? Marsha mengacak rambutnya dengan frustasi.
Spanish memandang Marsha, dia sangat tahu perasaan Marsha saat ini. Sakit dan tidak mengerti.
Mereka disambut tangis haru kerinduan ayah Mark, mama Jade, Venus dan yang lainnya.
Ayah membawa Parish keruang keluarga, mama Jade menyiapkan makanan untuk Parish dibantu aunty Lesly.
Dengan sayang, ayah Mark menyuapi putri kesayangannya.
"Parish tidak mau ketemu mereka lagi yah, mereka harus jauh-jauh dari hidup Parish" isak Parish.
ayah Mark mengangguk, "iya sayang, ayah tidak perduli mereka anak Clinton sahabat ayah. Mereka begitu tega sama kamu. Om Clinton tidak akan bisa menyelamatkan mereka dari hukuman" terang ayah Mark.
"Parish mau ke kamar yah" pamit Parish.
"baiklah sayang, kamu istirahat. Kamu mau diantar Marsha ?" tanya ayah Mark, dia tahu bahwa putra Jade itu sangat merindukan Parish. Tapi tidak disangka Parish menggeleng. Ayah Mark tidak mengerti.
"dari tadi, dia tidak mau dengan Marsha yah" bisik Spanish seakan tahu apa yang dipikirkan ayahnya.
Marsha mundur perlahan, kenapa Parish menolaknya. Apa kesalahannya.
Mama Jade bangkit dari duduknya, dia mengambil piring dari tangan Suaminya lalu meminta Megan untuk membawanya kedapur. Lalu dia menghampiri Marsha untuk menenangkannya.
"Parish masih shock sayang" ucap mama Jade seraya mengusap belakang Marsha.
"tapi kenapa dia bersikap begitu padaku" kata Marsha, ini bukan pertama kalinya Parish menolaknya, dan sakitnya masih sama. Sakit sesakit sakitnya.
"kakak antar kamu ke kamar sayang" akhirnya Spanish mengambil inisiatif.
Parish mengangguk.
*
"ayah telfon dokter Steve dulu" ujar ayah Mark, dia meminta sahabatnya itu untuk memeriksa Parish.
"bagaimana dad ?" tanya mama Jade.
"Steve akan segera kesini" kata Mark pandangannya beralih pada Marsha.
"kamu yang sabar Mars, mungkin efek shock yang mereka berikan sampai Parish jadi seperti itu" jelas Mark.
"iya yah, Marsha mengerti" ucap Marsha pelan.
Tak lama, Spanish turun. Dia menghela nafas berat. Semua mata memandangnya. Belum sempat dia mengeluarkan sepatah kata, bunyi bel pintu mengagetkan mereka.
Dengan bergegas, Minny membuka pintu.
Dokter Steve masuk bersamaan dengan Kevin. Kevin menepuk pundak Marsha.
"bagaimana keadaan Parish ?" tanya Kevin.
"dia tidak mau ketemu aku kak" ucap Marsha.
Kevin hanya memandang datar.
"biar aku periksa Parish, dimana dia ?" tanya dokter Steve.
"nona ada di kamarnya tuan dokter. Mari dokter" aunty Lesly mengantar dokter Steve.
*
"jadi bagaimana penyidikan polisi Vin ?" tanya ayah Mark.
Kevin tampak gelisah dalam duduknya, "ini masalah asmara, Rain sangat mencintai Parish dan dia tidak terima Parish jadi milik Marsha. Tindakannya ini untuk mengagalkan pernikahan mereka"
"trus Rainy, apa hubungannya dalam hal ini ?" tanya mama Jade lagi.
"sama, kembar sama gilanya" komen Kevin.
"maksudnya sayang ?" tanya mama Jade.
"Rainy jatuh cinta pada Marsha. Dia yang sudah lama menaruh dendam pada Parish karena kedekatan Parish dengan keluarganya, membuat dia ingin merebut apapun yang menjadi kepunyaan Parish. Termasuk Marsha. Mereka kerjasama karena menginginkan hal yang sama. Pernikahan Marsha dan Parish batal" jelas Kevin.
"padahal aku sudah menganggap mereka seperti anakku sendiri tapi kenapa mereka tega menghancurkan putriku" ucap ayah Mark.
"tapi kenapa kamu tampak gelisah Vin ? mama sangat mengenal kamu dari dulu, ada hal yang kamu sembunyikan" mama Jade menatap Kevin tajam.
Kevin semakin gelisah. Tapi belum selesai dia membuka suara, dokter Steve turun dari memeriksa Parish.
Dokter Steve duduk di sofa kosong dekat ayah Mark. Dia tampak khawatir.
"ada apa Steve ?" tanya ayah Mark.
"kabar buruk, kita harus membawa Parish ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut agar baji**** itu membusuk di penjara" umpat dokter Steve tidak bisa menahan diri.
"ada apa om dokter, Parish kenapa ?" tanya Spanish.
Dokter Steve memandang Jade, seakan memberi kode agar Venus tidak mendengar pembicaraan mereka. Jade mengerti.
"Megan, kamu antarkan Venus ke kamarnya. Ini sudah malam" pinta mama Jade.
"baik nyonya" sahut Megan.
"selamat malam semua, Venus tidur duluan" pamit Venus melambaikan tangannya.
"mimpi indah sayang" ucap mama Jade.
"sekarang Lesly sedang menemani Parish, dia gelisah dalam tidurnya" ucap dokter Steve setelah Venus menaiki tangga menuju kamarnya.
"sebenarnya apa yang sudah terjadi om dokter ?" Spanish tidak sabar.
"Parish mengalami pelecehan" ujar dokter Steve hati-hati.
Bagai disambar petir, semua shock mendengarnya. Parish yang sangat mereka sayangi mengalami hal buruk itu. Marsha menumpu kepalanya di dinding, Kevin yang disebelahnya berusaha menahannya agar tenang. Kevin sudah tahu masalah itu dari keterangan Rain sendiri tadi di kantor polisi. Rain mengakui semua perbuatannya dan tidak ada rasa penyesalan malah niat lebih untuk mendapatkan Parish.
"karena hal itu Parish tidak mau bertemu Marsha, dia merasa malu. Selama ini Marsha selalu menjaganya bahkan tidak pernah macam-macam padanya, tapi kini dia tidak bisa menjaga dirinya. baji**** itu menjamah seluruh tubuhnya. Aku mendapati banyak tanda merah ditubuhnya selain luka karena benda tajam di leher. Aku sudah mengobati luka di lehernya. Dan sekarang aku mau pemeriksaan lebih lanjut untuk area bawahnya" jelas dokter Steve.
Ayah Mark spontan berdiri, "Alex hubungi pengacara kita, usut kasus ini sampai tuntas aku tidak mau mereka bebas. Mereka harus membusuk di penjara. Mereka berdua. Si kembar !"
"baik tuan besar" Alex hendak meraih ponselnya tapi ayah Mark melanjutkan lagi kalimatnya "batalkan semua perjanjian kerjasama kita dengan Clinton. Aku tidak mau tahu, apapun itu jangan sampai ada satu yang tersisa"
"baik tuan besar, sesuai perintah tuan" Alex beranjak pergi.
"Rain mengakui semuanya di kantor polisi, aku sudah hampir membunuhnya karena melihat ekspresi tidak menyesalnya sudah berbuat sejahat itu pada Parish. Untung saja Aaron dan para polisi itu menahanku" jelas Kevin menahan emosinya. Dia sudah menganggap Parish seperti adiknya, sama seperti kepada Marsha. Kakak mana yang tidak terpukul, adiknya diperlakukan tidak pantas seperti itu.
"Parish pasti sangat terpukul sekarang" mama Jade terisak. Ayah Mark menenangkannya.
"ayah, boleh aku ketemu Parish ?" tanya Marsha.
"tapi dia tidak mau ketemu kamu mars, besok saja kalau dia sudah tenang" tolak ayah Mark.
"kalau besok aku yang tidak tenang yah, aku takut kehilangan dia" ucap Marsha.
"aku pastikan itu tidak akan terjadi. Biarkan dia istirahat malam ini Mars, besok kamu temui dia. Sekalian kita antar dia untuk pemeriksaan" jelas Spanish.
Akhirnya Marsha mengangguk setuju. Dengan berat dia pamit pulang kerumah mama Jade bersama Kevin. Marsha berjalan lebih dulu.
Mama Jade menahan tangan Kevin, "jaga adikmu, jangan sampai dia kenapa-napa" katanya.
"iya ma, Kevin pasti akan melakukannya" sahut Kevin kemudian menyusul Marsha.
Ayah Mark memeluk mama Jade. Spanish hanya duduk terpaku disebelah dokter Steve.
"aku pamit dulu, besok pagi aku akan buatkan janji sama dokter Mela. Dia biasa menangani kasus seperti ini" katanya.
Mark mengangguk. Steve menepuk pundak Mark lalu beranjak pergi.
"aku tidak terima ini yah, aku akan buat mereka berdua menyesal ! terlebih Rain, baji**** itu harus mendapatkan hukuman dariku !!" kata Spanish geram.
"kita akan melakukannya sayang, kita akan membuat mereka menyesali ini seumur hidup mereka" sahut ayah Mark.
__ADS_1
Mama Jade semakin terisak, dia tidak mampu menahan sakit hatinya karena peristiwa yang dialami Parish. Meskipun Parish putri sambungnya tapi baginya Parish itu kebahagiaan, karena menerima dirinya dan Venus sebagai bagian hidupnya. Dia juga mencintai Marsha dengan tulus apa adanya, dia melukis banyak warna di kehidupan Marsha.
***