Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 29


__ADS_3

Parish bangun lambat pagi ini. Untung saja hari libur, jadi dia bisa santai.


Dengan hanya mencuci muka, menyikat gigi dan masih memakai piyama tidur, dia menuju keluar kamar.


Tampak keriuhan di dekat tangga. Berbagai tas besar tergeletak di tangga.


Parish menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mau kemana ? siapa yang pindahan. Katanya dalam hati, bingung.


"kamu belum siap ?" Spanish melewatinya yang terpaku di tengah tangga.


"mau kemana ?" tanya Parish.


"ayahhhhhhh liat putri ayah" Spanish malah berteriak.


Ayahnya datang dari ruang tengah bersama mama Jade, Marsha dan Venus. Tampak Auncle Tom, aunty Lesly, Rome, Tobby dan semua pekerja yang dari tadi mengangkat tas terpaku melihatnya. Mereka semua mau kemana ? pikir Parish.


"sayang, kamu belum siap-siap ?" tanya Mark geleng kepala.


"mau kemana yah ?" Parish balas bertanya.


Bukannya menjawab, ayahnya malah menyuruh aunty Lesly untuk mengerahkan Megan dan Minny membantu Parish.


"aunty tahu apa yang harus aunty persiapkan, tolong bantu nona manja aunty itu" pintanya.


"baik tuan besar, ayo naik ke kamar nona Parish" ajak aunty Lesly kepada Megan dan Minny.


Parish semakin bingung, "ada apa yah ?" tanyanya.


Mark Mc. Milan hanya menggelengkan kepalanya.


"Tanggal berapa sekarang ?" tanya Spanish dari ujung tangga.


"tanggal 8" jawab Parish singkat, dan tiba-tiba dia terpikir sesuatu. Parish menepuk jidatnya.


"kak Parish lupa ya, kita mau otw kak" sahut Venus disebelah mama Jade.


"maaf, aku segera bersiap" Parish segera menaiki setengah tangga lagi menuju kamarnya.


Bagaimana dia bisa lupa, lusa pernikahan ayahnya dan mama Jade sekaligus pertunangan untuk mereka berempat di MorningBay.


Hari ini rencananya mereka berangkat ke MorningBay dengan pesawat pribadi.


Parish segera mandi dan bersiap, agar keluarganya tidak menunggu lama.


Setelah dengan sedikit drama karena Parish lupa, akhirnya mereka semua bisa berada di pesawat tepat waktu. Semua pekerja dirumah keluarga Mc. Milan ikut karena dari dulu mereka sudah seperti keluarga bagi Mark, Spanish, Parish bahkan mendiang Chrissy Mc. Milan.


Starla akan menyusul besok bersama kedua orang tuanya serta keluarga besarnya.


Frey dan Grey sudah berangkat duluan untuk membantu menjaga keamanan lokasi pesta sebelum dan sampai selesai acara.


Dari rumah sampai masuk kedalam pesawat, Parish dan Marsha belum bertegur sapa.


Parish memilih untuk duduk bersama para pekerjanya. Dia memilih memeluk manja aunty Lesly yang dengan baik hati mengusap kepalanya dengan lembut.


"hmmm ayolah mom, kami putramu juga mau" sergah Rome yang seolah iri melihat Parish.


"eits, harus antri" Parish menjulurkan lidahnya.


Tobby menarik kaki Parish.


Mereka hidup bersama dari kecil, terbiasa bermain dan bercanda bersama.


"kak Tobby ! aunty... kak Tobby nakal" rajuk Parish.


Auncle Tom memukul pundak Tobby pelan, "jangan menggodanya, dia bukan lagi nona kecilmu. Sebentar lagi dia tunangan, dia sudah dewasa" tegurnya.


"tuhhhhh..." Parish beranjak membetulkan posisi duduknya lalu memandang angkuh, "aku wanita dewasa yang manja ! hehehe" dia menjulurkan lidah lalu tertawa.


Semua tertawa. Spanish yang duduk tidak jauh dari situ melempar permen kearah Parish.


"aduhhh, sakit tauu" Parish mengusap jidatnya setelah permen itu mendarat dengan tidak sempurna disitu.


"awas kalo nangis, jadi wanita dewasa yang cengeng" goda Spanish tertawa terbahak-bahak.


Parish manyun, "aunty... kakak jahat, benjol nih" rajuk Parish.


Aunty Lesly mengusap sayang jidat Parish.


Venus yang duduk disebelah Marsha memandang kakaknya itu dengan heran. Marsha memejamkan mata, asyik mendengarkan musik lewat earphone. Dia tidak terganggu dengan kekacauan di kursi belakang mereka.


Venus yang masih kecil tahu kalau ada yang tidak beres, karena semenjak kakaknya bersama Parish selalu duduknya dekatan. Ini kenapa jauh-jauhan. Venus mengangkat bahunya.


*


Parish mencari posisi nyaman yang agak jauh dari ac karena dia alergi dingin. Dia bisa merasakan kaku pada telapak kakinya, apabila dingin menyerang.


Dia mendapat posisi kursi paling belakang yang sedikit hangat. Dia mengatur posisi kursi agar kakinya bisa lurus dengan sempurna seperti tidur di kasur. Merasa sudah mengantuk, Parish menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal kesayangannya.


Marsha merasa terganggu karena melihat Parish tidak ada disebelah Spanish yang duduk diseberang kursinya dan Venus.


Kemana dia ? ungkapnya dalam hati.


Marsha menoleh kebelakang, dilihatnya semua pekerja rumah Mc. Milan sudah tertidur. Tapi tidak ada nona mereka disitu.


Marsha beranjak berdiri, mungkin dikursi depan dekat ayah dan mama Jade. Tapi kosong.

__ADS_1


Kemana Parish. Dia mengacak asal rambutnya.


Dari tadi dia menahan diri untuk menyapa Parish dan sepertinya Parish masih marah sehingga tidak menyapanya. Bahkan pesan yang dia kirimkan belum dibaca Parish.


Sekarang dia khawatir karena tidak melihat Parish.


Dia terus mencari dengan matanya, akhirnya dia menemukan sosok cantik itu dari selimut biru yang terjuntai dikursi belakang. Itu selimut yang tadi dibawa Parish.


Marsha mendekati Parish. Ingin sekali rasanya dia mengusap wajah cantik Parish yang sedang tertidur lelap. Tapi niat itu diurungkannya, dia takut Parish terbangun.


Marsha lalu mengambil posisi seperti Parish dan tertidur di kursi sebelah Parish.


*


Parish terbangun. Dia melihat sekitarnya, para pekerjanya lalu lalang kesana kemari menurunkan tas mereka. Dia lebih terkejut melihat Marsha yang tertidur disebelahnya. Sejak kapan Marsha pindah disampingnya ? pikirnya.


Dia memandang Marsha lekat, ada rasa bersalah karena kemarin dia mengacuhkan Marsha padahal cowok itu hanya takut kehilangan dia. Parish mengerti itu, hanya saja dia merasa Marsha takut berlebihan. Dia tidak akan kemana-mana, Marsha tidak akan kehilangan dia karena dia sendiri tidak bisa jauh dari Marsha.


Parish membangunkan Marsha, "sayang, bangun" katanya.


Marsha mengeliat dan memandang Parish.


"semua sudah turun, itu barang terakhir yang diambil kak Rome" tunjuk Parish pada Rome yang melewati mereka turun dari pesawat.


Parish melewati Marsha, turun duluan. Entah kenapa, dia tidak bicara lagi pada Marsha. Padahal tadi dia membangunkan Marsha dengan memanggil sayang.


Dalam bis keluarga, Parish duduk diam memandang luar jendela. Dia kini duduk bersebelahan dengan Venus. Lagi-lagi bocah 8 tahun itu hanya geleng kepala, mengangkat bahunya melihat tingkah kedua kakaknya, "kak Parish marahan ya sama kak Marsha ?" tanyanya.


Parish menoleh, "tidak sayang, memangnya kenapa ?" dia balik bertanya.


"dari tadi kakak jauhan terus" ujar Venus.


"oo.. tidak apa sayang, kak Marsha juga tidak keberatan" sahut Parish acuh.


Venus memandang kakaknya yang duduk dikursi belakang, kakaknya masih bertemankan earphonenya.


"cinta orang dewasa, rumit" gumam Venus.


Parish yang mendengar sekilas, menoleh pada Venus. Tapi Venus acuh dan memilih bermain game di ponselnya.


Parish meraih ponselnya di dalam kantong jaket. Dia mengetuk ponselnya tapi tidak menyala. Dia menekan tombol on pada ponselnya.


Dia lupa, tadi dia sempat mengisi daya ponselnya dalam keadaan nonaktif dan rupanya tadi karena buru-buru dia lupa untuk mengaktifkannya lagi.


Setelah ponselnya aktif ada beberapa pesan masuk.


Tiga pesan, ketiganya dari Marsha.


Pesan pertama,


Parish menghela nafas. Tidak ada kopi, tadi dia hanya menyuguhkan sikap acuh pada Marsha.


Dia lalu membaca pesan kedua,


Kamu masih marah ? aku datang tapi tidak ditemui 😔


Lagi lagi Parish geleng kepala. Bagaimana mau ditemui, dia saja lambat bangun dan langsung buru-buru bersiap.


Pesan ketiga..


Kenapa bisa lupa dengan hari pertunangan kita ? 💔


Pesan ketiga yang membuat hati Parish hancur seperti emot hati yang dikirim Marsha.


Marsha pantas marah, bagaimana bisa dirinya lupa acara yang dia nantikan bersama Marsha.


Marsha pantas kecewa, dia pasti berpikir kalau Parish tidak serius untuk bersama dengannya. Sampai lupa hari pertunangan, bahkan sampai menolak ajakan menikah dari Marsha.


Semua pemikiran itu menari-nari dalam kepalanya.


Parish meneteskan air matanya, dia salah. Sangat bersalah pada Marsha. Setelah mereka sampai, dia harus bicara pada Marsha untuk minta maaf. Walaupun dia harus terima kalau Marsha akan mengungkapkan kekecewaan yang membuat hatinya sakit.


Parish harus terima.


Venus menoleh, dia mendengar suara isak tangis disebelahnya. Suaranya pelan hampir tidak terdengar, tapi Venus bisa melihat butiran air mata kakak cantiknya jatuh.


"kak Parish kenapa menangis ?" tanyanya.


Parish menggelengkan kepalanya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya seraya membuang wajahnya kearah jendela.


Venus mengusap punggung Parish. Dia tahu kakaknya itu sedang sedih tapi kenapa ? Dia semakin tidak mengerti.


*


Mereka sampai di MorningBay, sebuah pulau yang jauh dari keramaian RedRose. Sebuah pulau pribadi dimana Mark Mc. Milan menanam saham dengan membangun hotel berbintangnya disini.


Mark sudah menyiapkan semua kamar di lantai 3 untuk keluarga dan di lantai 2 untuk para undangan.


Acara pernikahan, pertunangan serta perjamuan akan di gelar di Ballroom yang berada lantai dasar. Sementara untuk acara bebas, mereka akan mengadakan pesta di tepi pantai pada malam harinya.


Parish menerima kunci kamarnya, dia sendirian dalam kamar yang bersebelahan dengan Spanish dan Marsha.


Dia merebahkan badannya di kasur. Kembali dia meraih ponselnya, belum tahu akan membalas apa. Dia tahu Marsha pasti marah, dan akan lebih marah lagi apabila dia tidak membalas pesan. Tapi mau membalas apa.


Akhirnya dia membalas,

__ADS_1


Maaf, tadi aku lupa mengaktifkan ponsel ...


Hanya itu, dan Parish mengirimnya.


Parish menunggu beberapa saat, tidak ada balasan dari Marsha. Akhirnya dia putuskan untuk membersihkan diri dulu.


*


Marsha membaca pesan yang baru saja dikirim Parish. Apa hanya satu kalimat itu saja ? tidak ada penjelasan yang lain.


Tiba-tiba masuk pesan dari Venus. Dia mengirimkan foto Parish di dalam bis tadi. Parish terlihat tertunduk menatap layar ponselnya.


Venus menulis,


Coba kakak perbesar tangannya, air mata. Kakak cantikku nangis kak..


Marsha melakukan apa yang ditulis Venus.


Benar, dia melihat butiran air di tangan Parish. Marsha juga memperbesar area mata Parish, walaupun dari samping tapi agak memerah disudut mata Parish.


Kenapa Parish menangis ? pikir Marsha.


Dengan bergegas dia keluar dari kamarnya.


*


Parish baru saja membersihkan diri dan mengganti bajunya memandang kearah jendela kamar.


Ada bunyi bel.


Dengan bergegas dia menuju pintu dan mengintip lewat lubang di pintu masuk.


Marsha. Pekiknya dalam hati.


Dengan pelan dia membuka pintu kamar.


"hai, boleh aku masuk ?" tanya Marsha.


Parish mengangguk. Dia membiarkan Marsha masuk kedalam. Marsha duduk di sofa, Parish pun duduk di tempat yang sama agak jauh darinya.


"kamu kenapa jauh disitu ? kamu tidak suka aku disini ?" tanya Marsha.


Parish menggeleng, "aku tahu kamu masih marah" ucapnya pelan.


"kamu mau jelaskan sesuatu sama aku ?" tanya Marsha.


"aku beneran lupa, tapi bukan mau melupakan pertunangan kita" ujar Parish akhirnya.


"terus.. kenapa bisa lupa ?" tanya Marsha.


Parish menggeleng, "tidak ada apa-apa hanya lupa saja" jawabnya.


"aku sangat menanti hari itu, aku terus memimpikannya. Tapi kecewanya, calon tunanganku lupa" Marsha melangkah menuju jendela. Dia berdiri disana memandang kearah luar.


Parish beranjak mendekati Marsha, "maaf, aku buat kamu kecewa" katanya.


"atau mungkin hanya aku saja yang terlalu berharap" Marsha bicara tanpa menoleh pada Parish.


Parish kaget, "maksudnya apa ?" dia tidak mengerti.


Marsha berbalik, "kamu tidak menginginkan aku" ucapnya.


"kamu kenapa berpikir begitu ? aku mencintaimu dengan seluruh hatiku" balas Parish.


"jangan buat aku melayang Rish, aku sangat mencintaimu tapi kenapa kamu seolah menarik ulur aku" Marsha menahan kalimatnya lalu kembali memalingkan muka.


Parish tahu, Marsha mencoba menahan emosinya.


Parish memeluk Marsha dari belakang, "jangan bicara lagi, aku mohon... ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu segalanya untuk aku" isaknya.


Marsha memegang tangan Parish yang melingkar di dadanya erat, walaupun bibirnya mengeluarkan bentuk kekecewaan tapi hatinya tidak bisa menolak Parish.


Dia mencintai Parish dengan seluruh hati, jiwa dan raganya. Parish adalah isi dunianya. Bagaimana mungkin dia bisa hidup tanpa Parish.


Parish melepaskan pelukannya, dia berdiri menghadap Marsha "maafkan aku, aku hanya lupa. Itu biasa, yang tidak biasa karena yang aku lupakan adalah hari penting kita. Kamu berhak marah, kecewa tapi aku tidak ingin kita berakhir. Aku butuh kamu" ucapnya.


"kamu tidak akan pergi dari aku ?" Marsha bertanya seraya menatap mata Parish, dia mencari keyakinan itu.


Parish tersenyum, "sekarang aku yang takut kamu pergi dari aku karena aku salah" dia balas menatap mata Marsha.


"aku yang salah, aku terlalu takut kehilangan kamu" ucap Marsha.


"kamu maafkan aku ?" tanya Parish meyakinkan.


"iya sayangku, aku masih mau kamu berdiri didepanku saling tukar cincin" ucap Marsha memegang pipi Parish.


"iya, terima kasih sayang" Parish menangkup wajah Marsha dengan kedua tangannya.


Marsha memegang kedua tangan Parish yang menempel diwajahnya, dia melingkarkan tangan itu pada lehernya, lalu Marsha men**** bibir Parish. Parish merasakan sentuhan bibir lembut Marsha seraya menutup matanya. Dia membiarkan saja, dia menyukainya.


Dia juga percaya, Marsha tahu batasan mereka.


Marsha melepaskan sentuhannya pada bibir Parish yang merah alami karena hanya memakai lipbalm. Dia tahu cukup sampai disitu saja. Ada batasan yang harus mereka jaga. Mereka tahu itu dan mereka sepakat itu.


Marsha dan Parish berpelukan, berharap tidak ada lagi kesalahpahaman diantara mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2