Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 32


__ADS_3

Mereka tiba di rumah keluarga Mc. Milan.


Semuanya tampak mengerti dengan keadaan Marsha yang dari tadi lebih banyak diam. Dia hanya merespon saat Parish yang memberitahunya.


"kata Frey Grey kamu mengemudi sayang ?" tanya Spanish yang tampaknya baru datang dari luar.


Parish mengangguk, "aku tidak tega membiarkan Marsha menyetir. Takut tidak fokus" jawabnya.


"tapi sudah lama kamu tidak menyetir" sahut ayahnya.


"iya, karena kejadian itu" Parish manyun.


"kejadian apa ?" tanya mama Jade ingin tahu.


"Parish pernah jumping trotoar ma" sahut Spanish seraya tertawa.


Marsha menoleh pada Parish, "kenapa kamu tidak cerita yang sebenarnya ?" tanyanya.


"kalau aku bilang, kamu tidak akan mengizinkan aku menyetir" jelas Parish sambil terkekeh.


Tapi Marsha hanya membalas dengan wajah datarnya.


Parish tahu kalau dia salah, dia meraih tangan Marsha dan mengelusnya seraya membisikan kata 'maaf'.


Marsha hanya diam seraya melepaskan tangannya.


"bagaimana bisa kak ?" tanya Venus lagi.


"kakak ceritakan" sergah Spanish.


"itu gara-gara kak Spanish" Parish mencibir.


"waktu itu Parish baru dapat sim, dia dengan sombongnya maunya jalan-jalan terus. Aku yang belum percaya, aku ikuti dia. Eh dia kayak orang yang sedang diajak balapan. Dia melaju dengan kakak dibelakangnya, sampai ditikungan dia tidak melihat ada perluasan jalan. Rem mendadak, mobilnya naik di trotoar. Hahahahaha" Spanish tertawa puas.


"dia pulang menangis, aku pikir dia kenapa-napa. Ternyata dia malu dikerumuni orang banyak. Dari situ dia tidak mau menyetir lagi, demi apapun itu" jelas ayah.


"sekarang, demi Marsha kamu memberanikan diri Rish" Spanish mengacungkan dua jempolnya.


"karena kak Kevin juga, kak Kevin kayak mengharap aku bisa karena tidak tega dengan kondisi Marsha. Mau tidak mau ya aku berani" jelas Parish lagi.


"nona Parish, makan malam sudah siap" ujar aunty Lesly.


"baik aunty, terima kasih banyak. Kami makan dulu yah, ma, semuanya" pamit Parish beranjak seraya menggandeng lengan Marsha.


Keluarganya sudah makan duluan, jadi kali ini tinggal hanya mereka berdua di meja makan.


"aku tidak suka kamu bohong, walaupun sakit.. aku akan terima" ucap Marsha di meja makan.


"iya sayang, maafkan aku. Aku cuma tidak mau buat kamu khawatir. Aku saja sudah khawatir dengan keadaanmu" ujar Parish.


Marsha merasa bersalah, "maafkan aku sayang" ucapnya.


"kamu jangan merasa sendirian, masih ada aku. Daddy sudah tenang disana. Walau aku baru mengingatnya, tapi aku tahu beliau orang baik karena sudah menganggap kamu seperti putranya bukan pekerjanya. Kalau kamu lemah, nanti bagaimana mau lindungi aku. Katanya kamu mau menjaga aku dari para cowok-cowok itu" ujar Parish seraya menggoda Marsha.


Marsha yang hendak menyendok makanan kedalam mulutnya, mengurungkan niatnya. Dia memandang Parish disebelahnya.


Parish balas memandang Marsha.


"aku tidak akan membiarkannya" kata Marsha.


"karena itu kamu tidak boleh bersikap kayak tadi, aku takut melihat kamu diam dengan tatapan kosong. Kamu itu cowok kuatku, nanti kalau cowok-cowok liatin aku bagaimana ? kamu saja tidak fokus dengan sekitarmu kayak tadi" balas Parish.


"maaf sayang, aku akan berusaha jadi yang terbaik untuk kamu" ucap Marsha seraya memegang pipi Parish penuh sayang.


"janji sayang ?" Parish memegang pipi Marsha.


"iya sayang" Marsha tersenyum.


"sekarang kamu makan, trus nanti minum vitamin ya" Parish menyuapi Marsha.


Marsha mengangguk dan balas melakukan hal yang sama. Mereka makan sambil suap-suapan.


Tanpa mereka sadari, mama Jade memandangi mereka. Dia meneteskan air mata. Dia merasa terharu dengan kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh Marsha. Dia tidak menyadari Mark dan Spanish sudah ada disebelahnya.


"kenapa mom ?" Mark memegang pundak Jade.


"terima kasih, kamu mempercayakan Parish pada Marsha. Marsha sangat mencintai Parish, dia tidak akan bisa tanpa Parish. Dia membutuhkannya. Aku sangat mengenalnya. Dia tadi sangat terpukul tapi kamu liat, dia kembali bahagia karena ada Parish menguatkannya" jelas Jade.


"aku percaya Marsha, aku yakin dia pilihan yang tepat untuk Parish. Marsha menjaga Parish seperti aku menjaganya, bahkan lebih baik" ujar Spanish.


"iya, kalian benar. Mereka berdua saling mencintai dan menguatkan satu sama lain. Ikatan yang terjalin antara mereka kuat, sulit untuk dipisahkan. Aku yakin, bagaimana pun nanti cobaan dihadapan mereka akan mereka hadapi bersama" ujar Mark setuju.


"nikahkan saja mereka" Venus membuat mereka bertiga kaget.


"sssttt ! jangan keras-keras. Iya mereka akan menikah, kalau mereka sudah siap. Sekarang kamu ikut mama ke kamar. Sudah waktunya tidur" mama Jade beranjak membawa Venus naik ke atas menuju kamarnya.


"bagaimana menurutmu Nish ?" tanya Mark setelah Jade dan Venus pergi.


"secepatnya saja yah, karena aku sudah punya rencana untuk Marsha. Ayah pasti setuju" Spanish mengedipkan matanya.


Mark menaikan alisnya. Dia merangkul Spanish, "menarik, kita bicarakan diruang baca" katanya.


Ayah dan anak itu berjalan beriringan menuju ruang baca didekat tangga. Tapi terlebih dulu, mereka meminta dibuatkan kopi pada aunty Lesly.


"baik tuan besar, akan segera saya buatkan" kata aunty Lesly.


"terima kasih aunty" ucap Mark.


*


Setelah makan malam, seperti biasanya Parish dan Marsha menghabiskan malam sampai jam tidur mereka di taman belakang. Mereka bisa bercerita banyak hal, saling bercanda, bahkan hanya sekedar menghitung bintang. Hal konyol tapi bisa menambah keromantisan mereka.


"jadi kapan kita bicara pada ayah dan mama ?" tanya Marsha.


Parish mengangkat bahunya, "aku terserah kamu saja" katanya.


"yang jelas, kuliahku sudah mulai sibuk. Jadi kamu jangan komplain ya, kalau tunanganmu ini fokus urusan kampus" lanjutnya.


"aku akan bagi waktu untuk mengurus semuanya. Kalau kamu tidak sibuk, kita urus berdua" katanya.

__ADS_1


"iya sayang" ucap Parish memegang pipi Marsha.


"sayang, kamu bahagia sama aku ?" tanya Marsha.


"pertanyaan aneh, ya bahagia. Kalau tidak, buat apa aku ada disini sama-sama kamu. Mending tidur" Parish beranjak, dia marah.


Marsha menahan tangan Parish, dia pun beranjak berdiri.


"maaf sayang, aku hanya bertanya" katanya.


"tapi itu pertanyaan aneh" balas Parish sewot.


"iya maaf" Marsha menundukan wajahnya, agar dapat menatap mata Parish yang menunduk.


"aku marah sama kamu" Parish manyun lalu duduk kembali.


"iya sayang, aku minta maaf. Jangan marah ya" Marsha kembali duduk disebelah Parish dan terus meminta Parish melihatnya.


"kalau kamu marah, nanti aku sama siapa ?" tanya Marsha.


"ya sama.. ya tau sama siapa" semprot Parish.


"sama kamu saja boleh ?" Marsha memeluk Parish.


Parish yang mendapat pelukan tiba-tiba dari Marsha, hanya menggelengkan kepalanya.


Tunangannya seperti anak kecil kalau sudah membujuk. Sama seperti dirinya, sebelas duabelas.


"baiklah dengan satu syarat" kata Parish.


"apapun itu sayang" jawab Marsha.


"gendong aku ala bridal sampai kekamar" Parish memamerkan senyum manisnya.


"sekarang ?" tanya Marsha.


"iya tunanganku sayang, aku sudah mulai ngantuk" kata Parish.


Masha mengangkat tubuh Parish masuk kedalam rumah, menaiki tangga dan masuk kedalam kamar Parish. Dia lalu menuju kearah jendela dan menutup tirainya. Marsha lalu mengusap pipi Parish, mencium kedua pipinya dan mencium keningnya.


"aku belum" sahut Parish saat Marsha hendak beranjak.


Marsha tersenyum, dia tahu maksud Parish. Dia mendekatkan wajahnya. Parish mencium kedua pipinya.


"selamat malam tunanganku" ucap Parish.


"mimpi indah tunanganku sayang" ucap Marsha.


Parish mengangguk. Marsha mematikan lampu kamar lalu beranjak keluar.


*


Saat sarapan, ayah Mark bilang kalau mereka akan pulang sore ini ke kota. Parish minta izin menemui mom Alice dan Kevin untuk berpamitan. Mama Jade dan Venus setuju dan akan ikut bersama mereka. Sementara ayah dan Spanish akan dirumah untuk bersiap-siap.


Marsha mengendarai mobil kantor Mc. Milan bersama mama Jade, Parish dan Venus bersamanya. Mereka menuju apartemen Kevin.


"kak Kevin mana mom ?" tanya Marsha.


"dia ada urusan sebentar, katanya ada tamu bisnis" jelas mom Alice.


"Kevin bekerja terlalu keras, kapan dia bisa cari pacar" sergah mama Jade.


"aku juga kepikiran begitu, kadang aku bilang.. kamu gak ada niat punya pendamping hidup ? dia bilang, aku mau hidup dengan mommy saja" mom Alice geleng kepala.


"kita jodohin saja" usul Parish.


"memangnya kamu sudah ada calonnya ?" tanya Marsha.


"belum, tapi kan bisa kita cari-cari sapa tahu kak Kevin cocok" ujar Parish.


"tapi apa Kevin mau di jodohkan ?" tanya mama Jade.


"bukan di jodohkan yang intim begitu ma, tapi di kasih kenalan dulu. Proses dulu, ya kalau cocok kan terserah mereka" sahut Parish.


"mom terserah saja, yang penting Kevin ada yang ngurus. Apa-apa dia lakukan sendiri, makan ada pelayan. Mom maunya dia di urus istri" curhat mom Alice.


"mereka saling mencintai seperti kita. Itu yang terpenting" Marsha menarik Parish dalam pelukannya.


"ihhhh malu sayang, di depan mama, mom dan Venus" Parish manyun.


"tidak apa..." Marsha cuek.


"jadi bagaimana persiapan kalian untuk bulan depan ?" tanya mom Alice.


Parish langsung salah tingkah. Karena dia dan Marsha belum bilang apa-apa pada keluarga mereka. Dan Marsha juga tidak tahu kalau Parish memberi tahu rencana mereka pada mom Alice dan Kevin.


"bulan depan ?!" mama Jade mengerutkan kening.


"kenapa mom bisa tahu ?" Marsha kini memandang Parish.


Parish duduk disebelah mama Jade, "kami berencana secepatnya ma, kalau bisa bulan depan. Mama bantu bilang pada ayah" katanya.


"mama dan ayahmu pasti akan mendukung kalian sayang, tapi apa kalian sudah siap ?" tanya mama Jade.


"iya ma, Parish siap" kata Parish meyakinkan.


"maaf sayang, aku bilang pada mom dan kak Kevin waktu dirumah sakit tentang kita mau mengadakan acara di Restbarr" Parish memandang Marsha lalu dia menoleh kepada Jade, "boleh ya ma ?" tanyanya lagi.


"tentu saja boleh sayang, mama tidak keberatan tapi sebaiknya kita dengar juga pendapat ayah dan kakakmu" nasehat mama Jade.


"iya ma, nanti sesampainya dirumah kita di kota. Aku dan Marsha akan bicara pada ayah dan kakak" ucap Parish.


Marsha duduk disebelah Parish, dia tidak menyangka Parish akan bersemangat merencanakan pernikahan mereka. Kemarin-kemarin mereka selalu bertengkar karena dirinya meragukan kesiapan Parish. Sekarang Parish membuktikan bahwa dia siap bersama dirinya.


Marsha meraih jemari Parish, "terima kasih sayang" katanya.


Parish menoleh kepada Marsha, "aku ingin menebus kesalahanku, aku ingin bahagia bersamamu" katanya meyakinkan Marsha.


"cieee.. akhirnya ada pernikahan lagi" goda Venus.

__ADS_1


Marsha dan Parish tersipu malu. Mereka saling bertatapan lama.


*


Sesampainya di kota, seperti yang sudah Parish bilang pada mama Jade kalau dia dan Marsha akan bicara tentang rencana pernikahan mereka.


Mereka menyampaikan itu setelah makan malam bersama.


"ayah tidak ada masalah, cepat atau lambat kami akan mengurus pernikahan kalian" kata ayah.


"kakak juga tidak masalah kalau memang kalian mau merencanakan secepatnya" sahut Spanish.


"tapi sebelumnya, ayah mau bicara pada kamu dan kakakmu diruang kerja" kata ayah.


Parish memandang kakaknya, dengan tanya ada apa ? tapi Spanish hanya mengangkat bahunya.


"maaf mom, kamu dan anak-anak tunggu dulu sebentar disini. Setelah aku bicara dengan Spanish dan Parish, kita akan bicara bersama" ucap ayah.


"iya dad" sahut mama Jade.


"ayah, bicara bersama itu termasuk aku ?" tanya Venus.


Semua tersenyum, ayah memegang dagu Venus "iya, Venus kan sekarang sudah jadi anak ayah" katanya.


"horeeee, aku bicara bisnis" kata Venus girang.


"nanti kalau kamu sudah dewasa, kita akan sering bicara bisnis boss kecil" sahut Spanish.


"oke boss Spanish !" seru Venus.


Mereka pun meninggalkan mama Jade, Marsha dan Venus di ruang keluarga.


*


Parish memandang kakaknya penuh tanya. Kenapa kakaknya bisa seyakin itu pada Marsha. Karena setahunya Marsha lebih menyenangi pekerjaannya di bagian modifikasi karena itu jiwanya. Dan sekarang kakaknya meminta dia untuk menerima peralihan perusahaan Mc. Milan Otomotif yang dikelolanya sekarang agar Parish bisa memberikan kuasanya pada Marsha untuk mengurusnya.


"bagaimana sayang ? agar Spanish bisa membantu ayah mengurus Company kita. Kamu juga akan bersama kakakmu nantinya. Kalian berdua akan mengelola Mc. Milan Company" kata Mark pada Parish.


"aku mengerti yah, tapi aku rasa Marsha tidak akan setuju. Dia lebih menyukai mengutak atik mesin daripada duduk dalam ruangan memeriksa berkas dan laporan" jelas Parish.


"Kevin pernah bilang kalau Marsha membantunya di kantor Restbarr saat ayah menjauhkan kalian. Jadi aku pikir, Marsha punya kemauan untuk maju" jelas Spanish.


"itu penyesalan ayah, Marsha yang membawamu kembali pada ayah" ucap ayah lirih.


"maaf yah, aku tidak bermaksud" Spanish merasa bersalah.


"tidak apa, ayah baik-baik saja"


"baiklah, tapi kenapa ayah dan kakak tidak langsung bicara pada Marsha. Tanyakan pendapatnya" kata Parish.


"ayah ingin kamu setuju dulu, karena kami tahu Marsha akan setuju kalau kamu yang meminta" ayahnya mengedipkan mata.


Parish menggelengkan kepalanya, "kalian menggunakan aku sebagai kelemahan Marsha ?!" Parish menutup mulutnya.


"maaf sayang, tapi kakak ingin Marsha maju dan berhasil. Kakak percaya dia mampu" jawab Spanish.


"baiklah, tapi kalau Marsha berat hati melakukannya aku yang akan menghentikannya. Aku tidak mau dia terpaksa menjalankan perusahaan" Parish mencoba membuat kesepakatan pada ayah dan kakaknya.


"baik, kakak setuju" sahut Spanish.


Mark Mc. Milan mengangguk, "baik, kita sepakat" katanya.


Mereka pun beranjak keluar dari ruang kerja dan menemui mama Jade, Marsha dan Venus.


*


Semua duduk menunggu kalimat yang keluar dari mulut tuan besar Mc. Milan.


Setelah menghela nafas panjang, Mark membuka point-point yang menjadi pembicaraannya dengan anak-anaknya di dalam ruang kerja.


"persiapan pernikahan Parish dan Marsha akan dimulai minggu depan di RedRose Utara. Aku akan meminta Kenzo EO yang akan mengurus semuanya. Dan setelah pernikahan, aku akan mengurus peralihan Mc. Milan Otomotif dari Spanish kepada Parish agar Spanish bisa sepenuhnya fokus di Mc. Milan Company" Mark terdiam beberapa saat, "setelah itu, Parish akan memberikan kuasa sepenuhnya pada Marsha untuk mengurusnya setidaknya sampai dia lulus kuliah" lanjutnya.


Marsha kaget, dia memandang Parish lalu pada Spanish dan terakhir pada ayah Mark, "bagaimana bisa aku ?" katanya.


"karena kamu menantu dikeluarga ini" jawab Mark.


Marsha memandang Parish disebelahnya. Parish memegang tangan Marsha.


"bisakah aku memikirkannya terlebih dulu" kata Marsha.


"baiklah, pikirkan dulu dengan sebaik-baiknya" ujar Mark.


*


Parish mengamit jemari Marsha menuju mobil mama Jade. Marsha akan pulang kerumah mama Jade. Karena mereka belum menikah maka Marsha memutuskan tidak tinggal di rumah Mc. Milan. Dia menghindari pembicaraan orang tentang dirinya dan Parish.


"aku pulang, nanti aku akan mengirimkan pesan sesampainya di rumah" kata Marsha.


"kamu baik-baik saja ?" tanya Parish.


Marsha menggeleng, "hanya sedikit kaget, apakah aku mampu diserahi tanggung jawab besar itu" katanya.


"maafkan aku, aku setuju menerima peralihan perusahaan karena itu jalan supaya ayah mempercepat pernikahan kita. Karena dengan begitu ayah mempunyai pengganti kakak di Mc. Milan Otomotif" jelas Parish.


Marsha menangkup wajah Parish dengan kedua tangannya, dia mengerti.


"tidak apa, jangan salahkan dirimu. Aku akan memikirkannya, aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kita" katanya.


Parish mengangguk.


Marsha mencium kening Parish, "masuklah, aku akan pergi setelah kamu masuk" katanya.


Lagi lagi Parish mengangguk. Dia mencium pipi Marsha dan mengusapnya, "bye tunanganku sayang" katanya.


Marsha tersenyum, "bye, tunanganku sayang. Bermimpilah yang indah" katanya.


Parish tersenyum lalu beranjak masuk kedalam rumah. Marsha pun berlalu pergi melaju pulang kerumah mama Jade setelah Parish masuk.


***

__ADS_1


__ADS_2