
Parish terbangun. Dia melihat aunty Lesly yang tertidur disebelahnya. Syukurlah mimpi buruk itu telah usai, dia terbangun di kamarnya. Bukan di kamar asing itu.
Parish kemudian menuju kamar mandi. Badannya terasa lengket. Sudah beberapa hari semenjak dirinya disekap oleh si kembar dia tidak pernah mandi. Jangankan mandi, cuci muka saja tidak sempat.
Parish melepas pakaiannya satu persatu, dia sangat kaget melihat kondisi dada dan lehernya. Banyak tanda merah, tanda kepemilikan Rain disana. Flashback tentang kejadian dirumah tengah hutan kembali terlintas. Parish menutup matanya kuat. Dia menggeleng seakan tidak mau mengingatnya.
"tidaaaaaakkkkkk !!!!" teriaknya.
"nona.. nona.. nona kenapa ? buka pintunya" ketuk aunty Lesly tak lama setelah dia berteriak.
"Parish mau sendiri ! pergi aunty ! pergi...." teriak Parish.
"nona jangan begitu, aunty ingin membantu nona. Tolong buka pintunya nona" bujuk aunty Lesly tapi Parish hanya terdiam.
*
Aunty Lesly bergegas turun menghampiri keluarga Mc. Milan, ada Marsha dan Kevin juga disana. Mereka duduk bersama di ruang keluarga menunggu sarapan siap.
"ada apa aunty, kenapa aunty terlihat bingung ?" tanya Spanish.
"nona Parish berteriak dalam kamar mandi tapi dia tidak mau membuka pintunya" jelas aunty Lesly dengan terbata-bata.
Tanpa pikir panjang, Marsha langsung berlari menaiki tangga menuju kamar Parish. Dia sangat mengkhawatirkan Parish. Yang lain bergegas mengikutinya.
"sayang, ini aku. Buka pintunya sayang" Marsha mengetuk pintu kamar mandi.
Parish yang terduduk dibawah wastafel hanya bisa menangis. Dia tidak mau menjawab Marsha.
"sayang, tolong jangan bersikap begini sama aku. Kamu sudah janji tidak akan mendiamkan aku. Kenapa kamu menyiksaku" suara Marsha mulai parau, tangis yang coba dia tahan kini tumpah. Seorang Marsha akhirnya memperlihatkan rapuhnya pada semua.
ayah Mark, mama Jade, Spanish, Kevin bahkan aunty Lesly tidak tega melihatnya. Mereka sangat mengerti apa yang dirasakan Marsha.
Sementara di dalam kamar mandi, pertahanan Parish mulai runtuh sedikit demi sedikit. Dia terus menatap kearah pintu tapi masih enggan untuk beranjak membukanya.
"sayang, apapun yang terjadi kita hadapi sama-sama. Kamu sendiri yang bilang begitu, kenapa sekarang kamu menanggungnya sendiri. Tolong sayang, buka pintunya. Kita bicara" Marsha mengetuk pintu.
"pergi... aku mau sendiri !!!!!" teriak Parish.
"aku tidak mau, aku tidak akan meninggalkanmu" Marsha menyahut.
"aku sudah kotor" Parish terisak.
"tidak sayang, tidak.. kamu baik-baik saja. Aku mohon buka pintunya" bujuk Marsha.
Kevin mendekat pada Marsha, dia menepuk pundak Marsha, "biarkan aku bicara pada Parish" katanya.
Marsha mengangguk, dia mundur perlahan.
"Parish ini Kevin. Buka pintunya" bujuk Kevin.
Tidak ada jawaban dari dalam.
"kakak datang kesini untuk kamu. Kamu mau kakak jadi pendamping Marsha dan membantu mengurus persiapan pernikahan kalian, kakak mau Rish. Kamu mau kita berfoto bersama, ayo kita lakukan. Tolong kamu buka pintunya" ujar Kevin.
Tidak lama, pintu kamar mandi terbuka. Parish muncul dengan mata bengkak dan masih menangis.
"Parish tidak bisa menikah sekarang" katanya.
Semua kaget. Mereka mencoba mencerna apa mau Parish.
"kenapa sayang ? ayah sudah mengatur semuanya ?" tanya ayah Mark lembut, dia mendekat dan mengusap kepala putrinya.
"Parish tidak pantas untuk Marsha" ucap Parish lirih seraya menempelkan keningnya di dada ayahnya.
ayah Mark memeluk putrinya erat.
"tidak sayang, kamu yang terbaik untuk aku" balas Marsha.
Parish hanya tertunduk. Dia sebenarnya tidak ingin mengambil keputusan ini tapi kejadian kemarin benar-benar membuatnya shock.
"sayang, kamu akan baik-baik saja" ucap mama Jade.
"tapi ma" sergah Parish.
"kamu harus diperiksa dulu supaya kondisi kamu pulih. Kamu mau kan ?" ujar Kevin memandang Parish.
Parish mengangguk. Semua lega.
"tapi aku tidak mau liat badanku di cermin" isak Parish.
"Marsha yang akan menutup cerminmu" sahut ayah Mark memandang Marsha.
Marsha mengangguk tanda mengerti maksud ucapan calon ayah mertuanya.
Parish tertunduk. Dia tidak mampu melihat Marsha.
"sebaiknya kita keluar, biarkan Marsha menyelesaikan masalah Parish. Mereka akan segera menikah. Biarkan mereka bicara" kata ayah Mark lagi seraya melepaskan pelukannya.
Semuanya menurut. Mereka meninggalkan Marsha dan Parish di kamar.
"aku izin liat lemarimu" sahut Marsha memecah keheningan. Dia masuk keruang ganti Parish yang bersebelahan dengan kamar mandi.
Parish hanya terdiam ditempatnya.
Marsha melihat ada sebuah kain selimut tipis berwarna biru tersusun rapi dalam lemari. Dengan segera dia meraihnya lalu masuk kedalam kamar mandi untuk menutup cermin pada wastafel. Setelah itu dia keluar menemui Parish.
"sekarang mandilah, aku sudah menutupnya. Untuk sementara kamu tidak usah melihat badanmu dicermin" ujar Marsha seraya beranjak.
"maaf" ucapan Parish menghentikan langkah Marsha.
Marsha berbalik dan memeluk Parish erat. Air matanya menetes. Dia sangat mencintai Parish, dia sakit jika Parish mendiamkannya apalagi kalau sampai menjauhinya. Bahkan sekarang dia terluka saat Parish bilang kalau mereka tidak akan menikah.
Pernikahan yang sudah didepan mata, pernikahan impian mereka berdua. Marsha tidak ingin berpisah dari Parish.
"jangan begitu lagi sayang, aku tidak bisa. Jangan pernah merusak impian kita. Aku tidak mau kehilangan kamu" kata Marsha.
Parish membalas pelukan Marsha. Dia mengusap punggung Marsha lalu melepaskannya "tapi aku sudah buat kamu kecewa. Aku tidak bisa menjaga diriku" katanya.
Marsha menggeleng, "aku tidak pernah berpikir macam-macam sama kamu. Aku bersyukur kamu sudah pulang itu saja" katanya.
"dia sudah menyentuhku" isak Parish seraya menunduk.
Marsha menghela nafas, "dia menyentuhmu dimana ?" tanyanya.
Parish melihat Marsha dengan kaget. Marsha hanya memandangnya datar.
"aku akan menghilangkannya" sahut Marsha.
Parish menyentuh bibirnya lalu pipi, seluruh wajahnya dan lehernya serta bagian dadanya dengan tangannya. Dia memperlihatkannya pada Marsha.
Marsha memandangi Parish dan memperhatikan bagian-bagian yang dia tunjukkan.
Ingin rasanya dia memukuli Rain sampai puas begitu melihat tanda kepemilikannya disana tapi dia tahan karena kalau dia emosi, Parish akan semakin sedih dan merasa bersalah.
"boleh aku menghilangkannya ?" Marsha meminta izin.
Meskipun Parish tidak tahu bagaimana cara marsha untuk menghilangkannya, dia menuruti permintaan Marsha dengan mengangguk.
Marsha mencium bi*** Parish lama. Parish terkejut, Marsha menciumnya menempel saja, tidak berlebihan.
Lalu Marsha mencium kedua pipi, kening, seluruh wajah dan terakhir memberi kecupan sekilas pada leher Parish.
Dia pun mengusap area bawah leher Parish dengan tangannya.
"aku sudah menghilangkannya. Jangan lagi ada rasa bersalah. Sekarang kamu milikku sepenuhnya seperti awal kita bersama" katanya.
"kak Marsha..." desis Parish.
"kamu memanggilku begitu lagi ?" tanya Marsha menatap Parish sedih.
Parish hanya terdiam.
"panggil aku sayang, seperti biasanya. Aku mohon" ucap Marsha menaikan dagu Parish agar menatapnya.
"maaf, sayang" ucap Parish akhirnya.
Marsha memeluknya erat seakan tidak ingin melepasnya meski sebentar.
"kamu mandi ya sayang, aku tunggu dibawah" kata Marsha setelah melepas pelukannya.
"iya" ucap Parish.
"iya apa ?" Marsha menatap Parish lekat, dia ingin Parish memanggilnya lebih.
"iya sayang" ucap Parish akhirnya.
Marsha tersenyum dan mencium kening dan kedua pipi Parish lalu beranjak keluar kamar seraya menutup pintu.
*
Mereka menunggu diruang keluarga. Marsha tampak tenang, dia yakin Parish akan merubah sikap kepadanya.
"kenapa dia belum turun juga ?" tanya Spanish tampak khawatir.
"kamu yakin dia baik-baik saja ?" tanya Kevin pada Marsha.
"iya kak, dia mulai tenang tadi sewaktu aku memintanya mandi" sahut Marsha.
Tak lama Parish turun ditemani Venus. Dia memamerkan senyum khasnya. Semua tampak senang melihatnya begitu termasuk para pekerja rumahnya. Mereka berharap nona kesayangan mereka ceria seperti biasanya.
"mama tidak bangunkan aku. Untung saja kakak cantik bangunkan aku, kalau tidak aku kesiangan" kata Venus.
mama Jade menepuk jidatnya. Dia lupa kalau hari ini masih hari kerja yang artinya Venus masih sekolah. Dia lupa kewajibannya pada Venus.
"maafkan mama sayang" ucapnya.
"tidak apa ma, ada Parish" Parish tersenyum. Dia lalu menarik tangan Venus menuju meja makan.
"kakak cantik makan yang banyak ya" kata Venus.
"iya adikku sayang" jawab Parish seraya menyendok nasi goreng kepiring Venus.
__ADS_1
Semua duduk dikursi masing-masing. Mereka memandang moment Parish dan Venus. Parish mulai ceria lagi walaupun masih pelan-pelan. Setidaknya mereka tidak perlu terlalu khawatir.
"Kalian tidak makan ? sini aku ambilkan" Kata Parish seraya mengambil piring, dia menyendok nasi goreng kepiring lalu menyerahkan kepada Spanish. Lalu melakukan hal yang sama untuk Marsha dan Kevin.
"ayah juga mau" sergah ayah Mark seraya menyodorkan piringnya.
"mama juga" mama Jade menyahut mengikuti tingkah suaminya.
Parish tersenyum lalu mengambilkan nasi goreng untuk ayahnya dan mama Jade.
Mereka menikmati sarapan dengan bahagia karena Parish sudah bisa perlahan melupakan kesedihannya.
*
Marsha terus mengenggam tangan Parish di ruang tunggu rumah sakit. Mereka menunggu antrian praktek dokter Mela sesuai rekomendasi dokter Steve.
"sayang, aku baik-baik saja" Parish menatap Marsha.
"iya sayang, aku tahu. Tapi biarkan aku mengenggam tanganmu" ucap Marsha.
"ya ampun... aku merindukan Starla" gumam Spanish menyindir kemesraan Marsha dan Parish.
"kalau kalian semua berpasangan, aku bagaimana ?" Kevin yang duduk disebelah Marsha menjatuhkan kepalanya di pundak adik angkatnya itu.
"tenang saja kak, aku akan perkenalkan kakak pada seseorang. Aku sudah tanya-tanya dia. Dia masih sendiri, belum ada yang menarik perhatiannya tapi tenang, dia cantik kak" sahut Parish.
Spanish dan Marsha memandang Parish. Mereka penasaran siapa yang dimaksud oleh Parish.
Spanish memberi kode pada Parish tapi Parish membalasnya dengan mengangkat bahunya.
"kasih tahu aku, siapa yang kamu mau kenalkan pada kak Kevin ?" tanya Marsha.
"nanti juga kamu akan tahu sayang" Parish memegang pipi Marsha lalu mengusapnya lembut.
*
Parish masuk sendirian kedalam ruang praktek dokter Mela. Sebenarnya ketiga bodyguardnya mau masuk menemani tapi suster melarangnya. Katanya untuk kondisi pasien seperti kasus Parish, dokter Mela ingin berdua dengan si pasien agar terjadi pembicaraan yang nyaman. Kadang pasien kurang nyaman dengan adanya orang lain.
"semoga hasilnya baik-saja, aku takut Parish kepikiran lagi" gumam Marsha.
"dia pasti baik-baik saja" Kevin menepuk pundak Marsha.
"iya, aku yakin Parish kuat" sahut Spanish.
Ponsel Spanish berdering. Dari ayahnya.
"iya yah" jawab Spanish.
"bagaimana adikmu ?" tanya ayah Mark.
"masih di dalam yah, kami tidak diizinkan masuk. Prosedur untuk kasus Parish begitu, hanya ada dokter dan pasiennya" jelas Spanish.
"baiklah, nanti ayah hubungi lagi. Ayah akan menyelesaikan urusan kita dengan om Clinton"
"Spanish mengerti yah"
"jaga adikmu" pesan ayah Mark.
"baik yah, sepenuh hati Spanish" sahut Spanish.
Belum lama Spanish menutup telfonnya.
Ponsel Marsha lagi yang berdering. Dari mama Jade dengan menanyakan hal yang sama.
"Marsha akan menghubungi mama kalau kami sudah tahu hasilnya ma" jawab Marsha.
"baiklah, hubungi mama lagi" sahut mama Jade.
"baik ma, mama tenang saja" jawab Marsha seraya mematikan panggilan.
*
Hasil pemeriksaan bisa diambil dalam waktu 2 atau 3 hari lagi. Pihak rumah sakit akan menghubungi wali Parish yang dalam hal ini di wakili oleh Spanish untuk datang mengambil hasilnya nanti.
Mereka pun pamit pada dokter Mela.
Sebenarnya Spanish bahkan Marsha enggan ke kantor, mereka ingin menemani Parish selama beberapa hari. Setidaknya selama proses hukum untuk si kembar selesai.
"sayang, kamu yakin mau temani kami kerja ?" tanya Marsha.
"iya sayang, ayo jangan malas kerja" Parish menarik lengan marsha.
Dengan langkah malas Marsha mengikuti Parish. Seakan tahu dengan tingkah tunangannya, Parish menggandeng lengan Marsha dengan manja.
Sampainya di kantor mereka menuju ruangan Spanish. Parish sekarang beralih memegang lengan Kevin. Marsha tidak merasa cemburu, hanya aneh saja. Parish sangat bersemangat datang ke kantor.
Spanish menepuk pundak Marsha, dia mengangguk seakan bertanya ada apa dengan Parish dan Kevin. Tapi Marsha hanya mengangkat bahunya.
"siang Kesha" sapa Parish.
Kesha yang fokus pada komputer memandang Parish, "siang juga nona Parish, syukurlah nona baik-baik saja" katanya seraya memeluk Parish.
"pokoknya nona harus melupakan semuanya, harus move on dari musibah itu" sahut Kesha lagi.
"iya iya, Key kenalkan ini kakak angkat Marsha. Kak Kevin ini Kesha, sekretaris kak Spanish" kata Parish.
Spanish dan Marsha saling pandang, mereka mengerti sekarang siapa yang Parish sebut di rumah sakit tadi.
"nama yang cantik, aku Kevin" Kevin mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh Kesha.
"terima kasih" ucap Kesha tersipu malu.
"kak Kevin ini baik hati, tidak sombong, paling ganteng se RedRose Utara Key" sergah Spanish menggoda seraya masuk dalam ruangannya.
Kesha hanya tersenyum.
"jangan di dengarkan, Spanish berlebihan" kata Kevin pada Kesha.
"kita masuk dulu Key" sahut Marsha seraya mendorong badan Kevin agar masuk kedalam ruangan Spanish.
"maaf ya Key, para cowok memang begitu" kata Parish seraya ikut masuk kedalam.
Kesha tersenyum maklum.
*
"cieeee jadi bagaimana kesan pertamanya kak ?" tanya Spanish seraya duduk di sofa tamu di dalam ruangannya.
"cantik" jawab Kevin singkat.
Parish mengedipkan mata pada Marsha. Marsha tahu maksud Parish "jadi mau berteman dulu ?" tanya Marsha.
"iya, butuh waktu untuk saling mengenal dulu" jawab Kevin.
"baiklah" sahut Parish.
Ponsel Parish berdering. Pesan masuk dari Aaron.
Maaf kalau aku ganggu kamu Rish..
aku terus terang kepikiran sesuatu karena kamu. Kepikiran masa lalu aku yang sama dengan apa yang kamu alami. Boleh kita ketemu ?
Parish membalas.
Aku tidak masuk kampus hari ini Ron.
Sekarang aku ada di kantor kak Spanish, Mc. Milan Otomotif.
Kamu kesini saja, kita ketemu di kantin kantor.
Aaron kemudian membalas,
Baiklah aku segera kesana, nanti aku chat kalau aku sudah sampai. Bye
Marsha yang dari tadi merasa tidak nyaman karena Parish sibuk dengan ponselnya segera mendekat. Dia menyandarkan kepalanya di pundak Parish.
"chat dengan siapa ?" tanyanya.
"dengan Aaron, dia mau kesini. Boleh ya, aku bicara sebentar dengan dia"
Marsha mengangguk. Semenjak Aaron membantu menyelamatkan Parish, Marsha menghilangkan keraguannya pada Aaron.
Menurutnya Aaron sudah berubah.
"aku merasa aneh dengan anak itu waktu di kantor polisi. Begitu mendengar pengakuan Rain tentang perlakuannya pada Parish, bahunya langsung melorot. Dia seperti orang blank. Dia sadar saat aku emosi ditahan oleh beberapa polisi baru dia ikut menahanku" jelas Kevin.
Spanish dan Marsha hanya memandang datar. Mereka merasa Aaron teringat masa lalunya.
"ada apa dengan dia ?" tanya Kevin seraya tahu ada sesuatu dibaliknya.
"dia pernah terlibat kasus seperti Parish tapi tidak sampai pada penculikan. Cewek itu jatuh cinta pada Aaron dan Aaron hanya mempermainkannya" jelas Spanish.
"dia bang*** juga seperti Rain ?" tanya Kevin kaget.
Marsha mengangguk, "tapi dia sudah menerima hukumannya dan kemarin itu aku melihat dia sudah berubah lebih baik" lanjutnya.
"Aku tidak sangka" Kevin menggelengkan kepalanya.
"dia sekarang berusaha jadi orang baik kak. Kalau tidak, mungkin dia cuek saat bertemu aku di balkon" kata Parish.
Kevin mangut.
Ponsel Parish berdering, pesan dari Aaron kalau dia sudah sampai dipelataran parkir.
"aku keluar dulu, Aaron sudah ada di parkiran" Parish bergegas keluar.
"ada apa Aaron ketemu Parish ?" tanya Spanish pada Marsha.
"aku tidak tahu, biarkan saja Nish. Kita harus memberi kesempatan dia berubah" jawab Marsha.
"baiklah, karena dia sudah menolong Parish, aku tidak akan curiga. Anggaplah sekarang dia orang baik" jawab Spanish.
__ADS_1
*
Parish menemui Aaron di parkiran.
Cowok itu berdiri disamping mobilnya.
Parish mengajaknya masuk melewati tempat pencucian dan servis, menuju kantin yang didesain bergaya Kafe nan nyaman.
"permisi nona mau pesan apa ?" tanya pelayan itu membungkuk hormat. Semua karyawan disini mengenal Parish.
"aku pesan jus alpukat dan kentang goreng pake saos sambal saja jangan pake mayones. Kamu apa Ron ?"
"aku hot capucino saja" kata Aaron.
"aku minta tolong ya, bawakan 3 cup kopi hitam ke kantor kak Spanish" tambah Parish lagi.
"baik nona, pesanannya akan segera dibuatkan" ucap pelayan itu seraya membungkukkan badannya.
"terima kasih" Parish tersenyum.
Pelayan itupun pergi.
"bagaimana keadaanmu ?" tanya Aaron.
"sudah merasa lebih baik, ini tidak sebanding dengan pertolonganmu tapi biarkan aku traktir kamu ya hari ini" kata Parish.
"baiklah, tapi kamu tidak perlu berterima kasih sama aku. Kebetulan saja aku ada disitu" Aaron tersenyum.
"trus apa yang ingin kamu bicarakan sama aku ?" tanya Parish mulai penasaran.
Aaron menghela nafas. Dia memandang keluar jendela. Ingin sekali dia bercerita pada Parish tapi tidak tahu harus memulai dari mana.
"berat sekali Ron ?" tanya Parish.
Aaron perlahan mengangguk.
Parish mencoba mengerti. Dia menunggu Aaron siap memulai ceritanya.
"namanya Sasya, aku tahu dia sangat menyukai aku, tergila gila sama aku di balik kacamata kutu bukunya. Aku hanya menganggap dia biasa saja. Sampai hari itu aku tidak bisa menahan gejolak, aku hilang kendali karena pacarku selingkuh dengan saudaraku sendiri. Aku melakukannya, dia trauma dan mereka membawanya jauh dari aku. Aku harus menjalani kehidupan di balik tahanan karena perbuatanku. Begitu bebas, aku mencarinya tapi aku tidak bisa. Mereka menutup aksesnya, padahal aku ingin meminta maaf dan bertanggung jawab atas perbuatanku" jelas Aaron.
"karena itu kamu shock waktu tahu Rain melakukannya sama aku ?" tanya Parish.
Aaron mengangguk pelan, "kejadian itu selalu menghantui setiap malam, buat aku tidak bisa tidur. Dan sekarang tambah parah sewaktu aku tahu kalau kamu diperlakukan begitu. Bahkan aku menemui psikiater untuk memulihkan kondisiku" katanya.
"aku mengerti, kamu berusaha menjadi lebih baik" sahut Parish.
"aku sudah pernah menemui Spanish untuk memintanya memberi tahu aku dimana Sasya karena aku tahu Spanish sebagai penolong Sasya, dia pasti tahu keberadaannya"
Aaron menghela nafas, "tapi Spanish bilang tentang kondisi Sasya yang masih belum bisa ketemu aku bahkan memaafkan aku. Aku minta tolong sama kamu Rish..."
"apa yang bisa aku lakukan untuk kamu ?"
"kalau aku tidak bisa ketemu Sasya, setidaknya temui dia untukku. Aku percaya kamu bisa mengerti keadaanku, kamu bisa buat dia memaafkan aku. Itu saja, aku tidak akan menemuinya kalau dia tidak mau" pinta Aaron.
Parish memandang Aaron. Dia melihat kesungguhan di mata Aaron. Parish akhirnya mengangguk, dia akan menemui Sasya untuk Aaron.
"terima kasih Rish, maaf kalau aku merepotkan kamu" kata Aaron.
"tidak apa Ron, kamu sudah baik sama aku. Kalau aku bisa bantu ya aku bantu" sahut Parish.
"kalian sudah selesai bicaranya ?" tanya Marsha, dia sudah berdiri disamping meja.
"maaf Mars, aku meminta waktu Parish sebentar" kata Aaron.
"tidak apa, tapi kami sudah di tunggu dirumah untuk makan siang bersama" kata Marsha.
"kak Spanish dan kak Kevin mana ?" tanya Parish.
"mereka sudah duluan" jawab Marsha.
"maaf Ron, aku pulang dulu. Nanti kita bicara lagi" ujar Parish.
"iya Rish, maaf aku jadi merepotkanmu" kata Aaron.
Parish pun pamit pada Aaron. Dia bergegas pulang kerumah bersama Marsha.
Dalam mobil Kevin, perjalanan pulang kerumah Parish terus berpikir. Bagaimana cara dia untuk memulai bicara pada Spanish meminta alamat Sasya.
"sayang, kamu kenapa ?" tanya Marsha melirik sekilas pada tunangannya itu.
"aku hanya berpikir sayang. Apa kak Spanish mau berbagi alamat Sasya sama aku" ucap Parish.
"kenapa kamu ingin tahu alamat rumah Sasya, apa yang kamu dan Aaron bicarakan ?" Marsha bertanya.
"nanti sampai rumah aku ceritakan sayang, aku janji" ucap Parish.
Marsha mengangguk.
*
Setelah makan siang, Parish dan Marsha bicara di tempat favorit mereka. Taman belakang rumah Mc. Milan.
Spanish sudah kembali ke kantor karena ada yang harus ditangani. Sedangkan Kevin, dia bilang akan menemani Spanish. Walaupun sempat mendapat ledekan dari Spanish karena sebenarnya mau menemani dia ke kantor atau mau ketemu Kesha lagi. Tapi Kevin tetap beralasan kalau dia ikut karena merasa bosan dirumah.
Dan Marsha karena penasaran dengan cerita Parish, meminta waktu sejam pada Spanish untuk menyusul ke kantor.
"cerita sama aku, ada apa ?" tanya Marsha.
Parish lalu menceritakan masalah Aaron. Marsha mengangguk mengerti. Dia bilang, dia akan membantu Parish karena dia juga tahu dimana Sasya. Selama ini dia selalu menemani Spanish kalau bertemu Sasya.
"terima kasih sayang, maafkan aku merepotkanmu" ucap Parish.
"sayang, aku ini calon suamimu. Kamu tidak pernah merepotkanku. Sekarang aku ke kantor dulu ya. Nanti sore aku jemput, kita fitting baju. Dari kamu diculik, madam Vian sudah beberapa kali menghubungi aku" jelas Marsha.
Parish mengangguk, "aku akan bersiap-siap nanti" Katanya tersenyum seraya mencium pipi Marsha.
Mereka segera menuju halaman depan. Marsha mencium kening Parish lalu masuk kedalam mobil Kevin dan segera melaju menuju kantor.
"nona" tegur Hazel setelah Marsha pergi.
Parish tersenyum, "kak Hazel, terima kasih karena kakak ada disana untuk aku" ucapnya.
"sama-sama nona, kami akan selalu ada untuk nona Parish" balas Hazel.
Rome dan Tobby mendekat, "nona baik-baik saja ?" tanya Rome.
"iya kak Rome, terima kasih" balas Parish.
"nona harus melupakan semua, kasian Marsha kalau nona terus kepikiran. Dia sangat rapuh waktu itu, jangan buat dia sedih lagi nona" jelas Tobby.
Rome dan Hazel mengangguk, mereka ikut menyaksikan bagaimana Marsha sangat terpukul dengan kondisi Parish yang berubah terhadapnya.
"iya kak, aku akan berusaha melupakan kejadian itu dan mantap memulai hidup baru bersama Marsha. Terima kasih, kalian semua kakak-kakakku yang terbaik" Parish terharu.
"dari dulu nona selalu menganggap kami sebagai kakak, keluarga untuk nona bukan sebagai pekerja. Karena itu, kami selalu ada bersama nona sebagai kakak yang baik seperti Spanish dalam hidup nona" jelas Hazel.
Parish memeluk Hazel, Rome dan Tobby bergantian. Dia sangat senang karena selama ini mereka dibesarkan bersama, Parish sudah menganggap mereka seperti saudaranya sendiri.
"kalian melupakan aku" seru Alex yang entah muncul dari mana.
"iya, sini peluk adik jahilmu ini" Parish merentangkan tangannya. Alex pun memeluknya.
"semua akan baik-baik saja" ucap Alex melepaskan pelukannya. Parish mengangguk.
"ayah senang liat kalian semua kayak begini, dari dulu ayah ingin kalian saling menjaga layaknya saudara dan ayah mendapatkannya" sahut ayah Mark yang sudah berada diantara mereka.
"ayah sudah pulang" Parish memeluk ayahnya erat.
"iya sayang, masalah kamu sudah ayah bereskan. Hubungan kita dan Clinton Communication sudah selesai. Tidak ada lagi hubungan bisnis bahkan hubungan persahabatan" ujar ayah Mark.
"tapi ayah tidak perlu sampai begitu, ini masalah Parish dan si kembar" sergah Parish.
"jelaskan Lex" pinta ayah Mark.
"selama ini tuan Clinton tahu tentang perasaan Rain sama kamu, rencana penculikan kamu bahkan dendam Rainy tapi beliau membiarkannya tanpa berbuat sesuatu untuk memberitahu kita kamu dimana" ucap Alex.
Parish terperangah kaget, bagaimana bisa orang sebaik om Clinton melindungi perbuatan salah anak-anaknya tanpa mengarahkan kearah yang benar. Dan selama ini dia menganggap om Clinton seperti ayahnya sendiri karena dia baik padanya.
"sudah, jangan dipikirkan lagi. Ayah ingin kamu kembali seperti dulu" sahut ayah Mark.
Parish kembali memeluk ayahnya. Perlindungan yang nyaman baginya. Dia berjanji pada semuanya, akan menata hidupnya lagi tanpa bayang-bayang kejadian itu. Itu akan menjadi mimpi buruk dalam hidupnya.
*
Sorenya Parish, Marsha, keluarga mereka serta Kevin fitting baju di butik madam Vian.
Marsha begitu tampan dengan jasnya sementara Parish tidak kalah cantiknya dengan gaun putihnya.
Keluarganya dan Kevin pun tampak kompak dengan seragam warna senada.
"bagaimana say ? kamu merasa kesempitan, longgar atau bagaimana ?" tanya madam Vian pada Parish.
"sudah pas madam, aku suka.. sesuai dengan apa yang aku mau" ucap Parish.
Madam Vian sumringah. Dia selalu senang merancang baju untuk Parish karena Parish selalu puas dengan hasilnya.
"terima kasih Rish.. kamu cantik sekali" ucap madam Vian.
"madam bisa saja" Parish tersipu malu tiba-tiba dia bertemu mata dengan Marsha yang mencoba jasnya.
Calon suaminya itu begitu tampan. Marsha tersenyum kearahnya. Parish membalas senyuman Marsha.
Marsha mendekat, dia meraih jemari Parish, "aku mencintaimu Parish Mc. Milan" ucapnya lalu mencium punggung jemari Parish.
"aku mencintaimu Marsha" balas Parish menatap Marsha lekat.
"semua akan baik-baik saja, aku akan selalu bersamamu" ucap Marsha.
Parish mengangguk setuju.
***
__ADS_1