
Marsha sangat senang.
Beberapa hari ini, Spanish memberi dia keringanan pekerjaan. Katanya agar dia bisa langsung menemaninya di rumah sakit.
Marsha menyambut baik permintaan Spanish, dengan begitu tidak akan ada yang melihatnya dengan pandangan heran. Dia juga tidak harus kikuk bila ada yang bertanya tentang keberadaannya di rumah sakit.
"adik si boss belum sadar ya ?" tanya Likely, teman se-team mekaniknya.
"belum" jawab Marsha singkat, dia masih sibuk memeriksa mesin mobil.
"semoga cepat sembuh ya, kasian juga si boss.. jadi kepikiran" sahut Likely lagi.
"iya terima kasih Like" ucap Marsha.
"Mars, sudah selesai ?" tanya Spanish menghampirinya ke bengkel.
"iya sedikit lagi" jawab Marsha tanpa menoleh karena masih fokus dengan pekerjaannya.
"lima menit Mars, tidak lebih" kata Spanish.
"kamu duluan saja, nanti aku menyusul" kata Marsha tapi tetap tidak melihat kearah Spanish.
Dia tahu maksud tujuan Spanish.
"Parish sudah sadar"
Marsha memandang Spanish tidak percaya. Spanish tersenyum bahagia.
"syukurlah boss.. adik boss sudah sadar. Cepat sembuh untuk adik boss" ucap Likely.
"terima kasih Like, terima kasih" ucap Spanish seraya menepuk pundak Likely.
"aku akan selesai dalam waktu tiga menit" Marsha kembali fokus dengan pekerjaannya. Dia tidak sabar ingin segera bertemu Parish.
"jangan sampai ada kesalahan Mars" Spanish mengingatkan.
Marsha mengangkat jempolnya.
Spanish memang begitu. Sebagai pimpinan dia selalu mengawasi pekerjaan pegawainya. Tidak jarang dia mengingatkan khususnya team mekanik untuk fokus dan berhati-hati karena bagian mesin itu bagian yang sangat sensitif. Satu kesalahan, bisa fatal akibatnya. Bisa menghilangkan nyawa.
*
Sementara di rumah sakit...
Parish hanya berdua dengan Starla.
Begitu dia membuka mata, yang pertama dia lihat adalah sahabatnya itu.
Karena sejak Parish sakit, Starla selalu datang menemani sepulang dari kampus.
Sebenarnya Mark Mc. Milan dan Spanish sudah meminta aunty Lesly untuk menemani Parish dirumah sakit saat mereka bekerja. Tapi lagi-lagi kalau Starla datang, dia meminta aunty untuk pulang beristirahat supaya tidak kecapean.
Awalnya aunty ragu tapi Starla meyakinkan kalau dia tidak apa-apa menjaga Parish.
Akhirnya Mark Mc. Milan dan Spanish membiarkan saja, karena Starla sahabat Parish. Parish pasti senang ditemani Starla. Pikir Mereka.
Saat Parish sadar, Starla langsung memanggil dokter dan memberi tahu semuanya.
Sayangnya, Mark Mc. Milan lagi ada rapat. Dia tidak menjawab panggilan telfon.
Spanish, katanya akan segera datang setelah pekerjaan Marsha selesai.
Aunty Lesly dan auncle Tom sedang dalam perjalanan.
Starla menyuapi sahabatnya itu bubur hangat. Parish makan dengan lahap.
"bintang-bintang.. sudah berapa lama aku tidak sadar ?" tanya Parish lemah.
Starla berhenti menyuapinya. Dia menghitung.
"sudah hampir lima minggu Rish"
"jadi aku melewatkan pernikahan ayah ?" Parish keliatan kecewa.
Starla menggeleng.
Parish memandang penuh tanya.
"kenapa ?"
"om Mark dan tante Jade memutuskan untuk menunda pernikahan karena kondisimu. Mereka tidak mau menikah tanpa kamu" jelas Starla.
"aku merasa bersalah" Parish tertunduk.
"bukan salah kamu. Kamu sakit" jawab Starla.
Parish kembali membuka mulutnya, Starla pun lanjut menyuapinya.
"kamu tau gak, selama kamu terbaring.. kak Marsha sering datang menjenguk. Sepertinya dia sangat khawatir"
Parish tidak percaya.
__ADS_1
"kamu tidak bicara apa-apa kan ?" dia memicingkan matanya.
"tidak adik ipar, aku saja merasa aneh tapi senang karena kak Marsha tidak merasa keberatan menjaga kamu"
Parish tersipu malu. Wajahnya merona bahagia.
"cieeee... jangan-jangan kak Marsha menaruh hati" goda Starla.
Terdengar suara ketukan pintu.
Starla dan Parish melihat dari kaca pembatas.
Aunty Lesly dan auncle tom masuk dengan membawa rantang tinggi.
"bagaimana keadaan nona ?" tanya aunty Lesly setelah mendekat.
"aku baik aunty.. terima kasih" jawab Parish.
"nona sudah makan rupanya, tadi kami sempatkan untuk membuat makanan kesukaan nona" sahut auncle Tom.
"kenapa repot auncle.. kalian datang, aku sudah senang" Parish tersenyum.
"tapi... nona kesayangan kalian ini, belum boleh makan makanan rumah. Untuk sementara hanya boleh makan bubur rumah sakit" Starla menggoda.
Parish manyun. Dia mendengar sendiri tadi om dokter Steve bilang begitu pada Starla.
Padahal bubur itu rasanya hambar, cuma dia sudah sangat lapar jadi dia makan saja.
"ooo begitu.. baiklah. Aunty simpan saja" ucap aunty Lesly.
"tapi aku mau makan sup" Parish merajuk, dia terisak.
Starla dan kedua orang kepercayaan orang tuanya pun menenangkannya.
Saat yang bersamaan, Marsha dan Spanish masuk. Mareka bergegas mendekat karena mendengar tangisan Parish.
"kenapa sayang ?" Spanish memeluk adiknya.
"aku mau makan sup dari rumah. Aku tidak mau makan bubur rumah sakit" lapor Parish sambil terisak.
Spanish mengerti sekarang.
Kebiasaan. Pikirnya.
Parish dari dulu tidak suka makanan rumah sakit. Katanya hambar. Jadi kadang mereka diam-diam membeli makanan di luar, tanpa sepengetahuan ayah.
Karena kalau ayah tahu, pasti mereka dimarahi. Karena ayah sangat tegas kalau masalah kesehatan, khususnya untuk kesehatan Parish.
Kali ini dia tidak mau mengikuti kemauan Parish. Dia takut Parish kenapa-napa, baru juga bangun eh mau sakit lagi. Tidak akan. Batin Spanish.
"kakak sudah tidak sayang Parish lagi" Parish manyun.
Marsha mendekat.
"untuk sekarang kamu makan bubur ini dulu. Nanti kalau kamu sudah boleh, aku yang akan bawa makanan yang kamu minta. Apa saja" katanya.
Parish memandang Marsha.
Dia sangat merindukan sosok ini. Sangat rindu. Ingin rasanya dia meminta Marsha memeluknya tapi dia tidak bisa, nanti mereka tahu isi hatinya.
"apa saja ?" tanya Parish meyakinkan.
"iya" Marsha mengangguk.
"baiklah, aku mau makan bubur" ucap Parish akhirnya.
Semua tersenyum lega.
Disisi lain, Spanish dan Starla saling memberi kode. Mereka berhasil mendekatkan Marsha dan Parish.
Tapi disisi Marsha, dia sangat merindukan Parish. Dia tidak tega melihat Parish merajuk sampai menangis seperti itu. Dan beruntungnya, Parish berhasil luluh oleh bujukannya.
"kamu mau makan buburnya lagi ?" tanya Marsha.
Entah mungkin karena pesona Marsha yang selama ini dia puja, Parish perlahan mengangguk.
Marsha lalu meminta piring bubur di tangan Starla. Dia hendak menyuapi Parish.
Awalnya Parish ragu untuk menerima suapan Marsha. Tapi dalam hati, dia menginginkan perlakuan Marsha itu.
Parish memandang Spanish, Spanish tersenyum dan mengangguk. Dia mengusap kepala adiknya, seakan memberi tahu kalau dia setuju dengan perlakuan Marsha itu.
Akhirnya, Parish makan disuapi Marsha.
*
Parish mulai bosan berbaring terus.
Dia melihat kearah sofa tamu lewat kaca pembatas. Spanish sedang membantu Starla mengerjakan tugas. Marsha duduk sambil melihat laptop yang dibawanya.
Mungkin, dia sedang mengerjakan tugas akhirnya. Pikir Parish.
__ADS_1
Parish manyun.
Dia memandang ayahnya yang duduk di sofa dekat tempat tidurnya menemani tante jade meyiapkan apel.
Venus setia bersama mereka.
"ayah... aku bosan" rajuk Parish.
"kamu mau apa sayang ?" tanya ayahnya lembut seraya mendekatinya.
"mau jalan-jalan" katanya.
"baiklah, kita jalan-jalan ya" ajak Ayahnya.
Baru saja hendak mengambil kursi roda. Terdengar bunyi ponselnya.
Setelah melihat nama di layar, dia menerimanya. Sepertinya urusan pekerjaan.
Mark Mc. Milan lalu memandang putrinya dengan tatapan bersalah.
"boleh kita tunda jalan-jalannya sayang ? om Clinton minta bertemu untuk membicarakan kerjasama ayah di perusahaannya" jelas Mark Mc. Milan.
Parish tersenyum. Dia memandang ayahnya. Tidak ada rona keberatan, dia dan Spanish sudah sangat terbiasa ditinggal ayah untuk urusan pekerjaan.
"tidak apa yah, ayah kerja saja" katanya.
"terima kasih sayangku" ucap Mark.
Mark Mc. Milan membelai rambut putrinya lalu mencium kening kesayangannya itu. Dia pamit pada semuanya dan bergegas pergi.
"bagaimana kalau Marsha yang temani kamu jalan-jalan" ujar tante Jade.
Parish melirik Marsha yang masih fokus pada laptopnya.
"tapi kak Marsha masih sibuk tante" tolak Parish.
"aku saja ma" seru Venus.
"kita harus pulang sayang, kamu belum ganti baju. Mandi sore dulu baru kita kesini lagi" ujar tante Jade.
"iya ma" jawab Venus sedikit kecewa.
Tante Jade memanggil Marsha. Dengan bergegas dia menghampiri mamanya.
"kamu temani Parish jalan-jalan ya"
"tapi ma, Om Mark.." ucap Marsha ragu, dia takut Om Mark belum mengizinkan putrinya keluar kamar.
"om Mark tadinya mau ajak Parish keluar tapi ada urusan kerjaan. Kamu saja ya" Jade Shannon mengedipkan mata pada Marsha.
Marsha mengerti maksud mamanya.
Parish yang dari tadi melihat percakapan mama dan anak itu hanya bisa berharap semoga Marsha mau jalan-jalan dengannya.
*
Parish senang.
Dia jalan-jalan menikmati pemandangan rumah sakit sambil memangku sepiring potongan apel yang disiapkan tante Jade. Dan yang paling spesial lagi... Marsha setia mendorong kursi rodanya, membawa kearah mana saja yang Parish tunjuk.
"berhenti dibangku itu kak" tunjuk Parish.
Marsha menurut, dia segera menuju bangku taman.
"kakak duduk, kakak pasti cape" katanya pada Marsha.
Lagi-lagi Marsha menurut.
"maaf merepotkan kakak" ucap Parish.
"kamu tidak pernah merepotkan aku, aku senang" ucap Marsha.
Tiba-tiba Parish merasakan sakit dikepalanya. Seperti di tusuk-tusuk ribuan jarum.
Lalu kilatan itu muncul.
Anak lelaki itu. Siapa dia. Kenapa dia muncul terus diingatanku. Batin Parish seraya menahan sakit yang teramat sangat.
Marsha jongkok di kaki Parish. Dia memegang tangan Parish yang menahan sakit di kepalanya. Ada gurat kesedihan melihat Parish seperti itu. Dia tidak tega melihat Parish kesakitan begitu.
"Rish... buka matamu, liat aku" ucap Marsha.
"sakit kak..." teriak Parish.
Spontan Marsha memeluknya. Parish merasakan kehangatan dalam pelukan Marsha.
Andai saja dia bisa, dia tidak mau melepaskan Marsha. Tapi itu tidak mungkin.
Perlahan sakit kepala itu hilang, perlahan juga dia melepas pelukan Marsha.
***
__ADS_1