Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 13


__ADS_3

Marsha menatap Parish.


Dia sudah menceritakan satu persatu apa yang selama ini tersimpan dalam hatinya.


Sebuah kenyataan bahwa dia sangat mencintai gadis yang sedang terbaring itu.


"cepatlah bangun Rose... aku janji tidak akan takut lagi untuk mengakuinya. Aku akan mencoba mendapatkan hatimu" Marsha mengenggam tangan lembut Parish.


*


Pintu ruang sebelah terbuka.


Marsha melepaskan tangan Parish perlahan lalu menutupnya kembali dengan selimut. Dengan cepat dia menghapus air matanya.


Dari balik kaca pembatas, dia melihat Mark Mc. Milan, Jade Shannon dan Venus Shannon masuk. Mereka sedikit terkejut melihat Marsha berada di ruang tidur Parish.


Marsha berdiri menyambut mereka.


"kamu sudah lama ?" tanya Mark Mc. Milan.


"belum lama Om. Aku menjaga Parish sampai Spanish kembali dari mengantar Starla" jelas Marsha.


Mark Mc. Milan mengangguk.


"dokter Steve bilang Parish sudah bisa ditemui" kata Marsha.


"Steve sudah menelfonku. Aku langsung kesini dan mengajak mama dan adikmu" ujar Mark Mc. Milan seraya menepuk pundak Marsha.


"kamu tidak kuliah sayang ?" tanya Jade Shannon.


"aku hari ini tidak ada bimbingan ma" kata Marsha.


Entah kenapa, dia merasa tidak nyaman pada tatap mata mamanya. Seperti penuh selidik.


"kak Parish belum bangun ya ma ?" tanya Venus memandang kearah mereka.


Dia duduk di kursi yang tadi diduduki Marsha.


"belum sayang, Venus berdoa ya.. semoga kak Parish cepat bangun. Bisa ceria bersama kita lagi" ucap Jade Shannon membelai rambut Venus.


Venus mencium pipi Parish. Dia sudah sangat menyayangi Parish, seperti berasa mempunyai kakak perempuan.


"cepat bangun kak... kita main-main lagi" ucapnya.


*


Marsha duduk di taman depan kamar Parish.


Pandangannya kosong. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi Parish.


"Mars..." Jade Shannon menepuk pundaknya.


Marsha menoleh.


"iya ma"


"kamu baik-baik saja ?" tanya Jade Shannon.


Marsha mengangguk.


Jade duduk di sebelah Marsha. Dia tahu Marsha berbohong.


Sebagai seorang ibu, walaupun bukan ibu kandung tapi dia sangat mengenal anak kesayangannya dan kebanggaan suaminya itu.


"ada yang tidak kamu cerita sama mama ?" dia terus mendesak.


"tidak ada ma. Marsha tidak apa-apa" ucap Marsha meyakinkan mama angkatnya itu.


*


Mereka semua berkumpul di ruang perawatan Parish. Satu persatu masuk untuk bicara pada Parish. Untuk memberikan dia rangsangan agar membuka matanya.


Tapi semua keluar dengan wajah lesu dan tertunduk. Parish belum bangun.


"aku tidak tega melihatnya Nish" isak Starla.


Spanish memberi pelukan untuk menenangkannya.


Sudah hampir dua minggu. Seminggu lagi pesta pernikahan Mark Mc. Milan dan Jade Shannon.


Bagaimana bisa mereka meneruskan acara kalau kondisi Parish seperti itu.


Mark Mc. Milan menghela nafas panjang, menatap putrinya dari kaca pembatas.


Jade bangun dari duduknya, dia berdiri sejajar dengan Mark.


Dia mengusap punggung lelaki itu.


"aku tidak apa. Bicaralah pada mereka semua" kata Jade.


Mark Mc. Milan memandang Jade Shannon. Ada rasa tidak enak hati bila dia harus membatalkan semua rencana yang telah disusun rapi. Tapi disisi lain, demi putrinya mereka harus menundanya sampai kondisi Parish betul-betul pulih.


"kamu tidak apa-apa ?" tanya Mark.

__ADS_1


Jade mengangguk.


"demi Parish, aku ingin semua anak-anak hadir dan bahagia bersama kita" katanya meyakinkan.


Mark mengajak Jade duduk di sofa.


Spanish melepaskan pelukannya pada Starla. Mereka kembali duduk tegak bersebelahan. Marsha dan Venus juga duduk di bangku yang sama berdua.


"ayah ingin bicara pada kalian" katanya.


Semua memandang kepada Mark. Seolah menanti kalimat selanjutnya.


"kami sepakat menunda pernikahan sampai kondisi Parish pulih"


Semua mengangguk mengerti.


Spanish merasa ada beban berat pada tiap ucapan ayahnya.


Starla lega dalam hati, setidaknya Parish masih punya sedikit harapan untuk merubah keadaan.


Marsha, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ini yang membuat dia sedikit ragu untuk menunjukan perasaannya selama ini pada Parish.


Semenjak pertemuan di resto itu, mereka akan menjadi saudara.


Apa Parish akan tetap mau menerima pengakuannya ? dengan kenyataan bahwa orang tua mereka akan menikah ? ahhhh Marsha jadi frustasi. Apa yang harus dia lakukan.


*


Marsha duduk di tepi ranjangnya.


Sepulang dari rumah sakit dia langsung menenangkan diri didalam kamarnya.


Dia tidak ingin menyakiti siapapun. Bagaimana perasaannya pada Rose, bagaimana dengan mamanya ? bagaimana, bagaimana dan harus bagaimana, kalimat itu yang menari-nari dalam benak Marsha.


"Mars, boleh mama masuk ?" tanya Jade Shannon dari balik pintu kamar.


Marsha memandang kearah pintu, sebenarnya dia tidak ingin menemui mamanya. Dia merasa bersalah.


"iya ma" jawab Marsha akhirnya.


Pintu kamar terbuka.


Jade Shannon masuk dan duduk disamping putranya.


"kamu suka sama Parish ?" tanya Jade hati-hati.


Marsha memandang mamanya.


Dia hanya terdiam. Tidak punya kekuatan mengeluarkan sepatah katapun.


"dia Roseku ma..." ucap Marsha akhirnya.


Jade Shannon tersentak.


Dia tahu siapa Rose. Dari awal mereka pindah, Marsha selalu membangga-banggakan gadis itu.


Gadis yang baik hati, ramah, suka menolong, sopan dan santun yang Marsha temui.


"bagaimana bisa ? bukannya dia ada di RedRose Utara ?" tanya Jade.


"aku sudah lama tahu dia ma, semenjak dia datang ke pertandingan perdanaku di meteor"


*


Marsha 19 tahun ...


Marsha memandang sekolah seni dari atas motor racingnya. Dia membuka kaca helmnya.


Seharusnya, dia datang kesini setelah lulus SMA. Tapi musibah datang, tuan Shane meninggal karena penyakit jantung.


Marsha, Jade Shannon dan Venus Shannon butuh waktu untuk menata hidup mereka lagi. Banyak yang harus Marsha lakukan untuk mama Jade dan Venus. Sampai dia menunda perjanjian hatinya.


Marsha masuk kedalam toko milik boss Hary. Semua masih terlihat sama hanya bertambah banyak barangnya saja.


"permisi, mau belanja apa ?" tanya boss Alice.


"boss..." hanya kata itu keluar dari mulut Marsha.


Boss Alice terkejut tidak percaya. Dia refleks memanggil suaminya.


"daddyyyyyyyyy" teriaknya.


Masih lantang seperti dulu. Pasti boss Hary langsung lari secepat kilat dari dalam. Tebak Marsha.


Benar.. meskipun sudah tidak seperti dulu karena usia, boss Hary masih saja berlari mendengar teriakan istrinya.


"ada apa mom ?" tanyanya.


Boss Alice menunjuk Marsha. Boss Hary beralih memandangnya.


"anak muda ini menganggumu ?" tanya boss Hary menunjuk tepat di ujung hidung Marsha.


Boss Alice refleks memukul bahu suaminya.

__ADS_1


"dia Marsha kita" katanya.


Boss Hary memandang tidak percaya.


Dia mendekatinya lalu melihat dari depan, samping kanan, belakang, samping kiri, mengelilingi Marsha. Marsha hanya tersenyum.


"ini kamu ?"


"iya boss"


"Marshaaaaaaaaaa" teriak boss Hary sambil memeluk Marsha.


Boss Alice pun ikut memeluk Marsha penuh sayang. Bagi mereka, Marsha bukan sekedar penjaga toko tapi seperti anak sendiri.


*


Marsha duduk menikmati kopi hitam buatan boss Alice di teras toko bersama boss Hary. Tempat favorit mereka bersantai sambil menunggu pembeli. Dan sekarang tempat itu masih sama.


"semenjak Kevin menggantikan tuan Shane, dia jarang pulang kesini. Ya kadang seminggu dua kali, kadang dua minggu sekali, bahkan sampe sebulan" cerita boss Hary tentang putra tunggalnya.


Sebenarnya, boss Hary dulu orang kepercayaan tuan Shane. Karena alasan kesehatan, dia memutuskan untuk berhenti dan menyarankan anaknya untuk menggantikan dirinya.


Kevin, yang sekarang telah diangkat tuan Shane sebagai pimpinan Restbarr 'The Sha' sebelum beliau meninggal.


Semua orang berpikir bahwa Marsha yang akan menggantikan tuan Shane. Tapi tuan Shane tetap pada pendiriannya sewaktu mengangkat Marsha sebagai anak.


'Dia tidak akan membiarkan Marsha masuk kedunia hitam. Cukup dia'


Marsha kenal tuan Shane dari boss Hary.


"nyonya Jade dan Venus apa kabar ?" tanya boss Hary.


"setelah tuan Shane meninggal, mama Jade membuka toko bunga. Kami benar-benar memulai semuanya dari nol. Karena mama tidak mau berharap hanya pada hasil yang dikirimkan kak Kevin setiap bulannya. Kalau Venus sekarang lagi lucu-lucunya, dia penyemangat mama" jelas Marsha.


Marsha kemudian menatap kosong pada sekolah yang sepi karena para siswa yang masih dalam masa liburan kelulusan. Hanya ada dua orang satpam yang berjaga disana.


Satpam yang berbeda dari waktu itu, bukan yang sering memarahinya dan menyuruhnya pergi sewaktu dia mengintip dari pagar untuk melihat Rose sedang di taman.


"kamu sudah bertemu dia ?" tanya boss Hary seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Marsha.


Marsha menoleh. Dia tidak mengerti maksud boss Hary.


"gadis bunga mawarmu"


Marsha menggeleng.


"aku tidak tau dia dimana, terakhir aku bertemu dirumah sakit saat pamit pergi ikut tuan Shane"


"kami pernah bertemu dia" sergah boss Alice yang tidak tahu sejak kapan berdiri disebelah suaminya.


Boss Hary mengangguk.


"kami bertemu dia di pemakaman. Sepertinya orang terdekatnya dimakamkan disana. Dia selalu membawa bunga mawar beraneka warna ke makam tersebut" cerita boss Hary seraya mengingat.


"kalau tidak salah, makam blok A deretan pertama. Kamu cari saja, sapa tau kamu dapat petunjuk" ujar boss Alice.


Marsha mengangguk. Terima kasih.. akhirnya Rose ketemu.


*


Dia menyusuri makam deretan pertama blok A sesuai petunjuk boss Alice. Ada beberapa nama tapi Marsha yakin dia tahu tandanya.


"ketemu" Marsha tersenyum senang.


Kini dia berdiri disebelah makam yang terdapat beberapa buket bunga mawar beraneka warna yang mulai mengering. Ada beberapa bunga mawar putih segar di tanam mengelilingi gundukan makam.


Marsha yakin, ini makam yang didatangi Rose.


"Chrissy Mc. Milan" Marsha membaca nama pada tulisan nisan.


Dia teringat.


Dalam kecelakaan itu, Rose dan ibunya kritis karena luka dalam yang cukup parah. Tapi saat hendak berpamitan, dia hanya menanyakan tentang Rose. Dia tidak tahu kalau ibu Rose tidak bisa diselamatkan.


*


Marsha mencari alamat Mc. Milan di data induk pemerintahan kota RedRose utara.


Komputer informasi untuk pengunjung itu memuat data alamat penduduk kota ini. Ya semacam Maps untuk yang sedang mencari alamat yang dituju.


Tidak lama untuk mendapatkan alamatnya. Karena keluarga Mc. Milan termasuk keluarga kaya di kota ini.


Marsha segera menuju alamat yang sudah di potret dan disimpannya dalam ponsel.


"maaf, tuan Mc. Milan sudah pindah ke RedRose City" Kata yang menjaga rumah dari balik lubang kecil di gerbang.


"bisa aku minta alamat beliau ?" kata Marsha.


"maaf, saya tidak bisa" lubang kecil itupun di tutup.


Tidak apa, dia lega.


Malam ini juga, dia akan pulang ke RedRose City. Tapi sebelumnya, dia akan singgah sebentar di Restbarr.

__ADS_1


***


 


__ADS_2