Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 24


__ADS_3

Marsha membuka matanya pelan.


Dia merasakan sakit diseluruh tubuhnya. Ada rasa nyeri, dan ngilu pengaruh perkelahian sengit berduel melawan Maximiliano.


Marsha meringis tapi dengan cepat ditahannya begitu melihat sosok mama angkatnya tertidur disisi tempat tidurnya. Sementara sosok adik angkatnya, Venus tidur di sofa.


Mereka berdua adalah keluarganya sekarang. Entah bagaimana dirinya tanpa keluarga Shannon. Semua yang yang terjadi dalam hidupnya karena kebaikan dari keluarga itu. Kehangatan kasih sayang papa, mama dan saudara. Rumah yang nyaman, fasilitas yang bagus dan pendidikan tinggi. Marsha sangat berterima kasih tuan Shane dan mama Jade serta Venus menerima kehadirannya.


Marsha teringat Parish, bagaimana keadaan Parish ? pikirnya mulai khawatir.


Dia meraih botol infusnya tanpa menimbulkan suara agar mama Jade tidak terbangun.


Tapi diluar dugaan, Venus yang terbangun.


Marsha menggelengkan kepalanya. Dia seakan memberitahu agar Venus jangan bersuara.


"kakak mau kemana ?" bisik Venus.


"kakak mau ke kamar kak Parish" kata Marsha.


Venus menggeleng, "kakak tidak bisa kesana" Venus menarik tangan kakaknya.


"kenapa ?" tanya Marsha tidak mengerti.


Venus menggeleng. Dia tertunduk.


"Mark melarang kamu untuk bertemu Parish" suara Jade dari belakang.


Marsha tidak mengerti, ada apa ? pikirnya.


"dia berpikir kamu membuat putrinya dalam bahaya. Entah nanti ada berapa Maximiliano yang akan mencarimu untuk membalas dendam. Dia mengkhawatirkan dunia yang kita tinggalkan Mars. Dunia jahat itu" jelas Jade.


Venus memeluk mamanya, sementara Marsha hanya berdiri terdiam mematung. Yang dia takutkan terjadi, masa lalunya akan terus menghantuinya. Itu juga yang membuat tuan Shane pergi dari RedRose Utara. Selama dia disitu, dia akan tetap dikaitkan dengan bisnis dunia malam yang sarat dengan kriminal dan bahaya apabila bertemu dengan rekan bisnis yang melihat semuanya dari segi kekuasaan dan materi saja.


Sampai saat ini Kevin berusaha untuk tetap di garis yang telah ditetapkan oleh tuan Shane. Dunia malam yang bebas dari narkoba, prostitusi, dan kriminal. Walaupun godaan itu kerap datang tapi Kevin tetap teguh bahwa warisan Venus harus aman dari kejahatan.


Itu yang membuat Marsha sangat bangga pada kakak angkatnya itu.


"aku harus menjelaskan pada Om Mark tentang bisnis kita sebenarnya ma. Bukan seperti yang terlihat" kata Marsha.


"jangan sekarang, yang ada dalam pikirannya sekarang adalah Parish sadar dulu. Dia tidak akan mendengar apapun yang kamu bilang" cegah Jade.


"pernikahan mama ?" tanya Marsha.


Jade menggeleng, "kami juga belum membicarakannya. Sekarang bukan saat yang tepat untuk bicara dengan Mark"


Marsha terduduk di tepi tempat tidurnya, Jade memasang ulang infus di tempatnya.


"kamu istirahat saja. Setelah kamu boleh pulang, kita pergi dari mereka" ucap Jade tanpa menoleh kearahnya.


"kita tidak pamit ke kak Parish ?" tanya Venus lirih.


Jade memeluk Venus, "tidak sayang, kita akan menjauh dulu dari mereka" tangis Jade pecah.


Marsha memeluk mama Jade dan Venus, mereka bertiga berpelukan dengan tangis kesedihan. Kehilangan kebahagiaan lagi.


*


"ayah, kenapa ayah membuat jarak antara kita dan keluarga tante Jade ?" tanya Spanish tidak terima.


Dia sangat kaget begitu datang menjenguk Parish, aunty Lesly dan auncle Tom bilang kalau mereka di minta tuan besar Mark Mc. Milan agar melarang Marsha ketemu Parish dan berimbas ayahnya bertengkar dengan tante Jade karena menyinggung masa lalu mendiang suaminya didepan ruangan Parish. Saat itu Jade datang membawa Venus untuk melihat Parish, dan tidak terima kalau Marsha mendatangkan bahaya untuk Parish. Jade wajar membela putranya dan mendiang suaminya.


Mark Mc. Milan yang sedang memeriksa berkas di ruang baca memandang putranya. Tidak pernah sekalipun Spanish bicara sambil berdiri padanya.


"kamu tidak sopan pada ayah Nish" kata Mark.


"maaf yah, aku tidak terima ayah mengorbankan perasaan adikku" sahut Spanish menahan marah.


"perasaan yang mana ? itu hanya ingatan anak kecil, pertemanan sesaat. Marsha yang menyukai adikmu, tapi dia hanya akan membawa adikmu dalam bahaya. Ayah hanya melindungi Parish"


"coba sedikit saja ayah bersabar, menunggu Parish bangun. Ayah tanyakan apa mau Parish. Memangnya ayah pikir, selama ini Parish bahagia ?! Parish berubah karena ayah. Parish sedih, kepikiran karena ayah" Spanish tidak bisa menahan emosinya. Wajahnya merah, bibirnya bergetar, dan tangannya mengepal.


"apa maksudmu ?" tanya Mark.


"Parish menyukai Marsha. Dan itu perasaannya sekarang, bukan ingatan yang lalu. Ini takdir yah, dia melupakan kenangan Marsha tapi dia menyukai Marsha yang sekarang. Dia sangat terluka sejak perkenalan tante Jade sebagai calon mama kami. Dia berubah yah, bukan Parish yang biasanya karena dia kecewa kenapa dia harus disatukan sebagai saudara. Sekarang begitu kebahagiaan itu mungkin, ayah mau menghancurkannya ?! tidak yah, dia adikku ! aku akan memperjuangkan kebahagiaannya. Entah ayah setuju atau tidak. Permisi" Spanish keluar dari ruang baca.

__ADS_1


Mark Mc. Milan terhuyung duduk di kursinya. Jadi selama ini Parish berubah karena dia menderita memikirkan pernikahannya dan Jade. Memikirkan kalau dia dan Marsha akan menjadi saudara. Kenapa dia tidak peka terhadap perasaan putrinya.


Seharusnya dia sudah mengerti, arti senyum dan tawa Parish saat bicara berdua Marsha di gazebo beberapa waktu lalu. Parish bahagia ada Marsha.


Mark tertunduk menutup mukanya.


*


Spanish masuk kedalam mobil dan melaju kembali kerumah sakit. Dia sudah mengeluarkan semua apa yang seharusnya dia beritahu pada ayahnya. Sudah cukup adiknya tidak bahagia, sekarang dia akan pastikan adiknya akan mendapatkan kebahagiaannya.


"kakak janji Rish... kamu akan bersama dengan Marsha. Seperti yang kamu mau" Spanish bicara sendiri sambil tetap fokus menyetir.


Spanish tiba dirumah sakit. Dia berpikir untuk menjenguk Marsha dan bertemu tante Jade. Mungkin sudah saatnya mereka tahu perasaan Parish.


Spanish mengetuk kamar perawatan Marsha. Tidak ada jawaban, perlahan dia membuka pintunya.


Kamar itu kosong. Sepreinya juga sudah rapi. Sepertinya sudah ditinggalkan pasiennya.


Spanish menghubungi ponsel Marsha, tapi nomornya tidak aktif.


"aku kirim pesan saja, mudah-mudahan Marsha segera baca" pikir Spanish.


Kamu dimana ?


aku mau bicara, penting. Ada yang harus kamu tahu tentang Parish.


Spanish menghela nafas. Demi Parish. Ucapnya dalam hati.


*


Sementara di ruang perawatan Parish ...


"sampai kapan kamu begini Rish... buka matamu, kamu harus bangun" isak Starla, dia mengenggam erat tangan Parish.


Aunty Lesly yang berada dibelakangnya ikut merasakan kesedihan yang sama. Dia tidak tega melihat nonanya dalam keadaan tidak sadarkan diri begini. Parish tidak merespon dan ada banyak kabel yang terhubung dari monitor ke tubuh Parish.


"nona harus bangun, nona harus kuat" isak aunty Lesly.


"kita harus bawa kak Marsha kesini aunty" ujar Starla.


"aku yang akan bertanggung jawab" Spanish masuk bersama auncle Tom.


Starla bangun dari duduknya, "kamu baik-baik saja ?" tanyanya seraya memegang tangan Spanish. Dia tahu Spanish bertengkar dengan Om Mark karena masalah Marsha dan Parish.


"aku baik-baik saja, aku tidak akan membiarkan ayah merebut kebahagiaan Parish. Tidak akan" jelas Spanish.


"kak Marsha ?" tanya Starla.


Spanish menggeleng lemah, "mereka tidak ada dikamar perawatan, ponsel Marsha juga tidak aktif. Suster bilang mereka meminta pulang"


"kerumah Mc. Milan ?" tanya auncle Tom.


"tidak mungkin, tante Jade pasti tidak akan kembali kerumah setelah bertengkar dengan ayah" ujar Spanish.


"Kevin !" koor Starla dan aunty Lesly.


Spanish mengangguk, "jaga Parish, aku akan membawa Marsha kesini"


Spanish mendekati Parish, dia mengusap kepala adiknya lalu mencium pipi adiknya.


"kamu tenang saja, aku akan membawa dia kembali" ucap Spanish ditelinga Parish.


Dia bergegas pergi dengan harap dia bisa bertemu Marsha dan membawanya kehadapan Parish. Mudah-mudahan dengan begitu, adiknya merespon.


*


Apartemen Kevin ...


Jade Mc. Milan duduk di sofa dengan memeluk Venus. Mereka memperhatikan Marsha yang dari tadi berkemas barang-barang mereka yang barusan di ambil orang suruhan Kevin dari rumah Mc. Milan.


Untung saja, dirumah hanya ada 2 orang penjaga itu saja jadi anak buah kevin bisa langsung melaksanakan tugasnya.


"mama yakin, kita tidak pulang ke kota ?" tanya Marsha.


Jade mengangguk. Dia memutuskan untuk menenangkan diri di desa kelahirannya, sebuah desa kecil di pinggiran kota RedRose Utara.

__ADS_1


Dia akan pergi bersama dengan boss Hary dan boss Alice. Kedua mantan boss Marsha itu memutuskan untuk istirahat sebentar dari dunia jual beli, istilah dari boss Hary.


"kami sudah siap nyonya" kata boss Alice.


"selama kalian pergi kesana, aku akan berada ditempat kak Kevin" kata Marsha.


"kamu hati-hati sayang" ucap Jade.


Marsha mengangguk.


Padahal dia tidak ikut pindah karena belum bisa meninggalkan Parish. Dia akan terus memantau keadaan Parish walaupun dari jauh karena sudah berjanji pada mama Jade untuk melepaskan Parish.


Sebuah janji yang tidak sejalan dengan hatinya.


*


Spanish menemui Kevin di Restbarr. Tentu saja Kevin sudah tahu maksud kedatangan Spanish. Dia memutuskan untuk bilang tidak tahu, sesuai kemauan nyonya Jade.


Nyonya Jade tidak ingin mereka menyakiti hati Marsha dengan mengungkit asal usul Marsha.


Marsha adalah putranya, dia tidak akan memaafkan orang yang sudah menganggap Marsha rendah. Kata Jade pada Kevin.


"tolong beritahu aku dimana Marsha" ucap Spanish lirih.


"aku benar tidak tahu dimana mereka. Kamu periksa saja kalau kamu tidak percaya" Kevin merentangkan tangannya.


Spanish mengibaskan tangannya lalu pergi dari hadapan Kevin. Tidak ada gunanya dia memaksa karena sebagai orang kepercayaan, Kevin akan menjaga rahasia keluarga Shannon tetap aman.


Aku harus memikirkan cara lain. Pikir Spanish.


"maafkan aku" ucap Kevin setelah Spanish menghilang dari pandangannya melalui pintu yang terbuka lebar.


Selang berapa lama, Marsha datang dari arah yang berbeda.


"mereka tidak bertemu, permainan takdir apalagi ini" gumam Kevin menggelengkan kepalanya.


Seandainya Marsha bisa cepat sedikit saja, dia akan bertemu Spanish. Dan saat itu terjadi, dia tidak perlu dan melanggar janji pada nyonya Jade. Itu sudah takdirnya.


"aku datang kak" kata Marsha membuyarkan lamunan Kevin.


Kevin tersenyum, "mereka sudah pergi ?" tanyanya.


"iya, aku barusan keluar bersama mereka dari apartemen kakak" jawab Marsha seraya duduk dikursi berhadapan dengan Kevin.


"kamu periksa berkas kerjasama ini" Kevin menyodorkan map pada Marsha.


Marsha menerima pekerjaan pertamanya. Mulai hari ini dia akan membantu Kevin di Restbarr. Dia meninggalkan pekerjaannya sebagai mekanik di kantor Spanish seperti dia meninggalkan kenangannya. Dia melepaskan semua.


"Mars, kamu tidak ingin melihat ruanganmu ?" tanya Kevin.


"aku punya ruangan kak ?" Marsha tidak percaya.


"kita berdua boss disini, masa aku punya ruangan dan kamu tidak ?!" Kevin menegaskan.


"baik boss, sesuai perintah anda" seru Marsha seraya beranjak.


Kevin tersenyum, "selesaikan pekerjaanmu setelah itu kita makan siang bersama"


"baiklah kak, dimana ruanganku ?" tanya Marsha.


Kevin menunjuk arah sebelah kanannya seraya menaikan alisnya. Marsha membalas seraya mengacungkan jempolnya.


Dia berjalan keluar dari ruangan Kevin.


*


Ruangan yang disediakan Kevin untuknya cukup luas, hampir sama dengan ruangan Kevin. Dia memegang kursinya, lalu mengusapnya. Kehidupan barunya dimulai. Ucap Marsha seraya memandang keluar jendela.


Bagaimana keadaan Parish ya, apa dia sudah sadar ? bukannya dia sudah menempatkan orangnya di rumah sakit, mereka akan segera mengabarinya begitu ada perkembangan. Walaupun sebenarnya Marsha lebih senang berada didekat Parish sekarang.


Seandainya tuan Mark Mc. Milan tidak membuat mama Jade tersinggung, mungkin mama Jade tidak akan marah dan membuat Marsha berjanji.


Marsha menghela nafas berat.


Sekarang bukan waktunya untuk bersedih Mars, bekerjalah dengan giat agar kamu bisa membanggakan dirimu sebagai seorang yang berhasil di hadapan Mark Mc. Milan. Marsha menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2