Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 34


__ADS_3

Parish dan Starla datang bersamaan ke Cafe diantar oleh tunangan masing-masing. Mereka berhenti sebentar di teras sebelum masuk kedalam.


"nanti begitu selesai kita sekalian ngedate bagaimana ?" usul Spanish.


"mau, nonton ya yang soalnya ada film yang aku dan Parish mau nonton dari kemarin-kemarin" ujar Starla.


"kamu kenapa tidak bilang sama aku ?" tanya Marsha memandang Parish.


"kami mau nonton berdua saja tadinya soalnya kalian kan sukanya action. Ini drama romantis sayang" jawab Parish memandang Marsha manja.


"tidak apa, sekali kali kami para cowok ikut maunya para cewek" sahut Spanish mengedipkan matanya.


"bagaimana kalau kita pulang dulu kerumah mama Jade, menunggu disana sambil main PS" usul Marsha menoleh pada Spanish "sekalian aku mau mandi dulu, kalian sudah mandi sore akunya belum" lanjutnya.


"ide yang bagus Mars, Aku setuju ! ya sudah, kalian kerjakan tugas kalian. Nanti kami jemput lagi" ujar Spanish.


Starla dan Parish mengangguk.


"bye" Marsha memegang pipi Parish. Parish tersenyum.


Marsha dan Spanish pun beranjak naik kendaraan masing-masing dan pergi.


*


Parish, Starla dan Gavin mengerjakan tugas dengan fokus. Mereka banyak terbantu dengan pemikiran Aaron yang lebih senior dari mereka. Aaron ternyata sudah punya konsep untuk tugas mereka.


"kamu hebat bro !" komen Gavin seraya mengacungkan jempolnya.


Aaron hanya tersenyum, "terima kasih, ini kan kerjasama kelompok" terangnya.


"jadi kita panggil kakak nihhhh" goda Starla.


"ya enggaklah, aku maunya nama saja biar tidak ada perbedaan" kata Aaron.


"berarti kita sudah dapat list yang harus dikerjakan. Jadi kita bagi tugas saja, karena ini perusahaan orang tua Gavin.. bagaimana kalau dia saja yang mencari data visi misinya. Aku dan Starla akan mencari dokumentasi dan wawancara untuk pelengkap data. Kamu bagian desain dan penginputannya. Nanti kita evaluasi bersama" jelas Parish pada Aaron.


Aaron mengangguk, "aku setuju, nanti data dari kalian aku yang olah. Kalian evaluasi hasilnya"


Starla dan Gavin mengangguk setuju.


"jadi besok kita mulai ke kantormu Vin" sahut Starla.


"oke tidak masalah, nanti aku buat janji dengan kakakku" kata Gavin.


"aku ikut kalian, aku tidak mau cuma menunggu. Ya aku juga harus turun lapangan" terang Aaron.


"tentu saja bro, ini kerjasama" sahut Gavin.


Parish dan Starla mengangguk setuju.


"sepertinya kita sudah sepakat, jadi pembahasan tugas dianggap sudah selesai" sahut Gavin.


"memangnya kalian mau buru-buru pulang ?" tanya Aaron.


"aku sih sejam lagi baru otw jemput pacarku" kata Gavin.


"kami sudah sudah janjian dengan tunangan kami mau ngedate" sahut Starla.


"ooo begitu sayang sekali, padahal aku mau ajak kalian makan malam bersama" kata Aaron.


"mungkin lain kali saja bro" kata Gavin.


Aaron mengangguk. Dia memamerkan senyumnya.


"kami akan menunggu disini sampai di jemput" ujar Starla.


"baiklah, aku duluan ya guys" ujar Gavin seraya beranjak dan pergi.


Aaron beranjak berdiri membayar tagihan meja mereka. Kali ini dia yang traktir, katanya sebagai tanda perkenalan sebagai teman sekelas, mengingat dia baru kembali masuk kampus.


"aku balik duluan, sampai ketemu nanti" pamit Aaron setelah kembali dari meja kasir.


"sampai nanti" koor Starla dan Parish.


Tak lama, Spanish dan Marsha datang menjemput mereka. Kali ini Marsha ikut semobil dengan calon kakak iparnya sekaligus sahabatnya itu.


"jadi bagaimana tadi ?" tanya Spanish dalam mobil. Dia pindah duduk di belakang bersama Starla.


Marsha mengemudi dan Parish duduk disebelahnya.


"lancar, Aaron cerdas" puji Starla.


"Aaron ?!" Spanish kaget.


"aku belum cerita ya, kalau kami sekelompok dengan Aaron. Senior yang baru aktif lagi" terang Starla.


Raut wajah Spanish berubah, "Mars, apa Aaron dia ?" tanyanya pada Marsha.


Marsha melihat Spanish dari kaca, dia mengangguk. Spanish menyandarkan tubuhnya dengan kasar, dia menggelangkan kepalanya.


"ada apa ?" tanya Starla tidak mengerti.


"kalian berdua harus hati-hati sama dia. Kemana-mana bersama, jangan tinggal berdua dengan dia dalam situasi apapun" jelas Spanish dengan nada khawatir.


"ada apa yang, kenapa kamu jadi tegang begitu ?" tanya Starla.


"kenapa kamu tidak cerita Mars ?" tanya Spanish, dia mengabaikan pertanyaan Starla.


"aku pikir, Aaron tidak akan berani macam-macam karena kita mengenal dia. Aku sudah memperingati Parish. Mereka akan hati-hati Nish" sahut Marsha.


Parish memandang kakaknya, "iya kak, kakak tenang saja. Aku dan Starla akan baik-baik saja. Kita kan harus memberi dia kesempatan kedua. Siapa tahu dia memang sudah berubah sekarang" jelasnya.


Starla semakin tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Dia memandang Spanish, "ceritakan padaku" katanya tegas.


Akhirnya cerita masa lalu Aaron mengalir dari mulut Spanish. Starla membelalak kaget, dia tidak menyangka sosok ramah yang baru dikenalnya itu punya masa lalu seperti itu. Pantas saja Spanish terlihat khawatir karena bisa saja Aaron masih dendam pada Spanish karena Spanish mengupayakan hukuman untuk Aaron serta perlindungan bagi korban.


"kamu tenang saja yang, aku dan Parish akan saling menjaga" Starla mengenggam tangan Spanish.


Spanish mengangguk.


Mereka memulai date mereka dengan nonton film, main bersama di timezone dan makan bersama. Parish dan Starla senang sekali karena sudah lama mereka tidak jalan berempat. Kayaknya semenjak Kakaknya dan Marsha sibuk di kantor.


Mereka mengantar Starla pulang terlebih dulu, lalu Marsha.


"terima kasih Nish" ucap Marsha.


"sama-sama bro" jawab Spanish.


"bye, nanti aku kirim pesan" ujar Parish, Marsha tersenyum seraya mengangguk.


Mobil Spanish pun melaju meninggalkan rumah mama Jade.


*


"selamat pagi"


semua mata langsung tertuju pada tamu yang datang saat sarapan keluarga Mc. Milan.


Rain dengan setelan kerjanya memamerkan senyumnya, "boleh aku ikut sarapan bersama ?" katanya.


Walaupun Rain dan Parish seumuran tapi sebagai putra pertama Clinton Comunication, Rain sudah belajar mengurus perusahaan. Dia melakukannya bersamaan dengan mengurus pendidikannya.

__ADS_1


"tentu saja boleh, silahkan duduk" ujar ayah Mark.


Parish saling pandang dengan Marsha yang duduk bersebelahan. Rain Kini duduk didepan mereka disebelah Venus.


"tidak biasanya kamu pagi-pagi muncul disini Rain ?" tanya Spanish yang berada di ujung meja berhadapan dengan ayah Mark.


"aku mau berangkat ke kampus dengan Parish, aku sudah mengurus kepindahan berkas kuliahku di kampus yang sama dengan Parish" kata Rain.


Parish memandang Rain, "tapi aku biasanya diantar Marsha. Maaf" katanya.


"aku mengerti, kita akan bertemu di kampus. Kamu tetap dengan dia" sahut Rain menatap lurus kearah Marsha.


"trus Rainy bagaimana ?" tanya ayah Mark.


"sama om, aku yang urus. Sekarang dia lagi sibuk, nanti dia menyusul ke kampus" jelas Rain.


"akhirnya kalian benar-benar menemani papi kalian" sahut ayah lagi.


"iya om" jawab Rain.


*


"terima kasih sayang" ucap Parish setelah seperti biasa Marsha membuka helmnya dan merapikan rambutnya.


"aku langsung ke kantor, tapi aku merasa berat tinggalkan kamu dengan dia" ujar Marsha seraya memandang Rain yang baru turun dari mobilnya.


Parish mengikuti arah pandangan Marsha, "aku akan baik-baik saja sayang" ucapnya.


Marsha mengangguk, dia pun memegang pipi Parish lalu mengusapnya lembut "nanti aku jemput lagi ya" katanya.


Parish mengangguk.


Motor Marsha meninggalkan pelataran parkir kampus.


*


Rain meminta Parish yang baru selesai kelas mata kuliah pertama untuk menemaninya keliling kampus. Mereka sekarang berada di taman kampus, tempat favorit Parish dan Starla. Starla pun selalu ikut mereka, jadi Rain tidak punya kesempatan untuk berdua dengan Parish.


Bukan karena apa, Parish merasa ada aura tidak bersahabat dari tatap mata Rain ketika melihatnya. Parish tidak mengerti tapi dia merasa tidak nyaman. Karena itu dia meminta Starla untuk selalu menemaninya.


Pesan Starla


Kita diminta untuk jaga jarak sama Aaron tapi kenapa kamu takutnya sama Rain ? 🤔


Parish membalas


Aku merasa tidak nyaman sama dia Star, kayak mau makan aku hidup2 😱


Starla ketawa, sontak Rain kaget. Parish melotot tajam pada Starla.


"kenapa ?" tanya Rain.


"ah tidak, Spanish cerita lucu" Starla mengibaskan tangannya.


Parish menghela nafas. Hampir saja, huh bintang-bintang. Gerutunya dalam hati.


"Rainy mana ? katanya mau kesini ?" tanya Parish.


Rain sedikit gugup, "dia tiba-tiba ada urusan" jawabnya.


Parish memicingkan matanya, "trus kamu tidak ke kantor ? kamu sudah pake setelan kerja begini" katanya.


"iya tapi setelah jam makan siang, tidak ada kerjaan yang penting sekarang. Jadi mending disini dengan kamu" kata Rain.


Parish sedikit kaget, dia memandang Starla. Starla hanya tersenyum mengangkat bahunya.


"kenapa ?" tanya Rain.


Dari Marsha..


Rainy ada di kantor sekarang, dari tadi dia melihat aku kerja. Aku tidak nyaman sayang 😑


Parish mendengus kesal. Tanpa berpamitan pada Starla dan Rain, dia beranjak pergi.


Dia tidak menghiraukan teriakan Starla yang memanggilnya. Dalam kepalanya sekarang dia harus ke kantor Marsha dan mencari tahu kenapa Rainy bisa ada disana.


*


Parish sampai di Mc. Milan Otomotif dengan taksi. Dia bergegas berlari menuju gedung modifikasi tempat Marsha kerja.


Karena buru-buru dia hanya membalas dengan senyuman sapaan para pegawai.


Langkah Parish seketika berhenti, dia melihat Rainy berdiri diposisi yang seharusnya, biasanya Likely berada.


Parish melihat sekitarnya, Likely tidak ada. Kemana rekan kerja Marsha itu.


"sayang..." sapa Parish.


Marsha tersenyum, dia beranjak mencium kening Parish "kamu disini, aku senang sekali sayang" katanya.


"aku mau makan siang sama kamu" Parish mengandeng lengan Marsha.


"baiklah, aku bersih-bersih dulu ibu boss" Marsha mengedipkan matanya seraya berlalu.


Parish melihat lurus kearah Rainy. Cewek itu tampak biasa saja "kamu sedang apa disini ? kata Rain kamu ada urusan. Urusan disini ?" tanyanya.


"aku mau modifikasi mobilku, ya aku datang kesini" katanya.


"alasan yang bagus, anggaplah aku percaya" Parish pergi meninggalkan Rainy menuju ruang ganti Marsha.


Dia menunggu didepan ruangan itu.


"kamu kenapa ?" tanya Marsha keluar dari ruang ganti.


"sebaiknya kita pergi, atau aku akan meledak" ujar Parish.


Dia beranjak keluar dan langsung menuju pelataran parkir tanpa menoleh pada Rainy. Dia mengabaikannya.


Marsha pamit pada Rainy, cewek itu terlihat kurang senang tapi apa perdulinya. Marsha merasa ada yang aneh dengan cewek itu.


*


Marsha membawa Parish pulang kerumah mama Jade. Dia bilang akan memasak makan siang, agar mood Parish kembali bagus. Parish hanya mencibir. Dia tidak bicara sepatah katapun pada Marsha. Dan Marsha mengerti itu, dia memberi waktu.


"sayang, bantu aku kupas buah untuk penutup" teriak Marsha dari dapur.


"aku lagi tidak mau makan buah, aku mau makan orang" balas Parish.


Marsha hanya menggelengkan kepalanya, dia sangat mengerti tunangannya itu sedang kesal. Dia pun melanjutkan acara masaknya sendiri.


Parish dengan acuhnya duduk di sofa sambil nonton tivi.


"sayang, makan yuk" ajak Marsha, dia duduk disebelah Parish.


"aku mau makan disini sayang tapi disuap" rajuk Parish.


"baiklah tapi janji tidak akan kesal lagi. Marahnya sama siapa kok aku ikutan kena sayang" kata Marsha.


"iya, kesal sama si hujan itu" semprot Parish.


Marsha pun mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya, dia menyuapi Parish.

__ADS_1


"kamu tidak makan ?" tanya Parish.


"habis kamu makan baru aku makan" kata Marsha.


"tidak, aku suapi kamu juga. Kita makan sepiring berdua saja" kata Parish lagi.


Marsha mengangguk.


*


Parish menyandarkan kepalanya di pundak Marsha. Marsha memperbaiki posisi duduknya, sekarang dia memeluk Parish erat.


"kenapa si hujan itu ada di kantormu ? seharusnya dia ada di kampus. Rain bilang dia ada urusan, urusan apa, urusan ganggu kamu ?!" Parish kesal.


"dia bilang mau modifikasi mobilnya sayang, tapi begitu prosedurnya selesai eh dia tidak pulang juga. Dia mengekor aku terus, Likely sampai diminta beli makanan. Kamu tau sendiri kelemahan Likely, wanita dan makanan enak" jelas Marsha.


"sayang, kamu merasa tidak ? momentnya kok pas begini, yang satu sama kamu. Yang satunya lagi sama aku alias jadi kembar penguntit" Parish menatap Marsha.


Marsha mengangguk, "iya, mereka seperti janjian di waktu yang tepat. Tapi apa maksudnya sayang ?" katanya.


Parish mencoba berpikir, tapi dia tidak punya jawaban yang tepat.


"sudahlah, yang penting kita saling jaga diri. Aku hanya cinta sama kamu" kata Marsha.


Parish tersenyum, "aku tau, aku juga hanya cinta sama kamu" dia memegang pipi Marsha.


Marsha mencium kening Parish, Parish membalas dengan mencium pipi Marsha. Mereka berpandangan lama.


Marsha menatap bibir merona Parish, dia mendekatkan wajahnya. Parish memgerti apa yang akan dilakukan Marsha, dia memejamkan matanya saat bibir Marsha menempel dibibirnya.


"maafkan aku, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menciummu" ucap Marsha setelah melepaskan.


"aku... aku mengerti sayang tapi kita tidak boleh lebih dari ini. Kamu mau mengerti kan ?!" ucap Parish.


"iya sayang" Marsha kembali men**** bibir Parish sekilas, sebentar saja.


"kamu mau pulang sekarang ?" tanya Marsha seraya melirik jam tangannya.


Sudah mulai menjelang sore, dia harus mengantar Parish pulang kerumahnya.


"iya, tapi kamu mandi dulu supaya nanti tidak usah pulang. Langsung tunggu makan malam bersama. Bagaimana ?"


"iya sayangku, apapun mau kamu" ucap Marsha seraya mencium kening Parish lalu beranjak. Dia menuju lantai dua.


*


Parish dan Marsha saling pandang, si kembar berada dirumah keluarga Mc. Milan. Marsha yang tahu kalau Parish masih kesal, mengamit jemari tunangannya melangkah menuju ruang keluarga dimana mereka berkumpul.


"aku baik-baik saja sayang" bisik Parish.


"yakin ?" balas Marsha.


Parish mengangguk.


Marsha melepaskan pegangan tangannya.


"hai Mars, Parish.. kalian baru pulang ? kamu masih pake baju yang tadi siang" ujar Rainy mengamati Parish.


"trus kenapa ? ada masalah ?" dengus Parish.


Rainy hanya terdiam. Dia menunduk. Rain yang duduk disebelahnya memandang Parish.


Spanish juga tidak bisa menyembunyikan kagetnya, kenapa adiknya jadi jutek. Biasanya dia selalu ramah.


Mama Jade juga melihat sekilas lalu mencoba tersenyum, "kamu mandi dulu trus ganti baju sayang, kita juga masih tunggu ayah untuk makan malam bersama" katanya.


"iya ma, Parish ke kamar dulu" Parish mendekat kepada Marsha, "kamu jaga jarak, awas bikin aku meledak" bisiknya.


"iya sayang" balas Marsha.


Tanpa berpamitan pada Rain dan Rainy dia menuju tangga hendak ke kamarnya.


"Mars, aku mau bicara sebentar" sahut Spanish.


"baiklah" jawab Marsha.


"maaf Rain, Rainy aku tinggal dulu" kata Spanish seraya beranjak dengan Marsha. Mereka menuju gazebo halaman depan.


"Parish kenapa ?"


"kesal sama Rainy" jawab Marsha.


"kenapa ? selama ini mereka akrab, kenapa sekarang jadi ketus begitu" kata Spanish.


Marsha lalu menceritakan kejadian di kantor tadi. Spanish geleng kepala.


"Starla bilang, kalo Parish juga merasa tidak nyaman dengan Rain yang sama kayak adiknya. Dia mengikuti Parish kemana saja. Katanya supaya dia tahu suasana kampus" jelas Spanish.


Marsha mengangguk, "iya Parish juga sudah cerita sama aku"


"hmmm kayaknya ada maksud tertentu" ujar Spanish.


"Parish juga berpikir begitu" kata Marsha.


"pantas saja dia kesal begitu. Dia cemburuan" Spanish geleng kepala.


"iya, kami sama-sama cemburuan" ucap Marsha.


Spanish meninju lengan Marsha pelan, "kita sama" dia tertawa.


*


Parish bicara berdua Rain di pelataran parkir dekat mobilnya. Rain bilang ada yang mau dia tunjukan padanya.


Tapi sudah lama berada disitu, Rain juga belum menunjukan sesuatu. Dia hanya menatap Parish dengan tatapan yang terus terang membuat Parish tidak nyaman. Mata Rain seolah ingin memangsa Parish, bahasa kasarnya begitu. Padahal selama mereka kenal, Rain selalu ramah dan bersahabat.


Parish mulai gelisah, "mana ? kita sudah hampir lima belas menit disini Rain" katanya.


"gak sabaran, tunggu sebentar Rish" kata Rain.


"memangnya kamu mau kasih liat apa ?" Parish penasaran.


Rain tersenyum lalu merogoh saku celananya, dia mengeluarkan kotak cincin berwarna merah marun.


Kotak itu terbuka ada sepasang cincin didalamnya.


"trus untuk siapa ?" tanya Parish.


"aku mau nikah sama kamu Rish" kata Rain memandang Parish.


Parish kaget, bagaimana bisa. Parish tidak punya perasaan apa-apa sama Rain. Dan juga dia sudah bertunangan dengan Marsha. Kenapa Rain menyatakan mau menikah dengannya.


"Rain kamu apa-apaan ? aku sudah bertunangan. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Marsha" sahut Parish dengan tatapan tidak suka.


"menikah sama aku Rish.. aku lebih bisa membahagiakan kamu daripada si tukang bengkel itu" Rain meraih tangan Parish.


"Rain ! tukang bengkel itu punya nama, namanya Marsha dan dia tunanganku. Memangnya kenapa kalau dia kerja bengkel ? aku bangga sama dia" Parish menghentakan tangannya, melepaskan genggaman Rain.


"aku ingin kamu Rish" tiba Rain mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Dia menutup mulut Parish.


Parish meronta tapi Rain memegang kasar tangannya. Pegangan itu terlalu kuat untuk seorang wanita dan seorang yang mulai lemah entah karena apa, Parish merasa pusing dan kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


***


__ADS_2