Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 17


__ADS_3

Setelah tiga minggu tidak sadarkan diri dan dua minggu menjalani pemulihan, Parish diizinkan dokter Steve pulang kerumah.


Hari pertamanya dirumah, dia langsung berpikir bagaimana caranya agar bisa menjaga jarak dengan Marsha.


"bagaimana caranya aku bersikap biasa pada kak Marsha ?" tanya Parish pada Starla.


Starla memandang kaget. Tapi Parish acuh sambil memainkan boneka teddy bear kesayangannya.


"maksudnya, kamu tidak menyukainya lagi ?" tanya Starla.


Parish mengangkat bahu.


"kamu yakin ?!"


Parish mengangguk.


"ingat bintang-bintang, pernikahan ayah bukan di batalkan tapi ditunda. Sebentar lagi mereka akan mengatur ulang rencananya. Masa aku masih dengan perasaanku. Aku egois" jelas Parish.


Ada rasa berat mengeluarkan kata-kata barusan.


"tapi sepertinya kak Marsha suka sama kamu Rish" ujar Starla.


"aku tidak tau, tapi kedekatannya selama ini semakin buat aku takut. Aku takut kalau aku akan memaksakan kehendak hatiku"


"tapi bagaimana kalo pendapatku betul, dia ada hati sama kamu"


Parish terdiam.


"tidak ah, kak Marsha baik. Mungkin hanya karena aku akan jadi adiknya" sangkalnya.


Dalam hatinya kalau Marsha benar menyukainya, cintanya selama ini berbalas. Dia wanita paling bahagia. Tapi dia tidak mau egois. Pernikahan ayahnya sudah direncanakan.


"jadi apa keputusanmu ?" tanya Starla.


"aku ngantuk kaka ipar, mau tidur" kilah Parish seraya memejamkan matanya.


Starla geleng kepala, Parish sedang menghindari pertanyaannya.


*


"Key, aku ada jadwal apa lagi hari ini ?" tanya Spanish pada Kesya sekretarisnya.


"tidak ada tuan, pagi ini hanya satu pertemuan tadi saja" jawab Kesya sambil melihat pad-nya.


"baiklah, masukan kejadwalku.. siang ini aku ke kampus bimbingan trus sorenya temani adikku terapi. Tolong ingatkan aku" pinta Spanish.


"baik tuan, sekarang sudah waktunya makan siang. Anda mau saya pesankan makanan ?" tanya Kesya.


"tidak usah, aku makan dirumah saja sekalian jemput pacarku. Terima kasih Key"


"sama-sama tuan. Saya permisi" Kesha keluar dari ruangan Spanish.


Dia teringat. Dia satu bimbingan dengan Marsha, apa Marsha tidak mau ikut ke kampus. Dia pun langsung bergegas menuju ke bagian bengkel.


"Mars, kamu tidak ke kampus ?" tanya Spanish.


"aku sudah mengirimkan hasil perbaikannya lewat email" jawab Marsha.


"ah kamu buatku salah strategi. Aku janjian dengan Starla mau mengantar dia ke kampus sekalian aku bimbingan" Spanish menepuk jidatnya.


"ciee.. sudah pergi saja. Sekalian kamu liat junior meteor" kata Marsha.


Marsha dan Spanish sekarang lagi masa seleksi junior untuk regenerasi team. Karena mengingat mereka sudah mau lulus dari kampus, jadi mereka ingin memastikan team kebanggaan mereka terus bertahan.


"haaaaa.. aku ada ide bagus, bagaimana kalo kamu yang temani Parish terapi" tunjuk Spanish.


Marsha memandangnya, dalam hatinya serasa dipenuhi bunga mawar aneka warna mendengar nama Parish disebut.


"iya jam 4 sore ini. Takutnya aku sangat sibuk sekali" Spanish mengedipkan matanya.


"baiklaaaaahhh aku tau maksudmu" jawab Marsha dengan aksen sedikit dibuat-buat.


"terima kasih sahabat terbaikku" Spanish meninju pelan pundak Marsha.


"satu lagi, kamu perginya pakai mobil kantor. Aku akan meminta Kesha untuk menyiapkannya" lanjut Spanish.


"oke boss" sahut Marsha.


"Marsssss.... aku bukan bossmu !" Spanish kembali menegaskan.


Marsha tersenyum seraya mengacungkan jempolnya.


Spanish pun pamit.


*


Spanish mengetuk pintu kamar Parish. Dia tahu Starla ada didalam.


Starla membuka pintu kamar. Dia sudah bersiap untuk berangkat ke kampus bersama Spanish.


"Parish mana ?" tanya Spanish sedikit mengintip kedalam.


"dia sudah tidur setelah makan dan minum obat" jawab Starla.


"ayo temani aku makan dulu baru kita ke kampus" ajak Spanish.


Starla mengangguk seraya menutup pintu kamar Parish.


*

__ADS_1


Setelah makan siang bersama, mereka menuju kampus. Spanish janjian dengan dosennya sekitar jam tiga lewat dua puluh menit.


Sementara Starla datang untuk satu perkuliahan dan sekalian mengantarkan tugas-tugas Parish sebagai pengganti kehadirannya.


"aku langsung keruang dosen ya" pamit Spanish.


"iya, jangan lupa antar Parish terapi" Starla mengingatkan.


"tenang saja, aku sudah minta Marsha untuk temani Parish" Spanish mengedipkan matanya.


"apa ??" Starla kaget.


Spanish menghentikan langkahnya.


"Parish ingin menghindari kak Marsha" terang Starla.


Spanish memandangnya tidak mengerti.


"Parish ingin kebahagiaan om Mark" ucap Starla.


"sudahlah, kalo itu keputusan Parish. Kita biarkan saja dia menyelesaikannya" Spanish memegang pundak Starla.


Starla mengangguk.


*


Parish bersiap terapi memory dirumah sakit. Dari semalam om dokter sudah mengirim pesan untuk mengingatkannya.


Ayahnya juga sudah menelfonnya agar dia mengingatkan Spanish untuk menemani. Tapi sampai sekarang belum datang.


Dia menunggu Spanish di minibar dapur bersih bersama aunty Lesly.


Auncle Tom sedang ikut ayah menyelesaikan pekerjaannya. Supir pribadi ayah yang merangkap sebagai sekretarisnya, Alex sedang sakit. Jadi ayah meminta auncle Tom untuk mengurusi keperluannya.


"auncle masih lama ya pulangnya aunty ?" tanya Parish.


"sampai tuan besar selesai nona... kalo nona mau, nanti aunty suruh Tobby atau Rome untuk mengantar" sahut aunty.


"tidak usah, aku tunggu kakak saja" kata Parish.


Tiba-tiba terdengar panggilan phone penghubung.


Aunty Lesly segera mengangkat. Suara Rome terdengar.


"ooo baiklah. Antar dia masuk, kami ada di dapur" jawab aunty Lesly.


Parish mengerutkan kening.


"yang menjemput nona sudah datang" ucap aunty Lesly.


Parish heran. Seharusnya kakaknya langsung masuk, ini kenapa harus phone dulu.


"sore aunty" sapa Marsha.


Parish menoleh.


Bagaimana Marsha bisa ada disini. Jangan-jangan dia yang datang menjemput. Pikir Parish.


"sore tuan muda Marsha" ucap aunty sopan.


"jangan panggil aku tuan aunty, panggil Marsha saja" Marsha tersenyum.


Parish terpukau melihat senyum itu. Bagaimana tidak, itu senyuman yang bertahun-tahun membuat nyenyak tidurnya. Ya dia memimpikannya.


"aku diminta Spanish untuk menemani Parish terapi" kata Marsha.


"kak Spanish mana ?" tanya Parish.


"dia masih di kampus" jawab Marsha.


"baiklah, aku pergi dulu aunty" pamit Parish.


Marsha pun pamit pada aunty Lesly.


Parish jalan duluan diikuti Marsha dibelakangnya.


Marsha membukakan pintu mobil dan mempersilakan Parish masuk.


Parish melihat seisi dalam mobil. Dia tahu jelas ini bukan mobil tante Jade. Lalu ini mobil siapa.


"Spanish menyuruhku memakai mobil kantor" jelas Marsha seakan tahu kalau Parish bertanya dalam hati tentang mobil yang dia pakai.


Parish mengangguk. Lalu memalingkan muka kearah jendela kirinya.


Kenapa saat sudah mantap ingin jaga jarak, selalu dikasih cobaan kayak begini. Desis Parish dalam hati.


Dia tahu kelemahannya, pesona Marsha.


Sepanjang perjalanan Marsha dan Parish saling diam. Mereka canggung seperti orang yang baru bertemu. Marsha sesekali menoleh tapi Parish tetap mengarahkan pandangan kearah lain.


Mereka pun sampai.


Dengan segera mereka menuju ruang praktek dokter Steve. Marsha sebenarnya ingin menunggu diluar tapi dokter Steve menyuruhnya masuk. Parish tidak bisa komplain, dia membiarkan saja Marsha ikut masuk kedalam.


*


Dokter Steve menyuruh Parish berbaring di tempat tidur. Dia lalu memutar alunan piano klasik. Katanya, dulu ini musik yang sering dimainkan Parish. Ini adalah salah satu rekaman peninggalan mendiang Chrissy Mc. Milan, ibu Parish.


Dokter Steve bercerita kalau ibu Parish adalah seorang pianis yang berbakat. Dia ingin menurunkan bakatnya itu pada Parish tapi sepertinya pilihan Parish jatuh ke melukis. Tapi Parish tidak ingin mengecewakan ibunya, dia akhirnya memutuskan mengambil dua kelas disekolah seni.

__ADS_1


Marsha mendengar dengan seksama cerita dokter Steve. Ya benar, sekolah seni. Tempat dia mengenal Parish.


Parish masih memejamkan matanya. Entah apa yang sedang terjadi. Dia merintih kesakitan. Tapi dia tidak bisa memegang kepalanya karena kedua tangannya seakan kaku. Lalu bayangan itu muncul.


"seorang anak laki-laki, dia selalu berada disekitarku. Aku tidak tau dia siapa. Dia menghilang.. ahhhhhhhhh sakiiiiiiiittttttt sakit om dokter... " Parish bergerak kekanan kekiri dan menghentak badannya sambil memegang kepalanya.


Marsha tidak tega melihat keadaan Parish. Dia ingin lebih dekat lagi agar bisa memegang tangan dan mengusap kepala Parish. Dia ingin mengambil rasa sakit itu. Marsha menatap pilu. Dia hanya bisa terpaku duduk di sofa.


"tenang Rish... kamu tenang lalu buka matamu pelan-pelan" arahan dokter Steve.


Parish menarik nafas pelan-pelan lalu dia perlahan membuka matanya.


*


Dokter Steve duduk di meja kerjanya.


Parish dan Marsha duduk berhadapan dengannya.


"siapa lelaki itu Rish ?" tanya Dokter Steve.


Parish menggeleng lemah.


"aku tidak ingat om dokter, sudah dua kali dia muncul dikilatan memoryku" jelas Parish.


"kapan terakhir kamu ke RedRose Utara ?" tanya dokter Steve.


"sudah lama aku tidak kesana dok. Terakhir mengunjungi makam ibu" jawab Parish.


"ketempat lainnya ?" tanya dokter Steve.


"tidak ada, ayah dan kakak langsung membawaku pulang kerumah"


Dokter Steve mengangguk.


Dia akan mengatur jadwal terapi selanjutnya. Sebelumnya dia akan bicara pada ayah Parish terlebih dahulu.


"baik om dokter. Parish pulang dulu" pamit Parish.


Dokter Steve mengangguk. Dia memegang kepala Parish.


"kamu pasti sembuh" katanya.


"Parish berharap secepatnya om dokter" ucap Parish.


"antar dia pulang Mars" ujar dokter Steve.


"iya dok, itu tanggung jawabku" sahut Marsha.


*


"kamu mau makan es cream dulu ?" tawar Marsha dalam perjalanan pulang.


Parish menggeleng. Dia tidak berselera makan es cream, padahal itu salah satu favoritnya.


"aku mau pulang saja" jawab Parish.


Marsha tidak berniat untuk memaksa. Mungkin Parish lelah. Pikirnya.


Dia fokus mengemudikan mobil agar segera sampai kerumah Mc. Milan.


*


Mobil yang dikemudikan Marsha memasuki halaman rumah Mc. Milan.


Parish hendak turun membuka pintu tapi Marsha mencegahnya. Dia bergegas turun, mengitari mobil lalu membuka pintu untuk Parish.


"terima kasih kak" ucap Parish.


"sama-sama.. istirahatlah" ucap Marsha.


Parish hanya mengangguk seraya tersenyum.


"Rish... boleh aku...."


"apa kak ?" tanya Parish penasaran.


"boleh aku mengirim pesan atau menelfonmu ?" tanya Marsha hati-hati.


Jantung Parish berdegup cepat.


Apa ini, apa ini mimpi ?! aku tidak mau bangun. Ucap Parish dalam hati. Tapi ini bukan mimpi, Marsha benar meminta izin untuk menghubunginya.


Seandainya saja, Parish bisa menolak tapi hatinya tidak memberi dia kesempatan untuk itu. Akhirnya Parish mengangguk.


Pikirannya telah dikalahkan hatinya. Mau sekeras apa dia menjaga jarak dengan Marsha, menghindari, bahkan mengacuhkannya.. hatinya tetap memilih dekat pada Marsha.


"sampai nanti kak Marsha" ucap Parish seraya berbalik masuk kedalam rumah.


"sampai nanti Parish" ucap Marsha memandang Parish yang menghilang dibalik pintu rumah.


Marsha tersenyum senang.


Dengan bergegas dia masuk kedalam mobil dan melaju menuju perusahaan otomotif Mc. Milan yang dikelola Spanish Mc. Milan, sahabatnya.


Marsha hendak mengambil motornya yang dia tinggalkan disana lalu pulang kerumah.


Dalam pikiran Marsha sudah terlintas kalimat-kalimat indah yang akan membuka percakapan via ponsel dengan Parish.


"love you Rose"

__ADS_1


***


__ADS_2