Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 38


__ADS_3

Marsha meraih jemari Parish, dia menggenggamnya erat sambil mengemudi.


"sayang, kamu yang fokus nyetirnya. Aku tidak kemana-mana" ujar Parish.


"maaf sayang, aku terlalu bahagia. Sebentar lagi kita akan menikah" ujar Marsha.


"iya sayang, aku juga. Tapi sayang, kamu belum bilang kita mau kemana ?" Parish memandang Marsha.


"menyelesaikan urusan Aaron" jawab Marsha.


"kita mau ketempat Sasya ?" tanya Parish.


Marsha mengangguk.


Parish duduk tenang, dia tidak sabar ingin tahu seperti apa sosok Sasya itu. Sampai kakaknya begitu melindungi dia dari Aaron.


Mereka tiba di sebuah rumah yang jauh dari keramaian. Rumah itu agak terpencil dari perumahan lainnya. Halamannya luas dan asri.


Begitu mereka turun dari mobil seorang wanita yang seusia Marsha dan Spanish menghampiri mereka. Dia tampaknya dari menyiram tanaman. Ada sedikit bercak basah pada pakaian yang dikenakannya.


"Hai Sya, kamu apa kabar ?" tanya Marsha.


"aku baik Mars, aku senang kamu datang. Sudah lama kamu dan Spanish tidak kesini" katanya.


Parish hanya memandang. Sosok didepannya cantik, dia sudah tidak memakai kacamata minus lagi. Menurut cerita Aaron, Sasya pakai kacamata minus.


"aku datang untuk mengantar undangan pernikahanku" jawab Marsha.


Parish menoleh, dia tidak tahu kalau Marsha juga akan mengundang Sasya ke pernikahan mereka.


"wow, aku turut bahagia Mars. Ini calon kamu ?" tanya cewek itu.


"iya, ini Parish Mc. Milan adik Spanish calon istriku" Marsha memperkenalkan.


Sasya menjabat tangan Parish lalu memeluknya.


"selamat ya, kamu beruntung. Marsha orang baik sama dengan kakakmu" kata Sasya.


Parish mengangguk.


Sasya mengajak mereka masuk kedalam rumah. Sasya menyuguhi minuman.


"orang tuamu belum kembali ?" tanya Marsha seraya mengamati rumah Sasya yang sepi.


Sasya mengangguk, "mereka sudah 2 bulan di Latulip, aku tidak bisa memaksa untuk terus ditemani. Pekerjaan ayah juga penting dan ibuku harus menemaninya" jelasnya.


Marsha mengangguk mengerti.


Marsha lalu mengeluarkan undangan dari balik jaketnya. Dia memberikannya pada Sasya.


"kalian serasi sekali" komentar Sasya melihat foto prawedd yang tercetak pada undangan.


"terima kasih, kami harus buru-buru melakukan sesi fotonya karena musibah yang dialami Parish dan kami tidak ingin menunda pernikahan yang sudah ditetapkan" jelas Marsha.


"musibah apa ? itu sebabnya kalian tidak datang minggu lalu ?" tanya Sasya.


"Parish mengalami penculikan, sudahlah ceritanya panjang. Aku tidak mau Parish mengingatnya lagi" kata Marsha.


"aku mengerti sekarang, tapi kamu dan Spanish harus menjelaskan pada dia. Dia sangat berharap kalian datang" kata Sasya.


Parish bingung, siapa dia yang dimaksud Sasya. Kenapa begitu penting sampai harus diberi penjelasan.


"mana dia ?" tanya Marsha melihat kanan kiri.


"dia ada di kamarnya, bik... bibik" panggil Sasya.


Seorang wanita paruh baya mendekati Sasya.


"tolong panggil dia di kamar" kata Sasya.


Parish tambah penasaran. Siapa 'dia' yang dari tadi disebut Marsha dan Sasya.


"om Marsha...." teriak seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dari anak tangga.


Marsha tersenyum lalu merentangkan tangannya, anak itu berlari kedalam pelukan Marsha.


Parish memandang, anak ini siapa ? tanyanya dalam hati.


"happy birthday Aarsya...." ucap Marsha.


"terima kasih om Marsha, Aarsya suka kadonya. Terima kasih" ucapnya.


Marsha tersenyum. Karena tidak bisa datang, Marsha dan Spanish memutuskan untuk mengirim kado. Mereka mempercayakan pada Kesya untuk mengurusnya.


Bocah itu memandang Parish. Dia tersenyum. Parish menatap mata Aarsya, matanya sangat mirip seseorang yang Parish kenal. Bibir tipis itu juga. Mirip sekali. Apa dia ? Parish melihat kearah Marsha.


Seakan tahu arti tatapan Parish, Marsha mengangguk pelan. Parish refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"om senang kamu suka, oh iya ini adiknya om Spanish. Namanya tante Parish, dia calon istrinya om. Nah kamu nanti datang ya dengan mama kepernikahan om" ujar Marsha.


"waaaaahhh.. boleh ya ma ?" Aarsya meminta persetujuan Sasya.


"boleh sayang, kita akan ada disana" kata Sasya.


"aku akan tinggalkan kalian. Ada yang ingin Parish sampaikan pada kamu" kata Marsha pada Sasya.


Sasya memandang Parish. Parish malah memandang Marsha. Dia bingung, bagaimana jika Sasya tidak mau mendengarkan apa yang mau dia katakan. Bagaimana kalau Sasya akan merasa terganggu. Parish tidak pernah membayangkan kalau kejadian Sasya akan menghadirkan anak. Parish merasa Aaron tidak tahu apa-apa tentang ini. Penjelasan Parish ke Aaron adalah tergantung pembicaraan Parish dan Sasya. Apapun keputusan Sasya, Parish harus bisa menerima. Bahkan jika Sasya tidak ingin Aaron mengetahui tentang Aarsya. Parish juga harus menyembunyikannya seperti yang dilakukan kakaknya dan Marsha.


*


Parish memandang hamparan bunga warna warni taman Sasya. Mereka duduk berdua di bangku taman. Sementara Marsha dan Aarsya bermain sepakbola agak jauh dari mereka. Mereka berdua tampak akrab.


"pasti sulit, membesarkan Aarsya sendirian" ucap Parish.


"iya, tapi aku terbantu oleh orang tuaku yang menerima keadaanku. Dan juga bertemu Spanish dan Marsha teman yang baik, selama kejadian itu mereka tidak pernah meninggalkan aku. Aku berhutang budi pada mereka" ucap Sasya.


"apa kamu bisa memaafkannya ?" tanya Parish memandang Sasya.


Sasya terdiam.


"aku sudah tahu kejadiannya. Dan aku mengalaminya waktu penculikan kemarin. Untungnya hasil pemeriksaan menyatakan bahwa aku baik-baik saja. Area bawahku tidak lecet sama sekali. Dia belum menyentuhnya. Sekarang Rain di penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Aku sampai sekarang belum bisa memaafkannya. Bahkan aku tidak mau lagi melihatnya" jelas Parish mengingat kejadian yang dia alami.


Sasya memeluk Parish, "aku mengerti, tapi kamu harus melepaskan sakitmu dengan memaafkan. Itu lebih baik, pelan-pelan kamu akan melupakannya" Sasya melepaskan pelukannya.


"kamu... apa sudah memaafkan dia ?" tanya Parish mengulang kalimatnya.


"awalnya berat tapi aku mencintainya, aku memaafkan dia. Walaupun keluargaku tidak. Mereka ingin Aaron bertanggung jawab dengan di penjara. Beda sama kamu yang pastinya terpukul karena kamu tidak menyukai Rain" Sasya memandang Parish.


Parish mengangguk, "jadi ada peluang untuk Aaron bisa bertemu kamu ?" tanyanya.


"Aku tidak ingin menemuinya, aku sudah bahagia dengan kehidupanku bersama Aarsya. Pasti Aaron bahagia dengan kehidupannya sekarang" Sasya memandang kedepan, melihat Aarsya yang menggiring bola lalu menendangnya pada Marsha.


"kamu salah ! begitu keluar dari penjara, dia mencarimu. Tapi semua akses tentang kamu diputus. Menemui orang tuamu mendapat jalan buntu. Bahkan dia memohon pada kak Spanish tapi kak Spanish menolak memberi tahu karena memikirkan kondisimu. Yang dia lakukan hanyalah menunggu kamu memaafkan dia dan mengizinkan dia menemuimu" jelas Parish.


Sasya memandang Parish, "kamu mengenalnya ?" tanyanya.


"aku mengenalnya baru-baru ini, dia mulai melanjutkan kuliahnya dan kebetulan sekelas denganku. Dan kemarin, dia penolongku. Kalau tidak ada dia, mungkin keluargaku dan Marsha tidak akan pernah menemukanku. Aaron semakin terluka mengingatmu begitu tahu kejadian yang menimpaku. Mimpi buruknya terus menghantui. Dia ingin menemuimu dan memastikan kamu memaafkan dia" jelas Parish.


"aku sudah memaafkan dia tapi aku tidak mau menemui dia karena aku sudah janji pada orang tuaku. Ayah bisa marah besar dan bisa menghabisi Aaron kalau sampai tahu Aaron mendekatiku. Bahkan ayah tidak ingin Aaron tahu tentang Aarsya" ujar Sasya.


Parish mengerti sekarang.


"walaupun aku dipisahkan dari Aaron tapi aku selalu bisa melihat dia lewat Aarsya. Mereka sangat mirip"


Parish mengangguk, "iya, aku langsung shock tadi begitu memastikan kemiripan mereka. Aaron pasti senang, kalau dia tahu dia punya anak tampan seperti Aarsya" Parish memandang Aarsya.


"kamu harus janji sama aku, tidak akan memberitahu Aaron tentang Aarsya. Biar aku bujuk dulu ayahku. Setelah aku tahu kalau dia mencariku, aku akan berusaha untuk meyakinkan ayah kalau Aaron sudah berubah dan mau bertanggung jawab dari dulu" jelas Sasya.

__ADS_1


"apa yang harus aku sampaikan pada Aaron ? Dia pasti menunggu penjelasanku" tanya Parish.


"sampaikan saja pembicaraan kita tadi tapi jangan dulu mengungkit tentang Aarsya. Biar aku yang beritahu dia" kata Sasya mengenggam tangan Parish.


Parish memandang Sasya, dia mengangguk. Sasya berhak mengambil keputusan seperti itu karena Sasya yang sudah mengandung dan mengurusi Aarsya sendirian. Orang lain tidak berhak merusak kebahagiaannya bersama putranya, termasuk Aaron, ayah dari putranya.


*


Starla memandang kearah jendela dengan gelisah. Parish dan Marsha sudah sore begini belum pulang juga dari pergi pagi tadi. Starla ingin meminta maaf pada sahabatnya itu karena tidak mendampinginya dalam keadaan susahnya. Starla sibuk dengan tugas-tugas dan bimbingan dosen di kampus. Dia merasa bersalah setelah mengetahui apa yang dialami sahabatnya itu.


Spanish yang dari dapur mengambil cemilan dan minuman dingin untuk mereka hanya geleng kepala melihat tingkah tunangannya itu.


"kenapa mereka lama yang, memangnya mereka kemana ?" tanya Starla.


Spanish meletakan nampan yang dibawanya diatas meja, "menemui teman lamaku dan Marsha. Marsha ingin mengundangnya kepernikahan mereka" ujar Spanish.


"siapa ?" tanya Starla.


"Sasya... sudahlah nanti kamu ketemu juga pas pernikahan mereka. Aku akan kenalkan ke kamu" Spanish duduk disebelah Starla.


"Rumahnya jauh ?" tanya Starla lagi.


"iya ayangku yang cantik, agak dipinggiran kota. Sudah, kamu duduk dengan tenang. Minum dan makan cemilannya" kata Spanish.


Starla menurut. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Yang dia lakukan sekarang menikmati cemilan sambil nonton tivi dengan Spanish duduk bersandar padanya.


"mama pulang" terdengar suara mama Jade masuk.


"sore ma" koor Spanish dan Starla.


"ada Starla, kamu sudah lama sayang ?" tanya mama Jade seraya duduk di sofa sambil melepas blezernya.


"sudah ma, aku tunggu Parish" kata Starla. Semenjak dia bertunangan dengan Spanish, ayah Mark dan mama Jade mengharuskan dirinya memanggil keduanya seperti panggilan Spanish karena Starla nantinya jadi anggota keluarga mereka.


"Parish kemana Nish ?" tanya mama Jade.


"pergi dengan Marsha antar undangan ke teman lama kami" jelas Spanish.


"hmmm tapi sebaiknya mereka berdua bisa menyuruh orang lain atau pakai jasa kurir. Mereka berdua tidak boleh capek, minggu depan kita sudah berangkat ke RedRose Utara. Jangan sampai mereka kecapean" jelas mama Jade khawatir.


"iya ma, mama jangan khawatir. Nanti Spanish akan mengingatkan mereka" sahut Spanish.


Mama Jade pamit ke kamarnya untuk bersih-bersih. Tak lama ayah Mark juga datang. Hanya menyapa sebentar lalu pamit menuju kamar. Parish dan Marsha belum juga datang.


"sudah hampir makan malam tapi mereka belum sampai juga. Apa aku hubungi saja ?" tanya Starla pada Spanish.


"tenang yang, mereka sedikit lagi sampai" kata Spanish.


Starla meyandarkan kepalanya pada sofa. Dia tidak sabar ingin segera bertemu dengan Parish. Tiba-tiba ponsel Starla berdering. Telfon dari Gavin.


Ada apa ya, pikir Starla. Dengan segera dia menjawab panggilan Gavin.


"iya Vin" jawab Starla


"Star, Aaron kecelakaan" suara Gavin.


"apa ? kamu sudah beritahu keluarganya ?"


"aku sudah mencoba hubungi keluarganya tapi tidak ada satupun telfonku yang di jawab. Tolong aku Star, aku sendirian disini aku tidak tahu mau hubungi siapa lagi. Cuma teman kelompok kita yang dekat dengan Aaron" suara Gavin yang terdengar khawatir.


"baik, aku akan segera kesana. Kirim padaku dia dirumah sakit mana" kata Starla khawatir.


Spanish langsung menoleh. Dia merasa khawatir melihat raut wajah Starla yang mendadak berubah.


"kenapa yang ?" tanyanya.


"Aaron kecelakaan. Gavin menelfon dan meminta aku menemaninya disana karena hanya kami teman kelompoknya yang dekat dengan Aaron" jelas Starla.


"ayo kita kesana. Kamu kirim pesan pada Parish supaya mereka menyusul kesana" kata Spanish seraya mengambil jaket Starla yang d gantung dekat sofa lalu mengajaknya pergi. Tak lupa dia menitip pesan pada Megan, Minny dan aunty Lesly yang menyiapkan makanan diatas meja kalau mereka harus pergi kerumah sakit.


*


Parish membuka pesannya.


Rish, kamu susul aku kerumah sakit sekarang. Aaron kecelakaan. Aku sharelocnya ke kamu.


"sayang, kita langsung ke rumah sakit RedRose Sehat. Aaron kecelakaan" kata Parish.


"apa ?" Marsha kaget.


Dengan pelan, dia menepikan mobilnya. "Bagaimana keadaannya ?" tanyanya lagi.


"Starla tidak bilang apa-apa lagi. Dia hanya bilang begitu saja" jawab Parish.


"semoga saja dia baik-baik saja" ucap Marsha.


"iya sayang, apa kita kasih tahu Sasya tentang Aaron ?" tanya Parish.


"sebaiknya kita kerumah sakit saja. Kita lihat kondisi Aaron" jawab Marsha. Dia lalu menyalakan mesin mobil dan mulai melaju menuju arah rumah sakit.


Parish terus berdoa dalam hati semoga Aaron baik-baik saja. Parish ingin akhir yang bahagia untuk Aaron, Sasya dan Aarsya.


*


"Vin, bagaimana keadaannya ?" tanya Starla begitu Gavin menjemputnya di ujung koridor.


"aku tidak tahu. Dokter masih berusaha di dalam" kata Gavin.


Starla dan Spanish spontan melihat lampu menyala merah pada ruang ICU.


"bagaimana bisa begini ?" tanya Spanish.


"menurut polisi yang menangani kecelakaan Aaron. Diduga Aaron dalam kondisi mengantuk. Mobilnya oleng lalu menghindari menabrak mobil di depannya tapi ditabrak mobil dari arah yang berlawanan. Mereka menelfonku karena aku kontak terakhir yang dihubungi Aaron" jelas Gavin.


Starla menghela nafas berat. Dia bersandar pada dinding rumah sakit. Sementara Spanish terus memegang tangannya untuk menenangkannya.


Selang beberapa jam kemudian Parish dan Marsha datang mereka langsung menanyakan kondisi Aaron. Parish meminta kakaknya untuk mencari tahu orang tuanya. Mereka harus diberitahu tentang keadaan Aaron.


"kamu tenang sayang" ucap Marsha. Dia memegang erat tangan calon istrinya tersebut.


"kalian sebaiknya pulang istirahat. Ingat, kalian tidak boleh capek. Tadi mama Jade sudah sangat khawatir tentang kalian" terang Starla.


"trus siapa yang akan menjaga Aaron disini ? kasihan dia, keluarganya belum ada disini" ujar Parish.


"kalian pulang saja, biar kakak yang disini" sahut Spanish.


"tapi kak, aku merasa berhutang budi pada Aaron" balas Parish.


"kakak tahu Rish, tapi kalian harus cukup istirahat. Ingat, pernikahan kalian tinggal beberapa minggu lagi. Sebaiknya kalian jangan memaksakan diri" jelas Spanish.


"sebaiknya kamu menurut sayang, aku juga khawatir dengan kamu" kata Marsha.


Parish mengangguk pelan. Akhirnya Parish memutuskan untuk pulang. Spanish menitip Starla untuk pulang bersama mereka karena dia akan menemani Aaron dirumah sakit bersama Gavin yang enggan untuk meninggalkan teman barunya tersebut.


*


Setelah mengantar Starla pulang, Marsha mengantar Parish pulang sekalian mengambil motornya di rumah Mc. Milan. Karena mereka membawa mobil keluarga Mc. Milan.


Semenjak mendekati hari pernikahan, Parish dan Marsha mendapat larangan keras untuk naik motor. Mereka harus memakai mobil keluarga yang biasa dipakai Parish kemanapun dia pergi dengan auncle Tom sebagai supirnya atau tidak pergi sama sekali.


Tentu saja, Marsha mau tidak mau menerima memakai mobil keluarga Parish daripada tidak pergi bersama.


"sayang, apa yang kamu pikirkan ?" tanya Marsha menoleh sekilas pada Parish.


"tidak apa sayang, hanya saja aku lapar" Parish memelas.


"astaga, aku lupa. Kita belum makan malam. Kamu mau makan dimana ?" tanya Marsha.

__ADS_1


"di resto dekat rumah saja sayang" jawab Parish.


"baiklah, sabar ya. Aku tidak mau ngebut" kata Marsha.


"iya sayang, aku akan baik-baik saja" Parish tersenyum.


Mereka singgah makan malam di resto tapi sebelumnya Parish mengirim pesan pada ayahnya agar tidak khawatir.


"kamu kepikiran Aaron ?" tanya Marsha melihat Parish yang sepertinya memikirkan sesuatu.


Parish mengangguk pelan.


"besok kita kasih tahu Sasya. Dia harus tahu kondisi Aaron. Semoga Aaron melewati masa kritisnya" ucap Marsha.


"iya sayang" ucap Parish.


*


Pagi-pagi sekali Marsha sudah muncul dirumah Mc. Milan. Rencananya setelah sarapan, mereka akan menemui Sasya dengan kata lain menjemput Sasya untuk ketemu Aaron. Semalam mereka mendapat informasi dari Spanish kalau kondisi Aaron semakin drop. Orang tua Aaron masih berada di luar negeri. Mereka akan segera datang. Orang suruhan Spanish berhasil menemukan mereka.


"apa Sasya mau ikut kita ?" tanya Parish.


"aku yakin dia pasti mau. Semua demi Aarsya" kata Marsha.


"iya sayang, semoga saja orang tua Sasya mengerti" Parish agak sedikit takut jika mereka ketemu orang tua Sasya.


Marsha mengangguk.


Mereka menuju rumah Sasya dengan diantar auncle Tom. Ayah Mark dan mama Jade mulai khawatir dengan mereka sehingga memberi ultimatum. Mereka bisa pergi jika memakai supir. Karena bisa kecapean.


Mereka tiba dirumah Sasya. Rumah itu tampak sepi. Marsha mengajak Parish dan auncle Tom masuk. Auncle Tom memilih menunggu di teras rumah.


"Marsha, kamu apa kabar ?" tanya seorang pria paruh baya.


Marsha bersikap hormat, dia menyalami orang itu. Lalu memperkenalkan Parish sebagai calon istrinya.


"selamat ya Mars" ucap ayah Sasya.


"terima kasih om. Sasya mana om ?" tanya Marsha.


"dia lagi pergi belanja bulanan dengan tante dan Aarsya" jawab ayah Sasya.


Tak lama, Sasya beserta bunda dan Aarsya datang. Sasya tampak terkejut melihat Marsha dan Parish datang lagi.


Seakan tidak ingin merusak suasana, Parish langsung berdiri dan mengajak Sasya bicara berdua.


"Sasya ke kamar dulu yah, bunda. Sayang, kamu main di kamar dulu ya" kata Sasya pada Aarsya.


"Aarsya disini saja sama om Marsha ma" sahut Aarsya.


"baiklah sayang" ucap Sasya akhirnya.


*


Dalam kamar Sasya di lantai 2 ...


Parish menceritakan kondisi Aaron dengan pelan dan hati-hati. Dia tidak ingin Sasya langsung shock mendengarnya.


"aku harus ketemu Aaron Rish, bawa aku kesana" Sasya tampak khawatir.


"iya Sya, itu tujuan kami datang. Tapi bagaimana dengan kedua orang tuamu ? apa mereka mengizinkan ?" ujar Parish.


"aku akan minta izin pada mereka. Mereka harus mengizinkan" Sasya bergegas turun kebawah menuju ruang tengah. Dimana kedua orang tuanya dan Aarsya sedang berbincang dengan Marsha.


"ayah, bunda, Sasya mau bertemu Aaron" ucap Sasya.


Tuan Amith dan Nyonya Karisma memandang Sasya dengan kaget.


"Sasya ! jangan sebut nama baj***** itu !" bentak ayahnya.


"ayah, baj***** itu adalah papa dari cucu ayah" balas Sasya.


Merasa ini adalah urusan keluarga dan mereka adalah orang lain, Marsha menarik tangan Parish lalu pamit pada yang punya rumah untuk menunggu d luar.


*


Sesampainya di teras, auncle Tom beranjak berdiri. Parish menggelengkan kepalanya. Auncle Tom mengangguk tanda mengerti bahwa mereka belum akan pergi dari rumah itu.


"aku takut mereka akan melarang Sasya dan Aarsya ikut kita sayang" ucap Parish.


"tenang sayang, kita tunggu saja. Aku yakin om Amith dan tante Karisma orang baik" balas Marsha seraya mengusap kepala Parish.


"auncle, kita tunggu sedikit lagi ya" kata Marsha pada auncle.


"iya Mars, tidak masalah" jawab auncle Tom.


Selang beberapa jam kemudian, Sasya keluar dengan koper dan mata sembab.


"ayo kita pergi" katanya. Tangan kanan Sasya memeluk Aarsya dari belakang, tangan kirinya menarik koper.


"om dan tante bagaimana ?" tanya Marsha.


"mereka akan mengerti" ucap Sasya.


Parish meraih koper Sasya dan memberikannya pada Marsha. Mereka beranjak menuju mobil.


*


Sasya memandang Aaron dari kaca pembatas. Dia terisak. Parish menemani Aarsya duduk di bangku koridor rumah sakit. Spanish dan Marsha mendampingi Sasya.


"kamu mau masuk ?" tanya Spanish.


Sasya mengangguk. Marsha menepuk pundak Sasya, Spanish mengantar Sasya menuju pintu kamar.


Mereka membiarkan Sasya didalam berdua dengan Aaron yang sedang terbaring koma sambil terus melihat dari kaca pembatas.


"kak, Sasya tinggal dimana sekarang ?" tanya Parish mendekat. Dia meninggalkan Aarsya duduk sambil main game di ponsel miliknya.


"bagaimana kalau di hotel kita atau dirumah kita juga tidak apa. Nanti kita bicara pada ayah dan mama" ujar Spanish.


"kita tanya dulu pada Sasya, dimana yang dia rasa nyaman kak" sahut Parish.


Spanish mengangguk.


Tak lama Sasya keluar. Dia tampak gelisah.


"kenapa Sya ? semua baik-baik saja ?" tanya Spanish.


Sasya terlihat ragu untuk bicara.


Marsha mendekat, "bicara saja Sya, anggap kita semua ini saudara kamu" katanya.


"aku ingin disini sampai Aaron sadar tapi tidak mungkin Aarsya juga ikut disini" kata Sasya ragu-ragu.


Parish tersenyum, "kamu tenang saja, percayakan Aarsya padaku. Aku akan membawanya pulang kerumah, disana ada Venus yang akan temani dia. Kamu bujuklah dia agar mau ikut kami" ucapnya pada Sasya.


Sasya mengangguk, "terima kasih Rish, kalian semua orang baik. Aku senang bisa bertemu kalian" Sasya memeluk Parish.


Tak lama Sasya melepaskan pelukannya. Dia mendekat kearah Aarsya. Dia terlihat berbicara dengan Aarsya, tampak bocah itu mendengarkan dengan tenang lalu mengangguk perlahan.


Sasya mendekat dengan memegang tangan Aarsya, "Rish, aku minta tolong ya" kata Sasya.


"tidak masalah, aku akan menjaganya" Parish memegang tangan Aarsya.


Mereka bertiga pamit pulang dan meninggalkan Sasya berdua Aaron yang masih terbaring di ruang perawatan.


***

__ADS_1


__ADS_2