Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 35


__ADS_3

Parish membuka matanya, dia merasa asing dengan sekelilingnya. Ini dimana, ini kamar siapa, gelap. Pikiran Parish mulai tidak tenang ditambah lagi kepalanya terasa pusing.


"mana ponselku" Parish merogoh saku cardigannya. Ponselnya tidak ada.


Dia mencoba beranjak dari tempat tidur, menyibak tirai jendela agar sinar mentari masuk kedalam dan seketika kamar itu menjadi terang. Parish melihat sekitar luar jendela, dia berada di gedung tinggi. Sepertinya ini sebuah apartemen atau bisa jadi hotel.


Dia juga mengamati sekeliling kamar, tasnya tidak ada dimana-mana. Dia mencoba membuka pintu tapi terkunci.


"siapa disana, tolong buka pintunya !!" teriak Parish.


Tidak ada jawaban.


Parish mencoba mundur menjauh dari pintu ketika dia melihat ada yang mencoba membukanya dari luar.


"Rain ?!" Parish kaget. Dia lalu teringat kejadian sebelumnya. Rain menyatakan perasaannya lalu Parish tidak ingat apa-apa lagi.


"kamu sudah bangun sayang ?" Rain tersenyum.


"kenapa aku ada disini, lepaskan aku !! toloooonggggg !!!!" teriak Parish.


"tidak semudah itu sayang, aku tidak akan membiarkanmu kemana-mana lagi. Kita akan selalu sama-sama" Rain mendekat.


"tidak ! aku mau pulang" isak Parish.


"kamu sudah dirumah sayang, di apartemen kita" kata Rain menyentuh rambut Parish, tapi Parish menepis tangannya.


"jangan sentuh aku, tolooooooonnng !!!!!!" Parish semakin tidak tenang.


"kamu tidak boleh bicara kasar pada calon suamimu sayang, dan lagipula tidak ada yang bisa menolongmu. Apartemen ini kedap suara" Rain semakin mendekatkan wajahnya.


Parish mundur, dia terpojok di jendela. Dengan cepat dia membuka jendela, sekarang dia berada ditepi balkon entah lantai berapa itu "jangan mendekat atau aku lompat" dia menatap tajam pada Rain.


Wajah Rain berubah, dia berhenti "jangan sayang, aku tidak mau kamu kenapa-napa" katanya.


Parish menaikan sebelah kakinya hendak memanjat, dia mencoba mengertak Rain. Berhasil, Rain frustasi.


"jangan Rish ! jangan !!! baik, aku tidak akan maju. Sini, masuk kedalam sayang" bujuk Rain dengan mengulurkan tangannya.


"tidak mau ! aku akan tetap disini sampai kamu melepaskan aku. Setidaknya berikan ponselku" ancam Parish.


"terserah kamu, tapi aku tidak akan membiarkanmu kemana-mana. Kamu tetap disini !" Rain beranjak keluar kamar dan mengunci pintunya.


*


Sementara di Mc. Milan Otomotif ...


Marsha mencoba menghubungi ponsel Parish tapi ponselnya mati. Tidak biasanya Parish mematikan ponsel ketika di luar rumah.


Marsha sudah menghubungi aunty Lesly, katanya Parish belum pulang kerumah. Perasaan Marsha tidak enak, khawatir, takut terjadi sesuatu pada Parish.


Dia juga sudah menghubungi Starla tapi sahabat Parish itu tidak melihat Parish setelah selesai mata kuliah pertama. Mereka berpisah karena Starla harus menemui dosen pembimbingnya.


"halo Starla, kamu sudah ketemu Parish ?" tanya Marsha, dia kembali menelfon Starla.


"belum kak Marsha, aku sudah mencoba mencarinya disekitar kampus tapi tidak ada yang melihatnya" jawab Starla dengan nafas yang kelelahan.


"kamu kenapa ?" tanya Marsha.


"maaf, aku baru saja duduk dari keliling kampus" kata Starla.


"maaf, aku jadi merepotkan kamu" Marsha merasa bersalah.


"tidak apa kak, aku akan mencarinya lagi. Kakak terus hubungi ponselnya" ucap Starla.


"baiklah, hubungi aku lagi kalau kamu sudah menemukannya" Marsha menutup panggilannya.


Marsha mengacak kasar rambutnya. Parish kemana, pikirnya.


"Mars, kamu baik-baik saja ?" tanya Likely menghampirinya. Dia dari membantu rekan team memodifikasi mobil klien yang terparkir di dalam showroom mereka.


Sebagai ketua team modifikasi, Marsha beruntung memiliki wakil seperti Likely yang bisa diandalkan untuk mendampingi team dalam bekerja.


"Parish tidak menjawab telfon" ucap Marsha.


"mungkin dia lagi sibuk atau ponselnya lowbat" jawab Likely asal.


Marsha hanya tersenyum datar.


"aku keruang Spanish dulu" pamit Marsha.


Spanish sekarang berada di Mc. Milan Otomotif. Dia membagi waktunya dengan perusahaan keluarga dan perusahaan yang dia impikan.


Spanish dari dulu suka sama dunia otomotif. Ayahnya yang kebetulan mendapat tawaran membeli saham perusahaan otomotif yang bangkrut langsung membelinya. Dia menghadiahkan kejutan itu pada Spanish. Tentu saja Spanish senang sekali dan mengajak Marsha dalam mengelolanya, mereka berdua sama-sama pecinta otomotif.


Tapi karena tanggung jawabnya pada perusahaan keluarga, maka Spanish berniat agar Marsha dapat menjalankan impiannya tersebut setelah pernikahannya dengan Parish karena Spanish sangat tahu Marsha, dia tidak akan mau diserahkan tanggungjawab sebagai pemilik karena hal itu bukan merupakan haknya. Spanish berpikir dengan pernikahan dengan Parish, Marsha akan merasa terikat dengan keluarga mereka dan mau menjalankan perusahaan impiannya tersebut. Dan sampai itu terlaksana, Spanish masih menjalankan tanggung jawabnya di kedua perusahaan Mc. Milan.


"Spanish ada tamu Key ?" tanya Marsha pada Keysa, sekretaris Spanish.


"tidak ada Mars, masuk saja" ujar Keysa.


"terima kasih" Marsha beranjak masuk kedalam ruangan Spanish.


"Hey, baru aku mau ketempatmu" seru Spanish melihat Marsha sekilas lalu beralih kembali pada berkas didepannya.


"ada apa ?" tanya Marsha seraya duduk di depan Spanish yang lagi membaca berkas.


"pameran kita yang di Sakura City akan dilaksanakan bulan depan" Spanish tersenyum.


"bulan depan ?! pernikahanku dan Parish Nish" ucap Marsha.


"astaga, aku lupa. Memangnya kalian sudah ada tanggalnya ? jadwal pameran tanggal 26, kalian menikah tanggal berapa ?" tanya Spanish.


"tanggal 20 Nish" jawab Marsha.


"baguslah, kamu sekalian honeymoon disana saja" Spanish mengedipkan matanya.


Marsha hanya tersenyum.


"ada apa kamu kesini ?" tanya Spanish.


"Parish tidak menjawab telfon, apa dia ada bilang sesuatu sama kamu ?" tanya Marsha.


Spanish menggeleng, "tidak ada, biasanya juga kalo dia ada keperluan pasti kasih tahu aku untuk pamit" katanya.


"tadi pagi dia juga tidak bilang apa-apa sama aku" ucap Marsha.


"kamu sudah hubungi Starla ?" tanya Spanish.


Marsha mengangguk, "mereka berpisah saat Starla masuk ruang dosen pembimbingnya" jawabnya.


"kemana Parish" Spanish mulai khawatir "aku telfon mama dulu" katanya.


Dengan segera Spanish menghubungi mama Jade.


Mama Jade tidak tahu kemana Parish, dia belum ada menghubunginya.


"tidak apa ma, aku cuma tidak ketemu dia di kampus tadi. Mungkin dia bimbingan" bohong Spanish.


"baiklah, sampai ketemu dirumah sayang" suara mama Jade.


"iya, jangan khawatir. Bye ma, sampai ketemu dirumah" Spanish menutup telfon lalu menggeleng kearah Marsha.


Marsha beranjak berdiri, "aku mau ke kampus, mencari Parish. Aku izin hari ini boss" katanya pergi dengan terburu-buru.


"Mars, Mars.. " panggil Spanish tapi Marsha tidak mendengarnya.


Spanish mencoba kembali fokus pada berkas di mejanya tapi pikirannya kini teralih pada adiknya. Dia menutup berkas dengan kasar lalu meraih kunci mobil dan pergi.


*


Starla terus mencari di area kampus. Tempat yang biasa dia dan Parish datangi. Tapi nihil, Parish tidak ada dimana-mana.


"Starla !!" teriak Gavin.


"Hey Vin" sapa Starla.


"ayo kita ke kantor, aku sudah buat janji dengan kakakku. Mana Parish ?"


"aku mencarinya Vin, ponselnya tidak aktif" ucap Starla lirih.


"apa ?! mungkin saja dia sudah pulang" sergah Gavin.


"dia belum pulang, tunangannya sudah menelfon kerumahnya. Kemana Parish ? aku khawatir"


"tenang Star, kita cari sama-sama" kata Gavin.


"tapi kamu harus ke perusahaan" tolak Starla.


"tenang saja, itu perusahaan aku juga. Nanti aku telfon kakakku" Gavin tersenyum.


*


Parish mendengar langkah kaki di luar kamar. Dia segera beranjak kembali ke balkon. Menurutnya tempat yang paling aman adalah balkon karena Rain tidak ingin dirinya terluka. Hal itu cukup untuk menjaga dirinya dari perbuatan macam-macam Rain.


"Parishhhhh....." suara itu, Parish sangat kenal suara itu.


"Rainy ?!" desis Parish.


Benar ! cewek yang beberapa hari ini membuatnya kesal karena terlalu dekat dengan Marsha kini ada di hadapannya.

__ADS_1


Rainy tersenyum senang. Parish tahu sekarang, mereka bekerja sama. Si kembar Rain dan Rainy kerjasama. Tapi apa yang mereka inginkan.


"kamu terlibat dengan semua ini ?" tanya Parish menatap tajam pada Rainy.


Dia mengangguk. Dia kemudian dengan santainya duduk di sofa dan menyilangkan kakinya.


"aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama tunanganmu, dia sangat tampan... tipe yang aku mau" kata Rainy seperti membayangkan sesuatu.


"Marsha tunanganku, dia hanya untukku !" teriak Parish berusaha menekan kalimatnya.


"kalau begitu, aku akan mengambilnya" balas Rainy santai.


Parish terhenyak. Kenapa si kembar jadi berubah begini, mereka yang dulu baik kini menjadi perusak.


"kenapa kamu tega sama aku, apa salahku ?" isak Parish.


"karena kamu terlalu sempurna. Kamu mendapatkan apa yang kamu mau" Rainy menatap tajam pada Parish.


"aku tidak mengerti"


"kasih sayang papiku, papiku selalu membandingkan dirimu dengan aku. Kembarku, satu-satunya saudara yang aku punya, dia lebih perhatian sama kamu. Bahkan mamiku yang jarang sekali bertemu aku, rindunya lebih banyak padamu. Sampai menghabiskan waktu berjam-jam untuk bercerita denganmu" jelas Rainy.


Parish mendengarkan semuanya dengan jelas. Bahkan dia mulai mengingat kembali susunan kejadian yang Rainy bilang.


Dia dekat dengan papi Clinton karena beliau baik, sahabat dekat ayahnya. Trus Rain, Parish hanya menganggapnya sebagai saudara, tidak ada maksud untuk mencoba mengambil seluruh perhatian Rain dari saudara kembarnya. Bahkan Mami Ruby baik padanya, dia hanya mencoba bersikap baik dan ramah. Tidak ada niat untuk berlaku jahat pada Rainy. Kenapa Rainy sampai berpikir sejauh itu.


"Rainy, aku hanya bersikap baik bukan untuk merusak hubungan kalian. Kamu kenapa bisa berpikir berlebihan. Mereka sangat sayang sama kamu" balas Parish.


"mereka terus saja menyukaimu. Sekarang cinta saudaraku begitu besar sama kamu. Aku akan membantunya, asalkan Marsha jadi milikku" Rainy tersenyum sinis.


"tidak akan ! aku hanya cinta pada Marsha dan begitu juga sebaliknya" balas Parish mencoba menguatkan hatinya.


"begitu kamu jadi milik Rain, Marsha akan jadi milik Rainy !!!" Rainy menegaskan seraya keluar kamar, menutup pintu dengan keras dan menguncinya.


Parish memburu Rainy, dia memukul pintu dengan keras "Rainy buka pintunya ! aku mohon, aku mau pulang" isak Parish.


Tapi tidak ada respon.


Apa Rainy sudah pergi. Atau dia sengaja diam.


Parish terduduk di balik pintu. Apa yang harus dia lakukan sekarang.


*


Sementara itu di rumah keluarga Mc. Milan ...


Semua terlihat cemas, khawatir, bingung, dan lemah duduk di sofa ruang keluarga. Sudah jelang malam tapi mereka belum tahu kabar Parish. Ayah Mark sudah menghubungi Polisi untuk membantu pencarian Parish. Bahkan Spanish sudah menyewa detektif untuk melacak keberadaan Parish.


Marsha meraih ponselnya, dia menghubungi Kevin.


"iya Mars" suara Kevin.


"kak, Parish menghilang" ucap Marsha.


"apa ?!!! apa yang terjadi ?"


"aku tidak tahu kak, tidak ada apa-apa antara kami. Semuanya baik-baik saja. Tiba-tiba siang tadi sampai malam ini ponselnya tidak bisa dihubungi. Bantu aku kak.." pinta Marsha.


"aku akan mengirim orang untuk mencarinya" ujar Kevin.


"apa ini perbuatan Maxim ?" tanya Marsha. Semua mata yang berada di ruang keluarga tertuju pada Marsha sekarang termasuk para pekerja keluarga Mc. Milan. Mereka semua berkumpul ikut memikirkan keadaan nona mereka.


"aku rasa tidak mungkin karena aku tetap mengawasinya walau dalam penjara sekalipun. Kamu jangan khawatir, aku akan memastikannya lagi" ucap Kevin.


"terima kasih banyak kak" ucap Marsha.


"sama-sama, aku tutup dulu. Nanti aku kabari" Kevin pun memutuskan panggilan telfon.


Marsha menghela nafas panjang. Dia menyandarkan kepala di sofa. Rasanya kepalanya mau pecah, terasa sakit dengan pikiran yang tidak menentu. Rasa khawatir yang teramat sangat pada Parish.


Mama Jade menghampiri putranya, "istirahatkan sebentar pikiranmu sayang, semua akan baik-baik saja" ucap mama Jade seraya mengusap kepala Marsha.


Venus berlari mendekat kakaknya dan memeluknya erat.


"terima kasih ma, tapi aku harus pergi mencari Parish lagi" Marsha melepaskan pelukan Venus, dia mencium pipi adiknya "terima kasih boss kecil" katanya.


"kakak tidak boleh pergi, nanti kakak sakit lagi" cegah Venus.


Marsha memandang Venus, "tidak apa sayang, kakak tidak ingin terjadi sesuatu pada kakak cantikmu" katanya meyakinkan Venus.


"aku ikut Mars, kita cari lagi" sahut Spanish.


"auncle ikut tuan muda, nanti Rome dan Tobby juga akan ikut mencari. Hazel kamu jaga gerbang untuk sementara" kata auncle Tom pada Hazel. Pekerja taman itu mengangguk.


"aku juga tuan muda" sahut Alex.


"kamu disini saja, kita memantau lewat ponsel" sahut ayah.


"bawa adikmu pulang Nish, ayah mohon" tuan besar Mark Mc. Milan tampak rapuh sekarang.


"iya yah, ayah doakan Parish baik-baik saja" Spanish memeluk ayahnya lalu beranjak pergi diikuti Marsha, auncle Tom dan yang lainnya.


Mama Jade meraih tangan Ayah Mark, mereka duduk berpelukan bertiga dengan Venus ditengah mereka.


*


Parish terbangun dari tidurnya di balik pintu. Kamarnya sudah gelap. Dengan bergegas dia berdiri, meraba diantara kegelapan untuk menyalakan lampu.


Kamar itu sudah terang, Parish terduduk di tepi tempat tidurnya. Perutnya lapar, seharian tadi dia hanya sarapan roti. Tanpa makan siang, sekarang sudah waktunya makan malam. Apa si kembar menginginkan dia mati perlahan karena lapar ?!


Pintu kamar dibuka, Rain masuk membawa nampan berisi makanan. Senyumnya begitu sumringah tapi Parish enggan membalasnya.


"maaf, aku baru datang membawa makan malam. Aku terlalu percaya pada Rainy kalau dia akan bersikap baik padamu, ternyata tidak. Dia sengaja tidak membawakanmu makan siang" jelas Rain.


Parish memandang, ternyata Rain sedikit berbeda dengan Rainy. Setidaknya Rain tidak membiarkan dirinya kelaparan seperti Rainy.


"aku ingin pulang" desis Parish pelan.


"ini sudah rumah kita sayang" Rain kembali mengulang kalimatnya siang tadi.


"bukan ! ini rumah kamu, rumahku bersama keluargaku" balas Parish.


"kita akan menjadi keluarga sayang" sahut Rain.


"aku tidak mau" Parish membuang mukanya.


"makanlah dulu" ucap Rain.


Parish tidak bergeming, dia hanya terdiam.


Rain mencengkram wajah Parish dengan sebelah tangan. Parish meringis kesakitan.


"sakit Rain ! sakit !" isak Parish.


"aku sudah coba bersabar tapi kamu malah membuat aku semakin marah ! jangan coba main-main denganku, makan makananmu lalu tidur !" kata Rain melepaskan tangannya dari wajah Parish dengan kasar.


"kamu jahat !" Parish berlari keluar kamar, menuju ke balkon.


"sayang, kamu jangan kesitu lagi. Nanti alergi dinginmu kambuh" cegah Rain.


Tapi Parish tidak mendengar Rain. Dia menutup pintu kaca menuju balkon dan duduk menekuk lutut disana.


"Parish.. aku hitung sampai tiga, kalau kamu tidak masuk sekarang aku akan menyeretmu !" teriak Rain.


Parish menutup matanya kuat, dia mulai terisak. Dia mau pulang.


Rain membuka pintu kaca, dia menarik tangan Parish dengan paksa menuju ke tempat tidur. Parish merasakan sakit dipergelangan tangannya.


"aku sudah bilang, jangan memancing kesabaranku sayang" kata Rain.


"jangan panggil aku sayang !! aku bukan sayangmu !!!" teriak Parish, dia menarik selimut dan menutup semua badan sampai kepalanya. Dia mulai terisak dalam selimut.


*


Spanish memandang Marsha yang tertidur di kamar Parish. Cowok itu sangat mencintai adiknya, semalam Spanish harus memaksanya untuk pulang istirahat. Bahkan Spanish hampir melayangkan tinjunya pada Marsha karena dia tetap keras kepala untuk mencari tapi dalam kondisi dia sudah kelelahan.


"bagaimana Marsha ?" tanya ayah Mark yang datang bersama mama Jade.


"semalam dia mengigau memanggil nama Parish, aku tidak tega yah" sahut Spanish.


"kalian tidak ke kantor ? biar mama yang menjaga Marsha" ujar mama Jade.


"tidak ma, aku mau lanjut mencari Parish. Percuma juga aku ke kantor tapi konsentrasiku pada adikku" jawab Spanish.


"iya, ayah juga mau dirumah saja memantau suruhan kita. Rapat hari ini nanti Alex yang tangani" kata ayah Mark.


"baiklah, aku siapkan sarapan untuk kalian" mama Jade turun kebawah.


*


"ayah, siapa kira-kira yang menculik Parish ? karena tidak mungkin Parish pergi tanpa pamit pada kita. Pasti ada yang membawanya" ujar Spanish.


"Kevin sudah meyakinkan ini bukan ulah Maxim, tapi siapa yang tega pada keluarga kita. Musuh bisnis kita atau musuh Marsha ? ayah juga tidak mengerti" jawab ayah Mark pelan seakan tidak ingin mama Jade mendengarnya.


"kita harus hati-hati yah, mungkin saja musuh kita" sahut Spanish.


"iya, semoga adikmu baik-baik saja" ucap ayah Mark lirih.


"iya yah, Spanish khawatir" Spanish tertunduk.

__ADS_1


"kita berdoa saja, semoga Parish baik-baik saja. Biarkan Marsha istirahat, dia terlalu lelah. Jangan biarkan dia keluar rumah hari ini" kata ayah.


Spanish mengangguk.


*


Parish membuka matanya, perutnya kosong. Dia kelaparan sekarang. Semalam dia tidak makan sajian makan malamnya. Artinya dia sudah melewatkan dua jam makan.


Dia melihat ke meja, ada menu sarapan. Dengan segera dia turun dari tempat tidur.


Menunya terdiri dari roti bakar coklat dan segelas susu. Ada selembar memo pink disana.


Maafkan aku, tapi aku lakukan ini karena aku sangat mencintaimu dari dulu.


Makanlah, aku tidak tega melihat kamu semakin tidak bertenaga karena kelaparan. Maafkan aku... _Rain


Parish membiarkan memo itu jatuh ke lantai. Dia pun makan dan meminum susunya. Setidaknya dia harus punya tenaga untuk bertahan disini sampai Marsha dan keluarganya menemukannya.


Setelah menghabiskan menu sarapannya, Parish menuju balkon. Dia merasa lemas, sudah seharian dia tidak mandi. Tidak ada peralatan mandi, tidak ada baju ganti. Badannya terasa lengket. Tapi Parish tidak ingin membuang waktu dengan mandi, apa perdulinya. Sekarang yang dia perduli keluar dari sini secepatnya.


"Parish... Parish...." ada bisikan.


Bulu kuduk Parish berdiri, siapa yang berbisik memanggil namanya. Dia melihat kekanan kekiri. Tidak ada siapa-siapa.


"disini, dibalik tirai balkon sebelah kananmu" suara itu lagi.


Parish menoleh kearah yang dimaksud.


"Aaron ?!" desis Parish.


Aaron menaruh telunjuknya didepan bibir. Tanda Parish untuk diam. Dia juga memberi tanda lewat telapak tangannya yang menepuk udara sebatas dadanya, agar Parish tenang.


"tolong aku Ron" bisik Parish.


Aaron mengangguk, "akhirnya aku menemukanmu, semua mencarimu. Starla bilang, Marsha drop. Dia kelelahan mencarimu" bisik Aaron.


"Marsha... " Parish terisak "hubungi kakakku Ron, bilang Rain dan Rainy pelakunya" bisiknya.


Aaron mengangguk mengerti, dia mengeluarkan ponselnya. Dia memotret Parish "aku akan segera mengirimkannya ke Starla agar dia sampaikan pada kakakmu" kata Aaron.


Tiba-tiba Parish teringat sesuatu. Bagaimana nanti kalau kakaknya langsung kalap dan menghajar Rain. Bisa jadi, Rain akan menyuruh Rainy untuk membawanya pergi sebelum keluarganya menemukannya.


"jangan Ron, temui kakakku. Pikirkan rencananya, aku tidak mau mereka memindahkanku sebelum kalian datang" cegah Parish.


Aaron berpikir, benar juga. Dia harus menemui Spanish, walaupun mungkin Spanish tidak percaya lagi padanya tapi dengan bukti foto Parish, dia yakin Spanish akan mendengarkannya.


"baiklah, aku pergi dulu. Kamu jaga dirimu baik-baik" pamit Aaron.


Parish mengangguk. Aaron pun menghilang dari balik tirai apartemen sebelah.


Kebetulan yang beruntung. Apartemen Aaron berada tepat disebelah apartemen Rain. Dan dia menemukannya. Parish berharap agar Aaron bisa secepatnya membawa keluargamya untuk datang membebaskannya.


"Mars, kamu harus kuat. Aku baik-baik saja" isak Parish menatap ke langit biru.


*


"Parisssssshhhhh"


Marsha terbangun. Keringat membasahi keningnya, nafasnya tidak beraturan dan matanya menatap kosong kedepan.


Dia mimpi buruk, Parish memanggil namanya di tepi balkon yang tinggi. Suara Parish terdengar lirih.


"kamu dimana sayang..." ucap Marsha lirih. Dia melihat sekitarnya, dia sekarang berada di kamar Parish.


Efek rindu dan kelelahannya semalam, dia menginap dirumah keluarga Mc. Milan. Lebih tepatnya di kamar Parish.


Dengan segera dia merapikan lagi tempat tidur seperti semula, lalu melangkah menuju kamar mandi. Dia membasuh wajahnya.


"aku akan terus mencarimu sayang" Marsha menatap cermin.


"kakak... kakak dimana ?" teriak Venus.


"di dalam kamar mandi boss kecil" balas Marsha.


Venus berlari kecil, dia berdiri didepan pintu kamar mandi yang dibiarkan terbuka oleh Marsha.


"ada tamu, kak Spanish bilang penting" kata Venus.


Marsha memandang adiknya. Dia mengangguk.


*


"kurang ajar !!! aku akan buat perhitungan dengan mereka !!!" Marsha geram.


Spanish menyerahkan ponsel Aaron.


"Parish baik-baik saja, hanya tampak kurang tidur" kata Aaron "dia bilang, kita harus hati-hati lapor polisi. Mereka bisa memindahkan Parish lebih jauh lagi" lanjutnya.


Spanish berpikir keras. Marsha semakin frustasi. Mereka harus bagaimana ?


"sebaiknya kita terus pantau Parish dari apartemenku. Aku hanya takut kalo Parish kenapa-napa. Kalian tahu, dari tadi dia berada di balkon. Aku merasa, itu tempat yang dia rasa aman" jelas Aaron.


"bawa aku kesana" Sergah Marsha.


Spanish menarik lengan Marsha, "kamu tidak bisa kesana sebagai Marsha. Kalau mereka melihatmu, mereka bisa terancam" katanya.


Aaron mengangguk. Marsha mangut setuju.


*


Aaron dan Marsha yang sedang menyamar masuk kedalam lift. Marsha terkejut mendapati Rainy berada dalam lift yang sama.


Marsha yang menyamar merasa risih berada dekat Rainy. Ingin rasanya dia menarik tangan cewek ini agar segera membawanya kepada Parish.


Aaron yang tahu gelagat Marsha yang tidak nyaman, meraih tangan Marsha. Dia memainkan perannya.


"kamu kenapa sayang ?" tanya Aaron.


Marsha yang menyamar sebagai gadis manis berkacamata minus, berambut panjang, memakai pakaian kasual, bersepatu kets dan membawa tas tangan menggeleng memandang Aaron. Aaron tersenyum. Dia memandang Rainy yang melirik mereka.


Rainy memalingkan mukanya. Dia bersikap biasa.


Marsha berpikir ini ide Spanish yang paling konyol, tapi demi tunangannya, dia mau melakukannya. Dan seperti perkiraan mereka bahwa nanti mereka akan bertemu Rain atau Rainy dalam perjalanan ke apartemen.


Benar, mereka bertemu di lift dan sepertinya Rainy tidak mengenalinya.


Mereka keluar bersama dari lift. Rainy hendak masuk ke apartemen tepat disebelah Aaron. Marsha terus mencuri pandang pada Rainy. Mungkin saja, dia bisa menghafal letak tombol passkey apartemen sebelah itu.


Aaron akhirnya tahu siapa yang berada satu lift dengan mereka saat cewek itu berhenti di apartemen tempat Parish disekap.


Aaron bersikap hati-hati.


"silahkan masuk" ujar Aaron pada Marsha.


Marsha masuk, setelah Rainy juga masuk kedalam apartemennya, "aku minta kertas Ron" katanya.


Dengan bergegas Aaron mengambil notes dan polpen.


Marsha mengucapkan terima kasih lalu menggambar titik lalu mencoba menarik garis untuk menghubungkannya.


"aku melihat sepintas passkeynya, kita bisa mencobanya nanti saat situasinya aman" terang Marsha.


Aaron mengangguk mengerti.


Marsha hendak membuka penyamarannya. Dia melepaskan wignya dan mengeluarkan pakaian yang di bawanya dalam tas tangannya.


"aku pikir kamu mau pake begitu seterusnya, setidaknya biarkan Parish melihatmu" goda Aaron.


"kamu..... " Marsha memicingkan matanya "benar juga, apa Parish mengenaliku" Marsha tersenyum.


Dia melangkah menuju ke balkon. Tapi Aaron menahan langkahnya, "kamu tidak bisa kesana sekarang, ada cewek itu" katanya.


"itu Rainy, saudara kembar Rain" jawab Marsha. Dia menghempaskan badannya di sofa.


"tenang Mars, Parish akan baik-saja" kata Aaron.


"terima kasih Ron, aku tidak tahu bagaimana kami menemukannya kalau tanpa kamu" ucap Marsha.


"aku kebetulan mendengar namanya disebut laki-laki dalam lift melalui ponsel. Untungnya Starla dan Gavin sudah memberi tahu aku kalo Parish hilang jadi aku tidak gegabah. Pas kebetulan Parish ada di balkon jadi aku bisa tahu bagaimana keadaannya" jelas Aaron.


"pasti itu Rain" tebak Marsha.


Aaron mengangguk, "mungkin, wajahnya mirip dengan cewek tadi" katanya.


*


Sementara di apartemen sebelah mereka ...


Rainy mendorong Parish dengan kasar ke sofa. Parish merasakan sakit disekitar pinggangnya "semua sedang mencarimu sekarang ! anak emas !!!" katanya.


"mereka keluargaku, pastinya mereka akan mencariku" balas Parish.


"tapi aku tidak akan membiarkan mereka menemukanmu" bentak Rainy dengan santainya keluar dari kamar.


Parish memandangnya geram. Dia berharap semoga Aaron segera membawa keluarganya sebelum Rainy bertindak diluar akal sehat.


Parish kembali berdiri di balkon. Dia memandang sekitarnya. Air matanya menetes, dia terisak. Bulan depan pesta pernikahannya dan Marsha. Seharusnya dia sudah mulai mempersiapkan semuanya dan pasti madam Vian sudah mulai menghubunginya untuk konsultasi tentang gaunnya.


"Mars... cepat datang. Aku lelah" ucap Parish lirih.

__ADS_1


***


__ADS_2