
Kevin merentangkan kedua tangannya hendak memeluk begitu melihat Marsha masuk kedalam ruangannya.
Sudah lama, semenjak meninggalnya tuan Shane mereka tidak pernah bertemu lagi.
Marsha memeluk kakak angkatnya itu.
Ada perasaan teduh setiap kali dipeluk Kevin, Marsha selalu merasa nyaman bersama kakak angkatnya itu.
"duduklah, aku sudah lama menunggumu" ujar Kevin.
Marsha mengangguk.
Dia tampak lelah, dia ingin cepat pulang ke Kota. Karena mama Jade tidak mengizinkannya berlama-lama di kota masa lalu ini.
Hanya saja, dia tidak bisa untuk tidak menemui Kevin karena kakak angkatnya itu bisa marah besar padanya.
Hubungannya dengan Kevin sangat baik. Kevin selalu membantunya. Dan sekarang sesuai amanat tuan Shane, mereka berdua harus menjaga nyonya Jade Shannon dan Venus Shannon.
Keduanya menjadi tanggung jawab mereka.
"darimana saja ? kamu tampak lelah" tanya Kevin seraya mengeluarkan rokoknya.
"aku mencari alamat teman kak" jawab Marsha.
"gadis bunga mawarmu ?" tanya Kevin seraya menyalakan rokoknya dan mulai mengisapnya.
Dia tidak menawarkan Marsha, karena dia tahu Marsha tidak merokok. Beda dengan dirinya yang bisa menghabiskan dua bungkus perhari.
Marsha mengangguk.
"jadi kamu sudah menemukannya ?" tanya Kevin antusias.
"kata penjaga rumah, mereka sudah pindah ke kota"
Kevin menggelengkan kepalanya. Dia meraih telfonnya.
"tolong bawa data yang aku minta"
Marsha menoleh.
Kevin mempunyai banyak orang suruhan dan koneksi. Tinggal angkat telfon, minta ini itu. Semuanya tersedia dalam dua puluh empat jam.
Tampak seorang dengan pakaian setelan jas warna hitam masuk keruangan Kevin. Dia membungkuk hormat lalu menyerahkan map warna biru pada bossnya.
"baik, kamu boleh pergi. Bilang pada room service untuk menyiapkan kamar boss Marsha. Dia akan menginap"
Pegawai itupun pergi. Dia segera melaksanakan perintah bossnya.
Marsha menoleh.
"tapi kak, mama bagaimana ?"
"aku yang akan bicara pada nyonya Jade"
Marsha lega. Kalau Kevin yang bicara, mama Jade tidak akan khawatir. Mereka bisa mengandalkan Kevin dalam segala hal.
"ini yang kamu cari. Aku sudah bilang, kalau ada apa-apa telfon aku" katanya.
Marsha heran.
"tapi bagaimana kakak bisa tau aku mencarinya ?" tanyanya.
__ADS_1
"tadi aku menelfon mommy untuk menanyakanmu. Dari tadi aku telfon tapi kamu tidak angkat. Mommy bilang kamu ke pemakaman untuk mencari petunjuk gadis bunga mawarmu" jelas Kevin.
Marsha segera mengambil ponselnya. Benar, ada beberapa panggilan dari Kevin dan mama Jade.
"maaf kak, aku baru liat panggilan kakak" katanya seraya menutup ponsel.
Kevin menggelengkan kepalanya.
"kita makan malam dulu, baru kamu buka berkasnya. Tenang, kamu akan menemukan dia" Kevin menepuk pundak Marsha.
Dia menarik Marsha bangun dari duduknya. Kevin merangkulnya keluar dari ruangan menuju ke Restbarr di lantai bawah.
*
Gedung ini terdapat tiga lantai.
Lantai bawah untuk restorant, lantai dua untuk kantor, lantai tiga untuk barr, dan ada mess karyawan di sebelahnya.
"kakak berhasil memajukan tempat ini" Marsha memandang kagum melihat sekitar restorant.
Setelah melalui proses renovasi, tempat ini banyak sekali perubahan. Lebih bernuansa anak muda dan moderen. Kevin betul-betul memikirkan dengan matang konsep Restbarr terbaru.
Dibeberapa meja, di sudut ruangan dan tepi jendela terdapat bunga dari toko nyonya Jade di tata dengan sangat indah.
"tapi aku tidak bisa sendiri, aku berharap kamu mau membantuku" kata Kevin.
"aku sebenarnya tidak keberatan kak, tapi mama selalu khawatir aku melanggar janjiku pada tuan. Ini saja, aku diharuskan pulang malam ini juga" katanya.
Kevin mengangguk mengerti.
Sebagai orang kepercayaan tuan Shane, dia sangat tahu sifat tuan dan nyonyanya.
"baiklah, tapi kalo kamu ada apa-apa jangan ragu untuk datang padaku" ucap Kevin tulus.
*
Marsha naik ke lantai tiga.
Dia mendapat satu kamar khusus yang disiapkan apabila dia datang berkunjung.
Atas bantuan Kevin, nyonya Jade setuju kalau Marsha tidak pulang malam ini.
Besok pagi, baru dia akan secepatnya pulang.
Marsha masuk kedalam kamar dan duduk di tepi ranjang.
Dia meraih map biru yang tadi diberikan Kevin padanya.
Dengan penasaran, dia membukanya.
Foto seorang gadis cantik dengan rambut sepinggang, mata coklat indah serta kaki jenjang yang mulus bak seorang model. Dia tersenyum manis, manis sekali.
"kamu tambah cantik saja Rose, rambutmu tidak berubah. Tetap dibiarkan panjang" ucap Marsha.
Hanya foto dan secarik kertas alamat sekolah.
Hmmm Kevin ingin membuatku penasaran. Marsha geleng kepala.
Dia lalu menutup map itu dan merebahkan diri di kasur. Waktunya beristirahat.
*
__ADS_1
"jadi kamu sudah tau, tapi kenapa kamu tidak memberi tahunya ?" tanya Jade Shannon.
"dia tidak mengenaliku ma, bahkan melihatku seperti orang asing. Dan ternyata kecelakaan itu penyebabnya. Aku yang telah menyebabkan dia sakit ma. Aku..." Marsha tertunduk.
Jade Shannon membelai rambut Marsha.
"itu kecelakaan sayang, dan bukan kamu pelakunya tapi Maximiliano"
"tetap saja aku merasa bersalah ma, motor Maxim aku yang modifikasi. Aku juga terlibat" Marsha mulai kacau.
Jade memeluk putranya.
"trus apa yang akan kamu lakukan sekarang ?" tanya Jade Shannon.
"aku ingin Parish bangun ma.. aku ingin roseku. Tapi aku tidak ingin mama kecewa"
"mama kecewa ? kenapa ?" tanya Jade tidak mengerti. Dia melepaskan pelukannya.
"aku tidak mungkin mengikuti hatiku. Mama akan menikah dengan Om Mark. Kami akan menjadi saudara" jelas Marsha.
Akhirnya beban itu keluar juga.
Jade Shannon tersenyum. Dia meninju dada Marsha pelan.
"dasar anak bodoh ! hmmm cinta membuat kamu tidak bisa berpikir lebih dalam ya" Jade Shannon tertawa.
Marsha melihat aneh. Kenapa mama Jade malah menertawakannya.
"kamu itu bukan anak kandung mama. Kita tidak ada hubungan darah. Trus masalahnya dimana kalau kamu suka pada anak dari calon suami mama ?" Jade Shannon coba menjelaskan.
Marsha tersadar. Dia memukul kepalanya sendiri.
"jadi aku dan Parish ?!"
Jade Shannon mengangguk.
Marsha tidak dapat menyembunyikan rasa gembiranya.
Jade Shannon memukul bahunya.
"tapi... apa Parish mau sama aku kalau tau siapa aku sebenarnya ? trus apa Om Mark mau atau Spanish mau, aku yang bukan siapa-siapa ini dekat dengan kesayangan mereka" gumam Marsha.
Jade Shannon menepuk pundak Marsha.
"mereka orang baik, mereka pasti bisa menerima kamu sama seperti kami menerima kamu menjadi bagian keluarga kami. Dan sampai kapanpun, kamu anak mama dan kebanggaan Papa Shane" ucap Jade meyakinkan Marsha.
Marsha tersenyum.
"aku mohon, mama jangan bilang apa-apa dulu pada semuanya. Karena aku ingin meraih perhatian Parish secara pelan-pelan. Aku akan membantu memulihkan ingatannya" katanya.
"baiklah, mama janji ini akan menjadi rahasia kita. Semoga Parish secepatnya bangun" harap Jade Shannon.
"Marsha berharap seperti itu juga ma, sangat berharap melihat senyum ceria Parish lagi" ucap Marsha lirih.
*
Marsha bersandar di jendela kamarnya, dia menyibak sedikit tirai agar dapat melihat bintang.
Dia sekarang memegang bingkai foto hitam putih Rose lalu perlahan dia membuka sedikit celah pada bingkai, foto Parish yang diberikan Kevin tersembunyi dibaliknya.
"cepat bangun Rish... aku ingin bercerita banyak denganmu" ucap Marsha lirih.
__ADS_1
***