Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 31


__ADS_3

Starla membangunkan Parish, katanya mereka ditunggu di kamar ayah Mark dan mama Jade.


Dengan segera Parish bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah itu mereka langsung menuju kamar ayahnya dan mama Jade.


Saat mereka sampai, disana sudah ada Spanish yang tampak merangkul Marsha. Wajah Marsha tampak sedih.


Ada apa ? pikir Parish.


Spanish memberi kode dengan telunjuknya agar Parish mendekat dan duduk disebelah kiri Marsha yang kosong. Parish mengangguk dan mengikuti maksud kakaknya.


Mama Jade terus melihat layar ponselnya. Rupanya mereka melakukan panggilan video. Lalu tidak lama, tampak Kevin dan boss Alice yang tampak sayu.


Mereka seperti berada di koridor rumah sakit.


"bagaimana keadaannya ?" tanya mama Jade.


Boss Alice hanya terisak.


Kevin merangkul mommynya, "kata dokter, daddy belum melewati masa kritisnya. Karena itu kami masih berjaga, belum tidur" jawabnya.


Marsha menunduk seraya menutup mukanya. Dia tampak frustasi.


Parish memegang tangan dan mengusap punggung Marsha, dia menguatkan Marsha. Dia tahu apa yang tengah dirasakan tunangannya itu.


Pantas saja kedua boss Marsha dulu dan kakak angkatnya itu tidak datang kemarin. Padahal Marsha sudah mengirimkan undangan dan tiket pesawat beberapa minggu sebelum pesta pada mereka.


"aku akan segera mengirim orang kesitu untuk bicara dengan dokter, apa boss Harry bisa di bawa kerumah sakit di kota" sahut ayah.


"terima kasih tuan Mc. Milan, terima kasih" ucap boss Alice.


"bagaimana bisa kondisinya drop ?" tanya mama Jade lagi.


"daddy sangat senang mendengar pernikahan mama sekaligus dengan pertunangan Marsha. Dia berusaha menyelesaikan panen supaya bisa segera berangkat tanpa membuat buah-buahan menjadi busuk karena melewati masa panen. Daddy memforsir kerjanya, akhirnya drop" jelas Kevin.


"maafkan kami tidak bisa berada disana bersama kalian, kemarin kami panik. Jadi baru hari ini bisa memberitahu kalian tentang kondisinya" sahut boss Alice.


"tidak apa Alice, aku sangat mengerti kondisimu" sahut mama Jade dengan isak tangis yang tertahan.


"selamat ya Mars, Parish... selangkah lagi untuk kisah cinta kalian" ucap Kevin melihat kearah Parish dan Marsha.


"terima kasih kak Kevin, terima kasih" Parish menjawab mewakili Marsha yang sudah terisak.


"hey ! boss Marsha ! jangan menangis di depan orang banyak" bentak Kevin.


Marsha mengangkat wajahnya. Matanya merah, masih ada bulir air mata di pipinya.


"iya kak" jawabnya.


"berbahagialah, kami sayang kalian" Kevin dan boss Alice melambaikan tangannya.


Lalu panggilan video itu berakhir.


Marsha langsung memeluk Parish, "aku harus kesana" isaknya.


"kita akan kesana sayang" ucap Parish memandang ayahnya dan mama Jade.


Seakan mengerti dengan arti tatapan mata putrinya, Mark mengangguk.


"Alex, kamu siapkan pesawat pribadi untuk Parish dan Marsha. Sampai di bandara, pastikan supir kantor untuk membawa mereka ke RedRose Utara" perintahnya pada asistennya.


"baik tuan besar, segera sesuai perintah" Alex beranjak keluar kamar.


"kalian pulang duluan, ayah dan mama akan disini sampai para keluarga besar dan kolega kita pulang sesuai jadwal. Setelah itu kami akan menyusul kalian" kata ayah.


Parish mengangguk. Dia lalu mengajak Marsha untuk bersiap-siap.


*


Mereka tiba di bandara dan di jemput oleh supir perusahaan properti Mc. Milan Company. Perusahaan yang didirikan oleh kakeknya dan sekarang diserahkan kepada ayahnya. Dulunya perusahaan itu hanya khusus bidang property saja tapi sekarang sudah merambah ke bisnis yang lain. Seperti perusahaan otomotif yang dikelola oleh Spanish dan beberapa perusahaan kecil lainnya.


Perjalanan ke RedRose utara yang memakan waktu 4 jam dipergunakan Marsha dan Parish untuk tidur. Karena rencananya mereka akan ke Restbarr untuk menaruh barang di kamar Marsha lalu menuju rumah sakit.


"maaf tuan, nona, kita sudah sampai" panggil pak supir membangunkan mereka.


Parish membuka matanya, "terima kasih pak" ucapnya.


Dia membangunkan Marsha, mereka sudah sampai di Restbarr. Marsha bangun dan membantu pak supir menurunkan barang mereka.


"maaf nona, apa nona masih membutuhkan saya ?" tanya pak supir itu.


Parish menoleh kepada Marsha. Marsha hanya diam.


"perintah kak Alex bagaimana ?" tanya Parish.


"tuan Alex bilang, kalau nona masih membutuhkan saya maka saya akan mencari penginapan yang terdekat agar nona bisa segera menghubungi saya. Kalau tidak, saya akan meninggalkan mobil untuk nona pakai maka saya pulang naik bis ke kota" jelasnya.


"baiklah, kamu boleh pulang ke kota. Tinggalkan saja mobilnya" kata Parish.


Supir itu mengangguk. Lalu menyerahkan kunci pada Parish.


Parish memberikan sejumlah uang pada pak supir tapi dia menolak, "maafkan saya nona, tapi ini terlalu banyak. Tuan Alex sudah membayar upah saya kesini" katanya.


"tidak apa pak, ambillah. Itu rejeki untuk istri dan anakmu" jawab Parish.


Pak supir mengucapkan terima kasih berkali-kali lalu pamit.


Marsha mengajak Parish masuk kedalam. Beberapa karyawan Kevin menyapa Marsha. Marsha membalas dengan anggukan dan senyum.


Mereka masuk kedalam kamar Marsha. Marsha meletakan tas mereka di depan lemari pakaian. Parish duduk bersandar di sofa.


"kalau kamu lelah, kamu bisa tidur di kasur. Aku akan tidur di sofa. Maaf, kita tidak bisa kerumahmu karena kedua penjaga rumahmu masih di Morningbay" jelas Marsha.


Parish mengangguk. Dia mengambil baju mandinya dan pakaian gantinya di dalam tas, "aku mandi dulu" kata Parish.

__ADS_1


Marsha mengangguk.


Tak beberapa lama, Parish keluar dengan baju yang sudah di ganti dan rambut basah.


Marsha mengambil handuk dari dalam lemari pakaiannya lalu menarik tangan Parish agar duduk di dekatnya. Dia membantu mengeringkan rambut Parish.


"terima kasih sayang, aku bisa sendiri. Lebih baik kamu mandi trus kita kerumah sakit" kata Parish.


"biarkan aku melakukannya sayang" ujar Marsha.


"baiklah" akhirnya Parish mengalah.


Setelah Marsha memastikan rambut Parish setengah kering, dia lalu beranjak ke kamar mandi.


Parish menunggu seraya mengirim pesan pada kakaknya kalau mereka sudah sampai di RedRose utara.


Marsha keluar dengan hanya memakai handuk. Parish segera menutup kedua matanya dengan tangan, "sayang, pakai bajumu" teriaknya.


"aku lupa membawanya sayang" ujar Marsha. Dia mengambil pakaian gantinya dari dalam tas lalu membawa masuk kedalam kamar mandi.


Tak lama Marsha keluar dengan pakaian santainya.


"maaf sayang" ucap Marsha yang masih melihat Parish manyun.


"jangan begitu lagi sayang, aku tidak terbiasa" kata Parish.


"iya sayang, ayo ! kita makan dulu di resto baru kita ke rumah sakit" ajak Marsha.


Parish menurut. Dia menggandeng tangan Marsha beranjak keluar kamar.


*


Dirumah sakit ...


Parish memeluk boss Alice, sementara Marsha merangkul Kevin.


Kevin dan boss Alice terkejut Marsha dan Parish datang menemui mereka. Tidak ada kabar pemberitahuan.


"kenapa kamu tidak bilang kalau mau kesini ?" tanya Kevin pada Marsha.


"supaya kamu repot menyuruh orang untuk ini dan itu ?" balas Marsha, "aku sudah tau bagaimana kakak makanya aku tidak bilang kakak" katanya lagi.


"kalian menginap dimana ? setahuku kedua penjaga rumahmu ada di Morningbay" tanya boss Alice.


"kami menginap di Restbarr boss" jawab Parish.


Boss Alice menggelengkan kepalanya, "kamu tidak boleh memanggilku begitu nona, kamu adalah nona Mc. Milan. Panggil aku mom Alice" katanya.


"baiklah mom" ucap Parish.


"ini berlaku untuk kamu mulai sekarang Mars" kata boss Alice pada Marsha.


Marsha mengangguk seraya tersenyum.


Mereka lalu menuju ke jendela kaca melihat kondisi boss Harry.


*


Karena kondisi boss Harry yang belum melewati masa kritis, dokter membatasi penjenguk 1 orang saja untuk masuk kedalam.


"kapan kalian merencanakan pernikahan ?" tanya Kevin.


"rencananya bulan depan kak, kami akan membuat acaranya di Restbarr kalau kakak mengizinkan" kata Parish.


"dengan senang hati, aku senang sekali kalian menikah disini" seru Kevin.


"Marsha anak baik, dia sangat mencintaimu" ucap boss Alice memandang Parish.


"iya mom, karena itu dia selalu posesif terhadap aku" kata Parish.


"maafkan dia, dia hanya tidak mau kehilangan kamu lagi" jelas Kevin.


"iya kak, aku mengerti" sahut Parish.


Marsha keluar dengan tertunduk. Dia tidak tega melihat kondisi boss Harry yang menurutnya hampir sama dengan kejadian tuan Shane dengan penyakit yang sama. Ya, boss Harry memiliki riwayat penyakit jantung koroner. Penyakit yang sama yang merengut nyawa tuan Shane.


Parish meraih tangan Marsha, "semua akan baik-baik saja" katanya.


Marsha mengangguk.


"kalian pulanglah, biar aku dan mom yang menjaga dad" kata Kevin.


"kami akan disini" ucap Marsha melihat kearah Parish. Parish mengangguk tanda setuju. Mereka tidak mungkin pulang dan bisa beristirahat dengan kondisi boss Harry yang seperti itu.


Marsha mengajak Parish duduk di kursi koridor dekat mereka. Sedangkan Kevin dan mom Alice masih melihat kondisi dad Harry lewat kaca pembatas.


"sayang, kenapa dad tidak dipindahkan diruangan VIP jadi kita bisa menjaganya didalam ?" tanya Parish.


"aku sudah menanyakannya mereka masih menyiapkan alat bantunya disana. Kemarin full, jadi mereka tidak bisa kemana-mana. Mereka juga tidak berani memindahkan dad kerumah sakit di kota karena dad bernafas dengan alat bantu" jelas Marsha.


Parish mengangguk mengerti.


Menjelang subuh, Marsha membangunkan Parish. Katanya dad sudah bisa dipindahkan keruang VIP.


Dengan segera Parish mengikuti langkah Marsha.


Marsha lalu menyandarkan Parish duduk di sofa, dia tahu tunangannya itu sangat lelah dan mengantuk, "kamu istirahatlah. Aku akan meminta mom untuk istirahat. Biar aku yang menggantikan menjaga" katanya.


Parish mengangguk, "kamu paksa ya sayang, aku tahu mom pasti tidak mau meninggalkan dad. Tapi mom juga butuh istirahat, jangan ikutan drop" ucapnya.


Marsha mengangguk seraya meninggalkan Parish menuju ruang perawatan yang hanya di batasi dinding kaca.


Akhirnya dengan bujukan Marsha dan Kevin, mom Alice mau untuk menjauh dari sisi tempat tidur suaminya.


Dia ikut bersandar di sofa dan tertidur.

__ADS_1


*


Parish tiba-tiba terbangun, dia mendengar isak tangis. Dia membuka jelas kedua matanya. Dilihatnya didalam ruang perawatan dad Harry telah ada dokter dan suster yang kesana kemari. Kevin memeluk mom Alice yang menangis.


Parish mendekati Marsha, dia mengamit jemari Marsha dan menyandarkan dagunya di pundak tunangannya.


"dia tidak boleh menyerah, dia harus kuat" isak Marsha. Dia berbalik menghadap Parish dan memeluk Parish erat seraya terisak. Parish membiarkan saja Marsha begitu seraya mengusap punggungnya.


Marsha sedang sedih sekarang.


Dokter sudah berusaha, dan akhirnya boss Harry menyerah. Nada pada monitor melemah, dan garis pada monitor berbentuk lurus. Boss Harry telah tiada, pergi untuk selama-lamanya.


Tangis mom Alice pecah memeluk jenazah suaminya yang sudah di tutupi dokter dengan kain sampai dikepala.


Kevin memukul tembok dengan kasar, dia sangat terpukul.


Marsha yang berada dalam pelukan Parish jatuh terduduk dilantai. Parish jongkok, dan tetap memeluk Marsha.


Dia akan terus menguatkan Marsha.


*


Boss Harry di makamkan di pemakaman umum RedRose Utara. Di tempat yang sama dengan ibu Parish, Chrissy Mc. Milan.


Keluarga Mc. Milan yang kini bertambah dengan kehadiran mama Jade dan Venus langsung datang begitu mendengar berita duka yang disampaikan Parish disela isak tangis kesedihannya karena duka dan karena kondisi Marsha.


Marsha tidak bicara sama sekali, dia hanya terdiam dan kadang memukul dadanya sendiri.


Kevin juga berusaha menghentikan Marsha dan mencoba membuatnya tenang. Dia mengerti perasaan Marsha karena Marsha bukan dianggap sekedar karyawan oleh orang tuanya melainkan sudah seperti anak sendiri. Begitu juga sebaliknya Marsha merasakan kasih sayang orang tua pada kedua bossnya itu. Marsha bukan orang lain, Marsha sudah seperti anak kedua dalam kehidupan boss Harry dan boss Alice.


"Alice, aku turut berduka cita" Jade menghampiri mom Alice dan memeluknya.


"terima kasih nyonya, terima kasih banyak" isak mom Alice.


Mark memeluk Kevin seraya mengusap punggungnya, lalu dia pun beralih memeluk Marsha, "kamu harus kuat Mars" ucapnya.


Marsha mengangguk mendengar ucapan calon mertuanya.


"kamu temani dia terus ya, kami duluan menuju rumah kita" ucap Mark pada putrinya.


"iya yah" ucap Parish.


Spanish tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menepuk pundak sahabatnya itu, memeluk adiknya lalu beralih menyalami Kevin.


Mereka berpamitan meninggalkan mom Alice, Kevin, Marsha dan Parish di area pemakaman.


Kevin mengajak mereka pulang, tapi Parish mau menemui ibunya sebentar. Dia meminta Kevin untuk menjaga Marsha dulu karena kondisi Marsha yang terdiam membuat Parish ragu mengajaknya.


Kevin mengangguk. Dia merangkul mom Alice dan menarik lengan Marsha agar mengikutinya menuju mobil. Mereka akan menunggu Parish disana.


Setelah berdoa di makam ibunya, Parish menemui Kevin yang berdiri bersandar pada mobilnya. Mom Alice sudah masuk dalam mobil begitu juga Marsha. Marsha duduk di kursi sebelah kemudi.


"kamu bisa mengemudi Rish ?" tanya Kevin.


"iya kak, aku punya sim tapi ayah selalu saja menyuruh auncle untuk mengantar dan menjemputku" jelas Parish.


"syukurlah, aku khawatir dengan kondisinya begitu Marsha tidak akan fokus mengemudi" ucap Kevin.


"iya kak, aku juga khawatir. Kami akan pulang ke Restbarr, kalau dia sudah tenang baru aku akan membawanya pulang kerumah" jelas Parish.


"iya, kami akan pulang ke apartemenku. Datanglah berkunjung kesana" ujar Kevin.


"iya kak, hati-hati. Jaga mom" ucap Parish.


Kevin mengangguk, dia lalu melihat Marsha sekilas, mengitari mobil, masuk menyalakan mesin dan pergi menuju apartemennya.


Parish menghela nafas, sudah lama dia tidak menyetir tapi demi Marsha dia harus berusaha. Dia masuk kedalam mobil dan mulai menyalakan mesin. Tapi sebelumnya dia memakaikan sabuk pengaman pada Marsha lalu dirinya. Mobil mereka pun melaju menuju Restbarr.


*


Di dalam kamar Marsha di Restbarr ...


Parish membaringkan Marsha diatas tempat tidur. Dia membuka sepatu Marsha lalu melap wajah Marsha dengan tisu basah.


Dia duduk diatas tempat tidur seraya membelai rambut Marsha. Dia tidak mengerti kenapa Marsha jadi seperti itu.


Meninggalnya dad Harry membuat Marsha terpukul.


Marsha memandang Parish, dia menarik tangan Parish dan menciumnya berkali-kali.


"sayang, sudah hentikan ! kamu kenapa ?" tanya Parish, dia menahan tangannya.


"aku sudah kehilangan orang-orang yang menyayangiku, aku tinggal punya kamu" kata Marsha memelas.


"aku akan selalu disini sayang, lagipula kamu tidak berdua dengan aku. Masih ada mama Jade, Venus, kak Kevin, mom Alice dan keluargaku. Kami semua menyayangimu" Parish mengusap pipi Marsha.


"mereka bisa saja meninggalkanku. Tapi aku tidak mau kehilangan lagi, apalagi kehilangan kamu" Marsha merapat kepada Parish dan melingkarkan tangannya pada pinggang Parish.


Parish mengerti, dia tidak banyak bicara lagi. Dia memeluk Marsha sampai tunangannya itu tertidur.


Saat Marsha tertidur, Parish merapikan barang-barang mereka. Parish berniat membawa Marsha kerumah keluarganya.


"sayang, kamu mau kemana ?" tanya Marsha. Dia kaget begitu membuka mata, Parish sudah mengemasi barang-barang.


"kita kerumah Mc. Milan sayang" Parish mendekati Marsha.


"kamu tidak mau tinggal bersamaku ?" tanya Marsha.


Parish menghela nafas, "bukan begitu sayang, lebih baik kita tinggal bersama keluarga agar kamu merasa kalau banyak yang sayang padamu. Aku senang bersamamu disini, tapi kita belum menikah. Nanti apa kata orang" jelasnya.


"kita menikah saja" balas Marsha menatap mata Parish.


"iya, kita akan segera menikah. Sekarang, kita pulang kerumah ya. Kita kasih tahu ayah dan mama tentang rencana kita. Kamu mau kan ?!" ucap Parish lembut seraya mengusap pipi Marsha.


Akhirnya Marsha mengangguk. Bujukan Parish berhasil. Mereka meninggalkan kamar Marsha di Restbarr dan melaju menuju rumah keluarga Mc. Milan RedRose Utara. Dan sama seperti tadi, Parish yang mengemudi. Dia merasa kondisi Marsha belum fit karena itu dia berusaha menghilangkan ketakutannya berkendara. Marsha awalnya keberatan tapi Parish mengancam akan marah apabila Marsha memaksa. Dan Marsha akhirnya mengalah.

__ADS_1


***


__ADS_2