Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 9


__ADS_3

Starla duduk di sofa.


Dia memandang Spanish yang dari tadi memperhatikan suster merawat Parish yang masih belum sadar.


Dia tahu dengan pasti bahwa pacarnya itu sosok kakak yang baik dan sempurna untuk Parish. Spanish sangat menyayangi adiknya dan bahkan lebih mementingkan adiknya daripada kehidupan pribadinya.


Starla merasa sangat beruntung karena Parish adalah sahabatnya. Jadi dia tidak perlu merasa terlupakan, karena baginya Parish adalah sahabat sekaligus saudaranya di kota ini.


Dia kemudian ingat pertama kali kenal Parish saat pembekalan mahasiswa baru. Dia baru saja pindah, belum punya teman, dan belum kenal kota ini.


Parish yang menghampirinya dan mengajaknya berteman. Parish juga yang meluangkan waktu menemaninya mengenal kota ini. Semenjak saat itu mereka tidak terpisahkan bak saudara kembar. Kemana-mana selalu bersama dan saling bertukar cerita.


*


Waktu itu..


"hai... aku Parish Mc. Milan"


Starla yang lagi mengunyah bekal makan siangnya menoleh.


Ini dia si cewek perfect yang mendapat perlakuan istimewa dari panitia. Komennya dalam hati.


Bagaimana tidak. Meskipun sudah terlambat sekitar lima belas menit, tapi dia tidak mendapatkan hukuman. Dia malah dibiarkan duduk begitu saja.


"maaf, aku Starla" Starla mengulurkan tangannya.


Dia menyadari lama membiarkan tangan Parish tak terjabat.


"boleh aku duduk disini ?" tanyanya.


Starla mengangguk.


Dia menggeser sedikit badannya agar ada ruang untuk Parish duduk di bangku itu.


"bekal makan siang kamu menggodaku. Aku suka sekali mie goreng dengan telur mata sapi tambah sayur tumis wortel dan buncis" seraya melirik kearah kotak makan siang Starla.


"kamu mau ? ambil saja" tawar Starla.


Parish menggeleng pelan.


"ibu kamu sudah buat khusus untuk kamu eh malah kamu bagi-bagi. Apa tidak apa ?" ujar Parish.


"tidak apa, boleh kok. Kamu pasti juga dibuatkan ibu kamu tapi kenapa kayak tidak berselera ?" tanya Starla melihat isi kotak makanan Parish.


Nasi putih, sambal goreng ati sapi, sayur sup dan perkedel jagung.


"ini bukan buatan ibuku tapi aunty lesly. Aku bersyukur aunty sudah siapkan aku bekal. Aku hanya rindu masakan ibuku. Kata kakak dulu ibu selalu masak untuk kami walaupun ada aunty"


"ibu kamu kemana ?" tanya Starla.


"ibu aku meninggal karena kecelakaan. Sudah.. kenapa kita jadi sedih begini" Parish melap air matanya yang mulai keluar disudut matanya.


Starla lalu memindahkan sebagian makanannya kekotak makanan Parish.


"tapi Star..." cegah Parish.


"mulai sekarang, masakan mamaku akan menjadi makananmu juga. Supaya kamu merasakan masakan buatan mama sama seperti masakan ibumu. Anggap saja begitu" ujar Starla seraya tersenyum.


"terima kasih ya" ucap Parish"


*


"Parish kamu butuh sesuatu ?" tanya cewek rambut panjang, kakak panitia yang datang bersama cewek-cewek gerombolannya.

__ADS_1


Parish memandang mereka satu persatu. Mereka semua dari tadi bersikap akrab sama dia. Membuatnya merasa tidak nyaman karena mendapat pandangan sinis dari teman-teman sesama mahasiswa baru.


Starla memandang Parish. Dia semakin penasaran, siapa Parish sebenarnya. Dari tadi semua panitia baik padanya. Tidak bersikap galak seperti kepada mereka.


"maaf kak, aku tidak butuh apa-apa" jawab Parish sopan.


"kamu pasti haus ?" tanya salah satunya.


"aku bawa air minum" Parish menunjukkan botol minumnya.


"baiklah, kalo kamu butuh apa-apa beritahu kami" kata cewek yang memakai baju merah tertutup jaket almamater.


"iya kak" ucap Parish seraya mengangguk.


Mereka semua pun pergi.


Parish menghela nafas. Bagaimana caranya lepas dari fans kakaknya itu. Mereka semua sungguh ingin menunjukkan perhatian agar Spanish respek pada mereka. Tapi mereka tidak tahu kalau mau bagaimana pun sikap mereka, Spanish tetap akan seperti itu karena Spanish tidak tertarik pada cewek yang mencari perhatian.


"kenapa semua panitia baik ya sama kamu ?" tanya Starla.


"kakakku senior di kampus ini. Dia pemain sepakbola Meteorclub. Dan mereka semua itu fans kakakku" bisik Parish, dia memberi penekanan pada kata fans seraya berbisik agar tidak ada yang mendengar.


Nanti mereka tersinggung.


Starla mangut. Dia mengerti sekarang.


"sudahlah, abaikan saja. Kak Spanish juga bilang kalau dia hanya bersikap ramah, tidak ada perasaan apa-apa pada mereka semua" ucap Parish seraya melanjutkan makan siangnya.


"Hmmm kamu liat cewek yang pake baju merah tadi ?"


Starla mengangguk.


"Namanya Carmella, dia sangat sering datang kepertandingan kak Spanish. Dia juga selalu datang kerumah untuk sekedar bawakan aku es cream" lanjut Parish.


Parish menyikutnya.


"terima kasih... aku anggap itu beneran pujian" Parish tersenyum.


"beneran" Starla menekankan pendapatnya.


"kak Spanish bilang dia paling tampan di kampus, tapi kalo menurutku yang tadi pagi lebih tampan" Parish tersenyum seraya mengingat sesuatu.


Starla menyikutnya.


"yang mana ?" tanya Starla.


"dia yang mengantarku keruang pembekalan. Aku tadi kesasar, makanya terlambat" jelas Parish.


Starla mangut, dia mengerti sekarang. Bahwa bukan semaunya Parish untuk datang terlambat pembekalan tapi karena dia belum tahu letak ruang pembekalannya dimana. Sama seperti dirinya tadi yang mencari kesana kemari.


"nanti aku kenalin kamu sama kak Spanish. Dia baik kok, anggap saja kakak sendiri" Parish tersenyum.


Starla mengangguk.


Mereka pun melanjutkan makan siang yang sempat tertunda lantaran kedatangan Carmella dan ganknya.


Keduanya sedikit mempercepat makannya, karena sebentar lagi mereka masuk materi sesi kedua.


*


Tok tok !


Spanish dan Starla menoleh kearah pintu.

__ADS_1


Pintu terbuka.


Marsha masuk seraya menyapa Spanish dan Starla. Starla memandang Spanish seakan memberi kode bahwa ini saatnya.


"bagaimana keadaan Parish ?" tanya Marsha.


Pandangannya tertuju pada Parish yang sedang terbaring disana dengan ditemani suster.


"masih belum ada reaksi. Kami belum diizinkan untuk kesana" jawab Spanish lirih.


"aku menyesal Nish" ucap Marsha, tatapannya terlihat sayu.


Spanish menepuk pundak sahabatnya itu.


"kamu tidak perlu merasa begitu. Yang kita pikirkan sekarang kesembuhan Parish" ucap Spanish bijak.


Marsha mengangguk.


"kak, aku mau pulang dulu" ucap Starla.


Spanish manyun, dia tidak terima panggilan Starla padanya.


"maaf.. ay, aku mau pulang dulu. Mau mandi, bersih-bersih baru kesini lagi" Starla meralat panggilannya.


Marsha yang berdiri disebelah Spanish tersenyum melihat sahabatnya itu.


"jadi sudah panggil ay ?!" katanya meninju pundak Spanish pelan.


Spanish tersipu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"dibiasakan memang" Spanish mengedipkan matanya.


Marsha mangut setuju. Dia mengacungkan kedua jempolnya kearah Spanish.


"aku antar kamu yang.." ucap Spanish.


"Parish bagaimana ?" tanya Starla.


Spanish memandang Marsha seolah meminta sesuatu.


Dan Marsha sangat mengerti kode itu.


"aku yang akan menjaga Parish" jawab Marsha tanpa menunggu Spanish bertanya padanya.


"terima kasih Mars, kamu memang terbaik. Oh iya, ayah mungkin akan lama datangnya karena mendadak ke morningbay. Kamu gak apa kan kalo aku agak lama sedikit" Spanish tersenyum penuh arti pada Marsha.


"iya aku ngerti" sahut Marsha seraya mengangguk.


"makasih..." Spanish tersenyum.


Tak lama mereka berdua pamit.


*


Spanish dan Starla berdiri dibalik pintu yang belum tertutup sempurna. Mereka mengintip Marsha yang masih memandang Parish dari balik kaca pembatas.


"semoga saja rencana kita berhasil. Parish bangun" ucap Spanish lirih.


Starla meraih tangan Spanish dan mengenggamnya erat.


"percayakan semua pada kak Marsha. Aku yakin Parish akan merasakan kehadiran kak Marsha disana"


Spanish mengangguk. Starla mengajaknya untuk pergi dari situ dan berharap segera mendapat kabar baik dari Marsha.

__ADS_1


***


__ADS_2