Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 7


__ADS_3

Parish tertunduk.


Dia mendengarkan saja kalimat-kalimat ketidakpercayaan dari Starla pada kenyataan yang sesungguhnya. Dia tidak berani untuk bicara karena sepertinya Starla marah besar kepadanya. Starla sudah tahu semuanya. Spanish yang memberitahunya. Awalnya Starla hanya mencoba bercanda pada Spanish untuk mendekatkan Parish dan Marsha. Ternyata jawaban Spanish sontak membuatnya kaget. Lalu cerita itu mengalir begitu saja dari Spanish.


Mereka akan menjadi saudara.


"dan kamu tidak cerita apa-apa ?" tanya Starla dengan kesalnya.


Parish mengerti Starla marah padanya. Selama ini mereka selalu saling berbagi cerita tentang apa saja tapi kenapa tentang tante Jade, Parish tidak pernah cerita.


"aku tidak mau kamu ikutan kepikiran" ucap Parish lirih.


"terus, sekarang bagaimana ? tiga minggu lagi Rish... apa yang bisa kita lakukan untuk itu" Starla bingung.


"tidak ada.. selain menerima" Parish tertunduk.


Matanya mulai basah.


Dalam hatinya, dia belum sanggup. Kenyataan itu begitu berat. Starla memeluk Parish.


"tapi kak Spanish belum tau kan soal ini ?" tanya Parish.


"biar saja dia tau, kenapa mau disembunyikan lagi" ujar Starla melepaskan pelukannya.


"jangan Star.. aku tidak mau menganggu konsentrasi kak Spanish. Ingat, kak Spanish sekarang sudah aktif bimbingan. Sudah cukup dia terbagi pikirannya dengan pertandingan, jangan tambah dengan ini lagi" jelas Parish.


Starla mengerti. Tapi hatinya belum bisa menerima, sahabatnya itu merelakan kebahagiaannya. Starla memeluk Parish lebih erat lagi.


*


"kalian berdua disini ?" Spanish datang menghampiri.


Dia dan Marsha sekarang menyelesaikan tugas akhir mereka sebagai mahasiswa. Karena banyak waktu yang luang, Spanish membantu Ayah mengurus perusahaan otomotif. Sedangkan Marsha, bekerja dengan Spanish dibagian modifikasi.


"tugas kamu bagaimana ?" tanyanya pada Starla.


"aku dan Parish yang duluan kumpul" jawab Starla.


Spanish mengangguk. Karena dia bisa merasa bersalah kalau tugas Starla tidak selesai akibat dia lama duduk bercerita dirumahnya setelah mengantarnya pulang.


"kak Marsha mana ?" tanya Starla.


"Marsha masih di dalam ruang bimbingan. Banyak sekali koreksiannya" terang Spanish.


Spanish tiba-tiba fokus pada adiknya. Tatapan mata adiknya sendu.


"sayang kamu kenapa ? mata kamu sembab, habis nangis ?" Spanish memegang pipi adiknya.


"aku baik-baik saja kak. Tadi mataku kemasukan serangga kecil, masih perih" bohong Parish.


Spanish terlihat tidak yakin dengan jawaban Parish tapi setelah Starla memberi anggukan sebagai tanda menguatkan penjelasan Parish, Spanish akhirnya mengangguk. Dia lalu memeriksa mata adiknya. Yang dia aneh, kenapa kedua matanya yang merah. Apa serangga itu masuk ke dalam keduanya, bukan ke salah satunya. Tapi Spanish tidak ingin bertanya karena Parish sendiri bilang tidak apa-apa.


"selamat ya kak" ucap Parish.


Spanish kaget.


"semalam kakak pulang, aku sudah tidur. Tadi pagi kakak buru-buru kekantor. Padahal aku mau tanya"


"dia tanya ke aku ya aku jawab" Starla melanjutkan kalimat Parish.


"maaf ya dek. Kakak serius.. janji" ucap Spanish meyakinkan adiknya untuk setuju sahabatnya itu jadian dengannya.


"iya aku senang untuk kalian berdua" ucap Parish.


"terima kasih adikku sayang" Spanish mencium pipi adiknya.


*


"hai" sapa Marsha.


Parish menoleh. Marsha menghampiri mereka.


"kamu sudah selesai ? kok bisa banyak coretan sih Mars ?" Spanish tidak habis pikir.


"aku tidak apa, hanya kurang fokus saja" jawab Marsha.


"ya sudah, kita balik ke kantor" ajak Spanish.


"tapi boss" sergah Marsha.


"eits !!! jangan panggil aku boss. Kita sahabat Mars walaupun kita di kantor yang sama"


"maaf.." Marsha tersenyum.


"aku mau minta izin. Hari ini Venus ada lomba menggambar, Mama tidak bisa datang karena lagi mendekor untuk acara fashion show. Aku diminta untuk temani Venus" lanjut Marsha lagi.


"ooo baiklah. Kamu pergi temani Venus. Aku duluan ke kantor karena ada kerjaan yang mesti aku rapatkan" terang Spanish.


Spanish lalu pamit pada adiknya dan sedikit memberi pamitan khusus pada Starla. Dia mencium pipi Starla sebelum beranjak pergi.


"nanti aku telfon" katanya.


Starla mengangguk.


Parish yang berada disebelah Starla hanya tersenyum.


"mmmm aku tidak di cium" Parish bergaya merajuk.

__ADS_1


"sini sayang... aku cium" Spanish memonyongkan mulutnya. Dia mendekati adiknya, memegang pundak adiknya lalu bertingkah seolah hendak mencium adiknya.


"tidak mauuuuuuu" teriak Parish seraya menjauhkan kepalanya dari Spanish.


"tadi katanya mau" Spanish menggoda.


"tapi bukan yang begitu, yang biasa-biasa saja" Parish manyun.


Spanish melepaskan tangannya dan mengusap kepala adiknya. Dia mencium pipi adiknya lalu pamit.


*


"Parish..." ucap Marsha.


"iya" Parish menoleh.


Dia melihat ada keraguan Marsha untuk melanjutkan kalimatnya.


"bilang saja kak, anggap saja aku tidak ada" sahut Starla membuat Marsha jadi salah tingkah.


Marsha tersenyum.


"kamu mau temani aku ke lombanya Venus ?"


"diajak tuh" Starla menyikut Parish.


"iya kak, aku mau" jawab Parish akhirnya.


"sudah... kalian pergi sana. Nanti terlambat" Starla mendorong Parish mendekat pada Marsha.


"kamu bagaimana ?" tanya Parish. Dia tidak enak meninggalkan Starla sendiri.


"gampang, nanti aku telfon supir untuk jemput. Sudah sana. Hayoooo" Starla tersenyum sambil mendorong Parish.


Marsha mengajak Parish pergi. Parish pun mengikutinya.


*


Marsha membuka pintu mobil untuk Parish. Katanya hari ini dia sengaja pakai mobil tante Jade karena sudah berniat mengajak Parish. Venus pasti senang kalau Parish ikut.


"jadi yang senang cuma Venus ?" goda Parish begitu Marsha masuk dalam mobil.


Marsha memandang Parish. Dia sepertinya bingung. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Parish pun balas menatap Marsha seakan memberi tahu kalau dia menunggu jawaban Marsha.


"aku yang lebih senang" katanya seraya membalikkan badannya dan mulai sibuk menyalakan mesin mobil.


Dia fokus berkendara tanpa bicara lagi.


Parish tersenyum. Dia senang mendengar jawaban Marsha. Setidaknya sekarang mereka sudah mulai mengakrabkan diri. Hal yang sudah lama Parish nantikan.


*


"kakak..." teriak Venus melambaikan tangannya.


Parish dan Marsha menghampiri Venus yang tampak menikmati bekal makan siangnya di bangku taman.


Venus diantara guru dan teman-temannya serta peserta lain yang ikut lomba.


"sudah selesai lombanya ?" tanya Marsha.


Venus menggeleng.


"lombanya sejam lagi baru mulai kak" jawab Venus.


"trus Mama mana ?" tanya Marsha.


"tadi dari toko kami di jemput mobil hotel tempat acara. Karena tunggu kakak lama, Mama bilang aku sekalian diantar kesini saja" jelas Venus.


"maaf ya, kakak tadi ada bimbingan. Maaf.." ucap Marsha merasa bersalah. Seharusnya tadi, dia menjemput Mamanya dan Venus di toko bunga lalu mengantar Mamanya ke tempat acara dulu baru ketempat lomba.


"tidak apa.. aku senang, kak Parish ikut kesini" Venus tersenyum pada Parish.


Anak ini manis sekali. Ucap Parish dalam hati seraya tersenyum pada Venus.


"kamu semangat ya !" seru Parish.


"iya kak. Semangat !" balas Venus.


*


Perlombaan di mulai.


Venus tampak mulai memainkan crayonnya. Dia menggambar apa yang ada di kepalanya. Sebuah pemandangan kalau melihat dari tepi-tepi warna yang sudah abstrak di kertas gambar.


Venus hebat. Untuk anak seusia dia. Kecepatan tangannya menggoreskan krayon menjadi sebuah gambar yang indah sudah bisa dibilang berbakat.


Tiba-tiba Parish merasakan sakit di kepalanya. Ada kilatan bayangan yang muncul, membuat kepalanya terasa sakit tapi dia membiarkan saja agar bayangan itu semakin nyata terlintas.


*


Parish berusia dua belas tahun tampak menggambar di taman sekolah. Ada seorang anak laki-laki datang menghampirinya. Mereka saling bertatapan. Lalu anak laki-laki itu memberinya bunga mawar merah. Parish tertegun lalu meraih bunga mawar yang ditujukan padanya. Dia lalu menyimpan mawar merah itu disela buku gambarnya. Anak laki-laki itu pun duduk tidak jauh dari dirinya sambil terus memandangnya yang mulai fokus lagi menggambar.


*


"ahhhhh" desis Parish.

__ADS_1


Dia memegang kepalanya. Marsha yang duduk di dekatnya menoleh. Marsha memegang kedua tangan Parish yang ada di kepala. Dia ingin membantu Parish.


Parish memejamkan matanya kuat, rasa sakit itu datang lagi dan lebih sakit dari sebelumnya. Dia merasakan ada tangan lembut yang mengusap punggung tangannya. Perlahan sakit di kepalanya mulai hilang. Parish dengan pelan membuka matanya. Tatapan matanya bertemu mata Marsha yang tampak khawatir.


"kamu baik-baik saja ?" tanya Marsha.


"iya kak" ucap Parish.


Marsha melepaskan tangannya seraya meminta maaf karena sudah tidak sopan menyentuh tangannya.


"tidak apa kak, tadi itu sangat membantu. Terima kasih" ucap Parish tulus.


Marsha memandang Parish khawatir. Tapi Parish meyakinkan dia bahwa dia tidak apa-apa. Dan akan tetap duduk disitu sampai Venus selesai lomba.


*


Kepala Parish mulai sakit. Dia selalu begitu bila terlintas sesuatu dari bayangan masa lalunya. Hanya saja kenapa sekarang sakitnya tidak seperti biasanya. Ini lebih sakit dari yang sudah-sudah. Apa karena efek terapi seperti yang ditakutkan kakaknya.


Sejenak dia bersandar pada sandaran kursi mobil. Tangannya mulai memijit ujung pelipisnya dengan ibu jari.


Marsha yang fokus menyetir sesekali menoleh pada Parish. Ada kekhawatiran pada dirinya. Dia tahu Parish sakit, dia tahu keadaan Parish sewaktu menjenguknya di rumah sakit. Marsha mendengar dengan cermat semua penjelasan dokter pada Mark Mc. Milan dan Spanish. Dia akhirnya tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Parish selama ini.


"kakak.. kakak kenapa ?" tanya Venus khawatir.


Dia menyandarkan badannya pada kursi di depannya. Tangan kecilnya mengusap kepala Parish.


"kak, kita bawa kak Parish kerumah sakit saja" ujar Venus.


"iya.. " jawab Marsha dari balik kemudi.


"tidak.. kita jemput tante Jade dulu" cegah Parish.


"tapi.. " ungkapan tidak setuju Marsha.


"kak, aku mohon" ucap Parish pelan.


Akhirnya dengan berat hati dia menuruti kemauan Parish.


*


Mereka menjemput Jade Shannon di hotel tempat acara fashion show. Parish ikut turun bersama Marsha dan Venus. Dia menahan rasa sakit di kepalanya.


"kamu tunggu di mobil saja. Nanti Venus temani" ujar Marsha.


Parish menggeleng.


Dia memaksa untuk ikut Marsha masuk kedalam. Venus dengan siaga memegang tangannya. Dia terlihat sangat mengkhawatirkan Parish.


Jade Shannon keluar dari lift. Dia sedikit kaget melihat ada Parish bersama Marsha dan Venus. Dia menyapa Parish lalu memeluk Venus seraya mengucapkan selamat karena Venus berhasil menjadi juara terbaik sekota RedRose.


Parish tersenyum melihat pemandangan itu.


Parish juga tidak kalah senangnya bisa mendampingi Venus foto bersama berdampingan dengan Marsha. Dirinya bahkan meminta salah satu panitia untuk mengambil foto mereka mengapit Venus memegang piala.


"Mama bangga sayang" ucapnya seraya mencium Venus.


"amplopnya untuk Mama, pialanya ada di mobil. Bagus sekali Ma" jelas Venus.


"iya sayang, Mama simpan di tabunganmu ya"


Venus mengangguk setuju. Dia sudah punya tabungan atas namanya sendiri tapi masih dipegang Mamanya.


Tiba-tiba Parish merasa pusing. Dengan cepat Marsha menangkap badan Parish.


Jade Shannon dan Venus langsung berdiri mendekat. Mereka kaget, bingung bercampur khawatir teramat sangat.


" Parish Parish... bangun sayang. Ayo kita bawa kerumah sakit dokter Steve, Mars" ujar Jade Shannon.


Marsha mengangkat Parish tergesa-gesa masuk kedalam mobil. Sementara Jade Shannon menelfon Ayah Parish. Marsha lalu memberikan ponselnya pada Venus. Dia meminta Venus untuk segera menghubungi Spanish sementara dia fokus mengemudi. Dengan segera Venus melakukannya. Bocah delapan tahun itu sudah mengerti tentang teknologi, dia sudah mahir menggunakannya.


Dalam pikiran Marsha, dia harus secepatnya membawa Parish kerumah sakit. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada Parish.


*


Mark Mc. Milan datang bersama Spanish. Terlihat raut kekhawatiran dari wajah mereka. Jade Shannon dan anak-anaknya berdiri menghampiri mereka.


"apa yang terjadi dengan Parish ?" tanya Mark Mc. Milan.


Jade Shannon lalu menceritakan awal Parish jatuh pingsan. Marsha menyambung cerita Mamanya, dia menceritakan tentang Parish yang merasa tidak enak badan dari permulaan lomba. Hanya saja Parish tidak mau beranjak, dia ingin ada disana sampai lomba Venus selesai. Marsha mengakui itu kesalahannya, seharusnya dia secepatnya membawa Parish kedokter.


Mark Mc. Milan menepuk pundak Marsha. Dia tidak menyalahkan Marsha. Tapi dia mengingatkan kalau nanti kejadian seperti ini lagi, mau bagaimana pun penolakan Parish yang merasa baik-baik saja. Dia harus segera membawa Parish pulang. Biarlah nanti menjadi tanggungjawab dirinya dan Spanish.


Spanish mendekat keruang tempat adiknya ditangani dokter Steve. Dokter Steve, dokter yang menangani Parish sejak kecelakaan. Dia yang tahu betul kondisi Parish. Karena itu setiap terjadi sesuatu dengan Parish, mereka selalu membawanya ke dokter Steve. Spanish melihat adiknya dari kaca pembatas ruangan. Dokter Steve sedang memeriksa Parish. Spanish sangat mengkhawatirkan adiknya. Kejadian siang tadi masih membekas dalam benaknya. Dia masih yakin kalau adiknya tadi menangis. Tapi kenapa, apa yang sedang dipikirkan adiknya.


Starla, aku harus bisa cari tahu pada Starla. Ucap Spanish dalam hati.


Meskipun dia merasa akan susah. Karena begitu dekatnya persahabatan Parish dan Starla mereka saling menutupi rahasia masing-masing. Tapi Spanish akan berusaha untuk mencari tahu.


Spanish mengambil ponselnya dari dalam saku celana jeansnya.


"halo Star... Parish masuk rumah sakit" ucap Spanish lirih.


*


Starla mematikan panggilan setelah Spanish memintanya datang kerumah sakit. Dia bingung, tadi Parish baik-baik saja. Parish bahkan berusaha tegar menerima kenyataan.


Dengan bergegas Starla mengganti pakaiannya, lalu turun ke lantai bawah mencari supirnya untuk mengantar.

__ADS_1


"kamu harus baik-baik saja Rish. Harus !" gumam Starla dalam mobilnya yang kini melaju menuju rumah sakit.


***


__ADS_2