
Marsha mengamit jemari Parish menuju resto, dimana keluarga mereka sudah menunggu untuk makan malam bersama.
"cieee pasangan tunangan kita, mesra benerrr. Sudah baikan ?" goda Spanish.
Marsha mengambil tempat duduk disebelah kanan Spanish, lalu Parish disebelah kirinya.
"kami baik-baik saja Nish" jawab Marsha.
"hmmmm semua orang sudah tau, kalo kalian itu kemarin ada masalah. Cuma tidak mau bicara saja" balas Spanish.
"iya, semenjak jadian mana pernah kalian duduknya jauhan" sambung mama Jade.
Parish hanya tersipu malu. Keluarga mereka menyadari perubahan mereka kemarin.
"kakak cantik nangis ma" sergah Venus.
Parish manyun, dia menaruh telunjuknya di depan bibirnya kearah Venus.
"jadi kamu sudah bikin anak ayah nangis Mars ?!" sahut Mark.
"nah lo... ayahnya marah tuh" sambar Spanish.
"maafkan Marsha yah, Marsha janji tidak akan pernah bikin Parish nangis lagi" ucap Marsha sungguh-sungguh.
"Parish yang salah yah, bukan salah kak Marsha" ucap Parish memelas pada ayahnya.
Mark terdiam beberapa saat, "ayah percaya kamu pasti bisa menjaga Parish dengan baik. Parish itu putri manja ayah, tapi dia kuat. Kalau dia sampai nangis, berarti hal itu terlalu berat untuk dia. Kamu mengerti maksud ayah ?" katanya.
Marsha mengangguk, "Marsha mengerti yah" ucapnya.
"baiklah. Kalau ada masalah, kalian usahakan selesaikan dengan baik. Jangan diam, jauhan kayak kemarin" nasehat Mark melirik Parish.
"kamu pasti yang ngambek ?" tanyanya.
Parish mengangguk, "karena ngambek, jadi lupa" sahutnya.
Mark geleng kepala, "jangan begitu sayang, kamu udah mau tunangan" katanya.
"iya yah, Parish mengerti" sahut Parish.
Mereka melanjutkan makan malamnya.
Setelah makan malam, ayah dan mama Jade serta Venus melihat persiapan di ballroom sedangkan Spanish, Marsha dan Parish mengecek persiapan outdoornya di tepi pantai.
"bagaimana tuan muda ?" tanya bro Kenzo selaku EO yang mengurus segala sesuatunya.
"bagus bro, aku suka. Kalian berdua, ada yang mau kalian tambahkan ?" tanya Spanish pada Marsha dan Parish.
"kalau aku terserah Parish" jawab Marsha.
"bro, aku mau di gerbang pelaminannya ada hiasan bunga mawar merah boleh ?" tanya Parish.
"tentu saja boleh nona, sesuai keinginan nona" sahut bro Kenzo seraya mencatat di tabnya.
"terima kasih bro, aku rasa begitu saja" Parish tersenyum.
"baiklah, aku balik ke ballroom dulu. Selamat bekerja bro, terima kasih banyak" Spanish menyalami bro Kenzo.
"terima kasih banyak tuan muda" balas bro Kenzo.
Mereka bertiga pun pamit pada bro Kenzo dan membiarkan bro Kenzo dan teamnya melakukan tugas mereka dengan baik tanpa ada satu kekurangan pun.
"kalian mau ikut ke ballroom ?" tanya Spanish setelah agak jauh berjalan menjauh dari pantai.
"kalau boleh, aku mau jalan-jalan sebentar kak" ucap Parish.
"baiklah, tapi jangan kemalaman. Besok kita mau fitting baju, jangan telat. Ingat alergimu" sahut Spanish.
"iya kakakku sayang" Parish mencium pipi kakaknya. Dia lalu menarik lengan Marsha menuju bibir pantai.
*
Parish menyusuri bibir pantai sambil bergandengan tangan dengan Marsha. Tiba-Tiba Marsha menghentikan langkahnya. Parish menoleh.
"kita sudah terlalu jauh sayang" Marsha menunjuk lokasi acara mereka yang tampak masih terlihat team bro Kenzo sedang bekerja.
"maaf sayang" Parish terkekeh lalu berbalik.
Marsha jongkok membelakangi Parish.
"apa maksudnya sayang ?" tanya Parish.
"aku gendong kamu" kata Marsha.
"tapi sayang, aku berat" tolak Parish.
"ayo naik, sudah mau dingin. Kamu tidak pake jaket, nanti alergimu kambuh" terang Marsha.
Akhirnya Parish menuruti Marsha, dia naik kepunggung Marsha. Marsha berjalan menuju hotel sambil menggendongnya.
Sebenarnya Parish malu dilihat orang-orang tapi Marsha enggan menurunkannya. Marsha pun dengan acuhnya mengendong Parish sampai ke depan kamarnya.
"ih.. kamu bikin aku malu" Parish manyun.
"kenapa malu, aku cuma gendong tunanganku saja. Aku suka melakukannya" sahut Marsha.
"iya iya, baiklah tunanganku sayang. Sekarang kamu balik ke kamar, besok kita fitting baju" Parish tersenyum.
"jadi tunangan aku mengusir tunangannya ?" Marsha bersikap seakan marah.
"bukan begitu sayang, supaya cepat istirahat" jawab Parish.
"tapi ini masih jam 9 sayang, masih ada sejam lagi untuk pamit tidur" balas Marsha melirik jam tangannya.
"trus... maunya ?" tanya Parish.
"boleh masuk dulu ?" tanya Marsha.
"mau apa ?" tanya Parish.
"ya bicara sejam" jawab Marsha.
"tau begitu kenapa tidak bicara di tepi pantai saja sayangku ?" balas Parish.
Marsha menggeleng, "tidak mau, kamu alergi dingin. Kalau alergimu kambuh bagaimana ? bisa di putuskan om Mark aku" sahutnya.
"ooo jadi takut ayah yang putuskan dibanding aku putuskan ?" tanya Parish menggoda.
Marsha memandang Parish tidak senang. Dia tidak suka kalimat Parish barusan, "jadi kamu mau putuskan aku ?" balasnya.
Salah lagi, ucap Parish dalam hati.
"bukan begitu sayang, maaf" jawab Parish cepat. Dia tidak mau Marsha marah lagi.
Marsha menangkup wajah Parish, "aku tidak bisa pisah dari kamu" katanya.
"iya, aku juga" ucap Parish.
"ya sudah, kamu istirahat saja" ucap Marsha akhirnya seraya beranjak.
Parish menghentikan langkah Marsha dengan menarik tangannya, "temani aku lihat bintang dari balkon, sebagai ucapan maafku" katanya.
Marsha tersenyum. Mereka lalu masuk kedalam kamar Parish.
*
Mereka berdua duduk di balkon sambil melihat bintang, sesekali mereka menunjuk bintang-bintang seraya bercanda.
__ADS_1
Parish bersandar di dada Marsha. Marsha merangkulnya lembut, membuat Parish merasa nyaman.
Tiba-tiba dia berpikir, tentang hal yang selama ini Marsha mau.
Pernikahan mereka, cepat atau lambat pasti terjadi. Karena dia saling terikat dengan Marsha. Mereka saling membutuhkan.
Lusa mereka tunangan, entah beberapa bulan kemudian orang tua mereka pasti akan merencanakan pernikahan mereka.
Kuliah Parish akan terus berjalan walaupun dia menikah. Jadi kenapa dia harus meragukan Marsha, karena pasti Marsha akan menunggu keputusannya.
"sayang, aku mau bicara" Parish memperbaiki duduknya menghadap Marsha.
"iya sayang" Marsha pun melakukan hal yang sama.
"aku terima lamaranmu, aku mau menikah dalam waktu dekat" ucap Parish.
"kamu serius ?!" Marsha tidak percaya Parish berubah pikiran.
Sebenarnya tidak masalah untuk dirinya menunggu Parish sampai selesai kuliah tapi bagaimana pun dia sangat takut kalau ada seseorang yang mengubah pikiran Parish, dia takut kehilangan Parish.
Mengikatnya dalam pertunangan belum membuatnya tenang. Egois memang, tapi Marsha tidak mau jadi pemaksa apalagi untuk seorang Parish yang tidak suka di paksa.
Dia tidak mau Parish mendiamkannya lagi, dia bisa gila dan frustasi karenanya.
Parish mengangguk, "iya sayang" ucapnya.
"bulan depan bagaimana ?" tanya Marsha.
"baiklah, aku ikut saja" balas Parish memeluk Marsha.
Marsha memeluk Parish erat, "aku bahagia sekali sayang" ucapnya.
"aku juga" ucap Parish.
Mereka melepaskan pelukan, Parish kembali bersandar pada dada Marsha. Marsha merengkuh pundak Parish dengan lembut, dia mencium kening Parish berkali-kali.
"sayang, aku mau sesuatu" ucap Parish seraya mempermainkan jemari tangan Marsha dalam genggamannya.
"apapun yang kamu inginkan sayang" Marsha mengusap pipi Parish.
Parish menatap wajah Marsha, "aku mau pernikahan kita di RedRose utara" katanya.
Marsha kaget, keinginan Parish sama persis dengan keinginannya. Hanya saja dia masih mencari moment yang tepat untuk bicara, "kenapa disana sayang ?" tanyanya ingin tahu.
"disana kenangan kita, disana orang-orang yang kita sayang dan menyayangi kita" balas Parish mengusap pipi Marsha.
"iya sayang, kita buat pesta di restbarr bagaimana ?" tanya Marsha.
Parish mengangguk, "iya sayang" katanya memperat pelukannya.
Marsha balas memeluk Parish erat, "sekarang kamu tidur ya, aku gendong ke tempat tidur" katanya seraya mengangkat tubuh Parish.
Parish membiarkan saja Marsha melakukannya.
Marsha membaringkan Parish ditempat tidur, membuka sendalnya, lalu menyelimutinya. Marsha dan Parish saling bertatapan penuh cinta.
Marsha mengusap pipi Parish lalu mencium kening wanita pujaannya itu.
Parish tersenyum lalu menahan tangan Marsha yang hendak beranjak. Parish mengibaskan tangannya agar Marsha mendekatkan wajahnya.
"selamat malam sayangku" Parish mencium pipi Marsha.
Marsha tersenyum, "selamat malam sayang" katanya.
Dia beranjak menuju balkon dan menutup pintu kaca akses kesana lalu menutup tirainya. Dia melihat Parish sekilas dalam keremangan kamar lalu beranjak keluar. Sebelumnya Marsha menekan tombol di pintu agar begitu dia keluar, pintu tersebut otomatis terkunci.
*
Parish mengeliat, dia melirik jam pada ponselnya. Jam 7 pagi. Baiklah, saatnya mandi. Batin Parish.
Bunyi pesan masuk. Siapa lagi pagi-pagi begini kalau bukan dari calon tunangannya.
Parish membalas,
Aku baru bangun, ini baru mau mandi. Tunggu ya ❤
Tak lama pesan masuk, balasan dari Marsha,
Iya, aku tunggu. Kita sama2 turun ke resto ❤
Parish tersenyum, Marsha sepertinya mengganti pemakaian emoticon hanya memakai love saja.
Dia membalas,
Baiklah sayangku ❤
Parish beranjak menuju kamar mandi.
*
Mereka berkumpul di kamar madam Vian. Kamar VVIP yang super luas itu dipergunakan madam Vian dan teamnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara pernikahan ayah dan mama Jade serta pertunangan mereka.
Parish mengenakan gaun merah dengan sedikit aksen goldnya dengan dibantu asisten madam Vian.
Mama Jade memilih memakai gaun pengantin warna merah campur gold. Busana Parish dan Starla menyesuaikan warnanya, hanya dibuat berbeda modelnya karena mereka sebagai pasangan tunangan sekaligus princessnya.
"kamu cantik banget, dari tadi mata cowok kamu kesini terus" sahut madam Vian seraya menunjuk Marsha yang lagi mencoba jasnya.
Parish memandang Marsha. Calon tunangannya itu terlihat tampan.
Seolah tahu Parish sedang memperhatikannya, Marsha menaikan alisnya meminta pendapat untuk penampilannya.
Parish menaikan jempolnya. Marsha tersenyum.
Parish lalu berputar dengan gaunnya, gantian dia yang meminta pendapat Marsha.
Marsha meniupkan ciuman padanya, Parish kaget lalu tersenyum. Marsha yang dingin dan kaku itu bisa konyol juga. Parish geleng kepala.
"Parissssshhhh" Starla masuk memeluknya, merusak moment tukar pendapat jarak jauh Parish dan Marsha.
"bintang-bintang... kamu akhirnya datang juga. Mana papa mamamu ?" tanya Parish.
"papa mama ada di kamar om Mark, mereka fitting disana. Kita katanya disini" jawab Starla.
Parish mengerti sekarang, pantas mama Jade dan ayah tidak ada diruang sini. Yang fitting di kamar madam Vian hanya dirinya, Marsha, Spanish dan sekarang giliran Starla.
"ayang, kamu sudah datang. Akhirnya aku tidak kesepian lagi" Spanish mencium kening Starla.
"kan ada kak Marsha dan Parish ?" tanya Starla.
"mereka menjadikanku obat nyamuk, hiks hiks" Spanish bergaya menangis.
Starla geleng kepala. Kemudian dia pamit mendekati madam Vian yang sudah memanggilnya dengan menunjukan gaun yang akan dia kenakan.
Venus baru saja datang, dia memandang kagum pada kakak cantiknya. Tanpa sepengetahuan Parish, dia mengambil beberapa foto melalui ponselnya.
"kamu pangeran kecil, saatnya coba bajumu" kata madam Vian.
"oke madam" balas Venus.
Parish menoleh, sejak kapan adik kecilnya itu ada di kamar ini. Dia hanya memperhatikan madam Vian yang mengganti pakaian Venus.
"mau berfoto denganku nona ?" ujar Marsha menarik tangan Parish.
Parish tersenyum, "dengan senang hati tuan" katanya seraya mendekatkan diri pada Marsha. Mereka tersenyum kearah kamera ponsel Marsha dengan masih memakai pakaian untuk pertunangan mereka besok.
Selesai fitting mereka kemudian makan siang bersama keluarga besar. Kali ini mereka berempat pisah meja dengan orang tua mereka.
__ADS_1
"akhirnya kita bisa double date juga" sahut Spanish.
"iya double date yang kedua" sahut Starla.
"kok dua yang ?!" tanya Spanish.
"nonton di mall itu aku hitung yang, kan aku sengaja bilang kamu ajak Parish dan kak Marsha. Biar mereka juga bisa jalan berdua. Aku tuh kasian sama sahabatku, sukanya cuma ngeliatin kak Marsha dari jauh" jelas Starla menyikut Parish yang duduk disebelahnya.
"seharusnya aku tahu itu semua rencana kamu" Parish menarik rambut sahabatnya itu.
"nyatanya berhasil kan, kalian jadi tambah dekat sejak itu" balas Starla.
"iya dan sekarang, sahabatku ini jadi iparku" Spanish menepuk pundak Marsha.
"baik boss" balas Marsha menggoda Spanish, dia tahu kalau Spanish tidak suka dianggap atasan oleh Marsha. Walaupun Marsha kerja pada Spanish tapi Spanish menganggap Marsha patner kerja bukan bawahan.
"eits, aku bukan boss. Kita rekan kerja" balas Spanish tidak suka.
Marsha hanya tersenyum.
"aku jadi terpikir sesuatu. Tapi nanti kita bahas setelah pertunangan" ujar Spanish.
"apa ?" Marsha ingin tahu.
"ini masalah cowok. Nanti kita bicara sambil ngopi" balas Spanish.
Parish dan Starla saling pandang. Paling mereka bicara tentang pekerjaan. Batin mereka.
"kakak cantik, liat foto-foto aku" Venus memamerkan foto di galeri ponselnya pada Parish.
Parish melihatnya satu persatu. Adik kecilnya itu banyak mengambil foto candid mereka. Tapi hasilnya Parish suka.
"bagus sayang, kakak suka. Kamu berbakat jadi fotografer. Jadi mau jadi fotografer atau pelukis ?" tanya Parish.
"bagusnya apa kak ?" Venus malah bertanya pada Marsha.
"ya terserah kamu sayang, mana yang paling kamu suka" balas Marsha.
"dua-duanya saja, kak Spanish dukung" sahut Spanish menunjukkan jempolnya.
"terima kasih kak, Venus pikir-pikir dulu" balas Venus.
Mereka semua tertawa. Venus banyak memberi mereka warna karena kepolosannya.
*
Seperti biasanya, Starla menginap di kamar Parish. Parish senang, karena Marsha tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Sudah ada Starla yang akan menemani.
"jadi kamu sudah bicara dengan kak Marsha ?" tanya Starla.
Parish mengangguk, "iya, dalam waktu dekat setelah pertunangan besok. Kami akan merencanakan pernikahan" jawabnya.
"aku setuju, karena bukannya itu impianmu. Selalu bersama kak Marsha" kata Starla.
"iya, aku merasa bersalah kemarin sempat mendiamkan dia gara-gara aku menolak menikah secepatnya. Padahal dia hanya merasa tidak mau kehilangan aku" ucap Parish.
"sudahlah, yang penting sekarang semuanya baik-baik saja" ujar Starla.
"iya, kamu benar. Ayo kita tidur, besok hari yang melelahkan" ajak Parish.
"iya, aku juga sudah ngantuk"sahut Starla.
Mereka pun mengatur bantal lalu menarik selimut, bersiap untuk tidur.
*
Acara pernikahan Mark Mc. Milan dan Jade berlangsung sakral. Mereka terlihat bahagia.
Sampailah acara selanjutnya, pertunangan 2 pasangan anak-anak mereka.
Spanish menggandeng tangan Starla menuju tempat yang disediakan disebelah pelaminan orang tuanya.
Begitu juga Marsha yang tampak gagah menggandeng Parish ikut berdampingan dengan Spanish.
Kesya sekretaris Spanish di perusahaan otomotif datang membawa cincin mereka. Sebelum memberikan, dia terlebih dulu memeriksa nama yang terukir di cincin. Parish tersenyum, kakaknya bisa diandalkan. Dia yang memesan 2 pasang cincin untuk mereka dengan desain yang Parish buat.
Cincin Spanish, ada ukiran love yang saling merangkai dengan nama Starla. Begitu juga Starla dengan ukiran yang sama dan terdapat nama Spanish.
Sedangkan pada cincin Parish dan Marsha, ukiran mawar yang saling merangkai dengan nama mereka pada masing-masing cincin.
Setelah tukar cincin, mereka dipersilahkan duduk kembali.
"cincin yang indah" ucap Marsha pada tunangannya karena tahu kalau Parish yang membuat desainnya.
"semoga kamu tidak malu memakainya" balas Parish.
"kenapa ? ini cincin tunangan kita, nanti kamu juga yang harus mendesain cincin nikahan kita" kata Marsha.
"soalnya cincinnya ukiran mawar, terlalu manis untuk cowok setampan kamu" goda Parish.
"apapun yang kamu mau, aku akan suka sayang" ucap Marsha meraih tangan Parish dan mengenggamnya erat.
*
Malamnya mereka mengadakan acara perjamuan di tepi pantai yang terkesan santai tapi mewah. Marsha yang dari tadi tidak pernah jauh dari Parish betul-betul posesif.
Bagaimana tidak, dibanding gaun yang tadi di pakai Parish untuk acara pertunangan, gaun beachparty kali ini betul-betul menampilkan sisi sexy pada diri Parish.
Dia memilih gaun rancangan madam Vian warna putih tulang yang memperlihatkan sedikit belahan dada dan area belakangnya. Gaun panjang selutut itu berhasil memamerkan kaki jenjang putih bening Parish dengan paduan heels warna putih yang cantik.
Parish yang mendapat pujian dari keluarga besar dan tamu undangan merasa tidak ada yang salah pada penampilannya.
Hal itu jelas semakin membuat Marsha panas karena kini semua mata tertuju pada tunangannya yang mempesona itu. Dia tidak suka. Dia cemburu melihat para lelaki itu memandang Parish.
"sayang, kamu kenapa ?" tanya Parish, dari tadi Marsha mengekornya tanpa bicara apa-apa.
"tidak apa, kamu jangan jauh-jauh dari aku" katanya.
"iya, aku kan dari tadi sama kamu terus" balas Parish memegang pipi Marsha.
"ini semua karena baju kamu" sahut Marsha, untung saja mereka duduk agak jauh dari keramaian jadi orang-orang tidak mendengar nada kecemburuan Marsha.
"aku kan sudah bilang, ini masih mendingan diantara semua baju yang madam Vian bawa. Memangnya kamu mau aku pake baju kayak Starla yang dadanya terlalu rendah begitu, atau yang belahannya sudah keliatan kayak orang itu ?" tanya Parish seraya menunjuk.
Marsha berpikir, iya betul juga. Pilihan Parish masih mendingan dibanding Starla yang juga memakai baju dari perancang yang sama.
"sudah sayang, jangan marah lagi" Parish menyandarkan kepalanya pada dada Marsha. Cara ampuh untuk membuat Marsha luluh. Pikirnya.
Dan benar saja, Marsha memeluknya, "kalau bisa kemejaku aku buka trus kasih ke kamu" katanya.
"jangan, tidak boleh" Parish melepaskan pelukannya.
"nanti kamu telanjang dada, aku tidak mau cewek-cewek itu menganga seraya melotot melihat tunanganku" kata Parish cemberut.
Merasa ada celah untuk membuat Parish merasa hal yang sama, Marsha berujar "trus apa bedanya dengan aku yang melihat cowok-cowok menganga seraya melotot melihat tunanganku" dia memasang tampang cemberutnya juga.
Parish terdiam, iya benar juga. Dia saja tidak suka cewek-cewek melihat Marsha, ya tentu saja Marsha juga demikian.
"baiklah, aku tunggu kamu disini. Ambilkan aku jaket kulit kamu warna hitam itu sayang" bujuk Parish.
Marsha tersenyum, "tunggu sayang" dengan segera berlari menuju hotel.
Dia berhasil membuat Parish mau menutup belahan dada dan belakangnya. Parish hanya boleh terlihat sexy oleh dirinya nanti saat mereka sudah menikah. Karena Parish hanya miliknya. Batin Marsha.
Tak berapa lama, Marsha kembali ditempat duduk mereka dengan membawa jaket kulit warna hitam kesayangannya. Dia segera memakaikannya pada Parish. Parish tersenyum senang dengan perlakuan tunangannya. Marsha memang pilihan yang tepat untuknya. Dan dia tidak mau kehilangan Marsha atau membuat Marsha merasa kehilangan dia.
Dia akan berusaha mengerti semua keinginan Marsha, sama seperti semua kemauannya yang selalu dituruti Marsha.
__ADS_1
***