Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Season 2 ... 3


__ADS_3

Tiga bulan kemudian ...


Parish merasa tidak enak badan. Setelah meeting tadi, dia memilih untuk bersandar di sofa tamu dalam ruangannya. Dia memijit sekitar pelipisnya dengan pelan.


Tobby asistennya masuk setelah mengetuk pintu.


"masih pusing ?" tanyanya.


Parish mengangguk.


"aku antar kamu pulang ya, kita ke dokter" kata Tobby.


"aku baik-baik saja kak, istirahat sebentar pasti juga hilang" kata Parish.


"Rish, aku tidak mau semua marah sama aku kalo tau kamu dalam keadaan begini" ujar Tobby memelas.


Parish memandang Tobby. Dia mengerti apa yang Tobby rasakan, pasti dia khawatir dan dia akan di marahi keluarga kalau sampai terjadi apa-apa pada dirinya.


"baiklah, kak Tobby hubungi suamiku saja" pinta Parish.


Tobby mengangguk. Dengan segera dia menghubungi Marsha.


*


Marsha bergegas keluar dari ruangan rapat setelah menerima telfon dari asisten istrinya. Dia bahkan meminta Rome sebagai asistennya untuk menggantikannya memimpin rapat yang sedang berlangsung.


Marsha menuju mobilnya dan melaju dengan kecepatan diatas rata-rata menuju hotel istrinya. Dia bahkan tidak perduli kalau nanti Parish akan marah besar padanya karena kelakuannya ini.


"sayang..." Marsha menerobos masuk kedalam ruang kerja istrinya.


Tobby segera berdiri. Sementara Marsha menghampiri istrinya dan memeriksa kening serta leher istrinya.


"apa yang kamu rasakan ?" tanyanya.


"pusing sayang" jawab Parish.


"ya sudah kita langsung kerumah sakit ya" kata Marsha seraya mengangkat Parish kedalam gendongannya.


"Tobby bantu aku" pinta Marsha.


Tobby mengangguk. Dia mengambil tas Parish lalu membuka pintu untuk Marsha. Dia mengikuti Marsha menuju mobil yang terparkir di depan lobby. Dia segera membuka pintu mobil serta memasukan tas Parish ke jok belakang.


"terima kasih" ucap Marsha.


"hati-hati" pesan Tobby.


Marsha melaju menuju rumah sakit milik dokter Steve.


*


Dokter Steve bergegas menemui Marsha dan Parish di IGD setelah tadi Marsha menelfonnya.


"Parish kenapa ?" tanya dokter Steve.


"katanya pusing om dokter" jawab Marsha.


Dokter Steve segera memeriksa Parish. Dia bernafas lega setelah memeriksa.


"bagaimana om dokter ?" tanya Marsha khawatir.


"saya akan merujuk Parish ke dokter Rania" kata dokter Steven.


"maksud om dokter, Parish hamil ?" tanya Marsha karena dokter Rania adalah dokter yang menangani Parish sewaktu mengandung Raskha.


"kita akan tau setelah dokter Rania memeriksanya" sahut dokter Steven.


"terima kasih om dokter" ucap Marsha.

__ADS_1


*


Dan disinilah Marsha dan Parish berada sekarang. Di dalam ruang praktek dokter Rania. Kebetulan pasien dokter Rania sudah mulai berkurang sehingga mereka tidak mengantri lama.


"kita usg dulu ya nyonya Parish" kata dokter Rania setelah Parish berbaring.


Dokter Rania mulai bersiap dengan alat usgnya. Dia mulai fokus pada layar monitor.


"itu kantongnya, trus janinnya masih kecil. Usianya sekitar dua minggu" terang dokter Rania.


Marsha dan Parish saling pandang. Marsha mengusap puncak kepala Parish, dia sangat bahagia dengan anugerah terindah untuk mereka.


"selesai. posisi miring dulu baru bangun ya nyonya Parish" kata dokter Rania.


Marsha membantu Parish bangun. Mereka lalu menuju meja kerja dokter Rania.


Dokter Rania menuliskan resep dan memasukan hasil usg kedalam amplop kecil. Dia menyerahkannya bersamaan dengan resep yang dia buat.


"di jaga ya nyonya karena kehamilan baru masuk trimester pertama. Masih rentan. Sebaiknya tuan Marsha jangan membuat istrinya capek dulu ya. Boleh melakukan asal jangan sering dan pelan ya tuan" kata dokter Rania.


Marsha memegang tangan istrinya.


"terima kasih dokter" katanya.


*


Marsha merangkul Parish menuju apotik. Dia mendudukan Parish di kursi tunggu, dia akan mengantri untuk mengambil obat.


Parish memandang perutnya yang masih rata. Dia mengelusny penuh sayang.


"sehat-sehat ya anakku sayang... Mama papa bahagia sekali. Kakak Raskha pasti sangat bahagia juga di surga" ucapnya.


Air mata Parish menetes. Marsha yang melihat Parish menangis segera berjongkok di kaki istrinya.


"sayang, kenapa ? Ada yang sakit ?" tanyanya.


"jangan menangis nanti anak kita ikut nangis juga" kata Marsha.


Parish mengangguk. Marsha mengajaknya berdiri. Mereka pulang kerumah Mc. Milan. Tidak sabar rasanya berbagi kebahagiaan dengan keluarga mereka tentang kabar bahagia ini.


*


Marsha membuka pintu mobil untuk Parish. Mereka masuk kedalam rumah Mc. Milan dan disambut oleh aunty Lesly.


"selamat siang nyonya Parish, tuan Marsha" sapa aunty Lesly.


"apa ayah dan mama ada di rumah aunty ?" tanya Parish.


"tuan besar keluar bermain golf dengan auncle Tom dan Alex. Sementara nyonya Jade masih di toko bunga" jelas aunty Lesly.


"hmm baiklah, bisa aunty sebarkan di grup keluarga kalo aku mengundang semuanya untuk makan malam bersama disini. Tolong juga aunty siapkan makan siangku dan Marsha ke kamar ya. Aku akan beristirahat di kamar" pinta Parish.


"baik nyonya Parish" ucap aunty Lesly.


"terima kasih aunty" ucap Parish lalu menaiki tangga menuju kamarnya dengan di ikuti Marsha.


*


Semua hadir lengkap pada makan malam ini. Dan semuanya menunggu sesuatu yang ingin Parish sampaikan.


"sebaiknya kita makan malam dulu. Bagaimana ayah ?" tanya Parish meminta persetujuan dari Mark Mc. Milan.


"iya terserah kamu sayang, mari kita mulai makan" ajak Mark.


Mereka makan malam dengan tenang. Setelah selesai, semuanya berkumpul di ruang keluarga.


"aku dan Marsha mempunyai pengumuman penting untuk kalian semua" kata Parish.

__ADS_1


Marsha lalu mengeluarkan amplop yang tadi diberikan oleh dokter Rania. Dia menyerahkannya pada ayah Mark.


Mark Mc. Milan membukanya dengan pelan dan hati-hati. Mama Jade yang penasaran segera bergeser mendekatkan tubuhnya dengan suaminya. Dia ingin melihat isi amplopnya.


Mereka berdua tersenyum begitu melihat isi amplopnya.


"Parish hamil !" seru mama Jade.


Parish tersenyum seraya merangkul pinggang Marsha. Sementara Marsha mencium kening istrinya itu.


Semuanya berseru bahagia. Starla dan Spanish beranjak berdiri memeluk Parish secara bergantian.


"selamat bro" ucap Spanish seraya memeluk Marsha.


"terima kasih bro" balas Marsha.


Mama Jade beranjak memeluk Parish.


"selamat ya sayang, mama bahagia untukmu" ucapnya.


Ayah Mark merentangkan tangannya, Parish segera menuju ayahnya. Dia duduk disebelah ayahnya dan memeluknya ayahnya dengan erat.


"selamat ya sayang" ucap Mark Mc. Milan seraya mencium kening putrinya.


"terima kasih ayah" balas Parish.


"selamat ya nyonya Parish" koor aunty Lesly dan auncle Tom.


"terima kasih banyak aunty auncle" balas Parish.


*


Setelah berkumpul di ruang keluarga, Parish mengajak Marsha jalan-jalan ke taman SyRish. Mereka tidak pulang ke apartement malam ini, karena ayah Mark dan mama Jade meminta mereka untuk menginap. Begitu juga Spanish dan Starla. Mereka juga akan menginap.


"sayang, kamu jangan terlalu capek ya" kata Marsha.


"iya sayang, aku akan mengatur ulang jadwalku dengan ka Tobby. Aku akan fokus di kantor saja, untung urusan diluar biar kak Tobby saja yang urus" kata Parish.


"aku bahagia sekali, kita akan kembali menjadi orang tua" kata Marsha. Dia meneteskan air mata.


Parish mengusap air mata suaminya. Dia menggeleng.


"kamu jangan menangis sayang, nanti kakak Raskha liat kamu dari surga" kata Parish.


Marsha mengangguk.


"aku sangat mencintaimu Parish Mc. Milan" ucap Marsha.


"aku juga cinta kak Marsha" balas Parish dengan menggunakan panggilan dulunya untuk Marsha.


"sayang !" tegas Marsha.


"iyaaaa.. Aku mencintaimu sayang" sahut Parish.


"kita masuk yuk, sudah mulai dingin" kata Marsha.


"gendong..." rajuk Parish.


"baiklah sayangku" Marsha lalu bersiap mengangkat Parish.


"sebelum aku menggendut sayang" kata Parish.


"aku tidak masalah kamu gendut sayang, aku akan selalu cinta" sergah Marsha.


"iya sayang, aku tau" Parish tersenyum.


Marsha menggendong Parish masuk kedalam rumah.

__ADS_1


***


__ADS_2