Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 16


__ADS_3

Parish melepaskan pelukan Marsha.


Dia menatap Marsha dalam. Ini saatnya Rish. Bisik hatinya.


"maaf kak" ucap Parish pelan. Dia tertunduk.


Marsha memandangnya tidak mengerti. Kenapa tatapan Parish seperti enggan akan kehadirannya.


"kita kembali ke kamar saja kak" kata Parish tanpa menoleh kearah Marsha.


Marsha menurut, tapi sebenarnya dia ingin bertanya. Ada apa, dan mengapa. Tiba-tiba saja Parish berubah. Apa dia terlalu lancang memeluknya ? pikir Marsha.


*


Spanish menoleh kearah pintu.


Marsha dan Parish masuk. Dia melihat keanehan.


Tadi mereka pergi cerah ceria. Kenapa pulangnya tampak murung dan saling diam.


"kak Spanish... Parish mau tidur" ujar Parish seolah meminta Spanish yang menggantikan Marsha mendorong kursi rodanya.


"i-iya sayang" Spanish bangkit dari duduknya.


Dia mendorong kursi roda adiknya masuk keruang tidur.


Starla memandang Marsha. Dia menaikan alisnya, seakan bertanya ada apa ?


Marsha hanya mengangkat bahu, dia saja tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Padahal tadi semua baik-baik saja.


"dia sudah tidur" ujar Spanish yang sudah kembali bergabung dengan mereka.


Dia sengaja menutup pintu yang membatasi ruangan, agar Parish tidak mendengar pembicaraan mereka.


Marsha memandang sekilas kearah Parish lewat kaca pembatas.


Gadisnya berbaring menutup hampir sebagian wajahnya dengan selimut. Seolah dia tidak ingin membiarkan dirinya menatapnya.


Hati Marsha bagai teriris. Dia tidak bisa memandang wajah cantik nan teduh itu.


"ada apa sih Mars ? kenapa dia jadi begitu ?" tanya Spanish.


"tadi dia merasa sakit kepala, aku memeluknya. Maaf Nish, aku hanya bermaksud membuat dia tenang" jelas Marsha.


 


Spanish mangut.


Starla merasa tidak mengerti. Kenapa Parish marah hanya karena Marsha memeluknya. Bukankah perlakuan romantis Marsha yang selama ini dia mimpikan. Pasti ada yang sedang dia pikirkan. Ungkap Starla dalam hati.


"aku minta maaf Nish, aku sudah tidak sopan" ucap Marsha.


"tidak Mars, mungkin Parish lagi sensi. Sudahlah, biarkan saja dulu. Nanti aku bantu bicara sama dia" sahut Spanish.


"aku pulang ya Nish" pamit Marsha.


Starla kaget.


Dia melihat kearah Parish lewat kaca pembatas. Parish tidak bereaksi. Tidak ada gerakan dalam selimut yang menutup sebagian wajahnya.


Apa kamu memang ingin Marsha pulang Rish ? tanya Starla dalam hati.


"baiklah.. terima kasih Mars" ucap Spanish pada sahabatnya itu.


*


"Parish kenapa ya ?" tanya Starla setelah Marsha pergi.


"karena Marsha sudah lancang memeluknya ya..." jawab Spanish asal.


Starla mencibir seraya mencubit lengan pacarnya itu.


"jadi cowok peka... mana ada cewek marah dipeluk cowok yang dia suka" komen Starla.


Spanish mangut. Starla benar juga.


"biar nanti aku yang bicara sama dia" ujar Starla.


*


Marsha pulang dengan rasa tidak mengerti. Dia masih tidak tenang memikirkan Parish. Apa ada yang salah. Marsha merebahkan badannya disofa ruang keluarga.


"kakak sudah pulang" teriak Venus.

__ADS_1


"iya, mama mana ?" tanya Marsha.


"mama lagi siapkan makan malam trus mau bawa makanan untuk kak Parish" jelas Venus seraya duduk disebelah kakaknya.


"kamu sudah pulang ? mama pikir kamu makan malam disana jadi mama bawakan banyak sayang" Jade Shannon datang dari arah dapur sekaligus ruang makan mereka.


"Parish sudah tidur ma" jawab Marsha seraya bangkit dari duduknya menuju tangga ke kamarnya.


"jadi kita tidak kerumah sakit ma ?" tanya Venus. Dia terlihat kecewa.


"kamu makan duluan ya sayang, mama bicara dulu sama kak Marsha" ujar Jade Shannon.


"iya ma" Venus menurut lalu menuju keruang makan.


Jade Shannon menghela nafas.


Kebiasaan Marsha kalau ada masalah pasti disimpan sendiri. Dia jarang berbagi cerita dengan dirinya bahkan dengan mendiang suaminya pun Marsha sangat berhati-hati dalam mengeluarkan pendapatnya.


Dengan segera Jade menaiki tangga menuju kamar Marsha. Dia harus mencari tahu, kenapa Marsha bersikap acuh begitu.


*


"kamu kenapa ?" Marsha menggumam seraya memandang foto Rose.


"Marsha... mama masuk ya" teriak Jade Shannon.


"iya ma"


Perlahan pintu kamar terbuka.


Jade melihat Marsha berdiri didekat jendela kamar sambil memandang foto Rose-nya.


"ada apa ?"


Marsha menggeleng.


"aku tidak tau ma, tiba-tiba saja Parish jadi dingin sama aku" jelas Marsha.


Cerita kejadian tadi pun mengalir.


Jade tidak merasa ada yang bagaimana. Ya satu-satunya dugaan, Parish tidak suka Marsha memeluknya. Tapi seharusnya dengan Marsha minta maaf, semua selesai.


"kamu sudah minta maaf ?" tanya Jade.


Marsha ingat. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun tadi.


"sudahlah... kamu mandi dulu trus turun kebawah makan, lalu kita kerumah sakit. Kamu minta maaf sama Parish"


Marsha mengangguk.


*


"jadi bagaimana ma ?" tanya Venus sambil mengunyah makanannya.


"kak Marsha mau mandi dulu trus makan lalu kita berangkaaaaattt" seru Jade.


"yeaaaaahhhh" seru Venus girang.


"ayo makanannya dihabiskan sayang" pinta Jade pada putra kedua yang sebenarnya putra tunggalnya tersebut.


"iya mamaku sayang" goda Venus.


Jade mengacak lembut rambut Venus.


*


Marsha kembali kerumah sakit. Dia mengantar mamanya dan Venus.


Tampak Mark Mc. Milan sedang menyuapi Parish bubur. Spanish katanya lagi mengantar Starla pulang.


Marsha pun duduk di sofa ruang depan menunggu Spanish.


Sesekali Marsha mencuri pandang kearah Parish. Tapi tampaknya gadisnya bersikap acuh dan tidak mau menoleh sedikit pun padanya.


Ada rasa bersalah menyelimuti Marsha.


"yah, sudah. Parish tidak mau lagi" kata Parish.


Mark Mc. Milan pun menghentikan suapannya. Dia meletakan piring dan memberi Parish minum.


"kamu mau apa lagi ?" tanya Mark.


"Parish hanya mau sandaran saja yah" jawab Parish.

__ADS_1


"mau tante kupaskan buah ?" tanya tante Jade.


"tidak usah tante, terima kasih" Parish menggelengkan kepalanya.


"aku bacakan buku cerita ya kak, supaya kakak bisa tidur nyenyak" tawar Venus. Dia menunjukan buku yang dibawanya.


Parish mengangguk. Dia senang dengan perhatian calon adiknya itu.


"kamu makan dulu, aku siapkan makanannya" ujar Jade pada Mark.


Mark mengangguk seraya mengajak Jade menuju ruang depan. Mereka meninggalkan Parish dan Venus didalam sana.


"kamu temani Parish didalam ya Mars" ujar Jade.


Mark Mc. Milan mengangguk. Marsha tersenyum. Dia bisa dekat dengan Parish dan begitu ada kesempatan, dia akan minta maaf. Batinnya.


*


Marsha masuk kedalam. Venus menghentikan membaca. Dia senang, karena dia sudah mulai capek mengeja perhuruf agar bisa menjadi kalimat yang dimengerti Parish. Bocah 8 tahun itu, masih terbata-bata membaca.


"kakak, bacakan kami buku cerita" seru Venus.


Parish kaget.


"kenapa bukan kamu saja ?" tanyanya.


"aku kan belum terlalu lancar bacanya. Dirumah, kalo aku lagi tidak bisa tidur... kak Marsha yang selalu bacakan cerita. Katanya supaya tidur jadi lebih nyenyak" jelas Venus.


Parish memandang Marsha tanpa ekspresi. Begitu datar.


"kalau kamu tidak mau, tidak apa" sahut Marsha yang merasa tidak nyaman dengan ekspresi Parish.


"ihhhhh ayolah kak" Venus memaksa. Dia memandang memelas pada Parish.


"baiklah" ucap Parish singkat.


Marsha pun mendekat ke kursi samping tempat tidur Parish. Sementara Venus merebahkan badannya di sofa.


Marsha membaca dengan pelan, menghayati, dan dengan intonasi yang baik. Seperti lagi mendengarkan cerita dongeng dari pendongeng aslinya. Komen Parish dalam hati.


Dia memandang Marsha lekat. Kenapa harus Marsha yang dia suka. Kenapa Marsha yang akan jadi saudaranya.


"maaf.." ucap Marsha pelan tapi didengar jelas oleh Parish.


"Venus tidak dengar kak" sergah Venus.


Marsha tersentak. Parish menahan tawanya.


"sang pangeran meminta maaf pada sang putri karena telah memeluknya" ucap Marsha.


Entah mungkin itu ada dibuku atau Marsha lagi mengarang bebas. Parish tahu kalimat itu untuk dirinya, Marsha pasti mengira dia marah karena pelukannya. Padahal Parish sangat nyaman dengan pelukan itu.


Ada hal lain yang membuat dia harus memberi jarak tentang kedekatannya dengan Marsha.


Mereka akan menjadi saudara, Parish tidak mungkin membiarkan perasaan cintanya terus tumbuh.


"putri tidak apa-apa, maaf..." ucap Parish pelan.


Marsha menoleh dan meyakinkan pendengarannya. Parish tersenyum. Marsha pun tersenyum lega.


Dia berjanji tidak akan membuat Parish marah lagi. Tidak akan pernah.


Marsha pun melanjutkan ceritanya sesuai isi buku. Untung saja Venus sudah mulai mengantuk jadi tidak fokus pada bagian cerita tentang dia dan Parish.


"akhirnya sang pangeran dan putri hidup bahagia" Marsha mengakhiri ceritanya.


Marsha menoleh ke sofa, tampak Venus sudah tertidur. Dia menggelengkan kepalanya.


"kakak jangan merasa ada yang salah dengan perlakuan kakak tadi. Aku baik-baik saja" ucap Parish.


"tapi mendiamkan aku" balas Marsha.


"aku tidak apa kak" sahut Parish lagi.


Marsha diam. Dia tidak mau malah membuat suasana jadi tidak mengenakan lagi. Parish sudah mau bicara lagi dengan dia, itu sudah cukup untuknya.


"kalau aku ada salah, kamu langsung tegur aku. Jangan diamkan, aku merasa frustasi dengan sikapmu" Marsha memandang Parish lekat.


Parish mengangguk seraya tersenyum. Oh hatiku.. kenapa aku tidak bisa menolak pesona ini. Desis Parish dalam hati.


Sekarang Marsha dan Parish saling bertatapan penuh arti. Parish sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Pertahanannya runtuh karena perlakuan manis Marsha.


Kalau saja Mark dan Jade tidak masuk kedalam ruangan, mungkin mereka masih saling menatap. Marsha pun pamit seraya menggendong Venus. Mereka tidak tega membangunkannya.

__ADS_1


Sementara Mark Mc. Milan duduk di kursi Marsha tadi untuk menemani putrinya sampai tertidur.


***


__ADS_2