
Marsha menyelimuti Parish yang tertidur.
Setelah seharian tadi Parish menangis meratapi putranya, akhirnya dia tertidur juga.
Mereka baru saja kehilangan putra mereka.
Duka yang sangat mendalam apalagi hanya tiga hari saja mereka merasakan bahagia menjadi Papa dan Mama untuk bayi laki-laki yang mereka beri nama Raskha Sharish Marsha.
Putra mereka lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah. Bayi kecil kesayangan keluarga itu tidak bisa terus bertahan dalam perawatan kotak kaca rumah sakit.
Ponsel Marsha berdering.
Marsha mengambil ponselnya, dari mama Jade.
Marsha melirik Parish sekilas lalu menuju keluar kamar. Dia menerima telfon di luar kamar.
"iya ma" jawab Marsha.
"bagaimana keadaan Parish sayang ?" tanya mama Jade.
"dia sudah tidur ma" Marsha menghela nafas.
"syukurlah, ya sudah kalau ada apa-apa segera hubungi mama" ucap mama Jade lega karena Parish sangat sulit dibujuk untuk istirahat karena teringat Raskha.
"iya ma" sahut Marsha.
Panggilan dimatikan.
Dengan bergegas Marsha menuju dapur, dia hendak memasak untuk makan siang mereka.
Setelah menikah, dia mengajak Parish tinggal di apartement yang dibelinya dari hasil tabungan selama bekerja menjadi mekanik Spanish di perusahaan otomotif Mc. Milan.
Awalnya mama Jade keberatan karena lebih baik tinggal di rumah Shannon, daripada rumah itu kosong. Tapi Marsha tetap menolak karena bagaimana pun juga, rumah itu peninggalan boss Shane untuk Venus. Tidak pantas rasanya dia berada disana.
Akhirnya mama Jade mengalah dan meminta auncle Tom untuk mencari pelayan yang bisa tinggal disana sekaligus bersih-bersih disana.
Dan sekarang disinilah kisah rumah tangga Marsha dan Parish bermula, mereka tinggal berdua di apartement. Pelayan mengerjakan pekerjaan rumah datang pagi hari dan pulang sore hari.
Untuk urusan makanan, Marsha dan Parish yang memasak. Terkadang mereka mendapat kiriman makanan dari rumah Mc. Milan dan pesan lewat aplikasi online.
Marsha mengolah makanan di dapur. Dia membiarkan Parish tidur nyenyak di kamar mereka.
Setelah pemakaman tadi, Parish meminta pulang dari rumah Mc. Milan. Dia ingin istirahat di apartement.
Semua keluarga melarang tapi Parish tetap bersikeras. Akhirnya mereka menuruti keinginan Parish daripada Parish semakin bersedih.
"tidak... !!"
Terdengar teriakan Parish.
Marsha segera mematikan kompor lalu berlari menuju kamar utama. Dia mendapati Parish tengah duduk di tempat tidur dan menangis.
Marsha memeluk istrinya erat.
"sudah sayang, matamu sudah bengkak. Ikhlaskan" ucap Marsha seraya mencium puncak kepala Parish.
Parish hanya diam dalam tangisnya.
"kamu mau keluar ? liat aku masak" ajak Marsha.
Parish memandang Marsha. Suaminya begitu mengkhawatirkan dirinya. Dari dia kontraksi sampai proses persalinan, Marsha selalu di dekatnya. Bahkan saat bayi mereka tidak mengeluarkan suara saat lahir sehingga harus segera di tangani intensif, Marsha terus berusaha menguatkannya.
Marsha selalu menemaninya, menjaga putra mereka di rumah sakit sampai di makamkan.
"Raskha sayang" Parish menangis.
Marsha ikut mengeluarkan air matanya.
"iya sayang, tapi kita harus kuat. Apalagi kamu baru selesai lahiran, kamu belum pulih" jelas Marsha, jemarinya terus membelai rambut Parish.
Parish tidak bisa membendung air matanya, dia berusaha kuat tapi air matanya terus mengalir membasahi kedua pipinya.
"aku mau masak untuk kita. Kamu mau ikut ?" ulang Marsha seraya melepaskan pelukannya.
Parish mengangguk.
__ADS_1
Marsha menangkup wajah istrinya.
"jangan sedih lagi, kita hadapi bersama" katanya.
Parish tersenyum lalu mengangguk.
Marsha memapah Parish keluar kamar.
Tiba-tiba Marsha menggendong Parish ala bridal.
"sayang, aku berat" sergah Parish.
"kamu berat karena melahirkan anak kita. Tidak masalah buat aku sayang" Marsha tersenyum.
Parish hanya tersenyum. Biasanya para wanita tidak suka bila suaminya setuju dengan pernyataan berat tapi bagi Parish, tidak masalah selama Marsha tidak mempermasalahkannya.
Marsha mendudukan Parish di bangku minibar dengan pelan dan hati-hati.
"kamu baik-baik disini, aku masak dulu" pamit Marsha seraya mencium bibir Parish.
Parish mengangguk setelah Marsha melepaskan ciumannya.
*
Masakan Marsha sudah jadi, dia segera menghidangkannya di meja makan.
Parish hendak turun dari kursinya tapi Marsha mencegahnya.
"hati-hati sayang" seru Marsha.
Marsha memegang Parish turun dari bangku mini bar dan memegang pundaknya menuju meja makan.
"semuanya menu favorit kamu" ujar Marsha.
"terima kasih sayang" ucap Parish pelan.
Mereka menikmati makan siang mereka tanpa suara. Sesekali Marsha memandang istrinya, dia harus kuat walau dipaksakan demi Parish. Dia harus terus menguatkan Parish karena ini tidak mudah bagi mereka bahkan bagi keluarga besar mereka.
*
Marsha menyiapkan makanan itu di atas meja dan Spanish membantunya. Sementara Starla menemui Parish di kamar.
Starla menatap Parish sendu, sahabat sekaligus adik iparnya itu sedang melihat foto Raskha di ponselnya.
"Parish" panggil Starla.
Parish memandang Starla, dia mematikan cahaya layar ponselnya.
"hai bintang-bintang" sapa Parish.
Starla memeluk Parish lalu melepaskannya.
"kamu harus kuat, Raskha akan selalu ada dalam hati kita semua" ucapnya.
Parish mengangguk.
"aku bukan ibu yang baik" ucap Parish sedih.
Starla menggeleng, "kamu ibu yang baik, hanya saja Tuhan lebih sayang pada Raskha. Kita hanya bisa ikhlas dan sabar" katanya.
"aku ingin Raskha Star.... aku ingin anakku" Parish kembali terisak.
Starla memeluk Parish, dia menenangkannya.
Marsha dan Spanish masuk kedalam kamar.
Begitu mendengar suara tangisan Parish, mereka bergegas naik ke lantai dua kamar utama.
Spanish memberi kode lewat anggukan pada Starla. Starla membalasnya dengan gelengan kepala.
"sayang..." ucap Spanish mendekat pada adiknya.
Starla melepaskan pelukannya dan memberi ruang pada Spanish untuk memeluk Parish.
"kak, aku mau anakku" isak Parish.
__ADS_1
"kita harus merelakannya sayang" ucap Spanish mencium puncak kepala adiknya.
"makan malam sudah siap, Spanish bawa makanan dari mama dan aunty Lesly" sahut Marsha.
"aku belum lapar" Parish memandang Marsha.
"tapi aku sudah lapar" sahut Marsha lagi, dia berharap Parish luluh.
"kakak dan Starla juga belum makan, kami mau makan bersama kalian" sahut Spanish.
Parish terdiam, dia memandang Marsha, Spanish dan Starla bergantian.
"baiklah, aku makan bersama kalian" ucap Parish akhirnya.
Ketiganya tersenyum senang.
Marsha mendekat dan mengulurkan tangan kepada istrinya, Parish menerima uluran tangan suaminya dan beranjak bangkit dari tempat tidur.
"aku bisa jalan sayang, jangan digendong lagi. Malu sama kak Spanish dan Starla" ucap Parish sebelum nantinya Marsha menggendongnya secara mendadak.
Marsha tersenyum, "iya sayang, setelah mereka pulang baru aku gendong kamu lagi" godanya.
Marsha mendapat dorongan pelan di belakangnya dari Spanish.
"ya ya ya, baru juga datang sudah di kode suruh pulang" sergah Spanish.
"maaf kakak ipar" sahut Marsha.
semuanya tersenyum, mereka menuju ruang makan.
*
Parish berbaring dalam pelukan Marsha. Matanya belum bisa terpejam, bayang-bayang Raskha masih jelas dalam ingatannya.
Marsha tahu istrinya belum bisa tidur, dia terus membelai rambut Parish.
"sayang, besok kamu masuk kerja ?" tanya Parish.
"iya, tapi aku hanya sebentar sayang. Setelah pertemuan dengan investor dari sakura city selesai, aku akan pulang dan mengerjakan semuanya di ruang kerja" jelas Marsha.
"kamu tidak perlu begitu, aku baik-baik saja. Nanti ada aunty Lesly datang temani aku, ada Sely juga yang bekerja. Aku ada teman disini sayang" terang Parish.
"tapi aku tetap khawatir sama kamu. Bagaimana kalo kamu ikut ke kantor ?" usul Marsha.
Parish memperbaiki posisi berbaringnya.
"kalo aku ke hotel saja bagaimana ?" Parish balas bertanya.
Parish sekarang mengurus hotel Mc. Milan, selama dia istirahat semua pekerjaannya diambil alih oleh asistennya, Tobby.
Dan Tobby selalu melaporkan semua kegiatan kantor pada Parish.
Marsha menggeleng, "kamu belum boleh kerja sayang, kamu belum pulih" tegas Marsha.
"iya, tapi aku takut bosan tidak melakukan apa-apa di kantormu" Parish manyun.
"kamu bisa memainkan ponselmu, ponselku, atau mau tiduran di kamar ruanganku juga bisa yang penting aku bisa terus memperhatikan kamu" sergah Marsha.
"baiklah sayang" ucap Parish akhirnya.
Dia tidak akan menang berdebat dengan suaminya. Marsha sangat mengkhawatirkannya. Perlakuan Marsha itu membuatnya sangat berarti. Dia senang, walau kadang dia juga kesal. Tapi begitulah Marsha, cowok yang selalu membuatnya jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama.
Disisi Marsha, dia senang karena tidak khawatir lagi untuk masuk kerja besok. Semenjak tadi, dia memikirkan tentang Parish kalau besok dia tinggal kerja.
"kita tidur sayang" ajak Marsha.
Parish mengangguk. Dia memperbaiki posisi berbaringnya dan tersenyum saat Marsha menyelimutinya dan mencium kening serta bibirnya lembut.
"selamat tidur istriku" ucapnya.
"selamat tidur suamiku" balas Parish seraya menutup matanya.
Marsha tidur dengan posisi memeluknya.
***
__ADS_1