
Marsha menghampiri Parish yang sedang duduk di bangku taman.
Parish sepertinya belum menemukan obyek yang menarik. Tebak Marsha.
Marsha melihatnya dari cara Parish melihat sekeliling sambil mengigit ujung penanya.
"kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah mendapatkan ingatan melukismu ?" tanya Marsha.
"aku ingin memberi kakak kejutan" jawab Parish. Dalam hatinya, dia sudah menemukan obyek menarik. Sangat menarik.
Tangan Parish mulai menggoreskan penanya pada kertas gambar.
Marsha terus memperhatikan tanpa tahu kalau dirinya yang menjadi obyeknya.
"cantik" gumam Marsha.
Parish melihat Marsha dari celah bukunya. Dia mendengar Marsha bersuara.
"kakak bilang apa ?" tanya Parish.
"tidak apa, lanjutkan saja gambaranmu" ucap Marsha.
Parish tersenyum. Marsha tidak tahu, yang dilanjutkan ini adalah gambarnya.
Marsha terus memandangi Parish dari tempat duduknya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak melihat Parish menggambar. Biasanya dia membaca buku di taman kampus sambil sesekali bercerita dengan Starla.
Ya, Marsha diam-diam mencuri pandang pada Parish begitu dia tahu kalau Parish adalah Rosenya yang selama ini dia cari.
Rosenya ternyata ada didekatnya, adik dari sahabatnya.
Parish melihat hasil karyanya.
Selalu tampak sempurna dengan Marsha sebagai modelnya. Walaupun dia mengambarnya secara diam-diam.
Pandangan matanya dan Marsha bertemu. Dari tadi Marsha memperhatikannya, gaya duduk dan senyumannya mengingatkan pada....
"aaaaaaaaahhhhhhh" teriak Parish kencang seraya memegang kepalanya.
Marsha sontak berdiri dan berlari kearah Parish agar Parish tidak sampai jatuh. Dia memeluk Parish.
"sakit kak" Parish merintih dalam pelukan Marsha.
Auncle Tom dan aunty Lesly menghampiri mereka dengan langkah buru-buru.
Frey dan Grey juga berlari mendekat.
"nona kenapa ?" tanya aunty Lesly.
"aku tidak tahu, mungkin dia sedang mengingat sesuatu" ucap Marsha
"telfon dokter Neil Tom.." pinta aunty Lesly.
Dengan segera auncle Tom mengambil ponsel disakunya. Marsha memandang Parish yang masih merintih dalam pelukannya.
"bagaimana ?" tanya aunty Lesly pada suaminya.
"dokter Neil tidak menjawab telfonnya" auncle Tom terlihat khawatir.
"kita langsung bawa kesana saja" Marsha segera mengangkat Parish.
"keluarkan mobil Grey" perintah auncle Tom seraya melempar kunci kearah Grey.
Grey menangkap kunci dari auncle Tom lalu bergegas berlari kehalaman depan. Frey kemudian menyusulnya .
"tenang nona, kita kerumah sakit sekarang" aunty Lesly mengusap kepala Parish.
Marsha mengangkat Parish, setengah berlari dia bergegas kehalaman Mc. Milan menuju mobil keluarga Mc. Milan.
*
Dokter Neil memeriksa Parish dengan teliti.
Parish dalam kondisi yang baik, stabil tapi kenapa rasa sakit itu selalu datang dan dia langsung pingsan.
Dokter Steve sudah mengirimkan data Parish padanya, dia tidak menyangka efek terapi akan seperti itu. Itu terlalu berbahaya untuk Parish kalau tubuhnya tidak kuat menghadapi respon memorynya.
"dia tidak apa, hanya saja... efek terapinya dengan dokter Steve akan selalu membuat dia begitu apabila ingat sesuatu. Tubuh Parish tidak kuat menerima respon ingatannya. Aku mengerti dia ingin sembuh tapi akan sangat beresiko untuk dia. Dia bisa saja mengalami sakit kepala yang berkelanjutan secara terus menerus. Dengan kata lain, dia akan pingsan saat ingatan itu datang" jelas dokter Neil.
Marsha, auncle Tom dan aunty Lesly mengerti.
"kalian sudah menghubungi keluarganya ?" tanya dokter Neil.
"iya, tuan kami dan putranya akan segera datang bersama dokter Steve" jawab aunty Lesly.
"baiklah, aku pergi dulu" pamit dokter Neil meninggalkan mereka diruang perawatan Parish.
Marsha memandangi Parish. Dia tidak menyangka, mereka akan kembali berada dirumah sakit. Baru juga Parish keluar, sorenya masuk lagi.
"kasian nona, dia sangat ingin mengingat memorynya yang hilang tapi ternyata itu berbahaya untuk dirinya" ucap aunty Lesly lirih sambil membelai rambut nonanya yang tengah tertidur akibat pengaruh obat penghilang rasa sakit yang diresepkan oleh dokter Neil.
Ponsel Marsha berdering. Dari Kevin.
Marsha beranjak keluar kamar untuk menjawab telfon.
"rumah nenek di bakar !" suara Kevin panik.
"apa !!! siapa yang melakukannya kak ?"
"aku masih menyelidikinya, tapi aku baru dapat informasi kalau Maximiliano sudah bebas 3 hari yang lalu. Dia mencari kamu"
"Maxim !! aku yakin dia pelakunya kak"
"aku juga berpikir begitu, tapi aku masih mencari tahu. Kamu jangan kemana-mana, jangan ke TKP. Kalau itu memang dia, dia sengaja memancingmu keluar. Biar aku yang urus, kamu disitu saja" pesan Kevin.
"baik kak, aku mengerti. Tapi kenangan nenek ada disana" Marsha terisak.
Selama ini Marsha selalu berusaha menjadi cowok kuat tapi entah kenapa kalau tentang masa lalunya, dia menjadi sensitif.
Rumah peninggalan neneknya menyimpan banyak kenangan masa kecilnya. Sekarang semua musnah karena dendam Maxim padanya. Entah kenapa Marsha yakin kalau Maxim pelakunya.
"aku turut bersedih, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Apinya menyebar dengan cepat. Kamu tidak bisa kesana Mars"
"iya kak" ucap Marsha lirih. Telfon terputus.
Auncle Tom keluar kamar. Dia mengatakan kalau Parish sudah sadar.
Dengan cepat Marsha menghapus air matanya, dia tidak ingin Parish melihatnya lemah.
"hey, kamu sudah merasa lebih baik ?" tanya Marsha.
Parish mengangguk, "maaf sudah membuat kalian semua khawatir" ucapnya.
"kita pulang ya, dokter Neil bilang kamu sudah bisa pulang" ujar Marsha.
Parish mengangguk.
*
Parish duduk bersandar pada sofa diruang keluarga. Sepulangnya dari rumah sakit, dia enggan masuk dalam kamarnya. Ada pikiran yang terus menganggunya. Anak lelaki itu, siapa dia ? kenapa dia selalu muncul di ingatan masa lalunya.
Bukannya dia ingin mengembalikan ingatan tentang ibunya tapi anak laki-laki itu selalu saja muncul bersamaan dengan kenangan ibu.
"Parish...." Spanish memeluk adiknya. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena membiarkan adiknya melalui ini sendirian. Walaupun adiknya pasti mengerti urusan pekerjaannya tapi dari kecil sebagai kakak, Spanish selalu menomorsatukan adiknya.
"kakak.. kakak sudah pulang ?" tanya Parish.
"iya sayang, begitu tiba kakak langsung tembus kesini. Lihat, kakak datang dengan siapa ?" Spanish menunjuk, Parish mengikuti arah yang ditunjuk kakaknya dengan matanya.
__ADS_1
"Starlaaaaaaaaa" Parish beranjak berdiri dan memeluk sahabatnya itu.
"rinduuuuuuuu" ucap Starla.
Marsha menghampiri Spanish. Dia mengajak Spanish untuk bicara. Spanish mengangguk mengerti, dia mengajak Marsha menuju ruang baca dekat tangga.
"ada apa Mars ?"
Marsha lalu menceritakan apa yang terjadi pada Parish sesuai penjelasan dokter Neil. Raut wajah Spanish langsung berubah khawatir. Semua seperti apa yang dia takutkan.
"dari awal aku sudah bilang pada ayah tentang resikonya, tapi ayah yakin Parish kuat. Ternyata, Parish lemah. Aku akan bicara pada ayah dan dokter Steve kalau mereka datang"
"jadi kamu sudah tahu resikonya ?" tanya Marsha.
Spanish mengangguk, "waktu kami memindahkan Parish kerumah sakit di RedRose city, sebulan kemuadian dia sadar dari koma yang panjang. Aku mengingat dengan jelas apa yang dikatakan dokter Steve pada ayah. Karena itu aku agak kurang setuju waktu ayah bilang akan melanjutkan terapi Parish. Tapi aku tidak bisa apa-apa kalau Parish saja sangat berusaha untuk mengembalikan ingatannya. Mengembalikan kenangannya" jelasnya.
Marsha mengangguk mengerti.
Suara ketukan pintu.
"masuk" suara Spanish.
Parish dan Starla masuk kedalam.
"kak, aku mau ke sekolah seni. Boleh ya ?" pinta Parish.
Sebelumnya ...
"apa yang sedang kamu pikirkan ?" tanya Starla.
"anak laki-laki itu.. dia selalu muncul bersamaan dengan bayangan ibu" Parish menatap kosong.
"apa kamu mengenalinya ?" tanya Starla.
Parish menggeleng. Hanya saja dia selalu merasa aneh karena bayangan anak itu selalu muncul karena perlakuan Marsha. Apa yang Marsha lakukan, semua mengingatkan dia pada yang anak laki-laki itu.
Parish tidak mengerti.
"kita harus kesekolah seni" ajak Parish beranjak.
"tapi ini sudah sore Rish..."
"iya, supaya kita bebas untuk melihat lebih lama di taman itu. Aku merasa aku akan menemukan kenanganku disana"
Kembali keruang baca ...
"tapi sayang, sudah sore begini sekolah seni sudah tutup" sahut Spanish.
"kita minta izin ke penjaganya kak, atau kita cukup melihat dari luar pagar saja. Ayolah kak, aku ingin kesana" Parish merajuk.
"kenapa kamu ingin kesana sekarang ? besok saja kita perginya, kamu baru pulang dari rumah sakit" sahut Marsha.
Spanish mengangguk setuju.
"ayolah sebentar saja, aku harus memastikan ingatanku kak" Parish memegang lengan Marsha.
Marsha dan Spanish saling pandang. Mereka baru saja membicarakan ini, bahwa ingatan yang muncul itu berbahaya kalau tubuh Parish tidak kuat merespon. Parish malah ingin mencari ingatannya.
"besok saja sayang" bujuk Spanish.
"ya sudah, aku minta antar auncle saja" Parish cemberut.
Marsha memberi kode pada Spanish untuk mengalah. Daripada Parish nekat pergi diantar auncle Tom.
Auncle Tom akan menuruti apapun yang Parish minta, tanpa bisa menahan. Kalau dengan mereka, setidaknya mereka bisa mengontrol kemauan Parish.
"baiklah kita pergi" ujar Spanish akhirnya.
"terima kasih kakakku sayang" Parish tersenyum memeluk kakaknya.
"yang lainnya ?!" Parish mengerutkan kening.
"tante Jade, Venus dan om dokter" jawab Spanish.
Parish mangut.
Pasti ayah dan yang lainnya khawatir karena dia sudah dua kali tidak sadarkan diri dan dilarikan kerumah sakit.
*
Mereka berempat berhenti di depan sekolah seni. Parish segera turun, dia berjalan menyusuri pagar sekolah dan berhenti di pagar tepat taman sekolah berhadapan dengan toko diseberang.
Marsha terkejut, apa Parish mulai mengingatnya ? itu tempat dimana biasanya dia berdiri kalau dia tidak berhasil masuk atau penjaga sekolah mengawasinya.
Parish lalu menuju ke toko diseberang. Dia tidak masuk, hanya berdiri di teras. Marsha dan yang lain terus mengikutinya tanpa memberi komentar.
Boss Hary keluar dari toko. Dia menyapa ramah tamunya.
"maaf pak, kami hanya melihat-lihat sebentar" ucap Spanish.
"tidak apa-apa, silahkan" kata boss Hary.
Marsha dan boss Hary saling bertatapan, seakan saling memberi kode. Marsha tahu, bossnya itu sedang penasaran. Marsha hanya menganggukan kepalanya.
"dia sering disini, apa dia kerja disini ?" ujar Parish.
"siapa ?" tanya boss Hary.
"anak laki-laki, dia sering datang ke taman sekolah tapi bukan murid disana" jelas Parish.
Marsha memandang Parish.
Parish mulai mengingatnya, tapi dia takut Parish akan drop. Dia mengambil inisiatif untuk berjaga saja, fokus pada Parish.
"iya, dulu ada seorang anak laki-laki kerja disini. Tapi sekarang dia sudah pindah" kata boss Hary.
Marsha semakin gelisah, apa dia harus memberitahu mereka bahwa dia yang Parish cari.
Tapi dia tidak bisa, dia khawatir Maxim sudah menyebarkan orang-orangnya untuk mengawasi toko boss Hary. Mereka akan menemukannya.
Marsha tidak takut pada keselamatan dirinya, hanya saja dia tahu Maxim. Maxim akan menekan dia lewat kelemahannya, Marsha tidak mau keluarganya dan Parish kenapa-napa karena dia.
"sapa namanya pak ?" tanya Spanish.
"Mark" Entah apa, boss Hary menyebut nama itu.
"Mark ?!" Parish mengulang nama itu, "dimana dia pak ?" tanya Parish lagi.
Boss Hary menggeleng.
Parish tertunduk lemah. Dia mengajak mereka semua pamit.
Dalam perjalanan pulang, Parish tidak banyak bicara. Dia hanya terdiam.
Marsha dari tadi memperhatikannya.
Apa yang harus dia lakukan sekarang. Parish mencarinya. Hanya saja ini bukan waktu yang tepat untuk membuka semuanya.
*
Makan malam keluarga Mc. Milan.
Begitu tiba dirumah mereka sudah mendapati Mark, Jade, Venus dan dokter Steve menunggu mereka.
"aunty supku mana ?" teriak Parish melihat makanan diatas meja.
Marsha memandang Parish, Parish mencari sup buatannya tadi.
__ADS_1
Marsha sengaja bilang pada aunty untuk tidak menyajikannya dimeja makan karena kurang percaya diri dengan rasanya. Dia malu nantinya supnya gagal didepan ayah Parish.
Aunty Lesly memandang Marsha bingung, dia harus bagaimana. Dia melihat Marsha menggeleng tapi dia tidak punya kata-kata untuk menjawab.
"aku mau supku aunty...." pinta Parish lagi.
"ini ada sup daging" sahut Mark.
Parish menggeleng. Dia memandang Marsha.
"mana sup wortelku kak ?" tanyanya.
Marsha jadi salah tingkah, semua mata tertuju pada dia sekarang.
"aku menghabiskannya" jawab Marsha asal.
"bohong ! bagaimana mungkin, kakak buat itu untuk aku malah kakak yang habiskan" Parish manyun.
"jadi kamu buat sup untuk Parish ? Marshaaaaaa..." Jade Shannon menatap Marsha. Dia tahu Marsha menyembunyikan sesuatu.
"iya ma, masih ada" jawab Marsha, "sajikan saja aunty" ucap Marsha akhirnya.
"waaaaahhhh kamu bisa masak Mars" goda Spanish.
"kalau mama kerja, kak Marsha yang masak untuk kami. Masakannya enak" seru Venus.
"tapi aku tidak yakin kalian menyukai rasanya" jawab Marsha.
"aku suka, rasanya enak" balas Parish.
"baiklah, mari kita cicipi sup buatan Marsha" kata Mark Mc. Milan ketika sup wortel buatan Marsha sudah tersaji diatas meja.
Mereka semua mengambilnya. Marsha memandang mereka satu persatu dengan harap cemas. Bagaimana komentarnya.
"enak kak.. seperti biasanya, masakan kakak selalu enak. Sama dengan masakan mama" puji Venus.
"enak, aku suka" ucap Mark.
Yang lain juga memberi komentar yang sama. Marsha menghela nafas lega. Dia tidak malu didepan keluarga Parish. Sup resep neneknya berhasil. Semua suka. Dan terlebih Parish sangat menyukai supnya.
*
Marsha baru saja keluar dari kamar mandi.
Dia melihat lampu ponselnya menyala lalu mati.
Ada pesan masuk. Pikirnya.
Marsha meraih ponselnya, ada enam panggilan masuk dan satu pesan chat. Semuanya dari Kevin.
Bahaya ! Maxim ada dimana-mana sekarang. Dia tahu kamu pernah datang ke kota ini beberapa tahun lalu. Dia sedang mengawasi toko dan Restbarr. Dia tidak tahu sekarang kamu masih disini, sebaiknya segera pulang ke RedRose city.
Marsha menelfon Kevin.
"halo Mars, biar aku yang menelfonmu pakai nomor lain" telfon ditutup.
Tak lama ada panggilan dari nomor baru. Marsha segera mengangkatnya.
Kevin bilang dia mencurigai panggilan keluar dari Restbarr telah disadap termasuk nomor ponselnya. Karena itu dia masih mengurusnya.
"tapi kak, besok mama Jade dan Venus mau datang kesitu" ucap Marsha.
"nyonya Jade dan Venus aman kesini tanpa kamu. Yang Maxim cari itu kamu" kata Kevin.
"tapi Maxim tahu kelemahanku. Kalau dia tahu mama Jade dan Venus adalah keluargaku sekarang, dia akan nekat" jelas Marsha.
"kita tidak mungkin membuat nyonya Jade khawatir" kata Kevin.
"iya itu juga yang aku pikirkan. Bagaimana sekarang ?"
"besok aku akan mengirim orang untuk menjemput nyonya Jade dengan pengawalan jarak jauh. Kamu tidak usah ikut, karena dia sedang mengincarmu"
"baik kak, aku mengerti" Marsha terduduk diatas ranjangnya, kenapa masalah muncul disaat dia sudah tenang. Sedikit lagi dia akan berhasil membawa ingatan Parish. Tapi harus dia urungkan, karena Maxim.
*
Marsha berlari menerobos kerumunan orang dan polisi masuk kedalam Restbarr.
Kekacauan, berantakan, dan berserakan semua.
Marsha berlari menuju lantai dua, dengan segera dia menuju kantor Kevin.
"mama, Venus..." teriak Marsha mendapati mamanya dan Venus saling berpelukan disofa. Tampak Kevin duduk dilantai menahan sakit dan darah yang mengalir dilengannya.
"Marshaaaaa" Jade memeluk Marsha, begitu juga Venus.
"dia mencarimu Mars" ucap Kevin.
Marsha menghampiri Kevin, "kita kerumah sakit kak" kata Marsha.
Mereka membawa Kevin kerumah sakit. Tak lama boss Hary dan boss Alice datang, mereka juga tampak berantakan. Toko mereka juga diserang, dan anak buah Kevin berhasil menyelamatkan mereka berdua.
"maafkan aku, ini gara-gara aku" Marsha menarik kasar rambutnya.
"bukan salah kamu, kami tidak apa-apa" kata boss Hary. Boss Alice yang berada disisi tempat tidur Kevin mengangguk.
"kita pulang saja Mars" ucap Jade.
"tidak ma, aku akan menghadapi dia. Mama pulang saja dulu ke rumah Mc. Milan. Aku tidak akan ikut pulang, aku takut keluarga mereka akan ikut susah"
"aku tidak setuju Mars, pulanglah" sahut Kevin sambil menahan sakit.
"tidak kak, dari awal ini perangku. Aku akan membalaskan dendam rumah nenek, toko boss dan Restbarr tuan Shane" Marsha penuh emosi berapi-api.
Jade hanya terdiam. Dia tahu Marsha tidak akan berubah walaupun dia membujuknya. Tapi dia tidak mau Marsha terlibat masalah, sangat berbahaya.
"aku akan mengantar mama pulang pakai mobil kak Kevin. Kalau mereka menanyakanku, bilang saja ada urusan ma" kata Marsha.
Jade mengangguk. Dia menghampiri Kevin lalu mengusap kepala Kevin seraya mengucapkan terima kasih karena sudah melindungi dirinya dan Venus.
"itu sudah tugasku nyonya" kata Kevin.
Jade tersenyum. Dia lalu memeluk boss Alice.
Boss Alice tersenyum, "jangan khawatir" katanya.
Jade mengangguk. Lalu dia menjabat tangan boss Hary lalu pamit.
Marsha mengangkat Venus yang sudah tertidur disofa.
"aku akan segera kembali" katanya pada kedua boss dan kakak angkatnya.
Marsha bertekad akan menyelesaikan urusannya dengan Maximiliano. Dia bisa saja tidak perduli kalau dirinya yang terluka, tapi Maxim sudah keterlaluan. Dia menyakiti orang-orang disekitar Marsha, agar dendamnya tercapai.
Kali ini Marsha tidak akan melepaskan Maxim. Dia akan kembali mencobloskan Maxim seumur hidup di penjara.
"sayang.. kita pulang saja" Jade Shannon memandang Marsha lirih.
"ma, aku mohon.. aku tidak mau ada yang terluka lagi karena aku"
"kita pergi saja, kamu fokus saja pada kesembuhan Parish"
"tapi tetap saja, kami akan kesini. Karena disini kenangan kami bermula" jelas Marsha.
Jade terdiam. Percuma, Marsha sudah tidak mungkin mendengarnya. Dia akan menyelesaikan perangnya. Mau dia setuju atau tidak. Dia sangat tahu Marsha, kalau sudah tentang melindungi orang yang dia sayangi maka dia akan berusaha sekuat tenaganya.
***
__ADS_1