Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 33


__ADS_3

Parish masuk kedalam kamarnya. Dia memeluk boneka teddy bearnya.


Apakah dia terlalu menekan Marsha ? Apa dia salah memutuskan sesuatu tanpa bertanya dulu pada Marsha ?


pikiran itu terus berkecamuk dalam benaknya.


Parish melirik jam pada ponselnya. Sudah hampir setengah jam. Sudah lebih dari cukup untuk Marsha sampai dirumahnya. Dan seharusnya, dia sudah mengirimkan pesan.


Parish mencoba menghubungi Marsha melalui panggilan video. Tidak berapa lama, wajah Marsha muncul di layar. Dia berada di dapur.


"kamu sedang apa ?" tanya Parish.


"buat kopi sayang" Marsha memperlihatkan cangkir kacanya.


Parish manyun.


"kenapa sayang ?" tanya Marsha.


"mau tidur jam berapa sayang, ini sudah jam sebelas" Parish memperlihatkan tampang juteknya.


"tenang sayang, aku hanya perlu waktu untuk berpikir" kata Marsha.


"trussss besok, aku kekampus dengan siapa ?" kata Parish.


"aku antar, pokoknya aku akan selalu sediakan banyak waktu buat tunanganku" kata Marsha meyakinkan.


"takutnya kamu belum bangun, masih ngantuk sayang" komen Parish.


"tidak akan sayang, aku akan bangun tepat waktu" balas Marsha.


"sudahlah terserah kamu" Parish mematikan panggilannya. Dia ngambek.


Bukan hanya mematikan panggilan, tapi dia juga menonaktifkan ponselnya lalu mengisi dayanya.


Parish kemudian mengatur posisi bantalnya dan tertidur.


Sementara dirumah keluarga Shannon ...


Marsha mencoba menghubungi Parish tapi tidak bisa. Parish sepertinya mematikan ponselnya. Marsha menuliskan pesan tapi kembali di hapusnya. Dia meletakkan ponselnya, besok dia akan memberikan Parish kejutan agar tunangannya itu tidak marah.


"aku akan selalu mencintaimu sayang" ucap Marsha lirih.


*


Parish mengeliat, dia terbangun dari tidur lelapnya.


Dia kemudian meraih ponselnya. Setelah mencabut kabel chargenya dia menyalakan ponselnya.


Parish mendengus kesal, tidak ada pesan dari Marsha.


Tunangannya itu tidak berusaha membujuknya.


Baiklah, aku akan bersikap sama. Ucap Parish dalam hati.


Dengan segera dia menuju kamar mandi. Mandi pagi, lalu bersiap ke kampus.


Setelah menyelesaikan ritual dandannya, Parish turun ke bawah bergabung bersama keluarga. Tampak ayahnya membaca koran pagi sementara mama Jade menyiapkan sarapan bersama para pelayan rumah Mc. Milan.


Spanish masuk kedalam rumah, dia dari halaman depan.


"kakak dari mana ?" tanya Parish seraya menata rambutnya dengan jari.


"dari kasih kunci mobil kantor, supirnya sudah aku suruh datang ambil" katanya.


Parish mangut.


"ma, ini kunci mobil mama. Tadi Marsha datang bawa mobil mama" katanya pada mama Jade yang sedang menata makanan di meja untuk sarapan mereka.


"trus Marsha mana ?" tanya Jade menghampiri Spanish.


"katanya pulang dulu, ada yang ketinggalan" jawab Spanish.


"naik apa ?" tanya Mark melihat sekilas lalu kembali fokus pada bacaannya.


"aku minta supir kantor untuk antar dia. Ya walaupun dia sempat menolak" Spanish mengangkat bahunya.


Parish melihat kakaknya.


Marsha datang tapi tidak berkata apa-apa padanya. Ketemu juga tidak. Pikirnya.


Tak lama, suara ketukan pintu. Marsha muncul dengan senyum dingin seperti biasanya.


"kamu tidak perlu bawa mobilnya sekarang sayang, kamu pakai saja" sahut mama Jade.


"tidak ma, aku punya motor" ucap Marsha. Dia melihat sekeliling, "boss kecil mana ma ?" tanyanya.


"coba kamu lihat dulu, tadi mama sudah bangunkan" jelas mama Jade.


"mungkin tidur lagi di bak mandi ma" Marsha geleng kepala lalu pamit ke kamar Venus.


Parish merasa diabaikan.


Spanish geleng kepala seraya mencubit hidung adiknya, "sudah, jangan ngambek pagi-pagi. Marsha hanya membantu supaya Venus tidak terlambat" katanya.


Parish hanya mengangkat bahu lalu beranjak ke meja makan, "buatkan aku coklat hangat ya Minny" katanya.


"iya nona, segera" sahut Minny.


*


Setelah sarapan, Mark pamit ke kantor sekalian mengantar Jade ke toko bunga dan Venus ke sekolah. Spanish juga sudah pamit ke Company. Tinggal Parish dan Marsha yang duduk diruang keluarga. Parish masih sibuk mengetik di laptopnya, katanya ada tulisan yang perlu ditambahkan pada tugasnya.


"kamu masih lama ?" tanya Marsha.


"mungkin, kenapa ? kamu duluan saja ke kantor" kata Parish tanpa menoleh pada Marsha.


Marsha mendekati Parish, dia memainkan ujung rambut Parish "rambutmu indah kalau dibiarkan terurai begini" katanya.


"hmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Parish.


Marsha memeluk Parish dari samping, "maafkan aku, semalam aku sengaja tidak tidur agar bisa berpikir" jelasnya.


"hmmmm" Parish mengerakkan badannya agar Marsha melepaskan pelukannya.


"sayang, liat aku" Marsha memutar badan Parish, "maaf aku tidak menurut kata-katamu, tapi aku mohon jangan diamkan aku" dia menatap mata Parish.


Parish hanya diam dan balas menatap Marsha.


"baiklah, kalau kamu masih marah. Aku pamit ke kantor dulu" ucap Marsha.


Marsha beranjak tapi Parish menarik tangannya, "tunggu" ucapnya.


Marsha lalu mengeluarkan setangkai bunga mawar merah dari balik bajunya, "aku minta maaf" katanya.


"kamu beli ?" tanya Parish.


"tidak dari rumah, tadi aku balik ambil motor trus petik bunga ini" kata Marsha.


"terima kasih sayangku" Parish memeluk Marsha.


"jangan marah lagi sayang" Marsha mengelus rambut Parish.


"iya, tapi kamu jaga kesehatan. Awas kalau sakit karena begadang" ancam Parish seraya melepaskan pelukannya lalu melototkan matanya kepada Marsha.


"tidak apa, kamu obatnya sayang" Marsha mencium kening Parish.


"hmmm... tunanganku yang super dingin ini mulai gombal" Parish menjulurkan lidahnya.


Marsha hanya tertawa.


Tepat jam 8, mereka melaju menuju kampus Parish.


Marsha membukakan helm Parish lalu dia merapikan lagi rambut panjang tunangannya itu dengan jari-jarinya. Parish tersenyum senang dan membiarkan Marsha melakukannya walaupun semua mata sekarang tertuju pada mereka.


"aku pamit ke kantor ya, kamu baik-baik belajarnya" kata Marsha.


"iya, kamu jangan kepikiran" kata Parish lalu mencium pipi Marsha.


Marsha memegang pipi Parish lalu pamit pergi.


*


"hai Rish.." sapa Aaron seraya duduk di bangku tepat didepan Parish.


"hai" balas Parish singkat.


Aaron mahasiswa senior yang kebetulan sekelas dengannya di mata kuliah hubungan internasional tadi pagi.


"kita belajar kelompok dimana ?" tanya Aaron.


Parish teringat, dia sekelompok dengan Aaron, Gavin dan Starla untuk tugas semester mereka. Mereka harus membuat profile perusahaan yang mempunyai pangsa pasar internasional.


"aku terserah saja, kamu tanya pada yang lain dulu maunya bagaimana" jawab Parish.


"sayang" suara berat itu mengetarkan suasana. Parish sangat mengenal suara itu.


"sayang, kamu bisa ada disini ?" Parish mencoba bersikap biasa karena dia sudah menghilangkan marah karena hal sepele itu.


Mereka akan segera menikah, masa mau marahan cuma karena Marsha semalam begadang lantaran minum kopi.


"aku dari melihat pasaran suku cadang disekitar sini, jadi aku singgah sebentar untuk menemui tunanganku tersayang" Marsha memberikan sedikit penekanan pada kata tunangan.


"ooo sudah selesai urusannya ?" tanya Parish.

__ADS_1


Marsha mengangguk.


"temani aku makan siang" ajak Parish tersenyum senang.


Marsha mengangguk, "ayo sayang, aku juga belum makan siang" katanya seraya tersenyum.


Parish pamit pada Aaron lalu berjalan menuju kantin bersama Marsha.


Dikantin Marsha tidak banyak bicara, sepertinya dia memikirkan sesuatu.


"kamu masih marah karena aku ngambek tadi pagi ?" tanya Parish.


"tidak sayang, aku yang salah. Seharusnya aku ikut tidur. Kamu juga sudah menerima mawarku. Jadi tidak ada lagi marah yang tadi sayang" jelas Marsha.


"trus kenapa kamu diam saja ?" tanya Parish.


"Aaron kenapa bisa bersama kamu ?" tanya Marsha.


"kamu kenal Aaron ?" Parish memandang Marsha.


"iya dia pernah masuk meteor. Tapi karena kasus, dia dikeluarkan dan mengambil cuti panjang perkuliahan" jelas Marsha.


"kasus apa ?" tanya Parish.


"scandal pelecehan junior meteorfansclub" kata Marsha setengah berbisik.


"tapi aku kok tidak pernah dengar" sahut Parish.


"itu hebatnya kakakmu, dia berusaha melindungi korban dengan tidak membuat kasus ini sampai keluar ke publik. Kakakmu mengusahakan proses hukum tapi dengan sangat hati-hati dan rahasia" jelas Marsha.


"trus sekarang korbannya dimana ?" tanya Parish.


"orang tuanya mengirim dia keluar negeri. Dan sampai sekarang kami tidak ada kabarnya sama sekali"


"trus proses hukumnya Aaron bagaimana ? dia sudah bebas begitu ?"


"dia dipenjara selama 5 tahun dan karena itu dia mengambil cuti panjang. Dia seharusnya sudah lulus sama-sama aku dan Spanish karena kami seangkatan"


Parish mangut mengerti.


"kamu jangan terlalu dekat sama dia. Hati-hati, selalu waspada" pesan Marsha.


"iya sayang, aku akan jaga jarak dengan dia" ucap Parish.


"aku sebenarnya selalu cemburu kalau kamu dekat dengan cowok manapun kecuali keluargamu. Tapi kalo untuk Aaron, aku bukan hanya cemburu tapi juga tidak suka. Aku sangat melarang sayang" Marsha memandang Parish.


"tapi sayang, aku sekelas dengan dia dan kami satu kelompok belajar untuk tugas semester" jelas Parish.


"tidak bisa di tukar ?" tanya Marsha.


"aku tidak tahu, soalnya teman-teman tidak ada yang minta tukar kelompok. Aku masih sama Starla, ada Gavin juga" ujar Parish.


"baiklah sayang, hati-hati saja. Aku akan mengantar jemput kamu seperti janjiku"


"iya sayang, terima kasih ya" Parish memegang pipi Marsha.


*


Pulang kampus, Parish yang menumpang mobil Starla minta diantar ke Mc. Milan Otomotif. Dia ingin menemui Marsha untuk pulang bersama.


Parish langsung menuju bagian modifikasi yang terletak diantara showroom dan pabrik.


Tampak Marsha sedang memeriksa sebuah mobil mewah dengan desain classic. Dia tidak menyadari kehadiran Parish.


"Like, mana daftar permintaan klien tentang mobil ini ?" tanya Marsha pada rekannya.


Likely lalu menyerahkan berkas pada Marsha. Marsha yang menerima berkas itu segera membaca, memberi tanda pada tulisan di kertas, lalu mengitari mobil yang sedang dia kerjakan dengan sedikit menyentuh bagian mobil sekedar mengecek keadaannya.


"oke, sekarang kamu tolong cek mesinnya. Aku sudah membongkarnya tadi. Dengarkan bunyi mesinnya" Marsha melihat pada Likely.


Dengan segera Likely duduk dibalik kemudi. Dia menyalakan mesin. Marsha dan Likely hening sejenak mendengarkan deru mesin mobil itu.


Likely mematikan mesin mobil. Dia keluar dan memberi highfive pada Marsha.


Mereka tertawa senang. Marsha puas dengan hasil kerja teamnya.


"senangnya" seru Parish, "hai Likely" sapanya pada rekan team Marsha.


"hai nona" balas Likely.


Marsha memandang Parish, "sayang, sejak kapan kamu ada disitu ?" tanyanya.


"sejak kamu keliling mobil" balas Parish memeluk Marsha lalu melepaskannya lagi.


"itu baju kamu kotor sayang, aku masih penuh oli" Marsha mundur dan menunjuk baju Parish.


"tidak apa sayang, aku senang tunanganku pekerja keras" sahut Parish.


Parish menyilangkan tangan di dadanya, "aku bukan bossmu tuan Marsha. Kamu bossnya" katanya.


Marsha tidak bicara lagi. Dia pamit untuk bersih-bersih dan meminta Likely membereskan semuanya.


Parish memilih menunggu Marsha di bangku yang disediakan dekat pintu masuk.


"ayo kita pulang" ajak Marsha yang sudah rapi, tidak dengan baju kerja yang tadi.


Parish menurut. Mereka bergandengan tangan menuju tempat parkir motor Marsha.


*


Marsha mengajak Parish makan di kafe. Sudah lama rasanya mereka tidak kencan. Karena momentnya pas, ya Marsha memutuskan untuk mengajak Parish jalan-jalan berdua sebelum mengantarnya pulang.


Dia juga sudah mengirim pesan pada Spanish untuk meminta izin akan terlambat mengantar Parish pulang.


"sayang, boleh minta es cream ?" tanya Parish.


"boleh sayang" ucap Marsha.


Parish langsung menuju tempat penjual es cream, dia memesan es cream coklat vanila jumbo 3 porsi dibungkus.


"untuk siapa sayang ?" tanya Marsha.


"untuk aku, kak Spanish dan Venus" sahut Parish.


"kamu melupakanku" Marsha terlihat sedih.


"maaf sayang, tadinya aku pikir kita makan sekotak berdua" ucap Parish.


Marsha memandang Parish, tunangannya itu ternyata berpikir seromantis itu "baiklah sayang" katanya tersipu malu.


"jadi kamu mau makan sendiri ?" tanya Parish, "aku pesan lagi" lanjutnya.


"tidak, aku mau makan berdua kamu" Marsha tersenyum.


Setelah es creamnya jadi, Marsha dan Parish menuju pelataran parkir. Mareka memutuskan untuk pulang kerumah.


"kamu pakai jaketku" Marsha membuka jaketnya, memakaikannya pada Parish dan sekaligus membantu memasang helm Parish.


"terima kasih sayang" ucap Parish.


Marsha tersenyum lalu mencium pipinya.


Motor Marsha pun meninggalkan pelataran parkir mall.


*


"Venussssss... kak Parish bawa es cream.... !!!" teriak Parish.


"kakak mau dong !" Spanish muncul dari ruang kerja ayahnya.


"sip, tenang saja" balas Parish, "Megan, tolong panggil boss kecil ya" pinta Parish.


"baik nona" Megan segera naik keatas menuju ke kamar Venus.


Mereka bertiga menunggu diruang keluarga sambil menonton tivi.


"ayah dan mama mana kak ?" tanya Parish seraya menyodorkan kotak es cream untuk Spanish.


"ke rumah om Clinton, Rain dan Rainy sudah kembali kesini" ujar Spanish seraya membuka kotak es creamnya "terima kasih adikku sayang" Spanish tersenyum senang.


Rain dan Rainy adalah anak kembar om Clinton, rekan kerja ayah dalam bisnis telekomunikasi. Mereka seumuran dengan Parish. Dari kecil mereka berempat selalu bermain bersama bahkan kadang liburan bersama. Mungkin karena persamaan status ayah mereka yang membuat ayah dan om Clinton jadi bersahabat akrab. Mark Mc. Milan ditinggal meninggal oleh istrinya, sementara om Clinton bercerai dengan maminya si kembar. Kata ayah, faktor kesibukan yang membuat mereka terpisah. Sebagai pengusaha berlian, maminya si kembar selalu sibuk dengan event, pertemuan, dan kehidupan sosialitanya. Hanya saja sampai sekarang mereka masih sama-sama sendiri. Si kembar berharap orang tua mereka bisa rujuk lagi. Dan mami Ruby bisa tinggal bersama mereka.


"oh ya... pasti om Clinton senang, beliau kan sangat menanti mereka pulang kesini" kata Parish.


Spanish mengangguk.


Venus datang dengan membawa buku tugasnya. Rupanya si boss kecil sedang mengerjakan tugas berhitung.


Marsha duduk melantai membantu adiknya mengerjakan tugas sambil sesekali Parish menyuapinya es cream.


"aku mau juga kak" komplain Venus.


"tapi kamu punya sendiri sayang, harus kamu habiskan" kata Parish.


"iya, tapi Venus mau di suap juga kayak kak Marsha" kata Venus sedikit merajuk.


"baiklah adikku sayang, sini kakak suapi" Parish akhirnya menyuapi Marsha dan Venus bergantian.


Entah angin apa, Spanish mendekat. Dia menyodorkan mulutnya yang terbuka lebar.


"kakak mau disuapi juga ?" tanya Parish.


Spanish mengangguk.

__ADS_1


Parish menepuk jidatnya. Kenapa ketiga cowok kesayangannya ini bersikap manja.


"baiklah, awalnya punya satu bayi gede sekarang aku punya tiga bayi" Parish geleng kepala.


Marsha mengangkat wajahnya, "siapa bayi gede kamu ?" tanyanya.


Parish menutup mulutnya. Dia keceplosan.


Spanish dan Venus terkekeh dan kompak menunjuk pada Marsha.


Marsha memandangnya bingung dan kembali memandang Parish. Parish jadi salah tingkah.


Marsha kembali melihat pada Spanish dan Venus, "aku bayi gedenya ?" dia menunjuk wajahnya sendiri.


Spanish dan Venus hanya kompak mengangguk.


"sayang..." Marsha memicingkan matanya kearah Parish.


"maaf sayang" Parish memamerkan senyum indahnya.


Marsha menarik Parish jatuh dalam pelukannya, lalu mencium seluruh wajah Parish "ini ciuman bayi gede" kata Marsha menggoda.


"sayang... jangan ! sudah... hentikan" teriak Parish meronta.


"bilang apa ?" goda Spanish.


"kak tolong, maaf sayang maaf" ucap Parish akhirnya.


Marsha melepaskan pelukan kuncinya. Parish merapikan rambutnya. Dia menatap sebal.


"aku tidak akan suapi kalian lagi. Kalian kompak jahatnya" Parish mencibir.


"kayaknya dia mau lagi Mars" sahut Spanish.


"jangan !" tolak Parish.


Spanish dan Venus tertawa.


Sementara Marsha memeluknya dengan pelukan yang lembut, "aku mencintaimu" bisiknya.


"aku tahu" balas Parish seraya tersenyum.


*


Hari minggu, keluarga Mc. Milan hanya menikmatinya dengan bersantai di gazebo taman depan. Mark Mc. Milan duduk disebelah mama Jade sambil melihat majalah otomotif. Sementara Spanish dan Marsha sibuk menonton video modifikasi otomotif lewat laptop Spanish. Parish heran, kedua sahabat itu selalu saja kerja disaat santai.


Sementara dirinya dan Venus, membuat sketsa tentang sekitar mereka. Parish sedang menggambar suasana sekarang sedangkan Venus menggambar Hazel yang sedang membersihkan taman.


Sebuah mobil sedan mewah memasuki halaman. Mobil itu berhenti dipelataran parkir rumah. Si kembar Rain dan Rainy keluar dan langsung menuju gazebo.


"pagi semuanya" Rain dan Rainy menyapa secara bersamaan.


"pagi Rain, pagi Rainy, papi kalian mana ?" tanya Mark.


Si kembar duduk di antara Marsha dan Parish.


Mereka mirip tidak berbeda. Mungkin kalau Rain memakai wig dan berdandan, orang akan menyangka dia Rainy. Begitu sebaliknya, kalau Rainy di gunting cepak kayak Rain pasti ada yang salah sangka.


"seperti biasa om, ada jadwal yang tidak bisa di batalkan. Padahal ini hari libur" sergah Rainy.


"papimu pekerja keras" sahut Mark.


Rainy hanya mengangguk.


"yang mana putra tante Jade ?" tanya Rain melihat kearah Marsha dan Venus. Mungkin karena melihat ada wajah baru di keluarga Mc. Milan.


"mereka berdua putraku. Itu Marsha dan ini Venus" ujar Jade seraya menunjuk.


Si kembar mangut.


"Marsha ini sahabat sekaligus iparku" ujar Spanish memperkenalkan.


Si kembar memandang Spanish.


"acara kemarin itu pernikahan ayah sekaligus dua pertunangan. Pertunanganku dan Parish. Marsha ini tunangan Parish" jelas Spanish.


Parish tersenyum memandang si kembar.


Wajah Rain terlihat berubah, "kamu sudah tunangan Rish ?" dia mengalihkan pandangan kearah Parish.


Parish mengangguk, "kamu dan Rainy tidak datang. Sebal !" Parish manyun.


"maafkan aku Rish.... aku sibuk sekali waktu itu, aku ada jadwal catwalk" Rainy mendekat memeluk Parish.


"kamu ? apa alasanmu tuan Rain ?" tanya Parish.


"aku tidak tahu" ucap Rain pelan.


Marsha memandang Rain disebelahnya. Jiwa cemburunya selalu ada untuk Parish. Tapi nada bicara dan tatapan mata Rain yang terus melihat kepada Parish membuatnya tidak suka.


Si kembar makan siang bersama mereka.


Dan selama itu, Rain sepertinya terlalu dekat pada Parish. Membuat Marsha memandang mereka dengan tatapan yang mematikan. Apalagi Rain dengan lancangnya mengelus rambut tunangannya itu. Membuat Marsha panas terbakar cemburu.


Sementara disisi Parish, dia melihat Rainy mengakrabkan diri dengan Spanish dan Marsha. Parish melihat beberapa kali cewek itu menyentuh Marsha kemudian tertawa bersama. Parish tidak suka.


Menjelang sore si kembar pulang. Parish langsung masuk kamarnya. Dia tidak pamit pada Marsha.


Tok tok..


Dengan malas, Parish membuka pintu kamarnya.


Marsha berdiri didepannya sekarang.


"aku pamit pulang sayang, nanti malam aku kesini lagi" katanya.


"iya" jawab Parish singkat.


"kamu kenapa ? kamu sakit ?" Marsha meraba kening dan leher Parish.


Parish hanya menggeleng, "tidak apa, aku cuma merasa panas, terbakar !" dia tidak bisa menahannya lagi.


Marsha menangkup wajah Parish, "kenapa ? kamu bicara sama aku" katanya.


Parish membuka pintu kamarnya lebar. Marsha masuk kedalam dan duduk di sofa. Dia menarik tangan Parish agar duduk disebelahnya.


Ya, sebenarnya Marsha juga merasakan hal yang sama. Dia merasa panas dan terbakar karena cemburu. Dan dia sekarang butuh pelukan manja tunangannya itu agar hatinya tenang.


"kamu kenapa ?" tanya Marsha.


"aku tidak suka kamu dekat kayak tadi dengan Rainy" ucap Parish manyun.


Marsha mengerti, Parish merasakan hal yang sama. Cemburu. Marsha memeluk Parish dan mencium keningnya. Dia memeluk erat bahkan terlalu erat.


"sayang, sakit" ucap Parish meringis.


"maaf, aku juga merasakan hal yang sama. Aku tidak suka Rain dekat dengan kamu, bahkan di depanku dia berani mengelus rambutmu" ucap Marsha.


Parish sangat tahu tunangannya itu bagaimana kalau cemburu. Ada emosi yang tertahan di balik nada bicara Marsha.


"maafkan aku sayang, aku sudah bersikap biasa tapi..." belum sempat Parish melanjutkan kalimatnya, Marsha melepaskan pelukannya.


"jangan lanjutkan, aku tahu. Aku selalu percaya kamu. Aku mohon, apapun yang kamu lihat.. tolong percaya aku. Dengar penjelasan langsung dari aku. Jangan mendiamkan aku lagi. Aku bisa gila, aku bisa frustasi. Aku sudah pernah bilang kan ?!" ujar Marsha menatap mata indah Parish.


Parish mengangguk, dia memegang pipi Marsha "begitu juga sebaliknya, kamu jangan terbawa emosimu. Dengarkan penjelasanku. Jangan sakiti dirimu atau pergi dari aku. Aku tidak bisa sayang, aku membutuhkanmu" ucap Parish lembut.


Marsha mengangguk. Dia mengelus rambut Parish, dia seperti ingin menghilangkan bekas tangan Rain yang menempel disana.


"jangan biarkan dia melakukannya lagi, yang berhak hanya aku dan keluargamu" ucap Marsha.


"iya sayang" ucap Parish seraya menjatuhkan dirinya pada dada bidang Marsha. Marsha memeluknya dan mencium keningnya lembut. Parish meraih tangan Marsha dan memainkan jemari Marsha.


Mereka berdua lega dan merasa tenang setelah saling bicara. Selalu begitu mudah, kalau masalah itu dibicarakan.


"sekarang kamu istirahat, aku pulang" Marsha mencium kening Parish.


Parish menggeleng, "aku janjian belajar kelompok di cafe dekat apartemen Aaron" katanya.


"dengan Starla ?" tanya Marsha dengan penuh selidik.


"iya sayang, ada Gavin juga" jawab Parish.


"baiklah, kamu mau aku antar ?" tanya Marsha.


"maunya begitu tapi kalau kamu mau pulang sekarang, ya aku ikut kak Spanish jemput Starla"


"aku yang antar kamu. Starla saja diantar tunangannya, masa tunanganku tidak" Marsha mencium pipi Parish.


"iya... tunanganku sayang. Kamu tunggu di bawah ya, aku mau mandi trus siap-siap dulu. Maukan ?" Parish tersenyum.


Marsha mengangguk, dia menepuk pipi Parish lalu pamit keluar kamar seraya menutup pintunya.


Parish bergegas menuju kamar mandi, dia tidak mau Marsha menunggu lama.


Parish duduk didepan cermin untuk berhias.


Nada pesan masuk berbunyi. Parish melihat sekilas, dari tunangannya.


Aku selalu suka kalau rambutmu digerai sayang..


cepatlah, aku menunggumu ❤


***

__ADS_1


__ADS_2