
Parish merebahkan diri di kamarnya, mereka baru saja pulang dari ziarah ke makam ibunya, boss Harry dan boss Shane Shannon. Mereka pergi bersama keluarga inti. Setelah itu singgah di Restbarr untuk mengecek persiapan pernikahan. Semua tampak sempurna, Parish dan Marsha puas dengan hasilnya.
Kamar Marsha di Restbarr pun sudah dihias dengan indahnya tidak kalah indah dengan hiasan kamar Parish di rumah Mc. Milan. Semua sesuai dengan kemauan mereka berdua.
"kamu istirahat saja Rish, tinggal sehari lagi kamu akan menjadi nyonya Marsha" kata Starla.
"aku deg-degan bintang-bintang, semua tampak sempurna. Siapa sangka cowok dingin itu akan menjadi suamiku" Parish berbinar binar.
"iya, aku bahagia untuk kamu. Sekarang cerita cintamu akan happy ending. Bahagia selamanya bersama Marsha" ucap Starla.
Bunyi ketukan pintu.
Starla bergegas menuju pintu dan membukanya. Tampak Spanish dan Kesya di depan pintu.
"aku membawa cincin pernikahan" kata Kesya seraya melangkah masuk kedalam.
Parish tersenyum.
"aku penasaran mau lihat" ujar Spanish seraya merangkul Starla masuk kedalam menuju tempat tidur adiknya.
Parish meraih kotak berwarna merah itu. Dia melihat kakaknya seraya membukanya. Tampak sepasang cincin dengan ukiran peta dunia mengelilingi cincin yang bersatu. Spanish dan Starla memandang kagum.
"waktu melihat desainnya, aku sudah membayangkan indahnya. Hasilnya luar biasa" komen Kesya.
Parish tersenyum, dia memeriksa lingkaran dalam cincinnya. Ada namanya dan Marsha di masing-masing cincin yang terukir sempurna itu.
"sesuai yang aku mau, ini indah. Bahkan Marsha belum melihat desainnya, dia percaya dengan pilihanku. Dia mau melihatnya nanti di hari pernikahan" jelas Parish.
"apa arti ukiran peta dunia di cincin itu ?" tanya Starla seraya duduk di tepi tempat tidur.
"Marsha selalu bilang, aku adalah dunianya. Dan aku akan mewujudkan itu. Aku akan menjadi dunianya, tempatnya berbagi segala keluh kesahnya dan menjadi tempatnya pulang" jelas Parish.
Spanish berjalan mendekati Parish, dia menyandarkan kepala Parish di dadanya "adik kecilku sekarang sudah jadi gadis dewasa yang romantis" katanya.
"terima kasih kakak selalu menjagaku selama ini dan terima kasih telah percaya kalau Marsha yang sanggup seperti kakak" Parish melingkarkan tangannya dipinggang kakaknya.
"Marsha akan menjaga kamu lebih baik dari aku dan aku sudah banyak melihat pengorbanannya. Berbahagialah, Marsha orang yang tepat untuk kamu" Spanish melingkarkan tangannya di pundak adiknya.
Kakak beradik itu berpelukan dengan isakan air mata bahagia, membuat Starla dan Kesya yang berada disitu melihatnya ikut merasakan keharuan.
"sudah ah, kalian berdua bikin kita nangis" ujar Starla mengusap air mata yang mengalir disudut matanya.
"iya, aku jadi pengen dipeluk seorang kakak" sergah Kesya juga turut mengusap matanya.
Spanish dan Parish saling pandang, "kak Kevin... Kesya mau dipeluk" koor keduanya.
Sontak Kesya tersipu malu. Starla yang berada disebelahnya menyikut menggodanya.
"ihhhh kalian" ucap Kesya seraya menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"kak Kevin orang baik, aku harap kalian berjodoh" sahut Parish.
Kesya hanya tersenyum.
*
Malamnya, Parish berbincang dengan Marsha melalui chat. Padahal bisa saja mereka melakukan panggilan video tapi mereka memilih menghormati kesepakatan dengan mama Jade. Itu demi kebaikan mereka juga.
Aku sudah melihat cincin pernikahan kita. Kamu mau lihat fotonya ?
Tulis Parish.
Tampak Marsha mengetik sesuatu,
Tidak usah, aku ingin semua sesuai keinginanmu sayang. Aku hanya ingin bahagiamu, karena itu bahagiaku ❤
Parish tersenyum,
Aku juga ingin hal yang sama sayang, ini bahagia kita ❤
Marsha membalas,
Terima kasih sayang, kita tidur ya. Besok kita akan memulai ritual prosesi jelang pernikahan. Love u ❤
Parish membalas,
Iya sayang, love u too ❤
*
Parish terkejut melihat kedatangan Aaron, Sasya dan juga Aarsya. Parish memeluk Sasya dengan senangnya.
"aku senang kalian bisa datang" kata Parish seraya melepas pelukannya.
"kami pasti datang, Aarsya juga ingin melihat om Marshanya bersanding di pelaminan" jelas Aaron.
"terima kasih Ron, bagaimana keadaanmu ?" tanya Parish.
"aku sangat lebih baik Rish, terima kasih untuk kalian. Begitu membuka mata, aku memiliki keluarga kecil yang menungguku" jawab Aaron.
"aku senang kalian bisa bersama. Trus kapan kalian akan meresmikannya ?" Parish memandang Aaron dan Sasya bergantian.
"secepatnya, sebelum kamu dan Marsha berangkat ke SakuraCity" Sasya tersenyum.
Parish kembali memeluk Sasya, "aku dan Marsha akan ada untuk kalian, terima kasih" katanya.
"Aarsyaaaaa" teriak Venus.
"Kak Venus" kedua bocah itu berpelukan.
"aku senang kamu datang, akhirnya aku ada teman main. Ayo kita kekamarku" ajak Venus.
"sayang, salam dulu sama orang tua Aarsya trus pamit sama mereka. Adikku kenapa lupa ya" tegur Parish.
Venus menepuk jidatnya, "maaf kakak cantik, Venus lupa"
Venus lalu menyalami Aaron dan Sasya, "om tante, boleh aku mengajak Aarsya main di kamarku ?" katanya melihat pada Aaron dan Sasya secara bergantian.
"boleh, kalian baik-baik mainnya ya" kata Aaron sambil mengusap kepala Venus.
"terima kasih om" Venus sumringah. Dengan segera dia menarik tangan Aarsya menaiki tangga menuju kamarnya.
"aku ketemu Spanish dulu ya, kalian bicara dulu berdua" kata Aaron.
"terima kasih, kak Spanish ada di teras belakang. Ayo kita ke kamarku Sya" ajak Parish.
Sasya mengangguk. Setelah Aaron mengusap punggungnya, Sasya mengikuti langkah Parish menuju kamar Parish.
*
"kamu bahagia Sya ?" tanya Parish pada Sasya. Mereka duduk bersila diatas tempat tidur sambil mengamati team dekorasi melakukan pekerjaannya.
"iya Rish, Aaron akan bekerja sambil menyelesaikan pendidikannya untuk menghidupi kami. Kami bahkan sudah tinggal bertiga di apartemennya. Walaupun masih terpisah kamar" jelas Sasya.
"aku senang dengarnya. Kalian berdua orang baik"
"aku berharap kamu dan Marsha dapat melewati semuanya dengan bahagia. Kalian harus saling mendukung dan mengerti satu sama lain. Marsha itu sangat menyayangi kamu. Aku bisa lihat dari tatapan matanya ke kamu" jelas Sasya.
"aku tahu, dan aku janji akan selalu bahagia bersama Marsha" ucap Parish memandang Sasya sambil tersenyum.
*
Hari Pernikahan ❤
Parish terus memandang Marsha yang berada disebelahnya. Rasanya semua seperti mimpi. Hari ini semua berjalan lancar. Dari prosesnya, para tamu, menu yang disajikan, hiburan dan bahkan ada tambahan penampilan Spanish menyanyi berduet dengan Starla. Persembahan khusus dari mereka untuk kedua mempelai.
Ayah Mark dan mama Jade juga memberikan kata sambutan dari kedua pihak keluarga. Semua terharu karena ayahnya dan mama Jade kembali bercerita sedikit kisah cinta yang rumit itu. Parish bahkan menghapus air mata dipipi Marsha. Ya, cowok itu meneteskan air mata. Katanya dia bahagia. Parish tersenyum seraya mengenggam jemari Marsha erat. Seakan sebagai keyakinan untuk Marsha bahwa dia akan selalu ada untuk Marsha.
Kevin juga memberikan kata sambutannya sebagai kakak angkat Marsha. Kevin terharu karena kisah cinta dari kecil secara diam-diam ini berakhir dengan bahagia.
"banyak lika liku yang mereka lewati, susah, senang, sedih, bahagia bahkan jarak pun memisahkan mereka tapi mereka bertahan dan menghadapinya bersama. Aku berbahagia untuk kalian, adik-adikku" ucap Kevin seraya menghapus air matanya.
Parish meniupkan ciuman kearah Kevin sebagai tanda terima kasihnya atas ucapan yang manis itu. Kevin membalas melakukan hal yang sama.
Marsha turun dari pelaminan menuju panggung dan memeluk Kevin. Semua bertepuk tangan dan melihat haru pada kedua saudara angkat yang saling menjaga dan mendukung satu sama lain itu.
*
"sekarang kamu sudah jadi istri, segala yang berhubungan dengan kamu harus sepengetahuan suamimu. Ingat.. ayah tidak mau dengar kamu ngambek lagi" Ayah Mark mengingatkan.
Mereka semua berada di kamar mess Marsha di lantai 3 "The SYA" RestBarr. Mereka menemui pengantin yang tengah berbahagia itu setelah selesai berganti pakaian, sebelum mereka pamit kembali kerumah Mc. Milan. Malam ini, Marsha dan Parish akan menginap di kamar Marsha.
"iya yah, Parish tidak akan ngambek tidak jelas lagi" jawab Parish seraya memandang Marsha.
"Marsha akan menjaga segala mood Parish yah" janji Marsha seraya meraih jemari Parish.
"iya, dan kamu jangan terlalu memanjakan dia. Ayah ingin dia jadi istri yang mandiri. Dulu ibunya punya keinginan seperti itu. Hanya saja, ayah yang terlalu memanjakannya" ayah Mark memandang Marsha.
"iya yah, Marsha mengerti" kata Marsha mengangguk.
"jaga adikku dengan baik" Spanish menepuk pundak Marsha.
"apa aku belum lulus test ?" tanya Marsha.
__ADS_1
"hmmm sudah sih.. tapi ini rumah tangga, beda dengan kalian pacaran. Betulkan ma ?" Spanish meminta dukungan mama Jade.
"iya sayang, kalian harus lebih kuat lagi. Harus selalu bersama dalam suka dan duka. Kalau ada apa-apa selesaikan dengan baik" nasehat mama Jade.
"iya ma, Marsha mengerti" ucap Marsha.
Mereka pun berpamitan. Marsha dan Parish memeluk semua anggota keluarga termasuk para pekerja rumah Mc. Milan, Kesya, Kevin, Aaron dan Sasya seraya mengucapkan terima kasih. Tidak lupa mengusap kepala dua orang bocah yang sudah sangat bersahabat itu. Siapa lagi kalau bukan Venus dan Aarsya.
*
Suasana sepi.. semua telah selesai berkemas. Team Kenzo EO dan team madam Vian sudah kembali ke hotel Mc. Milan. Hanya team catering restbarr yang tampak masih sibuk karena mereka juga sebagian tinggal di mess pekerja.
Parish dan Marsha masuk kedalam kamar. Mereka baru saja mengawasi dan membantu team Restbarr yang mulai beres-beres di lantai bawah. Walaupun Kevin melarangnya tapi mereka tetap membantu karena mereka sangat berterima kasih dengan segala bantuan yang Kevin dan karyawannya berikan.
"kamu capek ?" tanya Marsha seraya memijit kaki Parish yang duduk bersandar ditempat tidur.
"iya, tapi tidak apa. Aku senang" ujar Parish.
"kamu mandi dulu, tadi kamu cuma ganti baju tidak langsung mandi" kata Marsha.
"iya, kamu juga" Parish mencibir.
Marsha tersenyum, dia lalu mengangkat tubuh Parish membuat Parish kaget.
"sayang, kamu mau apa ?" tanya Parish.
"kita mandi sama-sama" kata Marsha.
"ihhhh aku tidak mau, kamu mandi duluan saja" tolak Parish.
"kenapa ? bukannya kita sudah sah, jadi tidak apa" sahut Marsha.
Parish berpikir, iya mereka sudah resmi menjadi suami istri kenapa mesti malu lagi. Akhirnya Parish mengangguk, Marsha tersenyum seraya menuju kamar mandi dengan mengendong Parish ala bridal.
*
Marsha memeluk Parish, mereka duduk bersandar ditempat tidur sambil menonton televisi.
"sayang, kita keluar makan yuk" ajak Marsha seraya melirik jam tangannya.
"iya, kita makan di bawah ?" tanya Parish.
"tidak, kamu ikut aku"
Kalimat Marsha buat Parish penasaran. Marsha mengajak Parish menaiki tangga darurat ke lantai atas menuju ke atap restbarr. Walaupun ingin bertanya tapi Parish menahannya, dia mengikuti saja kemana Marsha membawanya.
Parish memandang senang kearah meja yang di tata dengan indah teruntuk dua orang. Parish memandang Marsha, suaminya itu mempersiapkan makan malam yang romantis untuk mereka berdua.
"sayang, ini indah" ucap Parish.
"kamu lebih indah dari ini sayang" balas Marsha seraya men**** bibir istrinya.
Parish tersipu malu. Marsha lalu menarik tangannya menuju meja, menarik kursi dan mempersilahkan Parish duduk.
Mereka menikmati makan malam romantis dengan tenang tanpa banyak bicara.
Sesekali Marsha menyuapi Parish dan begitu juga sebaliknya. Parish merasa senang dengan perlakuan Marsha.
*
Parish memandang Marsha gugup, ini malam pertama mereka sebagai suami istri. Apa Marsha akan meminta haknya, dalam hati Parish belum siap.
Merasa dari tadi Parish melihat dirinya, Marsha yang duduk di sofa meletakan ponselnya di atas meja. Dia menghampiri istrinya yang berbaring diatas tempat tidur.
"ada apa ?" tanyanya naik ketempat tidur seraya membelai rambut Parish.
Parish menggeleng. Dia lantas mengatur bantalnya dan berbaring. Marsha menyandarkan badannya lalu meraih Parish masuk kedalam pelukannya.
"Tidurlah sayang, aku akan menjagamu" kata Marsha seraya mencium keningnya.
"kamu tidak tidur ?" tanya Parish menatap suaminya.
"aku akan melihat kamu tidur dulu baru aku akan tidur" kata Marsha.
"sayang, kita tidur sama-sama" Parish merajuk.
"baiklah sayangku" Marsha lalu memperbaiki posisinya, kini dia berbaring sambil memeluk Parish.
Tidak beberapa lama, mereka pun tertidur.
*
Dirumah Mc. Milan RedRose Utara
"jadi kalian akan menginap ?" tanya mama Jade.
"sebenarnya, hari ini aku mau pamit pada keluarga. Aku mau mengajak Parish ke desaku. Aku mau ziarah kemakam orang tuaku dan nenek" ucap Marsha.
Parish menoleh, semalam Marsha tidak bilang apa-apa.
"iya, mama juga heran kemarin kita ziarah, kita tidak menyempatkan diri kesana" ujar mama Jade.
"karena aku janji akan membawa Parish kesana saat menjadi istriku" sahut Marsha.
Mama Jade mangut mengerti.
"dimana desamu ?" tanya ayah Mark.
"RedRose pantai utara yah" ujar Marsha.
"cukup jauh, apa kalian akan menginap disana ?" tanya Spanish.
"nanti liat kondisinya bagaimana Nish, aku masih punya rumah peristirahatan disana. Saudara jauh nenek yang mengurusnya" jelas Marsha.
"kamu jaga Parish baik-baik" ucap ayah Mark.
"baik yah" sahut Marsha.
Parish memandang Marsha, pantas saja waktu mereka ziarah makam sebelum pernikahan tempo hari mereka melewatkan ziarah ke makam keluarga Marsha.
"setelah sarapan, sebelum kesana kalian ikut ayah" sahut ayah Mark.
"kemana yah ?" tanya Parish.
"nanti juga kamu tahu sayangku" balas Spanish mengedipkan mata pada adiknya.
Setelah sarapan semua anggota keluarga, termasuk pekerja rumah Mc. Milan dan tamu mereka yang tadi ikut sarapan mengikuti ayah Mark dan mama Jade menuju garasi belakang rumah Mc. Milan. Tampak Frey dan Grey menunggu dekat pintu garasi.
"semua sudah siap ?" tanya ayah Mark.
"sudah tuan besar, seperti yang tuan inginkan" ucap Frey.
"buka pintunya" pinta ayah Mark.
Frey dan Grey bergegas membuka pintu secara bersamaan. Mata Parish terbelalak kaget, sebuah mobil sport keluaran terbaru seperti milik Spanish hanya berbeda warna. Mobil berwarna merah menyala itu menyalakan lampu depannya. Tampak Spanish berada di dalamnya, di balik kemudi.
"ini hadiah pernikahan untuk kalian" kata ayah Mark.
"tapi yah, ini terlalu berlebihan" ucap Marsha. Parish hanya bisa memandang Marsha, dia tahu Marsha akan merasa tidak enak hati.
"sayang, ini hadiah dari kami. Apa kamu tidak mau menerimanya ?" ucap mama Jade seakan tahu apa yang dirasakan oleh putra angkatnya itu.
"sayang, boleh ya" Parish menatap Marsha.
Sebenarnya dia masih merasa tidak enak dengan hadiah dari ayah mertuanya tapi melihat wajah istrinya yang sumringah, Marsha akhirnya mengangguk. Dalam hatinya dia juga tidak ingin Parish kepanasan, kena debu dan masuk angin karena naik motor bersamanya.
"terima kasih atas hadiahnya ayah, mama, Marsha tidak tahu mau bilang apa lagi. Terima kasih" ucap Marsha.
"Mars, sekarang kamu hanya perlu menjaga Parish dengan baik dan jalankan perusahan Mc. Milan Otomotif dengan baik. Ayah yakin kamu mampu. Dan selanjutnya, ayah akan mengumumkan sesuatu" ayah Mark terdiam sejenak.
"Ayah sudah memutuskan, Rome akan menjadi asisten pribadi Marsha. Hazel akan menjadi asisten pribadi Spanish. Tobby jadi asisten pribadi Parish, sekarang dia akan bertanggung jawab kemana pun dengan Parish. Auncle, mulai sekarang auncle istirahat saja dirumah. Mengurus segala sesuatunya dirumah. Mulai besok cari orang untuk menggantikan Rome, Hazel dan Tobby" perintah ayah Mark.
"baik tuan besar. Terima kasih" auncle Tom membungkuk hormat.
Pandangan ayah Mark lalu tertuju pada Frey dan Grey, "mulai besok cari pengganti kalian. Aku ingin kalian berdua bekerja di hotel Mc. Milan, aku sudah mempunyai posisi untuk kalian disana. Kalian bisa bekerja disana sebagai kepala keamanan hotel yang bertanggung jawab langsung padaku untuk semua masalah, apapun itu. Kalian mengerti ?" tegas ayah Mark.
"mengerti tuan besar. Terima kasih" Frey dan Grey membungkuk hormat.
"Kalian semua harus mulai maju. Aku yakin kalian semua bisa jadi orang hebat" jelas ayah Mark pada para pekerja rumahnya yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu.
Semua pekerja rumah Mc. Milan berkumpul di belakang auncle Tom dan aunty Lesly, mereka membungkuk hormat "terima kasih tuan besar" koor mereka.
ayah Mark tersenyum lalu mendekat memeluk auncle Tom lalu melepaskannya seraya memegang tangan auncle Tom dan aunty Lesly secara bersamaan, "terima kasih sudah menemaniku seperti pengganti ayah dan ibuku serta sangat menjaga kedua anakku. Mulai sekarang, auncle dan aunty dirumah saja bersama aku dan Jade mengawasi anak-anak kita. Terkadang kita akan pergi bekerja tapi hanya untuk yang penting-penting saja" ujar ayah Mark.
"terima kasih tuan besar, nyonya besar" ucap auncle Tom dan aunty Lesly bersamaan.
Spanish dan Parish mendekat. Spanish memeluk auncle Tom, sementara Parish memeluk aunty Lesly.
"terima kasih selalu ada untuk kami" ucap Spanish.
"iya, terima kasih auncle dan aunty selalu mengerti manjanya Parish" Parish terisak.
"terima kasih tuan muda, nona Parish, kalian salah satu bagian terindah dalam hidup kami" ucap auncle Tom.
__ADS_1
"nona Parish akan selalu jadi kesayangan aunty" aunty Lesly memeluk Parish erat.
Rome dan Tobby pun menghampiri mereka. Kedua anak auncle Tom dan aunty Lesly itu memeluk kedua orang tuanya dari belakang karena tuan muda dan nona mereka masih dalam pelukan kedua orang tuanya.
"terima kasih kak Rome, kak Tobby" ucap Parish.
Rome dan Tobby mengusap kepala Parish seperti pada adik sendiri seraya tersenyum.
*
Perjalanan menuju RedRose pantai utara memakan waktu sekitar 6 jam. Dan seperti kebiasaannya, Parish tertidur dalam perjalanan.
Marsha yang sedang menyetir sesekali menoleh kepada istrinya. Dia mengusap pipi Parish. Rasanya seperti mimpi, gadis yang selama ini dalam hatinya kini menjadi miliknya selamanya.
Parish mengeliat, dia mencoba membuka matanya pelan. Dia memandang Marsha dengan senyuman.
"kita sudah dimana ?" tanyanya.
"kita masih di jalan, kamu lapar ?" tanya Marsha menoleh sebentar lalu kembali fokus menyetir.
Parish mengangguk, "iya sayang"
"baiklah, kita singgah makan ya" Marsha mengusap pipi Parish.
"aku mau makan seafood sayang, boleh ya" rajuk Parish.
"iya boleh tapi tidak boleh udang ya" Marsha mengingatkan.
"tapi sayang, aku mau semuanya" Parish cemberut.
Marsha tidak bersuara. Parish pun memalingkan mukanya kearah kirinya. Dia memandang keluar jendela.
Marsha memandang Parish sekilas lalu kembali fokus mengemudi. Dia tahu istrinya kembali mendiamkannya. Marsha hanya bisa geleng kepala dan tetap mencari restorant terdekat untuk tempat makan siang mereka.
*
Mobil Marsha berhenti di restorant seafood. Dengan langkah malas Parish turun dari mobil. Bahkan dia lebih dulu masuk kedalam resto. Dia memandang sekeliling, dia memilih meja dekat jendela dengan pemandangan laut.
"kamu marah sama aku ?" tanya Marsha seraya duduk didepan Parish.
"tidak apa" jawabnya singkat.
Marsha hanya geleng kepala. Tak lama pelayan datang membawa pesanan mereka. Tadi sebelum duduk, Marsha sudah memesan.
Parish melihat menu yang diantarkan. Ada udang saus tiram diantara menu. Parish memandang Marsha.
"setelah ini, kita singgah di apotik beli obat anti alergi ya" Marsha mengusap kepala Parish.
"terima kasih sayang" Parish senang, dia bahkan beranjak berdiri lalu mencium pipi Marsha.
Marsha tersenyum dan meminta Parish makan yang banyak bahkan sesekali menyuapinya.
Marsha memandang Parish, istrinya makan dengan lahap. Marsha sudah tahu alergi Parish dan dia juga sudah mencari tahu kalau Parish masih bisa mengantisipasinya dengan obat anti alergi. Tidak akan berbahaya bagi Parish.
*
Parish memandang rumah peristirahatan tepi pantai milik Marsha. Rumah panggung dari kayu itu begitu minimalis dengan tanaman bunga mawar beraneka warna dalam pot yang di tata dengan rapi di teras.
"sayang, ini indah" komen Parish.
"semua terinspirasi dari kamu sayang" jawab Marsha.
"maksudnya ?" tanya Parish menghadap Marsha.
"ada di salah satu sketsamu" kata Marsha.
Parish mencoba mengingat, Marsha langsung spontan menghentikannya "jangan di ingat kalau terlupa, aku tidak mau kamu sakit lagi" katanya.
"tidak apa sayang, aku sudah tidak sakit lagi kalau mengingat tapi aku benar-benar lupa yang mana" terang Parish.
"ada di sketsamu di kamarku. Nanti kita lihat sama-sama" kata Marsha.
Parish mengangguk. Marsha mengajaknya masuk kedalam. Rumahnya rapi dan bersih tampaknya selalu dibersihkan.
"seperti bukan rumah yang tidak berpenghuni" gumam Parish.
"aku meminta saudaraku untuk membersihkannya karena kita akan datang kesini" jelas Marsha.
Parish mangut. Marsha lalu menarik tangannya menuju ke salah satu kamar "ini kamar kita" katanya.
Parish mengamati, nuansa warna merah dan abu-abu menghiasi cat kamar. Warna kesukaan mereka berdua.
"terima kasih" ucap Parish.
Marsha memeluk Parish dari belakang "kita akan menginap disini beberapa hari sebelum kita terbang ke SakuraCity. Kamu mau kan ?" katanya.
Parish hanya mengangguk, "tapi kita tidak bisa lama sayang"
Marsha melepas pelukannya, dia memutar badan Parish agar menghadapnya "maksud kamu ?"
Parish memegang kedua pipi Marsha, "minggu depan pernikahan Aaron dan Sasya, mereka mau kita hadir disana jadi saksi hari bahagia mereka" jelas Parish.
"akhirnya mereka meresmikannya, kita akan ada disana sayang" ucap Marsha seraya menarik Parish dalam pelukannya.
*
Makan malam dengan menu sederhana hasil masakan Marsha tersaji di meja makan. Parish hanya bisa tersenyum. Dia sebenarnya bisa masak walaupun tidak terlalu jago. Jadi kalau hanya menanak nasi, menggoreng dan menumis Parish bisa. Dia belajar dari aunty Lesly karena Parish ingin seperti ibunya, walaupun bekerja tapi selalu menomorsatukan keluarga dengan mengurus urusan rumah tangga, khususnya memasak untuk suami dan anak-anaknya.
"sayang, besok-besok aku yang masak ya. Aku bisa sayang" kata Parish.
"iya, tapi kalau aku ada waktu luang ya aku yang akan masak untuk kamu" sahut Marsha.
"iya iya" balas Parish.
*
Marsha duduk bersandar di tempat tidur, dia menunggu Parish keluar dari kamar mandi.
Tak lama, Parish pun keluar dan duduk bersandar disebelah Marsha.
"sayang, kamu tidak lupa sesuatu ?" tanya Marsha lembut.
Parish menggeleng.
"janji kamu pada ayah" Marsha mengingatkan.
Parish teringat kejadian tadi siang, bagaimana dia mendiamkan Marsha hanya karena Marsha melarangnya. Padahal dia sudah janji pada ayahnya akan menjaga sikapnya sebagai istri.
"maafkan aku sayang" ucap Parish seraya tertunduk.
Marsha menaikan dagu Parish dengan telunjuknya, "jangan diamkan aku sayang, aku tidak suka. Lebih baik kamu marah-marah sama aku daripada kamu diam" katanya setelah Parish menatapnya.
"iya maaf sayang, aku sudah berkali kali diingatkan tentang ini" ucap Parish.
Marsha menarik Parish masuk kedalam pelukannya, "aku sangat mencintai kamu, kamu segalanya untuk aku, kamu duniaku seperti arti dari cincin pernikahan kita yang kamu buat. Kalau kamu mendiamkan aku, aku kesepian, sendirian" jelasnya.
"maaf sayang, aku tidak tahu kalau mendiamkan kamu sebentar tadi itu membawa pengaruh besar pada hatimu" ucap Parish.
"jangan bersikap begitu lagi sayang" ucap Marsha.
Parish mengangguk. Dia mengusap punggung Marsha dan memeluk Marsha erat.
*
Marsha menatap ketiga makam didepannya. Makam kedua orang tuanya dan makam neneknya. Kakek Marsha seorang pelaut, waktu itu terjadi kecelakaan dilautan dan kapal yang ditumpangi kakek Marsha tenggelam di lautan dan jenazah kakeknya beserta lima awak lainnya tidak pernah ditemukan. Karena itu tidak ada makam kakek Marsha diantara makam keluarga tersebut.
Parish meletakan rangkaian bunga mawar putih yang dibawanya dari rumah peristirahatan pada tiap makam.
Marsha pun duduk jongkok seraya mengusap makam ibunya.
"Marsha sangat bahagia sekarang, Marsha tidak sendirian lagi. Kalian tidak perlu khawatir lagi, ada Parish yang akan bersama Marsha, temani Marsha" ucap Marsha.
Parish ikut duduk disebelah Marsha, dia mengusap punggung tangan suaminya "Parish akan selalu ada untuk Marsha, kalian jangan khawatir. Kami akan selalu bahagia" ucapnya.
Marsha menatap Parish penuh arti. Dia mencium kening Parish lalu memeluknya erat.
*
Marsha memegang erat jemari Parish menyusuri pantai, mereka menikmati sore indah mereka menunggu matahari terbenam.
"aku bahagia memiliki kamu" ucap Marsha.
"kamu sudah banyak kali bilang itu, aku percaya sayang" ucap Parish seraya memeluk Marsha.
"nanti kita akan kesini lagi dengan membawa anak-anak kita" ucap Marsha.
"iya sayang" Parish tersenyum.
Kisah cinta ini telah menemukan akhir yang bahagia. Parish dan Marsha yang dulu merasa tidak adil karena rencana pernikahan orang tua mereka yang membuat mereka tidak bisa berharap lebih. Kini akhirnya merasakan cinta itu begitu indah dan untuk selamanya.
Cinta yang abadi dari jaman mereka masih beranjak remaja, di pisahkan oleh jarak dan ingatan Parish yang terlupa. Mereka berdua berharap hari-hari bahagia akan mereka jelang bersama anak-anak mereka kelak.
~Selesai~
__ADS_1