
Hari minggu.
Setelah mandi pagi dan sarapan, Parish kembali ke kamarnya. Dia memilih untuk bermalas-malasan dalam kamar.
Dia meraih ponselnya. Setelah lama berselancar di sosial media, dia mulai bosan. Tangannya meraih remote tivi dan mulai mencari acara yang bagus.
Tidak ada yang menarik. Katanya lalu menekan tombol off pada remote.
Dia lalu meraih buku sketsa dalam laci susun samping tempat tidurnya. Dia mulai melihat-lihat. Niatnya untuk memancing daya ingatnya tapi tidak ada efek apa-apa. Cerita dalam sketsa itu tidak memunculkan bayangan kilat dalam kepalanya. Dia pun menutup buku dan meraih boneka teddy bearnya ukuran jumbo kesayangannya. Parish pun terlelap.
*
Parish mengeliat. Dia tidak sadar sudah ketiduran. Segera dia melihat jam dinding. Sudah jam makan siang. Aunty Lesly akan masuk dalam kamarnya untuk memintanya makan siang.
Parish melirik kearah pintu masuk. Setelah bunyi ketukan, pegangan pintu bergerak kebawah. Parish mengira aunty Lesly ternyata kakaknya.
"keluar yuk" ajak Spanish mendekat ke tempat tidur Parish.
"iya, biasanya aunty Lesly yang kasih tau aku untuk makan siang. Kenapa sekarang kakak ?"
"bukan... tapi iya juga, sekalian dengan kasih tau kamu makan siang sudah siap" sahut Spanish
"aku mau ajak kamu jalan sore ini" lanjutnya.
"malas ah" Parish menutup matanya lalu meraih boneka teddy bearnya, pura-pura tidur.
Spanish tidak hilang akal dia lalu merebahkan badannya disebelah adiknya. Dia mengambil boneka teddy bear adiknya dan memeluknya. Parish kemudian mengambilnya lagi lalu memeluknya lagi. Begitu terus berulang-ulang. Sampai akhirnya...
"Ayaaahhhhhhhhh....." Parish mengeluarkan jurus andalannya.
Dari dulu, kalau dia sedang kesal pada Spanish dia selalu melapor pada Ayahnya. Dan Ayah pasti selalu membelanya.
"ihhhh beraninya main lapor" cubit Spanish.
"biar.. Ayahhhhhh Ayahhhhhh Ayahhhhhh" Parish malah tambah berteriak semaunya.
Spanish lalu menutup mulut adiknya.
"jangan, nanti Ayah dengar" katanya dengan nada pelan seakan memohon.
Parish mengangguk agar Spanish melepaskan bekapan tangannya.
"habis kakak jahil" Parish manyun.
"Kalian kenapa ?" Mark Mc. Milan tiba-tiba masuk kedalam kamar.
Spanish dan Parish saling pandang. Mereka lalu tertawa yang membuat Ayahnya tambah tidak mengerti.
"ayo makan siang" ajak Ayah masuk kedalam kamar. Dia mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur.
"iya, ini aku sekalian kasih tau Parish" sahut Spanish.
"kalian tidak ada rencana hari ini ?" tanyanya.
"tadinya Spanish mau ajak Parish keluar Yah, kebetulan libur latihan cuma anak manja Ayah ini lagi malas katanya. Aku bujuk eh malah teriak panggil Ayah" jelas Spanish.
"yeeee diralat !! bukan bujuk Yah tapi pe-mak-sa-an !!!" terang Parish sewot.
Spanish mencibir.
"kalian mau kemana ?" tanya Ayah.
"biasa Yah.. nonton, makan, jalan-jalan saja. Memangnya ada apa Yah ?" tanya Spanish.
"tadinya Ayah mau ajak kalian temani Ayah keacara launching produk ponsel terbaru Pak Clinton. Beliau pasti senang sekali ketemu kalian" terang Mark Mc. Milan.
Parish mulai mengingat-ingat. Pak Clinton itu yang punya perusahaan seluler. Beliau adalah rekan bisnis Ayahnya dari lama. Pertama kali Parish ketemu saat masuk SMA. Ayah membelikan ponsel pertamanya langsung diruang kerja Pak Clinton.
"kita sering di belikan es cream sama om Clinton waktu masih kecil" Spanish memberi tahu Parish.
"ooo tapi Parish tidak ingat yang itu kak. Parish cuma ingat ketemu mau beli ponsel" gumam Parish.
Spanish menepuk jidatnya. Dia lupa, adiknya belum sembuh. Untung saja, dia tidak langsung mengingat. Kalau dia paksa, bisa drop lagi. Pikir Spanish dalam hati.
"sudah.. jangan dipaksa, nanti juga kamu akan ingat lagi semuanya. Ayah sudah sepakat dengan dokter Steve, kamu akan diterapi lagi" terang Mark Mc. Milan.
"terapi lagi ? Ayah yakin ? Dokter bilang itu bisa jadi bumerang untuk Parish. Kemungkinan terburuk, Parish akan merasakan sakit yang berlebihan" sahut Spanish khawatir.
"iya, dulu karena kondisi Parish yang tidak stabil. Sekarang Ayah yakin, Parish sudah siap" Mark Mc. Milan memandang Parish seakan meminta persetujuan untuk ucapannya.
"iya Yah. Parish mau" sahut Parish mantap.
*
Dengan bantuan Ayah ikut membujuk, akhirnya Parish mau juga ikut jalan-jalan bersama Spanish. Ayahnya akhirnya pergi launching bersama tante Jade dan Venus atas saran dari Parish dan Spanish.
*
"ya sudah.. kalian pergi saja. Ayah akan pergi sendiri ke acara Pak Clinton"
Parish dan Spanish saling pandang. Mata mereka saling memberi kode.
"Ayahku sayang.. kenapa Ayah harus pergi sendiri" Parish merapikan kerah kaus Ayahnya.
Mark Mc. Milan tidak mengerti maksud putrinya.
"Ayah ajak saja tante Jade. Dia calon mama kita, jadi sudah saatnya mengenal kolega Ayah" ucap Spanish.
"iya, jangan lupa ajak Venus juga. Dia pasti senang" ucap Parish.
Mark Mc. Milan mengangguk setuju. Dia lalu merangkul kedua anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Bagaimana pun nanti dirinya akan punya pendamping, anak-anaknya tetap selalu menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaannya. Seandainya lalu anak-anaknya tidak setuju dengan calon istrinya, dia akan melepaskan. Tapi ternyata, dia melihat anak-anaknya menerima Jade Shannon sebagai calon ibu sambung mereka. Begitu juga Jade menerima mereka. Mereka saling menerima.
"terima kasih" ucap Mark Mc. Milan seraya memeluk erat kedua putra putrinya.
*
Parish melirik jam tangannya. Dia mulai bosan sambil sesekali menikmati es creamnya yang mulai meleleh.
Kak Spanish tunggu sapa sih. Pikirnya.
Spanish dari tadi gelisah. Sesekali dia berdiri lalu menengok kearah pintu masuk utama bioskop kota RedRose.
"kak, kita blum pilih film ?" tanya Parish seraya membuang bungkus bekas es cream ke tempat sampah yang berada tidak jauh dari tempat duduknya.
"tunggu sayang, kita tunggu sebentar lagi" ucap Spanish.
"baiklah.. tapi es creamku habis" Parish manyun.
__ADS_1
Spanish menghela nafas. Dia tahu kodenya. Parish minta ngemil lagi. Adiknya selalu bisa memanfaatkan situasi. Spanish menepuk jidatnya. Dia mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan.
"terima kasih kakak.." Parish meraih uang di tangan Spanish seraya tersenyum senang.
Dia segera menuju counter makanan. Kali ini dia pesan dua kentang goreng pedas ekstra besar, satu coklat panas dan satu cappucino untuk Spanish. Merasa sudah cukup, dia lalu kembali menuju ke tempat tadi.
*
Parish berdiri bak patung melihat pemandangan di depannya. Di tempat tadi, dimana Spanish menunggunya kini sudah ada Marsha dan Starla.
Sedang apa mereka disini. Apa kak Spanish mengajak mereka juga. Tapi kenapa kak Spanish tidak bilang padanya. Starla juga, tidak ada pemberitahuan sama sekali. Pikir Parish.
"hai Rish..." Starla melambai kepadanya.
Parish hanya memberi senyum sedikit dipaksa.
Marsha mendekat pada Parish. Dia mengulurkan tangannya.
"sini aku bantu" katanya.
Parish hanya terpana. Marsha lalu mengambil barang bawaan Parish tanpa menunggu jawaban.
"maaf kak" ucap Parish setelah tersadar barangnya sudah berpindah tangan.
"iya tidak apa" Marsha tersenyum.
"kalian tunggu dulu ya, aku dan Starla beli tiketnya" ucap Spanish seraya berlalu diikuti Starla.
Starla melewati Parish dengan wajah sumringah, lalu dia mencubit gemes pipi Parish. Parish hanya mencibir.
Tunggu saja. Kamu utang penjelasan bintang-bintang.... gerutu Parish dalam hati.
*
Marsha dan Parish menunggu Spanish dan Starla di sofa tunggu yang tadi. Parish hanya diam. Dia tidak tahu harus bahas apa dengan Marsha. Jantungnya dag dig dug. Cowok itu juga tidak memulai pembicaraan.
Sampai Spanish dan Starla datang lalu mereka menuju ke teater mereka, Parish dan Marsha tidak terlibat pembicaraan yang berarti. Diam saja saling pandang. Membuat wajah Parish memerah karena gugup.
"kalian duluan saja, aku dan kak Spanish mau beli minuman dan cemilan lagi" sahut Starla tiba-tiba seraya menunjuk snack yang berada di tangan Marsha.
"baiklah..." ucap Parish seraya berjalan duluan melewati Marsha.
*
Parish merasakan yang aneh. Sapa yang mengatur ini semua. Spanish atau Starla. Pikirnya.
Tadi di dalam teater, dia duduk bersebelahan dengan Marsha. Sekarang, makan juga begitu. Bahkan yang Parish tidak habis pikir, jalan pun dia berdampingan dengan Marsha. Si bintang-bintang (panggilan Parish untuk Starla) asyik jalan dengan kakaknya. Kayak lupa kalau mereka itu sahabatan. Kayak lupa biasanya mereka jalan berdua seru-seruan sepanjang jalan serasa milik mereka. Tapi Parish berusaha tenang. Dia harus bisa bersikap biasa, karena Marsha sepertinya tidak keberatan. Parish mulai geer.
"waaaahhh cantik" Parish berhenti di counter penjual aksesoris cewek.
Dia tampak memilih gelang batu-batuan yang tampak indah berkilau.
Marsha mendekat dia memperhatikan Parish memilih. Parish merasakan tatapan tajam tapi menenangkan itu dari sudut matanya.
Kenapa kak Marsha ikuti aku, dia kan bisa tunggu disana bersama kak Spanish. Pikirnya.
Dia mulai merasa agak tidak nyaman, bukan karena apa tapi kalau dekat Marsha bawaannya gugup dan merona bersemu merah. Lama-lama bisa ketahuan kalau dia lagi salah tingkah.
"kamu suka ?" tanya Marsha.
Parish mengangguk.
"tidak usah kak. Aku bisa beli sendiri" tolak Parish.
Marsha seakan tidak mendengar apa yang Parish bilang. Setelah menerima kembalian dari penjual, Marsha memakaikan gelang itu di pergelangan tangan kiri Parish. Setelah tersenyum memandang Parish lama, dia berlalu menyusul Spanish dan Starla yang berdiri dekat kaca pembatas.
Parish memandang Marsha yang menjauh. Dia belum sempat bilang terima kasih. Tapi kenapa Marsha jadi aneh. Dahi Parish berkerut. Dia tidak mengerti.
*
Mereka tiba di pelataran parkir mall RedRose. Mobil Spanish bersebelahan dengan motor Marsha.
Parish jadi heran. Bagaimana bisa Marsha dan Starla sampai disini apa mereka boncengan atau ketemu disini.
"kalian boncengan ?" tanya Parish akhirnya.
Starla menggeleng.
"aku diantar supir. Kebetulan ketemu kak Marsha di lift" jelas Starla.
Parish mangut.
"kamu mau pulang dengan kakak.. atau dengan Marsha ?" tanya Spanish.
Parish kaget. Bagaimana bisa kakaknya bicara seperti itu. Dia merasa Spanish tahu yang sebenarnya.
Mata Parish melirik kearah si bintang-bintang, Starla menggeleng pelan seakan memberi kode kalau dia tidak mengatakan apapun pada Spanish.
"kalo boleh... aku yang antar Parish pulang" Marsha bersuara.
Parish menoleh. Apa dia tidak salah dengar ? seorang Marsha mau mengantar dia pulang. Salah satu mimpinya jadi kenyataan.
Untuk beberapa saat Parish terdiam tidak mampu berkata-kata.
"kamu mau dek ?" tanya Spanish.
Parish jadi salah tingkah. Mau bilang mau tapi nanti Spanish curiga. Mau bilang tidak tapi dia mau, bisa di bilang dia sudah lama menginginkannya.
Parish memandang Starla seakan meminta bantuan.
Starla berpikir keras. Dia mengerti arti tatapan sahabatnya.
"sudah kak, percaya saja pada kak Marsha. Kak Marsha akan mengantar Parish pulang" ucap Starla akhirnya.
Parish lega. Memang si bintang-bintang sahabat yang pengertian. Tapi jangan senang dulu, kamu tetap kasih aku penjelasan. Ucap Parish dalam hati.
Akhirnya Spanish mengizinkan Parish pulang dengan Marsha. Dia mengantarkan Starla pulang.
*
Parish duduk di gazebo rumahnya. Dia menawarkan Marsha untuk singgah. Dan ternyata Marsha mau.
"kakak mau minum apa ?" tanya Parish.
"Apa saja, terserah" katanya.
"kalo aku kasih air sabun bagaimana ?" ucap Parish bercanda.
__ADS_1
"asal kamu senang, aku tidak apa" jawab Marsha singkat.
Parish memandang Marsha. Dia bicara apa, kenapa jadi baper begitu.
Parish lalu menuju phone penghubung di dinding gazebo, dia meminta coklat panas dua untuk dirinya dan Marsha.
Tak lama, aunty Lesly datang membawa minuman mereka. Parish memperkenalkan Marsha sebagai anak tante Jade, tapi ternyata aunty sudah tahu. Auncle Tom yang memberi tahu dirinya.
"mau sekalian aunty bawakan cemilan nona ?" tanyanya lagi.
"iya, aku mau chocochips" Parish tersenyum manja pada auntynya.
"iyaaaa... tapi ingat, habis makan...."
"gosok gigi dan berkumur-kumur. Iya aunty...." ujar Parish melanjutkan kalimat aunty Lesly.
*
Parish melirik jam di tangannya. Sudah hampir jam sebelas malam tapi kakaknya belum pulang dari mengantar Starla. Ayahnya juga belum pulang, biasanya Ayah selalu telfon kalau pulang terlambat. Sama seperti yang mereka lakukan.
"kenapa ?" tanya Marsha.
"kak Spanish belum datang" jawab Parish.
"mereka mungkin lagi duduk begini sekarang dirumah Starla" ujar Marsha.
"maksud kakak, kak Spanish ada hubungan dengan Starla ?"
"kamu tidak liat, kakakmu itu sedang pendekatan sama Starla. Dan sepertinya Starla juga suka sama Spanish" jelas Marsha.
Hmmmm kenapa kak Spanish tidak cerita. Waaahhh perasaan si bintang-bintang berbalas. Pikir Parish.
"kamu suka kalungmu ?"
Parish heran. Seharusnya Marsha menanyakan gelangnya. Bukan kalungnya.
"kalungnya cantik, gelangnya juga cantik. Terima kasih kakak sudah belikan aku gelang" ucap Parish.
Marsha mendesah. Ada sesuatu yang sepertinya mengganjal untuk dibicarakan. Parish menunggu Marsha untuk mengeluarkan kalimatnya. Tapi Marsha hanya terdiam. Dia tidak jadi bicara.
"kenapa dengan kalung Parish kak ?" tanyanya.
Marsha hanya menggeleng.
Parish mengangkat bahu.
Mungkin Marsha salah bicara. Pikirnya.
*
Mobil Ayah memasuki halaman rumah dan langsung berbelok kearah garasi. Ayah turun dan melihat motor Marsha terparkir. Matanya kemudian mencari-cari, dia melihat Marsha dan Parish duduk melantai di gazebo.
"Maaf Om.. aku ada disini" ucap Marsha seraya berdiri menyambut Mark Mc. Milan.
"kenapa bilang begitu, aku malah senang kamu main kesini. Spanish mana ?" tanya Mark Mc. Milan.
"kakak antar Starla pulang Yah" jawab Parish.
Ayah mangut lalu pamit masuk kedalam rumah. Katanya ditunggu rapat teleconfrence dari pengurus hotel di Morningbay, sebuah pulau dekat RedRose. Ayah punya hotel disana.
*
Sudah setengah jam dari jam sebelas tapi Spanish belum pulang juga. Marsha juga masih betah berlama-lama dengan dirinya.
"boleh tanya sesuatu kak ?" tanya Parish.
Marsha memperbaiki posisi duduknya.
"iya, mau tanya apa ?"
"tadi itu bagaimana bisa kakak dan Starla ada di Mall ?" tanya Parish.
Dia masih penasaran dengan jalan-jalan tadi. Seperti double date pasangan kekasih. Ya walaupun dia dan Marsha tidak ada hubungan apa-apa.
Marsha lalu menceritakan. Spanish mau mengajak Starla kencan tapi ternyata Starla maunya Parish diajak. Supaya Parish tidak bosan, Marsha diajak untuk temani Parish selama Spanish sibuk dengan Starla. Dan tadi itu, Spanish memang sengaja untuk Marsha mengantarnya pulang karena dia mau mengantar Starla pulang dan kayaknya mau langsung bilang suka pada Starla.
Parish mengerti, jadi ini semua rencananya Starla agar dia bisa jalan dengan Marsha. Starla memanfaatkan moment Spanish yang pendekatan sama dia. Sahabat terbaik, terima kasih bintang-bintang. Ucap Parish dalam hati. Setidaknya dalam hidupnya, dia merasakan moment berdua dengan Marsha serasa seperti layaknya pasangan yang sedang berkencan.
"kamu tidak suka ya ?" tanya Marsha.
Parish memandang Marsha tajam, apa maksudnya.
"kamu tidak suka kebersamaan tadi ? jangan marah pada mereka. Maaf kalo aku tadi salah" ucap Marsha.
"kakak bicara apa ? aku tidak apa-apa kak. Aku senang jalan-jalan tadi. Aku suka kalo mereka jadian. Kakakku dan sahabatku. Hanya saja, apa nanti pacar kakak tidak marah kalo tau tadi kakak jalan sama aku eh maksudnya sama kami ?" sahut Parish.
"aku tidak punya pacar" ucap Marsha.
Aku tau. Ucap Parish dalam hati.
Selama kenal Marsha dia tidak pernah melihat Marsha bersama cewek secara khusus, yang dekat dengan dia banyak tapi hanya sebagai fans. Mereka yang berada disekeliling Marsha, bahkan Marsha menganggap mereka tidak ada. Marsha cuek dan dingin. Bahkan tidak jarang Marsha bersikap sedikit kasar pada cewek-cewek itu saking tidak nyamannya. Bukannya mundur teratur, mereka malah semakin berlebihan.
"boleh aku bertanya ?" Marsha kini duduk lurus memandangnya.
Jujur saja, Parish tambah jadi salah tingkah. Dia semakin gugup.
"tanya apa kak ?"
"kenapa kamu tidak muncul dipertandingan kemarin ?"
"aku.. aku kurang enak badan" jawab Parish.
"aku jadi tidak semangat" Marsha tertunduk.
Parish menoleh. Dia tidak salah dengar, kalimat itu betul-betul keluar dari mulut Marsha. Ingin rasanya dia meminta Marsha untuk mengulang kalimatnya tapi sudahlah yang jelas hatinya berbunga-bunga.
"kenapa ?" tanya Parish.
"Ya begitu, aku tidak semangat" Marsha memandang Parish.
Oh hatiku, kenapa perasaanku jadi senang sekali begini. Ucap Parish dalam hati.
"Aku pulang ya. Bye Parish" ucap Marsha seraya berlalu menuju motornya.
"bye kak Marsha" ucap Parish menahan gejolak riang hatinya.
Berarti selama ini Marsha tahu kehadirannya di pertandingan. Dan Marsha perhatian dengan itu. Bintang-bintang... kita harus bercerita. Ucap Parish senang.
__ADS_1
***