![AIRCA [ Bride Replacement ]](https://asset.asean.biz.id/airca---bride-replacement--.webp)
Airca pulang dengan kesal menggunakan taxi, dia masuk kerumah dan melihat Bella ibu mertuanya ada di sana, dan juga ada My Prince Joshua
" Mama" Bella berdiri dari sofa dan menarik Airca untuk duduk
"Sayang, kenapa kamu bekerja hari ini? inikan hari pertama pernikahn mu, apa Antonsen yang memaksamu?"
"Tidak, aku hanya merasa bosan saja dirumah"
"Ini bukan salah kamu, ini salah Antonsen dia harusnya mengajak kamu jalan-jalan atau berbulan madu " Airca terdiam mendengar itu, bulan madu? Kata itu bahkan tidak terlintas dipikiran Airca
"Joshua" Joshua yang asik bermain Game di ponselnya menatap Bell
"Ada apa?"
"Telpon Kakakmu, minta dia kembali ke rumah "
"Tidak mau, dia tidak suka saat bekerja diganggu, nanti dia malah marah-marah samaku"
"Tidak, bilang Mama yang memintanya"
"Kak Airca saja yang telpon, pasti kak Antonsen langsung pulang "
Bella dan Joshua menatap Airca menunggu reaksia wanita itu, Airca yang ditatap sepeti itu tersenyum dengan canggung
"Aku akan menelpon Antonsen"
Dia mengeluarkan ponsel dari tas dan menghubungi suaminya.
**
Antonsen sedang ada di ruang Metting, Nick yang memegang ponsel Antonsen melihat siapa yang menelpon
Wanita menyebalkan Calling
Nick tidak tahu siapa wanita menyebalkan itu, dia menimbang apa dia mengangkatnya atau tidak, setelah berpikir panjang Nick mengangkatnya
"Hallo"
"Nyonya"
"Nick, apa aku bisa bicara pada Antonsen"
" Tuan lagi meeting Nyonya"
Airca menatap Bella yang mendengar pembicaraannya
"Bisa kamu berikan ponselnya pada Antonsen"
"Baiklah" Nick mendekati Antonsen dan memberikan ponselnya
" Nyonya menelpon tuan" Antonsen mengerutkan dahinya lalu
Dia mengambil ponsel tersebut
"Ada apa?"
"Mama memintamu pulang"
"Aku banyak pekerjaan "
"Apa pekerjaan lebih penting dariku?" Airca sungguh tidak ingin mengatakan itu, tapi demi peran yang dia jalani dia rela melakukannya.
Antonsen menahan senyumnya mendengar itu, dia tahu Airca pasti terpaksa mengatakan itu karena ada Bella disampingnya
"Tidak, kamu yang terpenting di dunia ini" Airca mengumpat dalam hati, jadi Antonsen mengajaknya bermain -main
"Maka dari itu pulang aku rindu"
Antonsen terdiam, hatinya tiba-tiba berdebar
"Antonsen" kata Airca saat tidak mendengar jawaban dari seberang telpon
"Ya, aku pulang sekarang " Antonsen mematikan ponselnya dan terdiam dengan jantung berdebar
"Tuan"
"....."
__ADS_1
"Tuan"
Dia berdiri dan pergi dari ruangan tersebut meninggalkan orang di ruangan itu dengan kebingungan.
"Sepertinya Tuan Antonsen ada keperluan, Meeting ditunda" setelah bicara seperti itu Nick menyusul Antonsen.
**
Antonsen sudah sampai di rumah dan melihat Airca dan ibunya sedang berbincang diruang tamu.
"Sayang" Antonsen langsung duduk di samping istrinya dan memeluk pinggang wanita itu, Airca yang merasakan itu menjadi tegang
Dia mencoba melepaskan pelukkan Antonsen di pinggangnya tapi pria itu malah mencium pipinya, seketika Airca menatap tajam Antonsen dengan mata penuh kemarahan
Antonsen menahan senyumnya saat melihat kemarahan Airca
"Kenapa kamu terlihat kesal? kamu bilang tadi rindu" kata Antonsen sambil mengusap naik turun punggung Airca, Airca ingin sekali berdiri dan memotong tangan jahanam itu
"Hei Mama ada disini" Antonsen dan Airca menatap Bella yang tersenyum jail pada mereka, Airca sungguh ingin berteriak kesal.
"Padahal aku tidak mau pulang tapi karena istriku merindukanku aku akan pulang kapan pun"
Airca sudah mulai jenuh mendengar kata penuh dusta dari Antonsen
"Oh iya, Mama tidak bisa lama-lama karena Mama ada janji sama teman-teman Mama, Antonsen kamu harus libur kerja selama dua minggu Mama tidak mau tahu, supaya kalian bisa segera punya baby ya"
"Iya" sahut Antonsen santai
Airca hanya diam saja tidak mengiyakan dan tidak menolak
Bella sudah pergi dan Airca dengan cepat melepaskan pelukan Antonsen yang semakin menyesakkan, Antonsen yang mendapat perlakukan itu hanya menatap santai istrinya
"Kamu harus libur kerja"
"Tidak mau"
Antonsen langsung menatap tajam Airca, Airca yang melihat itu sedikit takut
"2 minggu terlalu lama"
Airca menatap Antonsen dengan pandangan pasrah
"Mana Mama?" Airca dan Antonsen menatap arah suara tersebut
"Sudah pergi lebih dulu" sahut Airca dengan senyum manis
"Aku ditinggal lagi, ya sudah aku disini saja" Joshua duduk di samping Airca dengan perasaan lega, karena dia baru saja keluar dari toilet
Airca yang tadi sedikit sedih menjadi semangat saat melihat Joshua dari dekat
Antonsen memperhatikan Airca yang tidak mengalihkan matanya dari Joshua
"Apa kamu memiliki rasa pada adik ipar mu?" Antonsen berbicara dengan kata dan nada sindiran untuk istrinya, Airca dan Joshua menatap Antonsen yang bersandar pada punggung sofa dengan gaya angkuh
"Joshua, aku sangat kagum denganmu, kamu tampan dan juga memiliki suara yang bagus" Airca tidak perduli atas pikiran Antonsen tentangnya dan malah memuji Joshua, Joshua yang mendapat pujian itu mengusap rambutnya bangga
Antonsen kesal melihat itu, dia menarik Airca dan merangkul pundak nya hingga mereka menempel seperti lem, Airca mencoba melepaskan rangkulan itu tapi sia-sia
"Dia istriku, jadi kamu bisa pergi cari wanita lain" Airca menatap Antonsen yang menyebutnya sebagai istri, wajahnya tiba-tiba panas karena gugup
"Kenapa aku menjadi gugup saat mendengar dia menyebut aku istrinya "
"Aku sudah mulai bosan disini semenjak kakak datang, aku akan pergi sekarang, aku kabur dari pemotretan, aku rasa aku akan kembali ke sana" Joshua berdiri dan tanpa diduga dia mencium cepat pipi kiri Airca, Antonsen yang melihat itu Refleks menarik Airca kepelukan nya.
Dia menatap tajam Joshua yang terkekeh geli sambil berlalu pergi dari sana, Airca terdiam dengan mata yang lebar sambil memegang pipinya dalam pelukan Antonsen
"Joshua mencium ku, my prince"
Antonsen menatap kesal istrinya yang tersenyum tidak jelas setelah dicium Joshua
"Lepaskan tanganmu dari pipi" Airca masih memegangi pipinya yang dicium Joshua dengan hati berbunga, Antonsen bertambah kesal dan menarik tangan Airca yang menutupi pipinya
Cup
Cup
Cup
__ADS_1
Dia mengecup tiga kali pipi Airca dengan suara kecupan yang jelas ditempat Joshua menciumnya tadi, Airca mengusap kasar pipinya setelah dicium Antonsen
"Kamu memang gila! " Airca berdiri dan berlari naik ke kamar nya, sedangkan Antonsen hanya menatap kepergian Airca dengan senyum puas.
**
Antonsen masuk kedalam kamar dan melihat istrinya sedang berteleponan dengan seseorang di balkon
"Iya"
"Airca tahu, besok Airca ke rumah"
"Iya, bye Ma"
Antonsen mendekat dan berdiri disamping wanita itu
"Siapa ?"
"Mama"
"Mamu mau ke rumah Mama?"
"Kenapa kamu ingin tahu" kata Airca yang masih kesal pasal ciuman diruang tamu
"Aku hanya bertanya " Airca menghembuskan nafasnya berat dan menatap Antonsen
"Mama meminta kita ke rumah besok, aku tahu kamu tidak ingin ke sana, tapi aku mohon kali ini saja" Antonsen menghadap Airca dan menatapnya dalam
"Kamu tahu jawabannya kenapa kamu masih bertanya"
"Aku mohon, kali ini saja, aku janji kamu bisa minta apa saja padaku "
Antonsen menatap wanita yang berdiri didepan nya sambil berpikir
"Kamu yakin?"
"Iya"
"Baiklah, aku pegang kata-katamu"
"Terima kasih "
"Aku yang seharusnya berterima kasih"
Antonsen tersenyum dan pergi dari sana, sedangkan Airca mengerutkan dahinya bingung.
**
Mereka sedang makan malam bersama dalam diam, Airca menatap Antonsen yang makan dengan elegan
"Aku butuh jaminan kalau aku tidak dipecat setelah libur kerja selama 2 minggu" Antonsen menatap Airca dengan masih mengunyah
"Kamu tidak percaya padaku?"
"Mungkin"
Antonsen mengambil ponsel miliknya yang ada di atas meja dan menelpon seseorang
"Hallo Presidir"
"Aku ingin kamu memberi cuti untuk Airca Salnont selama dua minggu"
"Maaf tapi..."
"Aku tidak ingin alasan"
"Baik Tuan"
Tut..tut...
"Kamu dengarkan" Setelah itu Antonsen melanjutkan makannya
"Kamu tidak harus berbicara seperti itu pada kepala Universitas, menelpon tanpa salam dan mematikan tanpa salam, itu tidak sopan "
"Aku tidak perduli pendapatmu "
Airca menghembuskan nafasnya pelan, pria didepannya sungguh keras kepala.
__ADS_1