![AIRCA [ Bride Replacement ]](https://asset.asean.biz.id/airca---bride-replacement--.webp)
Airca menarik nafasnya panjang, mencoba untuk tenang, dia melangkahkan kakinya memasuki Universitas yang sudah lama dia impikan untuk mengajar di sana
Sam tersenyum menatap Airca yang baru saja memasuki Universitas, dia melihat wanita itu berjalan cepat mendekatinya
"Maaf, aku terlambat "
"Tidak masalah, ayo "
Airca mengikuti Sam yang berjalan lebih dulu, mata anak- anak mahasiswa menatap Airca dengan penasaran
"Apa dia mahasiswa baru?" tanya salah satu Mahasiswa pria pada temannya
"Mungkin"
Airca yang mendengar perkataan salah satu mahasiswa tersebut tersenyum
"Mahasiswa? Bahkan umurku sudah 24 tahun, apa aku masih terlihat muda"
Airca tersenyum sangat lebar, dia marasa sangat nyaman
Mereka berhenti didepan sebuah ruangan, Sam membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Airca masuk, jantung Airca berdebar, dia merasa sangat gugup
Semua mata di ruangan tersebut menatap Airca dan itu membuat Airca menjadi malu
"Perkenalkan, ini adalah Airca Salnont, pengganti Mr Peter yang aku maksud"
"Selamat pagi, aku Airca Salnont"
Orang- orang di sana tersenyum dan menyambut Airca dengan hangat
"Wah...masih muda ya, aku kira sudah berumur" seorang wanita berkacamata dengan rambut disanggul dan beberapa uban di rambutnya berbicara
"Kamu sangat hebat, bahkan kepala Universitas langsung menyetujui mu ketika Mr Sam memberitahukan tentang dirimu" kemudian, seorang pria yang terlihat seumuran dengan Papa Airca berbicara dengan nada terkesan
Airca tersenyum mendapat pujian tersebut, dia merasa dia akan betah di sana
"Baiklah Airca, aku ada kelas sekarang, jadi kamu bisa tanya wanita yang duduk di sana" tunjuk Sam pada wanita yang duduk di kursi dengan mengetik sesuatu di Laptopnya
"Baiklah, terima kasih Mr.Sam"
Sam tersenyum mendengar panggilan tersebut,
"Sama- sama Ms. Airca"
Setelah itu Sam pergi, Airca mendekati wanita yang dimaksud Sam
"Hai" sapa Airca pada wanita itu, tapi wanita itu hanya diam seakan tidak mendengar Airca menyapanya
Airca menarik kursi dan duduk di samping wanita tersebut
"Namaku Airca " tiba- tiba wanita itu membalikkan badan dengan cepat dan menatap Airca dengan memicingkan matanya
"Apa hubunganmu dengan Mr. Sam?" Airca terlihat bingung dengan pertanyaan wanita tersebut
"Maksudnya ?"
"Maksudku, kamu siapanya Mr. Sam?"
Airca mulai paham situasinya, sepertinya ada yang sedang cemburu.
"Tidak ada, hanya sebatas teman saja"
"Bohong "
"Memangnya kenapa ?" mendengar pertanyaan Airca membuat wanita itu tersentak dan memutar kembali posisi duduknya, dan kembali mengetik di Laptopnya
Airca tersenyum melihat itu, dia tahu wanita itu gugup dan merasa tidak nyaman
Airca mendekatkan wajahnya dan berbicara pelan
"Kamu suka sama Mr. Sam ya?"
"Tidak! Siapa yang suka dengannya " Airca semakin tersenyum dan menjulurkan tangannya
"Aku Airca, pengajar pengganti Mr Peter"
Wanita itu hanya memandangi tangan Airca dan kemudian memandang wajahnya
"Aku sudah akan menikah bulan depan, jadi aku dan Mr. Sam tidak mempunyai hubungan seperti yang kamu pikirkan "
Mendengar perkataan Airca membuat wanita itu tersenyum cerah, dan membalas jabat tangan Airca dengan erat
"Aku Luna, pengajar Mata Kuliah Kimia"
Airca tersenyum dan memeluk Luna, Luna kaget dan membalas pelukannya, Airca yang menyadari kecanggungan diantara mereka melepaskan pelukannya dengan pelan
"Maaf....aku terbiasa memeluk orang "
"Tidak masalah, mulai sekarang kamu bisa bertanya padaku, Ok"
"Ok, tapi jujur dulu, kamu suka Mr. Sam kan?"
"Hush....diam nanti ada yang dengar "
__ADS_1
"Semua orang di ruangan ini juga tahu, kalau kamu menyukai Mr. Sam" Airca dan Luna menatap orang yang berbicara
Wanita dengan rambut hampir sepinggang yang terurai, dan lipstik merah yang tebal, dan dengan matanya yang tajam
"Lebih baik kamu diam saja" Luna berbicara dengan nada tidak senang
Wanita itu mendekati Airca dan Luna
"Lebih baik, kamu jauh- jauh dari nya, dia hanya tahu meracik racun saja" setelah berkata seperti itu, wanita itu pergi dari sana
Luna memegang pulpennya dengan erat hingga terbelah jadi dua, Airca yang melihat itu menatap Luna dengan sedikit takut
"Kamu, aku kasih tahu ya, jauh- jauh dari wanita itu, dia sangat berbisa" Luna berbicara dengan nada yang sangat kesal
"Memangnya dia siapa ?"
"Dia itu guru Psikologis, tapi otaknya sendiri terganggu "
Airca tersenyum dan mencoba menenangkan Luna
"Sudah, jangan terlalu emosi, kamu bisa meracik racun untuk Membunuh nya " Luna menatap Airca yang berbicara dengan santai, Airca tersenyum dengan mengangkat alisnya, Luna tersenyum dan mulai tertawa
"Astaga...aku tidak menyangka, aku akan menemukan teman yang cocok denganku"
***
Airca menarik nafas panjang dan menghembuskan nya berkali- kali, dia sekarang sedang berdiri diruang kelas, tangan Airca sudah berkeringat karena gugup
Airca mendorong pintu tersebut dan semua mata mengarah padanya, dia mencoba bersikap tenang dengan tersenyum dengan manis
Dia meletakkan bukunya di atas meja dan berdiri didepan semua mahasiswa
"Selamat pagi"
"Selama pagi!" kaki Airca rasanya bergetar tapi tidak bisa, dia harus berani
"Ada yang sudah kenal saya?"
"Maaf, kamu murid baru ya?" tanya salah satu mahasiswa wanita
Airca tersenyum dan menggeleng
"Tidak, saya Airca Salnont pengganti Mr Peter"
Semua orang di sana kaget, bagaimana mungkin, wanita muda didepan mereka ada seorang pengajar
"Ada pertanyaan?"
"Apa Ms. Airca mempunyai kekasih?" tanya Mahasiswa pria, dan langsung mendapat sorakkan dari temannya
"Ya, sudah punya kekasih" mahasiswa yang tadi bertanya merasa kecewa
"Gary, kamu sama Cindy saja" pria yang tadi merasa kecewa langsung menatap temannya nyalang
"Lebih baik aku sendiri selamanya dari padanya dengan dia"
"Hei! Kamu pikir aku mau denganmu" wanita bernama Cindy berbicara keras merasa tersinggung
Airca tahu ini semua tidak akan selesai dengan cepat
"Sudah, jika kalian masih ingin berdebat, kalian bisa berdebat diluar"
Wanita yang bernama Cindy itu diam dan menatap tajam pria yang tadi, Gary juga tak kalah tajam menatap Cindy, Airca hanya menggelengkan kepala dan memulai pelajarannya
**
Airca keluar dari ruangan, dia merasa ini tidak sesulit pemikirannya, dia menatap jam tangannya dan teringat akan sesuatu
" Ya Tuhan! Aku harus mengambil cincinnya"
**
Airca mengatur nafasnya setelah dia tepat berada didepan toko perhiasan yang dimaksud Antonsen
Dia masuk dan langsung disambut ramah pemilik toko tersebut
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Hemm...ya, saya ingin mengambil cincin atas nama Antonsen Carl"
"Maaf anda siapa Mr Antonsen ya?" Airca terdiam, tidak menyangka Antonsen tidak mengatakan bahwa dia calon istrinya
"Saya calon istrinya "
"Hah? Benarkah ? Maafkan saya Nona, setahu saya bukan anda calonnya " Airca sudah hampir menangis karena dia memang sensitive dengan banyak hal, apalagi dengan apa yang sekarang terjadi
"Kalau bisa anda telpon Mr Antonsen dulu Nona, untuk memastikan" Airca merasa sangat sedih, dia mengeluarkan ponselnya dari tas dan menelpon nomor Antonsen, tapi pria itu tidak mengangkatnya
Airca menatap sendu pegawai toko tersebut
"Dia tidak mengangkatnya "
"Kalau begitu maaf Nona kami tidak bisa memberikan cincin itu pada Anda "
__ADS_1
Airca mengangguk paham
"Baiklah terima kasih " Airca pergi dari sana dengan perasaan terluka, dia tahu semua orang tahu bahwa Antonsen akan menikah dengan Angel bukan dengan nya, jadi wajar saja orang tidak percaya padanya saat dia bilang dia calon istri Antonsen
"Aku sudah jauh- jauh kesini tapi tidak bisa membawa cincin itu"
**
Antonsen yang baru saja keluar dari ruang metting meminta ponselnya pada Nick asisten pribadinya
Nick memberikan ponsel tersebut, dan Antonsen menatap layar ponslenya
Panggilan tidak terjawab dari Airca
"Kenapa wanita ini menelpon ?"
"Kenapa kamu tidak mengangkatnya ?" tanya Antonsen pada Nick
"Maaf tuan, bukannya Anda berpesan untuk tidak mengganggu anda"
"Tapi setidaknya kamu mengangkatnya dan mengatakan apa yang wanita itu ingin kan "
"Maafkan saya tuan"
Antonsen tiba di ruang nya dan meminta Nick keluar, Antonsen menatap ponsel nya dengan ragu
"Apa aku telpon balik ya?"
Dan saat itulah ponselnya berdering, Antonsen pikir Airca yang menelpon ternyata pemilik toko perhiasan tempat dia memesan cincin
"Mr Antonsen "
"Ya ada apa?"
"Begini, tadi ada seorang wanita yang datang mengaku sebagai calon istri anda dan ingin mengambil pesanan cincin"
Antonsen mengerutkan dahinya, apa Airca yang datang?
"Lalu?"
"Dia terlihat berbeda dengan wanita yang pernah datang kesini"
"Jadi apa yang kamu lakukan pada wanita itu?"
"Aku meminta dia menelpon anda, tapi dia bilang anda tidak mengangkat nya, saya tidak percaya dan memintanya pergi "
"Apa kamu bodoh, harusnya kamu menelpon Asistenku untuk bertanya"
"Maaf tuan, saya sungguh tidak tahu karena wanita itu berbeda...."
"Saya sungguh kecewa pada anda tuan Holand, saya akan menarik semua investasi saya dari toko perhiasan anda"
"Tunggu tuan, maafkan saya"
"Saya kasih kamu kesempatan cari wanita itu dan minta maaf padanya "
Tit....
Sambungan telpon langsung diputuskan Antonsen, Antonsen merasa sedikit kesal mendengarnya, entah kenapa.
**
Airca menunggu di halte bis agar dia bisa kembali ke Universitas
Driing....
Airca mengambil ponselnya dan melihat Sam menelpon, dia langsung mengangkatnya
"Ya ada apa?"
"Kamu kemana? Kamu masih ada jam mengajar 30 menit lagi"
"Maaf, aku keluar sebentar untuk mengambil cincin pernikahan ku"
**
Antonsen menatap kesal ponselnya
"Apa yang dilakukan wanita itu hingga tidak bisa dihubungi?"
Airca baru saja akan naik bis saat seseorang memanggilnya
"Tunggu Nona" Airca berbalik dan melihat pemilik toko perhiasan yang tadi dia temui
Airca menatap pria tersebut bingung, apa dia menemui pria itu atau tetap naik bis karena bis sudah akan berlalu
Airca memutuskan untuk turun dan menghampiri pemilik toko tersebut
"Ada apa?"
"Maaf Nona...maafkan saya" pria yang hampir setengah abad itu memegang tangan Airca dengan erat memohon dengan sangat keras, Airca merasa tidak nyaman dan menarik tangannya
"Tidak masalah, aku mengerti "
__ADS_1
"Terima kasih Nona".