AIRCA [ Bride Replacement ]

AIRCA [ Bride Replacement ]
24


__ADS_3

Angel merenung diruanganya berpikir cara untuk menyingkirkan Airca


" Hah! Sial kenapa hanya memikirkan wanita itu saja sudah membuat ku kesal" Angel berdiri saat melihat Louis masuk kedalam ruangan nya


" Papa" Louis masuk dengan wajah datar dan duduk disisi ruangan, Angel mendekati Louis dan duduk disamping nya


" Ada apa Papa menemuiku? " Louis menatap Angel dan menarik nafasnya pelan


" Apa saja yang kamu lakukan? "


" Maksud Papa? "


" Keuntungan perusahaan kita turun dari 70% menjadi 30% itu hal yang buruk bagi kita" Mendengar itu Angel mencirikan bibirnya kesal


" Kenapa Papa malah menyalahkan aku?"


" Kamu sudah lima tahun menjadi wakil Papa, tapi tidak ada kemajuannya"


" Jadi mau Papa apa? Menggantikan aku dengan Airca? " Louis merasa tersinggung dengan perkataan Angel, ini juga salahnya yang selalu memaklumi sikap buruk Angel


" Iya, bila kamu masih bersikap semena- mena, Papa akan menjadikan Airca wakil  Direktur "


Amarah Angel naik dan langsung menatap tajam pada Louis


" Papa memang ingin menyingkirkan akukan? aku tahu aku bukan anak kandung kalian, makanya kalian pilih kasih padaku kalian lebih menyanyangi Airca, aku benci kalian semua " Louis kaget mendengar itu, bagaimana mungkin Angel tahu semua itu, hal itu adalah Rahasia yang tidak boleh terungkapkan


" Angel..... "


" Aku tidak mau melihat Papa, aku minta Papa keluar dari ruangan ku"


" Angel dengarkan perkataan Papa dulu"


" Keluar! " Louis menghembuskan nafasnya berat dan keluar dari ruangan Angel, dia akan menjelaskan semuanya saat Angel lebih tenang


" Sial!! " Angel berteriak marah dan membanting vas bunga kecil diatas mejanya, lalu dia menghamburkan semua kertas dokumen diatas meja hingga semua berserahkan dilantai


" Lihat saja kalian semua! Lihat apa yang akan aku lakukan pada putri kesayangan kalian itu"


**


Antonsen sibuk dengan banyaknya pekerjaan yang harus dia lakukan, bahkan dia tidak sempat untuk makan siang, Antonsen melihat jam ditanyanya


" Airca pasti sedang makan siang sekarang" Antonsen kembali membaca dokumen diatas meja


**


Airca tertawa pelan saat melihat Sam memilih duduk di samping Luna, sedangkan Luna terlihat gelisah dan tidak nyaman, sekarang mereka sedang makan siang bersama


Mona tidak ada kerena Airca sengaja tidak mengajak Mona untuk ikut, pasti wanita itu kesal saat tidak menemukan Sam di Universitas


Airca memberikan Luna makanan pedas untuk melihat reaksi Sam karena dia tahu Luna tidak tahan dengan makanan pedas


" Luna kamu ingin mencobanya? " Luna menatap Airca dan terlihat ragu dengan makanan milik Airca


" Ini tidak pedas " Kata Airca menyakinkan


Luna mengangguk dan menerima suapan dari Airca, Airca menahan senyumnya melihat itu, Luna mulai memakan dan wajahnya tiba -tiba menjadi merah


" Pedas! Pedas, air..... . " Sam yang melihat Luna kepedasan memberikan minumannya dengan cepat

__ADS_1


" Cepat minum" Luna minum dengan cepat hingga air itu tak tersisa, Sam yang melihat Luna seperti itu menatap kesal pada Airca


" Kamu ini bagaimana? Luna itu tidak bisa makan makanan pedas" Kata Sam dengan wajah sedikit marah pada Airca, Airca ingin sekali tersenyum tapi dia menahannya,


" Kamu baik-baik saja kan? " Tanya Sam pada Luna, Luna terdiam dengan sikap perhatian Sam


" Lain kali dirasakan dulu baru dimakan, minum lagi" Sam kembali mengarahkan minuman milik Luna pada wanita itu, Luna dengan masih tidak percaya minum dengan masih menatap Sam


" Mereka sangat lucu"


**


Airca sedang bersiap- siap untuk pulang, dan saat itu juga ponselnya berdering


" Hallo "


" Ya ada apa? "


" Aku akan menjemputmu jadi tunggu aku"


" Tidak perlu, aku bisa naik taxi"


" Kamu berani membantah? " Terdengar suara tegas dari seberang telpon,


" Ya baiklah" Airca memasukkan ponselnya kedalam tas dan keluar dari ruangan


Diparkiran dia melihat Luna yang berdiri disamping mobilnya


" Kamu belum pulang? " Tanya Airca


" Iya, aku menunggu Mr Sam"


" Mr Sam? "


" Kan ada Ms Mona, biasanya mereka pulang bersama" Luna mengangkat bahunya tidak mengerti, dan saat itu Sam keluar bersama Mona


Sam tersenyum mendekati Luna


" Ayo"


" Mr Sam pulang sama saya saja" Kata Mona


" Tidak, aku sudah bilang pada Ms Luna kalau aku akan menumpang mobilnya " Sam menarik Luna untuk masuk kedalam mobil, Mona menggeram kesal dan menatap tajam pada Airca yang melihatnya


Airca sedikit takut melihat itu, seakan Mona ingin mencakarnya, Mona berjalan kesal kearah mobilnya dan pergi lebih dulu dari sana


" Ms Airca, kamu ikut kami saja" Kata Luna,  Airca sungguh tidak ingin mengganggu waktu mereka, lagian dia juga menunggu Antonsen


" Tidak, Terima kasih sebenar lagi suamiku datang"


" Baiklah, kalau begitu, kami duluan, selamat tinggal Airca"


" Ya hati-hati" Mobil Luna pergi dari sana, Airca menatap jam ditangannya


" Sekarang sudah jam 7 dimana Antonsen? " Airca melihat cahaya mobil dari kejauhan dan tersenyum


" Itu dia baru saja diucap " Mobil itu semakin dekat dan berhenti didepan Airca, Airca tersenyum dan mendekat


Tiba-tiba keluar dua orang pria bertubuh kekar menarik Airca masuk kedalam mobil, Airca kaget dan syok dengan itu

__ADS_1


" Siapa kalian? Mau apa? Lepas! " Salah satu pria dengan setelan hitam merasa terganggu dengan suara Airca, dia mengeluarkan sebuah sapu tangan dan membekap mulut Airca, Airca memberontak dan tak lama kesadarannya menghilang


**


Antonsen sudah sampai didepan Universitas dan turun dari mobilnya


" Dimana wanita itu? " Antonsen mencoba menelpon Airca tapi nomornya tidak bisa dihubungi


" Ini karena macet hingga aku terlambat menjemputnya, biarlah mungkin dia sekarang sudah sampai dirumah" Antonsen masuk kembali kedalam mobil dan pergi dari sana


Antonsen pulang dan langsung berteriak memanggil nama Airca


" Airca! "


" Airca! " Salah satu pelayan mendekati Antonsen


" Maaf Tuan, Nonya belum pulang "


" Apa! " Antonsen menggeram kesal mendengarnya berpikir kalau Airca pergi jalan-jalan bersama Jane


Antonsen mengeluarkan ponselnya dan kembali menelpon Airca tapi nomonya tidak aktif


" Sial, lihat apa yang akan aku lakukan saat kamu pulang nanti"


Antonsen naik ke lantai atas dan membuka pintu kamar dengan keras


"Sudah aku bilang untuk menunggu, tapi dia malah pergi entah kemana? Sepertinya dia ingin bermain-main, lihat hukuman apa yang akan aku berikan"


Antonsen masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri


**


Airca membuka matanya dengan perlahan dan melihat dia berada di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang, Airca mencoba menggerakkan tangannya tapi tidak bisa karena dia terikat disebut kursi kayu dengan mulut tersumpal sapu tangan


" Heeeemmmmm.. . " Airca mencoba melepaskan ikatan pada tanganya tapi  sulit karena ikatan itu sangat kuat, Airca kembali mencoba tapi tetap tidak bisa, Tiba-tiba mata Airca menatap arah pintu yang dibuka dengan kasar dari luar, Airca menyipitkan matanya mencoba memperjelas pengelihatan nya karena cahaya minim diruangan tersebut


Orang tersebut mendekat dan menarik kursi disudut ruangan dan meletakkan nya didepan kursi Airca ditahan, Airca masih belum bisa melihat siapa orang tersebut karena dia menutupi wajahnya dengan tutup kepala switer yang dia kenakan


Airca mencoba untuk tenang dan tidak berontak dia sangat penasaran siapa orang tersebut, dilihat dari postur tubuhnya dia terlihat seprti seorang wanita


Wanita yang duduk didepan Airca mengangkat kepalanya, Airca dengan intens menatap orang tersebut, melihat antusiasnya Airca akan dirinya, wanita itu tertawa sinis didepan Airca, Airca sempat kaget mendengar tawa itu, dia kenal, bahkan sangat kesal suara tersebut tapi dia menyangkalnya


"Tidak, dia bukan kak Angel, aku nyakin!!"


Wanita itu membuka tudung kepalanya dan seketika darah Airca berhenti mengalir, mata Airca terbuka besar menatap sosok tersebut


" Hahahhahah" Wanita itu Tertawa besar dan berdiri dari kursi nya dia berjalan mendekati Airca dan membelai wajahnya, naik keatas dan langsung menjambak rambut Airca hingga kepala Airca terdorong kebelakang


Angel menatap tajam Airca dan menampar pipinya, tidak terdengar suara teriakkan kesakitan dari Airca setelah ditampar, bukan karena ada sapu tangan di mulutnya tapi karena sakit tamparan itu tidak seberapa dengan sakit dihatinya


" Kak Angel. . . " Hanya air mata yang mengalir mewakili kesakitan dihati Airca, dia menatap sedih pada Angel yang tersenyum sinis padanya


" Aduh....kasihan sekali, anak kesayangan Papa dan Mama menangis, cup... Cup..., sabar ya, karena ini belum seberapa dengan apa yang akan terjadi selanjutnya


Angel bertepuk tangan dua kali dan masuklah dua orang dengan tato yang banyak di badannya


"Lakukan apa pun yang kalian inginkan pada wanita ini " Setelah berkata seperti itu Angel keluar dengan santai dari sana


" Tidak, tidak! Kak Angel!! Jangan tinggalkan aku!! Airca hanya bisa berteriak di dalam hati karena mulutnya dibekap dengan sapu tangan

__ADS_1


Dua pria tersebut tersenyum penuh nafsu pada Airca yang terlihat lemah di mata mereka


" Ayo kita nikmati malam ini sayang" 


__ADS_2