![AIRCA [ Bride Replacement ]](https://asset.asean.biz.id/airca---bride-replacement--.webp)
Antonsen berjalan mondar mandir merasa khawatir karena Airca belum juga kembali
" Ck kemana wanita itu? " Antonsen duduk dengan kesal disisi ranjang lalu Antonsen mengambil ponselnya diatas nakas
" Hallo Nick"
"Iya Tuan"
" Kirimkan nomor teman istriku yang bernama Jane yang pernah menjenguk istriku waktu dirumah sakit, aku tunggu dalam 10 menit"
Antonsen mengusap rambutnya risau, dia merasa tidak tenang sama sekali, dia berdiri dan berjalan kearah balkon kamar
Tak lama masuk pesan dari Nick, Antonsen membuka pesan tersebut dan melihat nomor ponsel disana
Antonsen langsung menelpon nomor yang dikirim kan oleh Nick
" Hallo" Terdengar suara Jane dari seberang telpon
" Mana Airca? "
" Ini siapa? Kenapa bertanya tentang Airca? "
" Aku Antonsen, mana istriku ?"
" Bagaimana kamu bisa mendapatkan nomor ponsel ku? "
Antonsen menghembuskan nafasnya kesal mendengar Jane yang bertanya hal tidak berguna
" Apa kamu bersama Airca? "
" Tidak, aku tidak bersama dia, aku sekarang sedang lembur di tempat kerja" Mendengar itu Antonsen semakin gelisah
" Dia tidak bersama Jane"
" Baiklah kalau begitu, selamat malam "
Antonsen mematikan sambungan telepon tersebut dan langsung menelpon Nick
" Nick, cari tahu dimana keberadaan istriku, dia menghilang, aku rasa ada seseorang yang menculiknya "
" Bagaimana dengan ponselnya Tuan? "
" Tidak bisa dihubungi, kamu hubungi Morgan, minta dia melacak istriku"
" Baik Tuan " Antonsen bersandar pada lemari di sampingnya
" Sial, jika memang ada yang berusaha menyakiti istriku orang itu akan mati ditanganku"
Antonsen dengan cepat mengangkat ponselnya yang berdering
" Tuan, Nyonya ada di sebuah gedung kosong bekas pabrik, dia daerah kawasan pinggiran kota" Antonsen berdiri dengan menggenggam erat tanganya merasa sangat marah mendengar itu
" Kamu tunggu saya, ajak Morgan dan anak buahnya, kita pergi bersama"
" Baik Tuan"
**
Airca menatap takut dua orang tersebut yang semakin dekat dengannya, Airca menggeleng kuat dengan air mata yang mengalir deras di pipi nya hingga membasahi sapu tangan yang menutupi mulutnya
Salah satu pria itu tertawa melihat wajah Airca yang sangat ketakutan
" Jangan takut sayang, aku akan memperlakukan mu dengan lembut" Kata pria tersebut sambil membelai wajah Airca, Airca memejamkan matanya kuat-kuat merasa sangat takut dengan apa yang akan terjadi
" Aku yang pertama" Kata salah satu pria dengan tato ular ditanyanya
" Tidak bisa, wanita ini terlihat masih polos, aku lebih dulu"
" Kalau aku bilang aku yang pertama, maka harus aku" Tekan pria tersebut dengan tegas
" Ya baiklah" Pria tersebut tersenyum dan mulai menyentuh wajah Airca kembali, Airca sungguh kesal melihat kedua orang tersebut yang seakan menganggapnya seperti wanita tidak berharga
Airca menggigit tangan pria yang menyentuh wajahnya
" Ahggtthh....sial! Wanita murahan " Pria tersebut berteriak keras dan menampar pipi Airca dengan keras
Plakkkk
Wajah Airca terlempar kesamping karena kuatnya tamparan tersebut, pipi Airca berdenyut dan memerah dengan bekas tapak tangan pria tersebut
__ADS_1
" Beraninya kamu menggigit ku, aku awal nya ingin melakukan nya dengan lembut tapi kamu rupanya lebih suka kekerasan " Pria tersebut mendekatkan wajahnya ingin mencium Airca, Airca menggeleng kan kepalanya dengan cepat, semakin dekat hingga terdengar suara gaduh dari luar
Pria tersebut menarik dirinya dan berdecak kesal
" Periksa apa yang terjadi di luar " Teman pria tersebut mengangguk dan pergi keluar, pria tersebut menatap tajam kearah Airca
" Kamu tunggu saja, kamu akan habis ditanganku" Airca membuang wajahnya tidak ingin menatap wajah pria itu, melihatnya saja sudah membuat Airca sangat takut apalagi dengan apa yang akan terjadi padanya
Airca dan pria tersebut kaget setelah mendengar tembakkan dari luar
Doorrr..... Dorrrr....
Pria tersebut dengan cepat berjalan keluar dari ruangan tapi terhenti saat pintu dibuka lebih dulu dari luar
Pintu terbuka dengan tendangan yang kuat hingga salah satu engsel pintu tersebut terlepas
Antonsen masuk dengan wajah penuh kemarahan sambil tanganya memegang pistol, dia menatap Airca yang kaget sekaligus senang melihat
" Antonsen " Antonsen menatap pria didepan nya yang memandang kearahnya dengan tenang
" Siapa kamu ? " Tanya pria tersebut
" Aku malaikat mautmu"
" Hahahha" Pria tersebut tertawa besar mendengar itu
Dor...
Antonsen dengan cepat menembak bahu pria tersebut, pria tersebut menyentuh bahunya dengan menatap tajam kearah Antonsen, sedangkan Airca menutup matanya merasa takut melihat darah yang mulai keluar dari bahu kanan pria tersebut
" Itu karena kamu berani mengambil milikku"
" Berengsek!! " Teriak keras pria tersebut
Dorrr..
Antonsen kembali menembak bahu kiri pria itu dengan pandangan santai
" Ini karena kamu menyentuh milikku"
Antonsen kembali mengangkat pistolnya, Airca yang melihat itu menggeleng sambil menatap Antonsen, dia menggerakkan badannya hingga kursi bergeser
Antonsen melihat Airca yang bergerak dengan tak beraturan, Antonsen mendekati Airca dan membukan tali di tangan dan kakinya, dia juga membuka sapu tangan yang menutupi mulut Airca
" Jangan bunuh dia" Airca berkata dengan memohon, tapi fokus Antonsen bukan pada perkataan Airca tapi dengan bekas luka yang ada di pipi dan bibir Airca, Antonsen mengusap luka di pipi Airca
" Siapa yang melakukan nya? " Tanya Antonsen dengan menahan amarah didadanya, Airca hanya diam saja
" Apa ******** itu! " Tunjuk Antonsen pada pria dengan tato ditubuhnya yang sekarang sedang berusaha kabur dari ruangan tersebut
" Antonsen.... "
" Berengsek!! " Antonsen menembak kaki pria tersebut yang sudah berjalan menuju pintu keluar
" Antonsen! Jangan bunuh dia" Antonsen menatap Airca dan mengusap pipinya
" Kamu terluka "
" Aku tidak apa-apa"
" Kamu terluka bagaimana bisa tidak apa-apa?! Aku akan bunuh pria itu" Antonsen berdiri dan ingin mendekati pria tersebut yang sedang menyeret kakinya masih berusaha pergi dari sana
" Jangan, Antonsen... " Antonsen sungguh sangat marah dan kembali menembak kaki kanan pria itu
Pria tersebut kembali berteriak untuk keempat kalinya, Antonsen menurunkan Airca dari kursi dan mendudukkan nya dibawah
" Maafkan aku" Antonsen meminta maaf dan mencium dalam wanita itu, Airca hanya tersenyum sebelum dia menutup matanya

*
A
ntonsen menatap Airca yang terbaring diranjang rumah sakit, dia merasa sangat sakit melihat wanita itu yang terlihat trauma dengan apa yang terjadi
Nick masuk dan Antonsen menatap Nick yang mendekati nya
" Kamu sudah temukan siap pelakunya? "
__ADS_1
" Sudah Tuan"
" Suruh Morgan menghabisi orang tersebut "
Nick terdiam mendengar itu, Antonsen menatap Nick yang tampak ragu untuk bicara
" Ada apa? "
" Tuan juga terluka, saya akan panggilan kan dokter untuk mengobati Tuan" Nick mengurung niatnya dan pergi keluar dari sana
Antonsen kembali menatap Airca dengan pandangan sayang
" Aku harap bukan Angel pelakunya, jika memang dia yang melakukan nya, aku takut kamu kembali terluka"
**
Airca membuka matanya dan melihat sekeliling ruangan tersebut, Airca mendudukkan dirinya dan melihat Antonsen yang masuk ke ruangannya
" Kamu sudah bangun" Antonsen berjalan mendekati Airca dan duduk di samping nya
" Bagaimana perasaanmu? " Tanya Antonsen sambil mengusap pipi Airca, Airca menatap Antonsen dan menyentuh tangan Antonsen yang di pipi nya
" Aku baik-baik saja, Terima kasih "
" Apa yang kamu katakan, ini sudah tugasku sebagai suamimu " Airca terdiam mendengar hal itu, Antonsen tersenyum dan mencium bibir Airca
Cup

Antonsen melumat pelan bibir Airca dengan kecupan lembut, setelah berberapa detik dia menarik dirinya, di menatap Airca dan tersenyum
" Kamu tidak membunuh pria itu kan? " Tanya Airca yang ingat akan kejadian penculikan nya
" Tidak, karena aku sangat mencintaimu"
" Huh? " Airca merasa pendengarannya terganggu hingga dia mengusap kupingnya, Antonsen yang melihat itu tersenyum lebar
" Apa kamu lapar? " Airca menatap Antonsen yang bertanya padanya
" Aku hanya ingin pulang "
" Boleh tapi cium dulu " Airca merasa kuping nya benar- benar bermasalah
" Antonsen tapi kamu tidak bilang pada kedua orang tuaku kan? Aku takut mereka nanti akan sangat khawatir " Kata Airca dengan santai mengalihkan pertanyaan, Antonsen menghembuskan pelan nafasnya
" Wanita ini, kenapa dia begitu manis? "
" Tidak" Airca tersenyum dan menyentuh tangan Antonsen
" Terima kasih "
" Maka dari itu cium aku sebagai bentuk Terima kasih " Airca terdiam mendegar itu, dia rasa dia tidak salah dengar lagi sekarang, Antonsen merasa kesal untuk menunggu dan langsung mencium Airca

***
Airca sudah pulang dari rumah sakit dan sedang berbaring diatas ranjang, Antonsen masuk dan duduk disamping Airca

" Ada apa? " Tanya Antonsen, Airca menatap Antonsen
" Tidak, aku hanya merasa penasaran siapa yang melakukan itu padaku " Kata Airca dengan pandangan datar, tapi didalam hatinya dia sangat terluka, memikirkan kakaknya pelaku penculikan nya, tapi dia berpura-pura tidak tahu agar Antonsen tidak melakukan apa-apa pada Angel, Antonsen tersenyum dan mencium kening Airca
" Jangan dipikirkan, biar aku yang mengurus nya, aku jamin dia tidak akan berani menyentuhmu, bahkan seujung jari sekalipun " Antonsen sudah tahu siapa pelaku dibalik semuanya, dia tidak ingin Airca sedih dan menyalahkan dirinya sendiri, Airca tersenyum kecil mendengar itu
" Tidak masalah, aku memaafkannya, jangan lakukan apa pun padanya " Antonsen menatap Airca dengan pandangan tajam
" Aku tidak bisa menjamin" Antonsen mencium Airca mencoba untuk menahan perasaan kesalnya pada Angel, Airca kaget dengan tidakkan tiba-tiba Antonsen, Antonsen mencium Airca semakin dalam dan intens hingga dia menginginkan sesuatu dari wanita itu
Tangan Antonsen membukan pelan kancing baju yang dipakai Airca

Airca tersadar dan menjauhkan wajah Antonsen hingga ciuman mereka terlepas, Antonsen sudah menatap Airca dengan pandangan bergairah, Airca menggelengkan kepalanya, merasa itu bukanlah tidakkan yang benar dalam hubungan mereka
" Jangan" Antonsen memejamkan matanya dan menarik dirinya dan langsung pergi dari sana, setelah kepergian Antonsen, Airca menyentuh dadanya yang berdebar dengan sangat kuat
__ADS_1
" Ya Tuhan, Apa barusan yang akan terjadi?"