AIRCA [ Bride Replacement ]

AIRCA [ Bride Replacement ]
9


__ADS_3

Jantung Airca rasanya sudah akan berhenti saat dia masuk keruangan tempat berkumpulnya para Dosen


"Maaf kami terlambat " Luna berbicara dan membawa Airca duduk


Dan saat itu juga jantung Airca rasanya berhenti, di sana Antonsen menatapnya dengan tajam, mata itu mengikuti Airca bahkan hingga wanita itu duduk dikursinya


"Matilah aku"


**


"Maaf kami terlambat "


Antonsen yang tadi sibuk membaca Email di ponselnya menatap orang yang bicara


"Wanita itu.....dia pengajar disini" Antonsen menatap Airca hingga dia duduk dikursinya


Antonsen memulai pembicaraanya dengan sesekali menatap Airca yang selalu menghindari tatapan matanya


"Semua cukup baik, tapi tolong kedisplinan pengajar harus ditingkatkan" Antonsen berbicara sambil menatap Airca


Ronald tertawa paksa mendengar itu agar suasana tidak terasa mencengkam


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Antonsen dingin pada Ronald


"Kamu pikir saya bercanda?"


" Tidak Tuan, maafkan saya, kami akan berusaha meningkatkan kualitas kami" Ronald menatap takut pada Antonsen


Antonsen mengalihkan matanya dari Ronald menatap Airca yang masih tidak ingin menatapnya


"Baiklah seperti biasa, saya akan mengirimkan uang untuk kemajuan Universitas ini, jadi jangan kecewakan saya"


"Terima kasih Tuan, kami tidak akan mengecewakan anda" Ronald tersenyum senang


"Baiklah kalau begitu" Antonsen berdiri dari kursinya dan pergi dari sana tanpa salam perpisahan, Ronald juga langsung berdiri mengikuti Antonsen untuk mengantarnya


Setelah kepergian Antonsen dan Asistennya Nick, semua orang di sana menyandarkan tubuh mereka ke sandaran kursi, tidak merasa tersinggung dengan kepergian Antonsen yang tanpa salam perpisahan, karena itu sudah terjadi berulang kali


"Syukurlah semua baik- baik saja" Kata Gina Dosen wanita berkacamata


"Ya, tahun lalu, kita semua dimarahi Mr Calr karena kritakan yang diberikan Mahasiswa"


"Aku tidak menyangka dia akan pergi secepat itu"


"Maaf Luna, gara- gara aku kita harus mendapat teguran"


"Tidak masalah, aku senang karena Mr Carl selalu melihat kearah kita tadi, dia sangat tampan " Airca tersenyum dan tak sengaja menatap Sam yang berwajah kesal menatap kearahnya dan Luna


"Aku akan pergi makan siang lebih dulu" Sam berdiri dari kursinya dan pergi dari sana


Airca menatap Sam hingga pria itu menghilang dari sana, Airca tersenyum dan menatap Luna


"Kamu lihat, sepertinya Mr Sam kesal saat kamu bilang Antonsen tampan "


"Bagaimana kamu bisa menyebut Mr Carl dengan nama depannya ?" tanya Luna


"Hahaha" Airca tertawa canggung dan Luna hanya menatapnya dengan bingung


" kamu terlihat aneh semenjak Mr Carl naik ke atas panggung""


"Tidak, aku hanya gugup saja karena ini pertama kalinya bagiku"


"Ya baiklah, kamu benar"


"Tapi aku serius, kamu tidak lihat Mr. Sam tadi?"


"Kenapa dengan dia?"


"Ck.. Makanya kalau aku bicara dengarkan"


"Airca bagaimana kalau kita makan saja dulu, aku sudah lapar " Luna berdiri dan menarik Airca untuk pergi makan siang, Airca hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan.


**

__ADS_1


Antonsen sudah sampai di mobilnya dan memanggil Ronald untuk mendekat, Ronald mendekat dengan patuh


"Jangan pecat dia" setelah itu Antonsen langsung masuk kedalam mobilnya, Ronald masih berdiri ditempat merasa bingung siapa yang dimaksud Antonsen


"Sampai jumpa Presdir" Ronald mengucapkan salah perpisahan, dan mobil Antonsen pergi dari kawasan Universitas


"Siapa yang dimaksud Presdir ya? Terserahlah, dia bilang jangan pecat, jadi aku tidak perlu memecat siapa - siapa".


**


Airca memperhatikan Sam yang makan bersama Mona di kantin Universitas, kemudian Airca menatap Luna yang menatap tajam Sam dan Mona


"Aku sangat benci wanita itu, dia terlihat menggoda Mr.Sam"


"Sudah jangan dilihat terus"


"Iya, kamu benar bikin sakit hati saja" Luna kembali makan, Airca kembali menatap tempat Sam dan Mona, di sana Sam juga menatap kearah Airca, Sam dengan cepat mengalihkan matanya


"Kenapa dia langsung mengalihkan matanya? Tidak mungkin dia menyukaiku kan?"


Airca menatap Luna yang makan dengan lahap


"Apa dia memperhatikan Luna?"


**


Airca sedang menunggu taxi lewat untuk pulang, Luna mendekati Airca


"Kamu mencari taxi?"


"Iya"


"Pulang denganku saja"


"Apa tidak masalah?"


"Tentu saja tidak, ayo"


Dan saat itu juga Sam keluar dari Universitas, Luna terdiam menatap Sam


"Jadikan kita pulang bersama?"


Sam menatap Luna lalu menatap Mona


"Iya" Sam pergi dari sana disusul Mona yang tersenyum sinis pada Luna


Luna menatap kesal pemandangan itu, dia menarik Airca dan langsung masuk kedalam mobilnya


"Hiks....kenapa dia sejahat itu padaku?!" Luna berteriak didalam mobil, Airca merasa khawatir dan menenangkan wanita tersebut


"Luna sudah jangan menangis" Luna menatap Airca dengan air mata berlinang dan memeluk Airca, Airca kaget dan membalas peluk kan Luna


"Apa aku salah mencintainya? Kenapa dia bersikap seperti itu padaku?"


"Tidak, kamu tidak salah, jangan menangis"


"Aku akan melupakan Sam dan mulai mencari pria yang mencintaiku"


Airca terdiam mendengar itu, dia tersenyum dan menghapus air mata di pipi Luna


"Aku akan mendukung semua keputusanmu "


"Terima kasih Airca" Luna kembali menangis


**


"Apa ini, jelek sekali? "


"Kenapa? ini bagus. Coba kamu lihat, Airca akan menjadi pusat perhatian orang- orang nantinya"



"Aku tidak suka"

__ADS_1


"Tapi Airca suka" Antonsen menggeram kesal


"Terserah Mama" Antonsen berdiri dari sofa ruang tamu, tadi saat dia baru pulang, Mamanya langsung menarik dia untuk duduk di sofa dan menunjukkan Gaun pernikahan yang akan dikenakan Airca di hari pernikahan nanti


Antonsen langsung pergi dari sana dan naik kelantai atas


"Pa bagus kan?" tanya Bella pada suaminya, suaminya melihat gambar yang ditunjukkan Bella


"Tidak " kata Hendry dan kembali membaca majalah bisnisnya, Bella kesal atas jawaban suaminya


"Ini bagus, kalian pria tidak tahu apa-apa" Hendry melirik istrinya yang kesal tapi dia tidak mengalihkan matanya dari majalah


"Biarkan mereka yang memutuskan, inikan pernikahan mereka"


"Tapi Airca setuju "


"Mungkin dia merasa tidak enak untuk menolak" Bella menatap suaminya sejenak kemudian memikirkan perkataan suaminya.


**


Antonsen membuka dasinya kemudian masuk kedalam kamar mandi, dia tidak pulang kerumahnya hari ini, dia selalu menginap di rumah orang tuanya dua kali dalam seminggu


Setelah 20 menit Antonsen keluar dari kamar mandi dan langsung dikagetkan oleh sesosok pria tampan


"Badanmu cukup bagus"


"Kenapa kamu disini? Keluar"


Joshua tidak menghiraukan perkataan Antonsen dan malah berguling - guling di atas kasur


"Hei aku bilang keluar " Antonsen mendekati Joshua dan menariknya turun dari ranjang


"Iih.. Jangan sentuh aku, aku mau tidur "


"Tidur di kamar mu, jangan disini"


"Aku tidak mau" Antonsen kesal dan menarik paksa Joshua, Joshua masih bersikukuh tidak ingin pergi, Antonsen mengangkat Joshua dan membawanya keluar kamar


"Kamu kakak yang jahat, aku akan bilang sama calon istrimu kalau kamu itu kejam"


"Bilang saja, sekalinya bilang padanya kalau aku psikopat gila"


Brakkkkk....


Pintu ditutup Antonsen tepat didepan wajah Joshua, Joshua yang mendapatkan penghinaan itu berteriak kesal


"Beraninya kamu melakukan ini padaku?! Kalau Fans ku tahu mereka akan mencarimu hingga ke ujung dunia!"


Setelah puas berteriak Joshua pergi dari sana dengan kesal.


**


Antonsen sudah memakai baju santainya dan duduk di atas kasur, dia membuka Laptop untuk mengerjakan pekerjaan yang tertunda.


Disaat Antonsen mengetik dia teringat sesuatu, Antonsen mengambil ponselnya di atas nakas dan menelepon asistennya Nick


"Iya Tuan"


"Kamu cari Gaun pernikahan "


"Gaun pernikahan ?"


"Iya.. Dan jangan yang terbuka"


"Apa untuk Nona Airca Tuan?'


"Kamu jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang saya minta"


"Baik tuan"


Tuttt.....


Antonsen meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas, dia terdiam sambil mengingat pertemuannya dengan Airca Di universitas Dorwant

__ADS_1


"Dia seorang Dosen di sana, apa ini sebuah kebetulan atau takdir".


__ADS_2