AIRCA [ Bride Replacement ]

AIRCA [ Bride Replacement ]
30


__ADS_3

Antonsen menatap Airca yang memasukki perusahaannya bersama Mike, hari ini adalah pertemuan kedua mereka, karena Antonsen meminta agar pertemuan itu dipercepat


Antonsen sebenarnya merasa tertipu pada Airca, karena malam yang telah dijanjikan Airca tidak terjadi, mereka hanya berciuman selama 30 menit dan Airca malah tertidur disaat Antonsen menciumnya, Antonsen yang melihat Airca yang tampak kelelahan menjadi tidak tega dan membiarkan Airca untuk beristirahat


*


Antonsen sengaja menunggu Airca untuk masuk bersama kedalam Lift, Airca menatap sejenak Antonsen dan tersenyum, Airca masuk dan berdiri di belakang Antonsen, Mike tidak ada karena dia harus mengambil berkas yang tertinggal didalam mobil



" Aku tidak suka kamu bersikap seperti ini, bersikaplah seperti biasa "


" Tapi ini dikantor, tidak ada yang tahu tentang pernikahan kita, bukankah itu keinginan mu" Antonsen mendekat dan memeluk pinggang Airca, Airca tersentak dan melepaskan pelukkan Antonsen


" Jangan, disini ada CCTV" Antonsen melirik CCTV tersebut dan berdecak kesal


" Tidak masalah, aku bahkan berani menciumu di tengah jalan "


" Jangan, aku tidak ingin orang akan menggosipkan kita nantinya "


Antonsen tersenyum dan mengangkat jasnya untuk melindungi mereka lalu mencium Airca



Airca kaget dan kemudian dia tersenyum, Antonsen bisa melakukan sesuatu yang membuat Airca tidak bisa pikirkan


Antonsen menjauhkan dirinya dan tersenyum lebar pada Airca


" Bagaimana suamimu pintar kan? " Airca mengangguk dan menyentuh wajah Antonsen


" Baiklah cukup segini saja, nanti kalau ada karyawan lain yang masuk bagaimana? " Antonsen tertawa pelan mendengar nya


" Ini lift khusus milikku sayang "


" Berarti aku salah lift "


" Tidak, kamu benar aku adalah kamu, kamu adalah aku, kamu dan aku adalah kita, kita adalah aku dan kamu " Airca tidak menyangka Antonsen akan bersikap manis seperti ini


" Kamu sekarang sedang menggodaku "


" Benarkah? Padahal aku mengatakan hal yang aku rasakan" Airca tersenyum mendengar itu


" Kenapa kamu bisa begitu manis? " Tanya Airca dengan gemas, Antonsen menarik Airca dan memeluknya


" Kamu suka hal yang manis, dan aku manis, kamu tidak ingin memakanku? " Tanya Antonsen dengan menyodorkan bibirnya, Airca tertawa pelan dan menutup mulut Antonsen dengan tanganya


" Tidak mau "


" Kenapa? Aku kasih gratis" Airca kembali tertawa dan mencium bibir Antonsen cepat


" Aku hanya ingin mencicipi nya saja" Antonsen menatap gemas Airca dan menciumnya dalam


" Aku sungguh tidak ingin melepaskanmu, ayo kita ke ruangku disana aku memiliki kamar pribadi "


" Kamu gila ini kantor"


" Akan lebih gila jika aku melakukannya disini " Airca menatap ngeri Antonsen dan mendorongnya


" Tidak aku hanya bercanda soal di lift tapi aku serius tentang kamar di ruangan ku "


" Antonsen aku datang kesini untuk menyelesaikan kesepakatan kita, kenapa kamu harus mempersulit nya "

__ADS_1


" Aku serius, ayo kita lakukan disana" Kata Antonsen dengan serius


" Antonsen " Antonsen tidak suka dengan panggilan itu


" Jangan panggil aku dengan nama, aku ini suamimu panggil aku sayang"


" Antonsen... "


" Sayang " Tekan Antonsen, Airca menarik nafasnya mendengar itu


" Sayang... " Kata itu terasa asing dilidah Airca, tapi tidak dengna Antonsen, pria itu tertawa senang dan menciumi wajah Airca


" Oh Astaga sayang! Aku sungguh tidak sabar denganmu"


" Sudah, Mike pasti sudah sampai sekarang "


Antonsen menarik Airca dan memeluk pinggangnya saat lift hampir sampai pada tujuan


Pintu lift terbuka Antonsen langsung menarik Airca masuk keruangannya


" Pertemuannya disini? " Tanya Airca pada Antonsen yang membawanya duduk disofa


" Iya "


" Kalau begitu aku akan telpon Mike dulu" Airca menelpon Mike untuk memberitahu tempat pertemuannya


Airca sudah selesai dan menatap Antonsen yang tersenyum lebar padanya, Antonsen langsung mengangkat Airca untuk duduk di pangkuan hingga membuat Airca kaget karenanya


" Antonsen lepas, nanti Mike melihatnya"


" Aku tidak suka kamu berkerja disana "


" Itu karena wanita licik itu" Kata Antonsen dengan kesal



Airca menepuk tangan Antonsen dengan keras mendengar itu


" Dia kakakku yang berarti dia juga kakak ipar mu"


" Iiihhh tidak sudi aku punya kakak ipar seperti itu"


Airca langsung menatap tajam Antonsen dan menjauhkan dirinya


"Berarti kamu tidak sudi juga punya istri sepertiku" Antonsen menggelengkan kepalanya dan kembali hendak menarik Airca mendekat tapi Airca menjauh dan berdiri dari sofa


" Sayang... " Kata Antonsen tidak suka, Airca kesal Antonsen selalu semaunya, Airca merasa dia selalu saja yang lebih dulu membujuk Antonsen ketika Antonsen sedang kesal padanya


" Kenapa? " Tanya Airca dingin, Antonsen menangkap nada dingin disana, dia menatap Airca dengan sedikit kaget


" Sayang " Antonsen berdiri dan menangkap pergelangan tangan istrinya


" Kamu marah sama aku? "


" Iya"


" Hanya karena soal Angel? "


" Hanya? Dia itu kakakku, sudahlah aku datang ke sini untuk membahas soal pembangunan di Kanada " Airca menarik tangannya dari genggaman tangan Antonsen


Antonsen ingin kembali menarik Airca tapi pintu lebih dulu diketuk dari luar

__ADS_1


" Masuk " Kata Airca, dia tidak perduli itu ruangan siapa, Antonsen hanya diam sambil menatap Airca


Mike masuk dan tersenyum, dia meletakkan berkas dokumen diatas meja, Airca menatap Antonsen yang masih menatap dirinya


" Silahkan Tuan Antonsen " Airca berbicara pada Antonsen, Antonsen duduk disofa dan disusul Airca dan Mike


Mereka membahas semua hal mengenai kerja sama mereka tapi Antonsen tampak tidak fokus dan tidak tenang saat melihat Airca sangat dekat berbicara pada Mike, Antonsen mengepalkan tanganya kuat


" Sial, aku sangat kesal sekarang "


Antonsen hanya diam dalam kemarahan dia membiarkan Airca berbicara menjelaskan segala hal tentang proyek tersebut tapi Airca tampak tidak perduli dengan wajah kesal Antonsen dan tetap bersikap profesional


" Nanti saja bahasanya, saya ingin makan siang " Airca menghembuskan nafasnya kesal, dia sungguh kesal dengan Antonsen, ternyata pria itu tidak sadar-sadar juga


" Baiklah" Airca mencoba mengikuti permainan Antonsen, Antonsen melirik kesal Airca dan memanggil Nick


" Nick! " Nick masuk dan mendekati Antonsen


" Ya Tuan "


" Pesan makanan untuk dua orang "


" Tiga" Kata Airca, Antonsen menatap Airca kemudian menatap Mike yang memasang wajah polosnya


" Ya untuk tiga orang "


Antonsen menyandarkan punggungnya kesadaran sofa dengan tangan terlipat didepan dada sambil menatap lurus kearah Airca


Airca mengalihkan matanya pura-pura tidak tahu


Makanan mereka sudah sampai, mereka makan dalam diam, Antonsen makan dengan malas-malasan hingga bibirnya kotor karena makanan, Airca melihat itu dan secara ripleks membersihkan bibir Antonsen, Antonsen kaget dengan itu dan menatap dalam Airca, Airca yang melihat Antonsen menatapnya Intens terdiam, mereka saling pandang dalam diam



Mike menatap diam orang tersebut dengan kebingungan dengan mulut masih mengunyah


" Aku jadi penasaran apa mereka ada hubungan ya? "


Airca tersadar dan menarik tanganya


" Maaf, saya hanya ingin membantu" Antonsen masih diam dengan masih menatap lurus Airca


" Aku sungguh ingin menciumnya "


**


Antonsen dan Airca duduk dalam diam didepan televisi, Antonsen melirik Airca yang menatap lurus kedepan


" Sayang" Antonsen sungguh tidak bisa berdiam diri seperti ini, dia menyentuh wajah Airca dengan jarinya


Airca hanya melirik sekilas Antonsen kemudian kembali menatap televisi


" Maaf" Kata Antonsen pelan, Airca kembali menatap Antonsen dengan menaikkan kedua alisnya


" Aku salah karena berbicara seperti itu" Airca tersenyum dan mengkodekan tanganya memberi isyarat agar Antonsen mendekat, Antonsen mendekat dan Airca langsung mencium pria itu


" Jangan benci kakakku"


Antonsen mengangguk dan menarik Airca ke pelukkan lalu kembali menciumnya


" Aku mencintaimu " Kata Antonsen disela ciuman mereka

__ADS_1


__ADS_2