AIRCA [ Bride Replacement ]

AIRCA [ Bride Replacement ]
13


__ADS_3

Airca tampak ragu masuk kedalam kamar dimana Antonsen sudah lebih dulu masuk ke sana


Dia memberanikan dirinya dan masuk kedalam kamar, dia melihat Antonsen yang sedang mengetik pada Laptop dipangkuan


"Antonsen?" Antonsen menatap Airca yang memanggilnya


"Ada apa?"


Airca duduk disisi ranjang paling ujung untuk menciptakan suasana yang sedikit akrab


"Di rumah mu ada berapa kamar?"


"Banyak" setelah mengatakan itu Antonsen kembali bekerja


"Banyak ya, kalau begitu aku bolehkan menempati salah satunya" Antonsen berhenti mengetik dan menatap dalam istrinya


"Semua kamar penuh"


"Kamar apa saja aku mau, kecil juga tidak apa-apa"


"Untuk apa?"


"Untuk tidurlah, untuk apa lagi"


"Memangnya kasur ini tidak muat?"


Airca menatap Antonsen yang juga menatapnya, suasana yang dari awal sudah canggung bertambah canggung saat Antonsen mengatakan hal tersebut.


Antonsen lebih dulu mengalihkan matanya dan menutup laptop di pangkuannya


Dia meletakkan laptop tersebut di atas nakas dan membaringkan dirinya membelakangi Airca


Airca mengeluh dalam hati melihat Antonsen yang bersikap santai


"Kenapa setiap aku membuat keputusan dengannya tidak pernah menemukan ujungnya"


Airca beranjak dan mengambil selimut tebal yang dia gunakan semalam untuk tidur didalam lemari


Dia membentang nya dan mulai tidur di sana.


Antonsen belum tidur dan membalikkan badannya, dia melihat Airca yang tidur dilantai dengan beralaskan selimut tebal


Dia beranjak dan mendekati wanita itu dan menyentuh tangan istrinya.


"Hei bangun" Airca membuka kecil matanya menatap Antonsen


"Ada apa?"


"Pindah ke kasur"


"Tidak, aku tidur disini saja" Antonsen merubah raut wajahnya menjadi kesal mendengar penolakan tersebut


"Aku mencoba berbuat baik padamu tapi kamu menolaknya, jadi jangan salahkan aku "


Antonsen berdiri dan kembali ke kasur, dia berbaring membelakangi Airca dengan perasaan kesal


"Apa dia pikir aku sangat perduli padanya, ck tidak sama sekali"


Antonsen memejam kan matanya dan mulai tertidur, sedangkan Airca hanya menatap Antonsen sambil menghela nafasnya.


**


Antonsen memperhatikan Airca yang memasak dari belakang, wanita itu terlihat telaten dalam memasak, Antonsen duduk di meja makan dengan masih memperhatikan istrinya.


Airca sudah selesai memasak dan ingin meletakkan masakan itu di atas meja makan, tapi saat di berbalik


" Oh Tuhan!" Airca kaget saat berbalik dia melihat Antonsen yang memperhatikannya dengan intens, hampir saja makanan yang dia bawa jatuh


"Kamu mengagetkanku" Kata Airca sambil meletakkan makanan tersebut di atas meja


Sebenarnya pelayan sudah menyiapkan sarapan tapi Airca masih saja memasak


"Apa makanan yang ada tidak cukup?" tanya Antonsen pada Airca yang sudah duduk di kursinya


Airca menatap Antonsen lalu menatap sekelilingnya, setelah dia tidak menemukan pelayan di sana, dia mencondongkan sedikit badannya kearah Antonsen


"Maaf untuk mengatakan ini, tapi masakannya kurang enak"

__ADS_1


"Tidak enak, pelayan yang ada di rumah ku semuanya berkualitas, kamu saja yang terbiasa makan makanan yang dipinggir jalan" Airca menatap kesal mendengar perkataan Antonsen


"Baiklah kalau kamu tidak percaya, kamu bisa mencoba masakan ku, kalau masak kan chef mu lebih enak dari masak kan milikku, aku rela menggunting semua rumput di halaman belakang"


"Kamu serius?" tanya Antonsen dengan nada mengejek


"Tentu saja, karena aku terbiasa masak sendiri di Paris"


"Baiklah" Antonsen mengambil sendok dan memakan masak kan istrinya


"Bagaimana?" tanya Airca, Antonsen mengunyah makanan itu dan menatap Airca dan kemudian tersenyum


"Enak, masak lebih banyak" Dia mengambil alih makanan itu dan mulai memakannya, Airca yang melihat itu langsung menarik piring berisikan makanan itu


"Ini milikku" Antonsen tidak mau kalah dan juga menarik piring itu kembali


"Tinggal masak saja lagi apa susahnya"


"Kamu saja yang masak sendiri sana"


"Airca"


"Antonsen" Mereka masih saling tarik dan mengundang perhatian pelayan


"Tuan tidak pernah bersitegang hanya soal makanan"


"Rumah ini sedikit hidup sejak Nyonya Airca tinggal disini "


"Kalian benar, mulai sekarang kita harus bersikap sangat baik pada Nyonya, tampaknya Nyonya membawa dampak yang baik untuk Tuan".


**


Mereka berdua sedang berada di dalam mobil dengan aura permusuhan yang jelas, Antonsen melirik istrinya yang memasang wajah kesal


"Sampai kapan wajahmu seperti? itu nanti bisa permanen"


"Biarkan saja, biar semua tahu kalau aku tidak bahagia "


Antonsen menatap Airca dengan kesal mendengar itu


"Dari awal memang tidak bahagia, jadi terserah kamu mau bagaimana"


"Pernikahan palsu ini sangat menyakitkan".


**


Airca turun lebih dulu dan di susul suami nya, Antonsen menatap sekilas Airca kemudian berjalan lebih dulu, Airca yang melihat itu pergi menyusul Antonsen.


Antonsen membunyikan bel rumah, Airca berdiri di samping Antonsen lalu melingkarkan tangannya pada lengan pria tersebut, Antonsen menatap Airca dengan menyipitkan matanya sedangkan Airca membuang wajahnya malu


"Kalau bukan sekarang di rumah orang tuaku, aku tidak akan mau melakukan ini semua"


"Sayang kalian sudah sampai " Cintya membuka pintu dan tersenyum melihat anak dan menantunya


"Iya" Airca melepaskan rangkulan pada lengan Antonsen dan memeluk ibunya, Antonsen tersenyum setelah ditatap ibu mertuanya


"Masuk, Papa sekarang di kantor jadi tidak bisa menyambut kalian "


"Tidak apa Mama, kami mengerti" Airca menatap Antonsen yang menyebut ibunya dengan sebutan Mama


"Dia mulai berakting "


Cintya tersenyum dan mempersilahkan mereka duduk


"Mama akan buatkan minuman dulu untuk kalian" Cintya berdiri dan pergi dari sana


Antonsen menarik Airca ke sisi nya dan memeluk pinggang istrinya setelah melihat Angel turun dari lantai atas, Airca yang awalnya ingin marah membatalkan niatnya setelah melihat Angel mendekat.


Angel tersenyum dan duduk dihadapan mereka berdua, Airca mencoba tersenyum dan bertanya


"Kakak tidak kerja ?" Angel menatap sinis Airca kemudian tersenyum menatap Antonsen


"Bagaimana? kamu sudah mulai bosan dengan wanita ini?" Airca tertegun mendengar itu, sedangkan Antonsen hanya diam saja, mengabaikan perkataan Angel


"Hei aku bicara padamu sayang " Angel berdiri dan duduk di samping Antonsen, Antonsen menatap kesal Airca yang hanya diam saja menonton itu semua


"Kenapa kamu diam saja bodoh? dia berusaha menggoda suamimu" Airca tersadar dan menarik Antonsen menjauh dari kakaknya

__ADS_1


"Kakak, dia sekarang sudah menjadi suamiku" Angel menarik bibirnya kesal


"Dia itu tidak mencintaimu, kamu jangan terlalu percaya diri" Airca terdiam mendengarnya, yang di katakan Angel benar.


Antonsen sekarang sedang menahan amarahnya pada dua wanita disampingnya, muak pada Angel yang terlihat murahan, dan kesal pada Airca yang gampang sekali di sudut kan Angel


"Aku sengaja izin tidak masuk kerja hari ini hanya untuk bertemu kamu sayang" kata Angel sambil mengusap lengan Antonsen, Antonsen menarik Airca dan menatapnya dalam


"Singkirkan dia"


"Tapi bagaimana?"


"Aku sudah mau kamu ajak kesini, jadi sekarang tugas kamu menjauhkan wanita itu dariku "


Airca menatap Antonsen kemudian berpikir


"Pindah saja disebelah ku" Antonsen beranjak dan duduk di samping kiri istrinya sehingga membuat posisi Airca ditengah antara Antonsen dan Angel


Angel menatap tajam pada Airca kemudian berdiri untuk duduk ditempat diawal dia duduk.


Antonsen bernafas lega dan merangkul pundak Airca, tak lama Cintya datang membawa dua gelas minuman, matanya menatap Angel yang duduk di sana


"Bagaimana keadaanmu sayang sudah lebih baik?"


Angel menatap Cintya dan tersenyum tidak ikhlas


"Ya" Airca tidak suka pada sikap Angel pada ibunya, Antonsen juga merasakan hal itu


"Diminum sayang"


"Iya Ma"


**


Airca dan Antonsen sedang berada di tepi kolam renang dan duduk di kursi kayu samping kolam


"Wanita itu bersikap tidak baik pada ibumu"


"Kak Angel?"


"Siapa lagi"


"Mungkin dia masih emosional"


"Dia sepetinya bukan kakakmu"


"Apa maksud dari perkatan mu? dia itu kakakku"


"Tapi dari tatapan matanya saja aku tahu dia sangat membencimu"


"Karena siapa dia membenciku?" kata Airca dengan menatap kesal Antonsen


"Itu bukan salahku, itu salah kamu sendiri"


"Apa kamu bilang!"


"Sayang!" Airca baru saja ingin bangkit untuk menghajar Antonsen, Angel datang dengan baju tengtop dan celana pendeknya, Airca bahkan mengalihkan matanya melihat penampilan kakaknya.


Angel berjalan mendekat dan berhenti didepan Antonsen, dia membungkuk didepan Antonsen sengaja untuk memperlihatkan dadanya pada pria itu, tapi Antonsen malah menarik Airca dan sembunyi di punggungnya


"Antonsen" Kata Angel kesal, dia mencoba menarik Antonsen tapi Antonsen melingkarkan tangannya dan memeluk Airca dari belakang, Airca hanya diam saja dia bingung untuk bertindak


"Menjauhlah" kata Antonsen dengan tegas, Angel tidak mau mendengarkan dan menatap tajam adiknya


"Kamu pergi dari sini, aku mau berdua saja dengan kekasihku"


"Wanita bodoh awas saja bila kamu meninggalkanku"


Antonsen mengeratkan pelukannya, sedang kan Airca menarik nafasnya panjang dan menatap berani Angel


"Kakak tolong jangan ganggu suamiku"


"Suami apa yang kamu maksud? kalian itu hanya menikah tanpa cinta"


"Sudah hentikan, kenapa kakak harus mengungkit itu semua?"


"Karena aku benci kamu sangat benci " Angel menatap penuh benci pada Airca, Airca yang mendengar itu terdiam dan merasa sakit dihatinya

__ADS_1


Antonsen sudah tidak tahan lagi dan menarik istrinya pergi dari sana.


__ADS_2