
Saat tiba di rumah, Rizal masuk kamar membanting pintu. Lalu memukul cermin hingga tangannya berdarah. Ia sangat kesal dan marah dengan penolakan Indah. Padahal ia sudah sangat lama menyukai Indah. Pak Hartono dan Bu Ani, mengetuk\-ngetuk pintu kamar Rizal. " Rizal...kau tidak apa\-apa nak!, tanya Bu Ani khawatir". " Ayah mohon bukakan pintunya!, pinta pak Hartono". " Aku tidak apa\-apa ma...pa..! jawab Rizal dari dalam kamar". Keesokan harinya tepat di siang hari, Rizal mencari tahu alasan mengapa Indah menolak pertunangan mereka. Bel sekolah berbunyi tanda jam pelajaran telah selesai. Mereka siap\-siap untuk pulang. Semua siswa keluar dari pintu gerbang sekolah. Rizal memperhatikan semua siswa satu persatu dari jarak kejauhan. Akhirnya, dia melihat seorang pria sangat tampan berbincang dengan Indah. Mereka terlihat sangat akrab. Reyfan mengantarkan Indah pulang dengan motornya. Tanpa sepengetahuan mereka, Rizal mengikuti motor Reyfan. Indah dan Reyfan berhenti sejenak di sebuah taman yang terletak di dalam kawasan perumahan. Mereka duduk berdua bercanda mesra. Hati Rizal sangat sakit melihat kemesraan mereka. " Ternyata ini alasannya mengapa Indah menolakku, gumam Rizal kesal". Rizal pulang dengan mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Reyfan membelai rambut Indah yang terbang bebas tertiup hembusan angin. " Rey.. panggil Indah dengan suara lembutnya". " Ada apa sayang, sahut Reyfan tersenyum". Indah menghentikan niatnya untuk mengatakan bahwa keluarga Rizal melamarnya tadi malam. " Ah tidak! lebih baik aku tidak katakan, aku tidak ingin menyakiti hati Reyfan, gumam Indah dalam hati". " Rey... ayo kita pulang!!aku khawatir ayah dan ibu mencariku!, pinta Indah". " Baiklah!, jawab Reyfan". Reyfan pun mengantarkan Indah pulang sampai gang rumahnya. Lima menit kemudian, ponsel Reyfan berdering. Setelah dilihatnya ternyata dari Fajar. " Hai, ada apa kau meneleponku? tanya Reyfan". " Aku sekarang ada di depan rumahmu Rey, lekaslah pulang! , sahut Fajar". " Tidak biasanya kau main ke rumahku tanpa memberitahuku terlebih dahulu? tanya Reyfan". " Sudahlah..kau cerewet sekali, sahut Fajar". Reyfan bergegas pulang ke rumahnya.
Setelah tiba di rumah, terlihat Fajar duduk gelisah di depan rumahnya. " Ada apa denganmu? sepertinya ada hal yang penting? tanya Reyfan". " Rey adikku sakit, apakah kau mempunyai uang simpanan? jika ada aku pinjam Rey! aku dan orangtuaku ingin membawanya ke rumah sakit terdekat. Tapi kami tidak mempunyai uang yang cukup untuk biaya rumah sakit." Kau tenang saja, aku punya sedikit tabungan, sahut Reyfan menepuk punggung Fajar". " Ayo kita antar adikmu ke rumah sakit sekarang!, ajak Reyfan". " Terima kasih ya Rey , ucap Fajar". "Ya, sudah jangan banyak bicara kasihan adikmu, dia sangat butuh pertolongan dokter!, ajak Reyfan". Mereka mengantarkan adik Fajar yang bernama Lisa ke rumah sakit. Setelah daftar dan cek darah ternyata Lisa terkena penyakit tipes dan harus segera dirawat di rumah sakit. Setelah mendapatkan kamar rawat inap Reyfan pun pamit pulang kepada Fajar dan orangtuanya. " Fajar, ibu dan ayah, aku pamit pulang ya karena hari sudah petang, mengenai semua biaya rumah sakit biar aku yang bayar, sahut Reyfan." " Terima kasih ya nak Reyfan sudah mau membantu kami?!,ucap ayah Fajar". "Ya sama\-sama ayah!?lagi pula Lisa sudah Reyfan anggap adik Reyfan sendiri, sahut Reyfan". "Lisa, kakak pulang dulu ya!,pamit Reyfan pada Lisa". " Ya, terima kasih kak Reyfan!, jawab Lisa". Fajar mengantarkan Reyfan keluar ruangan. " Rey, mengenai uangmu nanti aku dan orangtuaku akan usahakan segera mungkin menggantinya, sahut Fajar". " Tidak usah diganti !!selain kita sahabat, aku sudah menganggap kau dan keluargamu seperti keluargaku sendiri, sahut Reyfan". " Tapi Rey...uang biaya rumah sakit itu besar, sahut Fajar". " Huss.. jangan komentar !!aku tulus membantumu..Oke aku pulang, pamit Reyfan pada Fajar". " Hati\-hati Rey!,sahut Fajar". Reyfan tersenyum membalas ucapan Fajar.