
Hari demi hari, rasa cinta Reni seolah semakin dalam terhadap Reyfan. Ia tidak mampu memendam terlalu lama. Ia sangat sering menghubungi Reyfan.
Bayangan Reyfan menguasai pikiran Reni. "Ya Tuhan, kenapa hampir setiap benda yang kulihat selalu saja wajah Reyfan, apakah aku jatuh cinta padanya?, tanya hati Reni". Reni ingin sekali menghubungi Reyfan tetapi hatinya ragu\-ragu untuk melakukan hal itu. Selain itu, Reyfan terlihat cool padanya. Hati Reni berkecamuk memikirkannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Agus menghubungi Reni. " Hai Ren? Kau sedang apa?, tanya Agus". "Aku sedang berbaring di atas tempat tidur, sahut Reni". "Ohhh.. aku kira, kau sedang memikirkan Reyfan?, canda Agus". Reni sangat terkejut karena Agus mengetahui isi hatinya. "Ada apa kau menghubungiku?, tanya Reni". "Tidak, aku sekedar iseng saja, tadi saat latihan musik, kau menghubungi Reyfan ya?, tanya Agus". "Ya benar. Memangnya aku salah?, tanya Reni". "Tidak apa\-apa itu hak mu, sahut Agus". "Gus, entah kenapa akhir\-akhir ini hatiku seperti ini, aku selalu merindukan Reyfan, aku merasa ingin selalu bersamanya, apakah aku jatuh cinta padanya, Gus?, tangis Reni". Agus sangat terkejut dengan tangisan Reni. " Reni, cinta itu anugerah terindah dari Tuhan, kita tidak bisa mengelaknya tapi kita masih bisa mengontrolnya, biarkan cinta itu tumbuh dengan sendirinya, suatu saat mungkin cinta itu akan hilang, cinta itu pengorbanan jadi berkorbanlah demi orang yang kita cintai dalam hal yang positif. Tenangkanlah pikiranmu ya!, nasihat Agus". "Terima kasih ya Gus, hatiku sedikit tenang, sahut Reni. " Ya sudah, istirahatlah! selamat malam?!, ucap Agus". "Selamat malam juga, Gus, sahut Reni".
__ADS_1
Reyfan menyandarkan tubuhnya pada sofa. "Rey, aku baru saja menghubungi Reni, ehh.. dia malah curhat!, sahut Agus memukul dahinya". "Curhat apa Gus?, tanya Reyfan sambil minum air yang disediakan oleh ibu Agus". "Dia jatuh cinta padamu!?, sahut Agus". "Haaa...!! , Reyfan sangat terkejut hingga air yang diminumnya tersedak dalam tenggorokan dan membuatnya terbatuk". Reyfan menarik nafas untuk meredakan batuknya. "Enak ya jadi kau banyak disukai kaum hawa, canda Agus". "Makanya wajahmu kau operasi plastik supaya lebih tampan dariku!, seru Reyfan tertawa". " Ya nanti, aku operasi plastik pakai ember milik ibuku, seru Agus ". Mereka tertawa lepas. Agus menceritakan isi pembicaraannya dengan Reni. Reyfan hanya tersenyum. " Aku hargai perasaan Reni terhadapku. Tetapi untuk saat ini, aku hanya mencintai Indah. Aku sangat menyayanginya entahlah sampai kapan perasaan ini sirna. Kau tahu sendiri ayahnya tidak menyukaiku, ucap Reyfan muram". "Bersabarlah! perjuangkan cinta kalian karena aku yakin suatu saat nanti ayah Indah pasti menyukaimu, kekuatan cinta kalian bisa mengalahkan keegoisannya, nasihat Agus". "Terima kasih ya Gus, nasihatmu seperti kyai!, canda Reyfan". " Bisa saja pak direktur, seru Agus tertawa".
__ADS_1
Mereka berbincang hingga malam semakin larut. " Gus, sudah larut malam aku pamit pulang ya?!, pamit Reyfan". "Ya sudah hati \- hati ya, Rey!, sahut Agus". "Oke, sahut Reyfan ". Agus menunggu Reyfan menghidupkan motornya. Setelah Reyfan pergi, ia pun masuk ke dalam rumah.