Akhir Penantian Cita Dan Cinta

Akhir Penantian Cita Dan Cinta
Perkenalan (Revisi)


__ADS_3

Hallo salam kenal.


Semoga kalian suka dengan novel pertamaku๐Ÿ™


Jika berkenan tambahkan favorit yaa ๐Ÿ˜Š


Terimakasih yang sudah baca ๐Ÿ™


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku bernama Larasati.


Biasa dipanggil Lara, aku seorang gadis yang berkarakter ceria, ramah, tulus.


Aku hidup bersama kedua orangtuaku dan seorang kakak.


Aku akan menceritakan kisah hidupku di sekolah, bersama teman-teman, keluarga dan seseorang.


Ujian Kenaikan Kelas


Pagi itu aku melihat lembar pengumuman di Mading sekolah. Ternyata kelas X (kelasku) akan sekelas dengan kelas XI nanti saat ujian kenaikan kelas. Entah kenapa aku kurang antusias dengan pengumuman itu, namun apalah daya waktu ujian tinggal beberapa hari lagi. Ada juga beberapa siswa yang kecewa dengan pengumuman tersebut.


"Yahh, kok kita ga sekelas sih. Gimana ya entar kalo pelajaran Matematika, gue kan ga bisa" ucap salah satu murid kelas X yang sedang panik karena tidak bisa sekelas dengan temannya yang pintar Matematika.


Aku tersenyum melihat percakapan mereka. Bukankah ujian itu memang harus kerja keras sendiri bukan bergantung dengan temannya?


Lagian kalau sudah buntu mengerjakan soal bisa saja isi dengan cara lain. "Tulis saja soalnya pada lembar jawaban, kalian tetap dapat nilai walaupun hanya 0.5 " lumayan untuk menambah nilai begitu pesan guruku.


Persiapan untuk menghadapi Ujian Kenaikan Kelas sedikit berbeda. Karena ujian itu adalah penentuan kenaikan untuk kelas XI, mungkin aku akan lebih ekstra belajar dihari sebelumnya.


Dering suara pesan masuk terdengar dari ponselku. Pesan tersebut dari teman sekelasku yaitu Lutfia.


Pesan Lutfia : "Lara, besok lu bawa buku catatan Kimia ya. Soalnya catatan gue kurang lengkap"


Balasku : "Oke".


Selalu saja begitu, teman sekelas ku Lutfia memang sering malas mencatat. Apalagi dia aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler disekolah, sehingga jarang masuk kelas alias izin dispensasi. Tak heran jika dia selalu meminjam buku catatanku untuk disalin.


Hari Ujian


Pagi itu, aku berangkat sekolah dan diantarkan Ayah. Hari pertama UKK ada perasaan takut telat, akhirnya aku datang lebih pagi. Walaupun jadwal masuk pukul 07.30 tanpa upacara.


Ketika sampai sekolah, aku langsung menuju kelas yang akan aku tempati selama beberapa hari kedepan. Ternyata kelasku lebih dekat ke gerbang, daripada kelas sebelumnya.


Lalu aku mencari nomor meja yang akan aku tempati, saat aku lihat satu persatu meja akhirnya aku menemukan nomor yang sama dengan kartu ujianku. Posisinya dipojok kiri, paling belakang. Oh sial, kenapa posisi mejaku berada dibelakang. Bisa saja orang lain iri dengan tempat dudukku yang berada dibelakang, karena peluang untuk mencontek sangat baik hahaha.


Akhirnya aku pasrah duduk di belakang, walaupun aku belum tahu akan duduk bersama siapa.


Beberapa saat kemudian banyak murid lainnya yang datang, sedangkan aku sudah duduk lebih awal sambil membuka buku catatan dan mengulang pelajaran.


Tiba-tiba ada seorang kakak kelas cewek yang sedang melihat nomor di meja sampingku.


"Nah, gue duduk disini" ucapnya saat melihat nomor dikartu ujian miliknya.


Lalu dia menyapaku


"Hai, aku boleh duduk disini kan?"


"Boleh dong kak, silahkan" Jawabku secara ramah.


"Terimakasih, By the way nama kamu siapa?" tanya kakak kelas itu dengan ramah.


"Namaku, Larasati. Panggil saja Lara" Jawabku.


"Oh Lara, kenalin nama aku Akilah" Tegasnya.

__ADS_1


"Salam kenal kak Akilah"


Lalu kak Akilah duduk di kursinya tanpa canggung. Sambil menaruh tasnya di meja. Dia juga tak lupa mempersiapkan peralatan ujiannya.


Tak lama kemudian datang temanku yaitu Lutfi. Dia ingin meminjam buku catatanku. Ujian kali ini kami berdua tidak sekelas, jadi Lutfia rela menghampiri kelasku untuk meminjam buku.


"Hey Lara... Lo engga lupa kan?" Tanya Lutfia.


"Lupa apa?" Jawabku.


"Pinjem Buku Kimia" tegas Lutfia.


"Ohh.. bawa kok ini" sambil mengambil buku didalam tasku.


"Oke thanks... Udah yee, gue ke kelas dulu" Menerima buku yang aku kasih.


"Pulang sekolah langsung salin loh ya!!" Tegasku.


"Siap... besok juga bakalan gue balikin kok" lalu Lutfia pergi ke kelasnya.


Bel tanda masuk ujian berbunyi, aku mulai mengeluarkan beberapa perlengkapan ujian.


Sambil menunggu guru pengawas datang, aku memperhatikan ke seisi ruang kelas. Kali ini rasanya ada pemandangan berbeda dari kelasku. Karena isi kelas campuran siswa kelas X dan XI.


Aku tertegun melihat pemandangan ini. Apalagi ada beberapa kakak kelas XI memiliki wajah yang tampan.Ya Tuhan, kenapa aku jadi mencuri kesempatan ini hahaha..


Lalu tatapan mataku berhenti pada salah satu cowok, dia adalah kakak kelas XI yang tempat duduknya terletak didekat pintu.


Visualnya tampan, rapih, rambutnya rapih belah samping, berkumis tipis dan bersenyum manis. Tampangnya memang seperti kutu buku, tapi aku kok jadi suka memperhatikannya. Dia sedikit mencuri perhatianku, pada pertemuan pertama. Dia hanya duduk terdiam tak banyak bicara, sambil membuka lembar demi lembar buku catatannya.


Namun perhatianku berpaling ketika guru pengawas datang memasuki kelas, dengan tampang yang tegas dan berwibawa guru tersebut membawa tumpukan lembar soal. Lalu memberikan lembar absen kepada kakak kelas yang duduk dekat pintu itu.


Aku hanya menerka, inisial namanya pasti dari huruf A. Namun aku belum ada niat sama sekali untuk mengetahui namanya.


Waktu istirahat tiba, lalu aku meninggalkan meja dan mengajak temanku ke kantin. Aku mengajak Ega. Kami berdua sudah sangat akrab. Karena Ega sudah berteman denganku sejak SMP, sampai akhirnya aku dan Ega dipertemukan kembali di SMA karena kita berdua juga sama-sama berjuang untuk masuk ke SMA favorit yang menjadi sekolahku. Ternyata Ega juga sekelas denganku.


Saat ujian Ega duduk dibarisan pertama tepatnya tiga meja dibelakang kakak kelas yang tampan itu. Aku sengaja menghampiri Ega, agar aku bisa melewati kakak kelas itu.


Namun ketika aku sedang berjalan menuju Ega, tiba-tiba kakak kelas itu bangun dari kursinya dan beranjak pergi keluar kelas bersama temannya. Ketika dia pergi keluar, tatapan mataku seakan fokus menatap kearahnya. Lalu Ega mengagetkan aku, dia memanggilku dari tempat duduknya.


"Lara sini deh" Panggil Ega dengan suaranya yang sedikit keras.


"Iyaa kenapa?" Tanyaku sambil melangkahkan kaki menuju tempat duduk Ega.


"Besok itu kan pelajaran Matematika, catatan lu lengkap ga?" Tanya Ega.


"Hmmm.. lengkap dong, kan gue rajin mencatat" jawab dengan nada sombongku. hehe


"Kalo gitu mana bukunya sini gue pinjem, buat disamain sama buku catatan gue"


"Sekarang mah ga dibawa lah..."


"Yahh..."


"Entar pulang sekolah mampir deh ke rumah gue"


"Oke deh"


"Tapi gue nebeng lu ya"


"Kan emang biasanya juga lu nebeng"


"Hahaha iya sih"


Jarak rumah aku dan Ega juga tidak terlalu jauh, bisa dibilang kami masih satu komplek. Jadi kami sering pulang bersama. Ega pergi ke sekolah dengan motor matic berwarna hijau kesayangannya.

__ADS_1


Kami berdua sering mengobrol dikelas, namun karena hari itu waktu ujian jadi kami tak punya banyak waktu untuk mengobrol. Akhirnya aku mengajaknya untuk ke kantin.


"Egaa.. gimana kalo kita jajan"


"Lagi ga pengen jajan ah gue, mau fokus belajar"


"Dih tega banget Ega, gue jajan sendirian dong"


"Ajak si Lutfia coba"


"Males gue nyamperin ke kelas sebelah"


"Yee males atau malu, gara-gara sekarang dikelas banyak murid kelas XI "


"Iya dua-duanya itu... Ayo dong, plisss temenin gue"


"Sebentar yaa"


"Iya lah ngapain lama-lama"


"Sebenernya gue males, pasti dikantin antri banget... Secara sekarang kita masuk pagi bareng kelas X, XI, XII"


"Iya sih, tapi gapapa ayo cuek aja"


"Iya iya bentar"


Akhirnya aku dan Ega bergegas menuju kantin, namun saat didepan pintu aku berpapasan dengan kakak kelas tampan itu. Hampir saja aku dengan dia bertabrakan, karena dia hendak masuk ke kelas, sedangkan aku keluar. Dia hanya tersenyum sambil menatapku, lalu akupun kembali membalas senyumnya. Perasaan canggung karena kami baru saja saling bertemu. Namun dari situ aku menilai kakak kelas itu memang ramah. Dia juga mengetahui aku adik kelasnya, sehingga kami saling menghormati.


Kemudian aku melanjutkan langkahku menuju kantin, masih dengan perasaan bahagia karena melihat senyuman kakak kelas. Seketika Ega membuyarkan lamunanku.


"Lara lu mau beli apaa?" tanya Ega.


"Hah?? apa?"


"Yee bengong aje, gue nanya mau beli apa?"


"Oh mau beli apa kek, nanti yang ada disana"


"Lah.."


"Ehh... tadi lu liat kan kakak kelas yang hampir tabrakan sama gue"


"Iya liat lah, kenapa??? Ouuuh jangan-jangan lu naksir ya?"


"Hahaha... lu kok langsung nebak kayak gitu?"


"Udah ketauan kali, soalnya lu senyam senyum terus abis liat kakak kelas itu"


"Senyuman itu loh, manissss banget kayak gulali. Gue jadi terpesona...."


"Biasa aja ah, lu doang yang lebay"


Lalu aku hanya tersenyum menanggapi Ega.


Setelah dari kantin dan selesai membeli makanan, aku kembali ke kelas. Berharap kakak kelas itu sedang berada dikelas, namun ternyata dia tidak ada dikelas. Kemana perginya lagi? Apa mungkin dia sedang pergi ke kelas lain atau ke toilet, entahlah.


Lalu aku duduk didekat bangku Ega, sambil berbincang apa saja.


Tak lama kemudian, bel tanda masuk berbunyi kembali. Aku terburu-buru hendak membuang sampah, lagi-lagi aku berpapasan dengan kakak kelas tampan itu. Namun tak seperti kejadian pertama, aku langsung membuang sampah ke tong sampah yang berada diluar kelas. Lalu bergegas untuk kembali ke tempat dudukku, sedangkan kakak kelas itu sudah duduk ditempatnya.


60 menit berlalu akhirnya ujian untuk pelajaran ke-2 hari itu telah selesai, satu persatu murid mengumpulkan hasil ujiannya dan bergegas pulang.


Happy Reading gaes ๐Ÿ‘ฉโ€๐Ÿซ


Lanjut baca episode selanjutnya yaa....

__ADS_1


__ADS_2