Akhir Penantian Cita Dan Cinta

Akhir Penantian Cita Dan Cinta
Pengumuman kelulusan


__ADS_3

Seminggu berlalu, waktu yang dinanti pun tiba, yaitu hari pengumuman kelulusan.


Pagi itu Ayah tak bisa mengantarkan aku ke sekolah, karena ayah harus pergi ke balai desa untuk rapat pertanian.


Oleh sebab itu aku kebingungan, akan berangkat ke sekolah dengan siapa.


Aku mencoba untuk menghubungi Ega, tapi tidak ada respon darinya. Mungkin karena saat itu dia tak pegang ponselnya, bisa jadi dia sudah berangkat lebih dulu.


Akhirnya aku menunggu di pinggir jalan depan rumahku, berharap ada tukang ojek lewat.


Tiba-tiba ada sesosok cowok menggunakan motor matic merah berhenti tepat di hadapanku. Dia memakai helm serta kemeja flanel, namun sepertinya aku tak asing dengan cowok itu.


Dia berhenti lalu melepas helmnya. Sambil melemparkan senyumnya dan basa-basi menanyakan aku.


"Mau berangkat ke sekolah ya?" tanya cowok itu.


"Hmm... iya. sebenernya lagi nunggu temen sih."


"Mending bareng aku aja, ntar telat loh" ajak dia agak memaksa.


"Kan kamu mau berangkat ke kampus. Gak buru-buru emang?"


"Enggak... lagian bentar doang nganter sampe ke sekolah kamu."


"Hemm tapi gak enak."


"Enakin aja... ayo berangkat, keburu telat nanti"


"Hemm okeey"


Walaupun dengan perasaan ragu, aku tetap naik ke motornya.


Loh... kenapa aku mau mau saja diantar dengan cowok itu?


Tentang Umar :


Jadi cowok itu adalah Umar. Dia memang bukan orang asing, aku sudah mengenalnya sejak lama. Dia kakak kelasku saat SMA, yang kebetulan rumahnya juga berdekatan dengan rumahku.


Sudah beberapa minggu ini dia menghubungi aku lewat chat facebook atau pesan SMS.


Flashback On :


Awalnya dia memang iseng menyapa aku, namun entah kenapa belakangan itu dia seperti sedang berusaha untuk dekat denganku.


Dia sering mengirim pesan kepadaku, basa-basi menanyakan kegiatan sekolah atau belagak perhatian kepadaku.


Padahal sebelumnya kami berdua tak pernah saling sapa. Bertemu pun kadang berpaling muka. Walaupun kami tetangga satu komplek, namun kami biasa saja.


Bahkan semasa kecil, kami pernah bermusuhan gara-gara salah paham dalam kelompok pertemanan. Ya namanya juga bocah, pasti ada saja kejadian seperti itu. Namun hanya sebatas itu saja, setelah beranjak remaja atau memasuki sekolah SMP sampai SMA kita berdua sudah memiliki kehidupan baru dan jarang bertemu.


Walaupun pada akhirnya kami satu sekolah saat SMA, namun kami tetap seperti orang yang tak mengenal satu sama lain jika kebetulan bertemu disekolah.


Maka dari itu aku merasa aneh, kenapa tiba-tiba dia menghubungiku di media sosial lalu seolah-olah ingin berteman denganku?


Dia sedang berkuliah, disalah satu kampus swasta. Setiap hari dia pergi ke kampus menggunakan motor maticnya. Kampusnya memang cukup jauh, namun dia merasa baik-baik saja jika harus bolak balik menggunakan motornya. Dia juga aktif dalam organisasi sepakbola di kampusnya, bahkan dia sering mengikuti kompetisi sepakbola.


Walaupun baru mengenalnya dalam beberapa waktu ini, namun dia jujur menceritakan semua aktivitas di kampusnya. Makanya aku sedikit tau tentangnya.


Beberapa hari lalu dia sempat mengajak untuk ketemuan di luar.


Namun aku menolak, karena aku buka tipe orang yang mau diajak keluar rumah sembarangan. Jika bukan diajak dengan teman sekolah atau Ega, mungkin aku memang tak pernah mau keluar rumah.


Flashback off.


Ketika aku sudah berada di motornya, aku sengaja diam saja tak mau memulai pembicaraan duluan. Namun dia juga malah diam saja, tak mengeluarkan satu katapun.


"Beda banget, kalo di chat aja bawel" gumamku.


Sepanjang perjalanan sampai sekolah kami diam-diam saja, hanya menikmati perjalanan.


Aku memintanya untuk menurunkan aku ditempat yang jauh dari sekolah, jangan tepat didepan sekolah.


Sesampainya kami, lalu aku turun dari motornya. Dan mengucapkan beberapa kata.


"Makasih ya udah dianterin.. Kira-kira bayar gak?" ucapku.


"Hahaha ga usah kali, emangnya aku tukang ojek" sahutnya sambil bergurau.


"Oh kirain... ya udah aku ke sekolah dulu ya"

__ADS_1


Dengan cueknya aku langsung berjalan meninggalkannya. Namun dia berkata lagi...


"Iya hati-hati lara, oh iya hari ini pengumuman kelulusan ya? Semoga lulus yaaa"


Aku pun menengok ke arahnya. Dan menjawab...


"Iya, aaminn.... makasih do'anya"


"Ya udah aku berangkat dulu, tapi kok ga di bilangin hati-hati sih"


Dengan perasaan yang awkward semacam itu, aku berusaha untuk menjawab dengan candaan..


"Hahaha nungguin emang ya?"


"Hehehe iya lah nungguin


"Oke hati-hati dijalan, semangat kuliahnya..."


"Siap... aku berangkat ya"


Lalu dia dengan motornya melaju dengan kencang. Sedangkan aku jalan kaki menuju sekolah yang jaraknya beberapa meter dari tempat aku turun dari motor.


Jarang sekali aku berangkat ke sekolah dengan orang lain, biasanya aku berangkat dengan ayah ataupun Ega. Namun karena dalam keadaan darurat akhirnya aku mau saja diantar oleh Umar.


Saat aku berjalan menuju sekolah, ada yang memanggilku dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Lutfia yang selalu muncul dari belakang.


"Laraaaa..." panggil Lutfia.


Aku menengok ke sumber suara.


"Iyaaa lutttt" aku berhenti sejenak sambil menunggu Lutfia datang menghampiri.


"Ehh tadi siapa? gue liat lu berangkat sama cowok"


"Hmmm masa sih? bohong lu ya?"


"Iiih gue nanya ke lu, malah dibilang bohong"


"Kepo dah ah, bukan cowok itu tadi kang ojek"


"Halah bohong, udah move-on lu ya dari kak Ardian"


"Sekarang bukan siapa-siapa, besok juga jadian.... Kenapa ga boleh? Dendam lu ya sama dia? parah !!!"


"Ga tau, liat aja besok...Kaga dendam, jangan ngaco deh luuttt"


"Nah ngarep jadian kan sama cowok tadi.. Ya udah move-on aja si, daripada berharap terus sama yang ga pasti"


"Engga kok, lagian lu ga tau sih dia itu gimana"


"Kenapa emang?"


"Ga tau aneh, cowok tadi tuh kakak kelas kita juga"


"Masa sih aneh? Tadi pake helm jadi ga tau"


"Iyaa gitu deh, dah lah ga mau cerita banyak dulu tentang dia"


"Hmm oke"


Lalu aku dan Lutfia sampai dikelas masing-masing. Saat tiba di kelas disambut dengan teman-temanku yang sedang duduk di teras depan kelas.


"Oy pada ngapain duduk di depan teras begini" Tanyaku kepada teman-teman.


"Bebas bentar lagi udah jadi alumni kan kita" sahut ketua kelas.


"Yoiii sombong lu"


"Lara patungan beli pilox sini "


"Berapa?"


"Goceng aja deh"


"Yang lain juga sama?"


"Sama kok, bukan buat pilox doang sekalian ntar mau makan-makan"


"Oh ya udah nih" sembari menyodorkan uang lima ribu rupiah.

__ADS_1


"Oke makasih"


Beberapa saat kemudian, ketua kelas pergi membeli pilox berwarna sebagai tradisi coret-coretan seragam setelah menerima pengumuman kelulusan.


Saat itu aku telah meminta izin kepada orang tuaku, agar diperbolehkan mengikuti tradisi coret-coret saat kelulusan. Karena tradisi tersebut hanya ada sekali dalam seumur hidup, walaupun harus mengorbankan baju seragam lama untuk dicoret. Para guru juga mengizinkan asal semua berjalan tertib.


Rencana sudah ditetapkan, tinggal menunggu hasil pengumuman kelulusan. Sekitar pukul 11.00 siang, pihak sekolah baru memberikan hasil kelulusan.


Saat itu wali kelas masuk ke ruang kelas dengan wajah yang datar sembari mengucapkan salam. Lalu dia membuka pembicaraan dengan nada yang agak pesimis. Raut wajahnya seperti tak bisa ditebak, sedih atau kecewa entahlah kenapa itu. Kami sekelas jadi merasa takut menerima berita yang buruk tentang kelulusan. Aku sampai fokus memperhatikan mimik wajah sang wali kelas, dalam hati cemas takut salah satu temanku ada yang tak lulus.


Ketika amplop diberikan satu persatu, wali kelas memberikan instruksi agar amplopnya dibuka bersama-sama tidak boleh ada yang mendahului.


Sembari menunggu teman-teman yang lain dibagikan amplop, aku dan Ega mengobrol dengan nada pelan.


"Ega lu ngerasa ga sih, itu si bapak mukanya bikin panik?"


"Iya bener, kayak flat banget"


"Takutnya ada siswa yang ga lulus diantara kita"


"Ya Allah jangan sampe dong, kita kan harus lulus bareng"


"Hmmm"


Setelah semua sudah dibagikan amplop berisi surat keterangan kelulusan. Akhirnya wali kelas memberikan instruksi kepada murid untuk dibuka amplopnya.


Dengan perasaan deg-degan dan cemas, aku membuka amplop tersebut.


Bissmillahirrahmanirrahim...


"Atas nama Larasati Mekar dinyatakan LULUS"


Sontak murid lainnya pun berteriak ketika melihat hasilnya masing-masing. Ternyata mereka semua dinyatakan lulus. Kami saling berpelukan dengan teman semeja dan lainnya. Tak terasa air mataku menetes karena terharu melihat momen seperti itu.


Lalu aku melihat ekspresi wali kelas tersenyum sumringah, berbeda sekali ekspresinya ketika memasuki ruang kelas.


Akhirnya kami seisi ruang kelas berlari ke lapangan untuk merayakan tradisi coret-coretan seragam dengan murid lainnya. Kali ini yang turut merayakan adalah semua murid kelas XII, khususnya yang telah dinyatakan lulus.


Setelah merayakan kelulusan di sekolah, seperti yang sudah direncanakan aku dan teman-teman membeli makanan untuk dimakan bersama-sama. Di rumah ketua kelas yang dekat dengan sekolah, kami merayakan lagi kelulusan dengan acara makan bersama. Walaupun sederhana, namun momentum tersebut akan dikenang selamanya.


Usai makan bersama teman-teman kelas, kami semua pulang ke rumah masing-masing. Aku dan Ega seperti biasa pulang bersama. Namun saat diatas motor Ega mengungkapkan sesuatu kepadaku.


"Besok-besok kita jarang bareng begini lagi "


Ucap Ega sendu.


"Hmm iya kayaknya, gue bakalan kangen sama lu ga. Denger teriakan suara lu di depan rumah" jawabku.


"Iyalah, siapa lagi coba yang berani manggil lu selain nyokap"


"Lu doang emang, maen maen lu ke rumah gue. Jangan sombong"


"Yee siapa yang sombong, lu kali tuh entar jadi anak kuliahan"


"Kaga lah, mana bisa gue sombong"


"Kalo lu mau kemana-mana, chat gue aja"


"Mau ngelamar jadi kang ojek pribadi gue ga?"


"Yee kaga gitu juga, maksudnya kalo lu libur kuliah trus lu pengen kemana-mana chat gue aja"


"Oke siap, sahabatku"


"Uuww sahabat, gue jadi terharu"


"Dah bertahun-tahun kita bersama ega, masa gue anggap lu kang ojek doang"


"Pliss deh ngapa gue disamain kang ojek mulu"


"hahaha ya udah, hati-hati dijalan Ega"


"daaahh"


Di perjalanan pulang, aku malu ketika orang-orang memperhatikan aku dan Ega karena seragam kita penuh dengan coretan pilox dan spidol. Memang bukan hal aneh, karena hari ini banyak yang seragamnya penuh coretan.


Memang begitulah tradisi turun menurun dari setiap angkatan sekolah, namun alangkah lebih baik seragam bekas disumbangkan kepada yang butuh. Kebetulan aku punya dua baju seragam, yang satu lagi akan aku sumbangkan kepada orang lain yang butuh.


Aku resmi lulus menjadi murid SMA dan berganti status menjadi calon mahasiswa. Semoga cita-citaku untuk segera kuliah tercapai. Aaminn..

__ADS_1


__ADS_2