
Hari demi hari berlalu.
Setelah pembagian raport, pihak sekolah meliburkan kegiatan belajar mengajar selama 2 Minggu lamanya.
Mungkin bagi anak-anak lain, liburan sekolah bisa diisi dengan liburan keluar kota atau bermain sepuasnya. Tapi bagiku liburan sekolah adalah kegiatan membosankan yaitu hanya berdiam diri dirumah. karena semenjak SMA aku malas untuk bermain diluar rumah. Alih-alih tak ingin salah bergaul, atau aku malas bepergian kemanapun.
Walaupun bosan tapi aku tetap bertahan sampai liburan selesai.
Ketika menjelang masuk sekolah, aku mendapat informasi bahwa setiap ekstrakurikuler harus menjadi panitia dalam kegiatan MOS atau masa orientasi siswa.
Akhirnya aku berminat untuk mengikuti kegiatan tersebut, sehingga aku sangat bersemangat. Dalam kegiatan MOS aku diajak senior untuk memperkenalkan ekstrakurikuler kepada murid baru.
Kebetulan saat itu aku sedang aktif dalam ekstrakulikuler islami. Jadi pada saat menampilkan demo ekskul, kami tak perlu susah payah dalam persiapan. Hanya memperkenalkan saja kegiatan yang kami lakukan di ekskul tersebut.
Setelah kegiatan MOS berakhir, aku resmi menjadi kakak kelas XI.
Dikelas XI semuanya serba baru karena ruang kelas baru, teman-teman baru dan suasana baru juga. Saat itu aku dipertemukan dengan teman-teman dari berbagai kelas X yang berbeda. Saat itu kelas kami terbagi menjadi IPA dan IPS. Sedangkan aku akhirnya dipilih ke kelas IPA, aku bersyukur karena itu sesuai harapanku.
Entahlah harus senang atau sedih ketika aku harus beradaptasi lagi dengan teman-teman baru. Aku berpisah dengan teman-teman kelas X yang dulu sekelas denganku, akupun berpisah dengan Lutfia.
Namun itu semua tak jadi masalah bagiku, yang penting aku harus belajar lebih baik lagi.
Ruang kelasku bersebelahan dengan kantin, ketika istirahat atau jam kosong pasti anak-anak mencuri kesempatan untuk ke kantin. Bahkan apabila kelasku sedang fokus belajar, ada saja kelas lain yang mampir ke kantin dan membuat keributan di dekat kelasku. Sebal, tapi mau bagaimana lagi.
Awal-awal menjadi murid kelas XI IPA lumayan menakutkan bagiku, karena aku sudah dibayang-bayangi dengan rumus-rumus Matematika, fisika, serta kimia.
Katanya jadi anak IPA itu sangat memusingkan, karena setiap hari akan dijejali dengan rumus-rumus. Namun bayang-bayang rumus tersebut tak membuatku menyerah sebelum berperang. Bagaimanapun IPA adalah kelas pilihanku, karena saat mengerjakan psikotes aku sangat berharap bisa masuk kelas IPA.
Ada beberapa pernyataan dari senior sebelumnya, bahwa anak IPA adalah anak-anak yang rajin. Sedangkan IPS adalah anak-anak bandel. Tapi aku tak ada masalah dengan pernyataan tersebut, kedua jurusan tersebut masing-masing memiliki kelebihan. Anak IPA lebih konsentrasi dalam menghafal rumus dan praktek, sedangkan anak IPS mempunyai konsentrasi dalam hitungan akuntansi atau hafalan teorinya. Jadi tak ada yang perlu dipermasalahkan dari kedua jurusan tersebut.
Beberapa teman baru dikelasku ada yang ramah, namun ada sebagian yang masih main berkelompok. Maklum karena baru beradaptasi dikelas baru, mereka belum cukup dekat dengan teman lainnya.
Seperti kelas baru biasanya, dikelasku ada pemilihan ketua kelas. Dan yang terpilih saat itu adalah cowok bernama Irham.
Sebelum pemilihan ketua kelas, ada wali kelas yang memperkenalkan dirinya didepan kelasku. Namanya Bu Fatimah, saat itu dia sedang hamil. Sebelum cuti melahirkan, dia memastikan bahwa kelas sudah diatur dengan baik. Setelah mendapatkan wali kelas dan ketua kelas, akhirnya mendiskusikan beberapa keperluan kelas untuk 1 tahun kedepan.
"Hallo. saya Bu Fatimah, untuk satu tahun kedepan kalian jadi anak saya yaa.."
"Iya Bu... " jawab anak-anak kelasku.
"Tapi. Ibu minta kalian harap maklum, karena sebentar lagi saya bakalan cuti melahirkan. Jadi ibu gak bisa membimbing kalian untuk sementara waktu."
"Iya Bu gapapa, nanti kalo udah lahir anaknya di bawa ke sekolah ya Bu"
"Iya insyaallah. Emang kenapa ibu harus bawa ke sekolah?"
"Biar kita aja yang momong Bu hehehe"
"Hehe gak usah, masa sih ibu tega nyuruh anak murid buat momong anak ibu. Kalian fokus belajar aja"
Setelah beberapa minggu menjadi anak kelas XI IPA ternyata cukup membuat aku jenuh. Karena setiap hari memang kami disuguhkan dengan pelajaran matematika, kimia, fisika bisa jadi seminggu 3x pertemuan.
__ADS_1
Hingga suatu ketika aku hanya menyukai pelajaran penjaskes. Dimana kegiatan diluar kelas dan bisa menghirup udara segar tanpa dibayangi rumus-rumus.
Dan lama-lama aku tau kalau kelas kak Iyan itu ternyata jadwal pelajaran penjaskesnya berbarengan dengan kelasku. Entah kebetulan atau memang sudah diatur oleh Tuhan. Agar aku dengan kak Iyan bertemu dilapangan setiap minggu.
Setiap minggu kelasnya lebih dulu menggunakan lapangan, kemudian dilanjutkan dengan kelasku. Sungguh kebetulan yang sangat kebetulan.
Walaupun saat itu dia belum mengenalku sama sekali, begitu pula aku yang hanya bisa memandangi dia dari jauh.
Sedangkan aku masih menunggu Informasi dari Lutfia yang belum sampai kepadaku, sepertinya dia juga sudah lupa dengan perjanjian itu. Padahal sudah lama di berjanji akan mencari tau Informasi tentang kak iyan.
Beberapa bulan setelah kegiatan belajar mengajar terlaksana, ada pengumuman bahwa sekolah akan mengadakan kegiatan perkemahan. Aku berniat untuk ikut, semoga saja aku mendapatkan izin kedua orangtua.
"Bu.. lara izin ikut kegiatan sekolah yaa"
"Kegiatan apa?"
"Hemm itu loh kayak pelantikan gitu, kemah"
"Oouh.. emang kamu berani?"
"Insyaallah berani, kan dulu waktu SMP lara pernah ikut juga"
"Iyaa udah ibu mah ngizinin aja, asal hati-hati disana"
"Iya Bu.. hehe makasih ya Bu udah ngizinin"
"Sama-sama, terus gimana persiapannya?"
"Oh gitu...ya udah deh"
Setelah aku memberikan lembar kertas dari sekolah perihal pengumuman pelantikan tersebut, awalnya ragu namun akhirnya mereka mengizinkan.
Lalu aku mempersiapkan segala kebutuhan untuk disana, mulai dari peralatan pribadi, obat-obatan, atau lainnya. Ini merupakan pengalaman pertamaku untuk mengikuti kegiatan diluar semacam berkemah selama di SMA.
Hari Pelantikan.
Hari itu terlihat seluruh murid yang bersemangat akan mengikuti kegiatan, sambil membawa barang-barang. Ketika aku sedang memperhatikan murid lainnya yang sedang bersiap, tiba tiba tatapan mataku gagal fokus pada seseorang yang sedang membawa galon dan tas ransel.
"Loh itu kan kak Iyan? Ternyata dia ikut juga?" Gumamku dalam hati. Aku jadi senang dan bersemangat, setelah mengetahui kak Iyan ikut dalam kegiatan ini.
Perasaan aku saat itu sangat senang, berharap disana punya banyak kesempatan untuk bertemu dengan kak Iyan.
Selama 2 hari aku akan berkemah ditempat tersebut, memang lokasi tersebut menjadi salah satu lokasi terpopuler untuk berkemah.
Sesampainya disana, para guru atau pembina mengumpulkan seluruh murid dilapangan untuk memberikan pengumuman. Setelah mendengarkan pengumuman, masing-masing ekstrakurikuler dipersilahkan mendirikan tenda. Dan yang sangat membuat aku terkejut, ternyata tenda kak Iyan dekat dengan tendaku hanya terpisah satu tenda saja.
Saat yang lain sedang mendirikan tenda, aku malah sibuk memperhatikan kak Iyan yang sedang berusaha mendirikan tendanya. Kak Iyan masuk dalam ekstrakurikuler sepakbola, yang rata-rata anggotanya adalah cowok.
Waktu malam pun tiba, suasana diperkemahan semakin ramai karena beberapa murid senang duduk diluar tenda daripada didalam.
Ada yang asik memainkan gitar, ada juga yang sedang rapat untuk kegiatan esok harinya. Karena kegiatan intinya adalah esok hari, dan esok akan diadakan berbagai macam kegiatan.
__ADS_1
Beruntunglah malam itu aku bisa tertidur lelap. Hingga menjelang pagi, aku terbangun dan mendengar suara adzan subuh. Suara adzan yang lumayan jauh, karena lokasi kami berkemah jauh dari masjid atau pemukiman warga.
Aku ingin segera ke toilet tapi belum ada yang bangun saat itu. Jika aku ke toilet sendirian, pasti diluar masih gelap dan orang-orang belum terbangun. Dengan terpaksa aku membangunkan temanku Fitri. Teman yang satu tenda denganku.
"Fit... bangun fit... anterin gue yuk"
"Hmmm....emang jam berapa sekarang?"
"udah subuh nih"
"Hah? udah subuh?"
"Iya...ayo bangun, kita duluan ke toiletnya. kalo entar mah pasti antri"
Lalu Fitri terbangun duduk dan mengucek matanya.
"Ayo deh..." lalu Fitri mengambil peralatan mandi dan pakaian ganti.
Aku menunggu Fitri diluar tenda, sambil menghirup udara segar, ternyata sudah ada beberapa orang juga yang terbangun dari tenda lainnya.
Dan ketika aku menengok ke arah tenda kak Iyan, ada seseorang yang sedang duduk didepan tenda. Tapi karena masih gelap dan hanya ada sedikit pencahayaan sehingga aku tak bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang duduk itu. Mataku juga masih dalam keadaan ngantuk, hanya butuh mencuci wajah atau mandi saja agar segar.
Setelah mandi dan bersiap untuk melakukan aktifitas, aku dan teman-teman lainnya sarapan dengan nasi bungkus.
Selesai sarapan dan mempersiapkan perlengkapan, seluruh murid yang akan melakukan kegiatan outbound hari itu mulai jalan mencari jejak masing-masing ekstrakurikuler mereka. Begitu pula aku yang berperan sebagai kakak senior, kebagian untuk menjaga pos kedua.
Seperti biasa disetiap pos ditanyakan beberapa pertanyaan mengenai ekstrakurikuler kami atau pertanyaan umum. Jika para peserta salah menjawab sudah pasti diberi hukuman, entah itu push up, sit up, atau hanya mencoreng wajahnya dengan lumpur.
Selesai menjaga pos dan anggota eksul sudah berhasil melewati pos yang aku jaga. Akhirnya aku segera berjalan menuju lokasi outbound, sambil melewati satu demi satu pos milik ekstrakurikuler lainnya.
Namun saat itu teman-teman dan aku berhenti dibawah pohon rindang, karena kelelahan berjalan.
Selang beberapa waktu ada beberapa orang lewat depan kami, ternyata salah satu dari mereka ada kak Iyan. Refleks aku melihat ke arahnya dan tersenyum. Salah satu teman ekskul yang berteduh denganku yaitu kak Yogi menyapa kak Iyan dengan santai. Ternyata mereka saling mengenal.
"Hey Iyan, lu jaga pos berapa tadi? "
"Jaga pos pertama, lu udah selesai?" jawab kak Iyan.
"Udah nih, gue mau jalan ke lokasi outbound gilee jauh banget"
"Hahaha emang jauh, ya udah ayo bareng biar cepet sampe"
"Ayo... yang lain mau jalan lagi atau entar?" tanya kak Yogi kepadaku dan lainnya.
"Jalan ajalah" Sahut salah satu teman.
Kak Yogi malah mengajak kami jalan berbarengan dengan kak Iyan dan teman-temannya.
Sungguh saat itu perasaanku senang sekali bisa berjalan bersama-sama dengan kak Iyan. Padahal hanya melihatnya saja aku sudah senang, apalagi bisa berjalan dibelakangnya.
Happy Reading gaes😌
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca dan memberikan vote🙏