Akhir Penantian Cita Dan Cinta

Akhir Penantian Cita Dan Cinta
Adaptasi


__ADS_3

Setelah melewati hari-hari ospek, aku menunggu beberapa hari untuk mulai perkuliahan.


Aku pindah ke tempat tinggal baru, yaitu kos-kosan. Kosan yang aku tempati saat itu masih dekat dengan kampus. Hanya beberapa langkah sudah sampai di kampus. Ibuku hebat, memilih tempat tinggal anaknya yang dekat sekali dengan kampus.


Saat pindah ke kosan baru, hanya membawa pakaian dan beberapa setelan yang diperlukan saja. Karena di kamar kosan telah tersedia kasur dan lemari.


Namun ibu sangat repot membelikan aku berbagai macam barang-barang. Itu semua agar aku tak merasa kekurangan dan kebutuhan tersedia.


Setelah rapih dan siap ditempati kamar kosanku, ibu pamit pulang.


"Dek, kamu yang betah yaa tinggal disini"


"iya Bu"


"Ibu pamit dulu, kalo ada apa-apa telepon loh"


"Siap Bu, jangan khawatir lara bisa jaga diri kok"


Ibu juga pamit kepada ibu kosan, yang menemani kami rapih-rapih kamar.


"Bu, saya titip anak yaa"


"Iya Bu tenang aja"


"Kalo nakal tegur aja ya Bu"


"Siap Bu"


Lalu ibu pergi, aku agak sedih dan hampir meneteskan air mata.


Saat berada dikamar, aku memandangi setiap sudut. Ditempat tersebut aku harus merasa nyaman untuk beberapa tahun kedepan.


Hari pertama aku tinggal jauh dengan keluarga, ibu baru saja mengantarkan aku ke tempat ini. Mulai timbul rasa kesepian ketika malam tiba, biasanya aku bersama orangtua asik menonton televisi diruang tamu. Namun saat itu aku sendirian.


"Tok...Tok"


Suara pintu terdengar dari luar, seperti ada yang mengetuk pintu kamarku.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam" aku segera membuka pintu.


"Hai, kamu baru ya disini?"


"Iya mbak, salam kenal aku Lara"


"Oh, iya salam kenal juga aku Syana"


"Mbak Syana, kamarnya sebelah mana?"


"Ini disamping kamu"


"Oh, disamping"


"Iya kalo kamu bosen dikamar, jangan segan buat panggil aku yaa"

__ADS_1


"Siap mbak"


"Sini kita ngobrol-ngobrol diluar"


Lalu kedatangan mbak Syana menghilangkan rasa kesepian aku untuk sementara.


Setidaknya dihari pertama, aku telah memiliki teman baru yaitu tetangga kamar kos.


Setelah beberapa lama asik mengobrol, akhirnya kita saling pamit untuk tidur.


Aku mulai berusaha memejamkan mata, walaupun aku terbiasa dengan gelap. Namun dikamar itu aku masih tak berani untuk mematikan lampu.


Rasanya aneh sekali, namun harus tetap ku nikmati tiap detiknya.


*Keesokan harinya*


Aku bangun setelah mendengar suara adzan dan alarm ponsel yang terdengar dari luar kamar. Entah itu alarm ponsel siapa, yang jelas sangat membantu untuk membangunkan bagi si pemiliknya bahkan orang lain.


Suasana diluar masih sepi, belum ada yang terlihat bangun.


Akhirnya aku memberanikan diri untuk pergi ke toilet.


Aku bergegas untuk berwudhu dan melaksanakan sholat subuh.


Selesai sholat subuh, hatiku merasa tenang. Aku bersyukur karena satu malam telah berhasil aku lewati. Bahkan aku seperti menghitung detik, menit, jam, untuk segera bertemu kembali dengan keluarga dirumah.


Pagi itu belum sempurna, tanpa ayam berkokok. Tersadar saat itu aku tinggal di daerah perkotaan, jadi mana mungkin ada masyarakat yang memelihara ayam kampung. Karena kebiasaan dikampung, ayam milik tetanggaku selalu berkokok dipagi hari.


Perkara ayam berkokok saja, aku jadi rindu kampung halaman. Mestinya aku memasang alarm ponsel dengan nada dering ayam berkokok saja. Agar masih bisa merasakan suasana dikampung halaman.


Ah sudahlah, lupakan ayam berkokok.


Kira-kira ibu memasak sarapan apa ya dirumah?


Tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Panjang umur, ibuku yang menelpon.


"Assalamualaikum... iya Bu?"


"Walaikumsalam... Dek, kamu udah sarapan?" tanya ibu.


"Belom Bu, ini baru mau beli sarapan"


"Oh... kira-kira mau sarapan apa kamu?"


"Hmmm... aku juga belom tau Bu"


"Didepan kosan kamu kan ada warteg, lebih baik kamu sarapan nasi sama telur dadar aja"


"Iya Bu, nanti aku beli sarapan itu deh"


"Ya udah sana sarapan, ini udah siang tau. nanti kamu telat ke kampus"


"Iya Bu, tapi santai aja kan kampus aku deket dari kosan"


"Hmm iya sih, walaupun deket tapi kamu juga harus tetep mengatur waktu"

__ADS_1


"Iya siap Bu"


"Ya udah, ibu disini selalu do'ain kamu biar sehat dan kuliahnya lancar"


"Aaminn.. terimakasih ibuku tersayang"


"Hmmm.. udah ya ibu tutup teleponnya"


"Iya Bu"


Seusai menutup telepon, aku bergegas untuk membeli sarapan diluar.


"Ting Ting Ting, lontong sayurrrrr" suara abang tukang lontong sayur yang kebetulan lewat depan kosan.


"Hmmm sepertinya aku mau sarapan itu aja deh" gumamku.


"Bangg... bang.... beli lontong sayur" aku memanggil tukang Lontong sayur tersebut.


Lalu abang tukang lontong sayur itu berhenti didepan gerbang.


"Beli 1 porsi ya bang"


"Siap neng" sahutnya.


Selesai membeli lontong sayur, aku segera masuk kedalam kosan kembali. Lalu menikmati sarapan dipagi hari itu dengan lahap. "Aku mesti laporan nih ke ibu, kalo aku jadinya sarapan lontong sayur bukan telur dadar warteg hehe" gumamku.


Akhirnya aku merasakan kenyang walaupun sarapan dengan lontong sayur, kemudian aku bersiap untuk pergi ke kampus. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, sepertinya waktu yang tepat bagi seorang mahasiswa baru untuk pertama kali masuk kuliah.


Hari itu aku menggunakan atasan berwarna ungu dan celana jeans, serta tak lupa memakai almamater. Karena peraturan kampus, yaitu mahasiswa baru wajib menggunakan almamater.


Yeah... Aku telah menjadi mahasiswa hari itu dan aku sangat bersemangat.


***


Sesampainya di kampus, aku melihat sudah banyak mahasiswa yang berdesak-desakan untuk melihat papan pengumuman. Apakah mereka semua sedang melihat informasi kelas?


Akhirnya aku pun menghampiri papan pengumuman tersebut bersama mahasiswa lainnya. Meskipun kondisinya berdesakan, untungnya aku dapat melihat informasi kelas baruku.


Ternyata aku kelas A dan hari pertama aku belajar diruangan kelas yang berada dilantai 2.


Kemudian aku langsung bergegas untuk pergi ke lantai 2. Saat sedang jalan menuju lantai 2, tiba-tiba ada seseorang yang menabrak bahuku. Karena ketika berjalan dia sedang sibuk memeriksa tasnya. Sedangkan aku buru-buru untuk naik ke atas, sehingga dia menabrak aku.


"Ehh maaf ya, saya ga sengaja" ucap seorang yang menabrak bahuku.


"Hmm iya gapapa kok" sahutku.


"Maaf ya kak" dia meminta maaf sekali lagi, sambil menundukkan kepalanya.


Lalu aku balas dengan senyuman dan pergi menuju tangga.


Aneh, aku kan mahasiswa baru. Kenapa dia panggil kakak?


"Mungkin dia mahasiswa baru juga kali, makanya panggil kakak" gumamku.


Akhirnya aku sampai di lantai 2 dan segera mencari ruang kelasnya.

__ADS_1


Setelah mendapat ruang kelas yang ku tuju, ternyata disana sudah ada beberapa mahasiswa baru. Mungkin mereka akan menjadi teman sekelas ku.


Happy Reading 🤗


__ADS_2