
Ucapan ibu kemarin sore membuat perasaanku dilema. Sedangkan ayah hanya mengikuti apa kata ibu.
"Dek, kamu ga usah ambil kuliah disana ya. Ibu khawatir sama kamu."
"Bu... perjuanganku buat daftar ke perguruan tinggi negeri itu susah Bu... mungkin aja aku bisa lolos seleksi diantara ribuan orang diluar sana"
"Iya ibu paham, tapi dek kamu kan bakal kuliah selama tiga tahun. Itu waktu yang cukup lama, apalagi nanti kamu harus jauh dari keluarga"
"Terus kapan aku bisa mandirinya Bu? kalo aku ga boleh kuliah disana dan jauh dari keluarga. Atau ibu maunya aku ga usah kuliah aja? Iya udah gapapa aku nurut aja"
Aku langsung bangun dari kursi dan berjalan menuju kamar.
"Bukan gitu dek..." Ibu hanya terdiam saat melihat aku sudah melangkah menuju kamar.
Aku sadari saat itu hatiku sangat kacau, tak tahu lagi harus bersikap apa kepada orang tuaku. Mereka tak mendukung masa depanku untuk kuliah di universitas pilihanku. Saat itu harapanku hancur tak bisa lagi dipertahankan. Ini benar-benar masalah besar yang pertama kali aku alami dalam hidup lebih dari sekedar patah hati.
Esok harinya aku tak mau keluar kamar kecuali untuk beribadah. Bangun tidur subuh aku hanya melaksanakan sholat subuh dan menangis dalam sujud. Setelah itu aku hanya berdiam diri didalam kamar.
Ibu mengetuk pintu kamar berkali-kali, sampai memanggil namaku dengan nada tingginya.
"Dekkkk... dekkkkk..... dekkkk.... nih ibu udah siapin sarapan..."
"Aku ga mau sarapan" Sahutku.
"Nanti kalo ga makan kamu sakit dek"
"Gapapa, biarin aku sakit"
Saat itu suara ibu tak terdengar lagi, mungkin dia sudah pergi dari depan pintu.
Tak lama kemudian ayah yang bergantian mengetuk sambil memanggilku.
"Dekkkk... sini keluar, ayah mau ngomong sama kamu"
"Kapan-kapan aja yah, aku lagi ga mau diganggu"
Lalu ayah pun tak bisa memaksakan aku untuk keluar dari kamar.
Selama berada dikamar aku hanya menangis sambil mencoret-coret buku catatan. Entah apa yang ingin aku tulis dalam sebuah catatan tersebut. Coret-coretan itu hanya pelampiasan kekacauan perasaanku saja.
Sambil menatap dan membuka amplop yang berisi data-data kampus perguruan tinggi negeri tersebut. Tak henti-hentinya air mataku mengalir, seakan meratapi kegagalanku saat itu.
Aku tak bisa berbuat apa-apa saat itu, hanya bisa menghapus air mata lalu menangis lagi. Walaupun aku merasakan lapar, untungnya aku bisa menahan rasa lapar tersebut dengan meminum air mineral sebotol besar yang sudah tersedia di kamar.
Wajar saja sikapku seperti itu, karena masa-masa remaja menuju 17 tahun adalah puncak kelabilan dari diriku. Aku masih mudah untuk marah tanpa memikirkan suatu kondisi. Aku juga tak berani mengambil keputusan sendiri. Namun yang aku bisa hanya menyesali kejadian itu.
Alasan aku marah dengan keadaan itu adalah aku tidak bisa melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi hasil dari perjuanganku. Yang aku pikirkan saat itu adalah takut membuat semua orang kecewa. Jika guru-guru mengetahui aku tak bisa melanjutkan, maka mereka akan kecewa kepadaku. Padahal saat itu orang tuaku yang tak mengizinkan. Pasti mereka juga berpikir kenapa aku memaksakan untuk ikut seleksi perguruan tinggi negeri tersebut, jika pada akhirnya tak diizinkan.
Itulah alasan aku hanya bisa menangis dan terdiam, rasanya tak ingin bicara dengan siapapun saat itu.
Umurku belum genap 17 tahun, itu sebabnya aku ingin melanjutkan kuliah. Karena jika bekerja persyaratannya adalah umur 18 tahun dan memiliki KTP. Sedangkan aku bisa apa setelah lulus SMA? Selain berharap bisa kuliah di perguruan tinggi negeri yang terbilang biayanya lebih terjangkau daripada swasta.
Namun orang tuaku tetap teguh dalam pendirian mereka. Tidak bisa mengizinkan aku kuliah diluar kota. Alasan mereka hanya satu yaitu khawatir.
Hari demi hari berlalu, perlahan aku mulai mengikhlaskan harapanku yang gagal. Aku mulai mau keluar kamar karena aku butuh makan. Namun aku belum mau berbicara dengan ibu atau ayah.
Beberapa hari setelah itu, kakakku yang bekerja diluar kota pulang ke rumah.
"Assalamualaikum....."
"Wa'alaikumsalam ehh Diva kamu pulang" jawab ayah yang sedang menonton televisi.
"Iya yah, ibu mana?" tanya kak diva.
"Ibu ada di dapur.."
"Buu... masak apa?"
"Ehh.. anak ibu pulang, kebetulan ibu masak cah kangkung kesukaan kamu"
"Wahh mantep nih, jadi laper"
__ADS_1
"Ya udah tunggu di meja makan, bentar lagi juga mateng kok"
"Oke siap. Oya Bu, Lara mana?"
"Di kamar, bujuk dia biar makan bareng ya"
"Hmm oke"
Lalu kak Diva pergi menuju kamarku dan mengetuk pintu.
"Dekkkk.... Kaka pulang nih, ga kangen sama Kaka?"
Aku sedang memakai earphone ditelinga, sampai tak mendengar kak diva mengetuk pintu. Namun aku mendengar suara kak Diva sekilas. Karena volume ponsel yang sengaja aku tinggikan, sampai suara luar hanya berdengung.
"Dekkkk... kamu tidur yaa?" sambil berusaha menaikkan gagang pintu kamarku.
"Loh, itu kok gagang pintu bergerak-gerak" lalu aku lepas earphone dari telingaku.
"Dekkkk.... haloo"
Saat memastikan itu benar-benar suara kak Diva, aku membuka pintu kamarku.
"Iya bentar..."
"Kak Diva....???" menunjukkan ekspresi kaget. Dan langsung memeluk kak Diva.
"Ehh lama amat sih bukanya, ngapain kamu didalam tidur ya?"
"Engga kok, aku tadi pake earphone"
"Oohh pantesan. Ya udah sini keluar, kita makan bareng yuk"
"Hmmm... engga deh, aku belom laper"
"Loh ini kan waktunya siang"
"Iya kak, tapi aku belom laper. Duluan aja deh"
"Ya udah Kaka makan aja dulu, entar ke kamar aku ya. Aku mau cerita sama Kaka" sembari membisikkan ke telinga kakakku.
"Hmmm ya udah deh, Kaka makan duluan"
Lalu kak diva pergi ke meja makan dan ibu sudah selesai masak.
"Mana Lara kak?"
"Belom laper katanya"
"Hmm... entar dia ga mau makan lagi"
"Kenapa emang Bu?"
"Entar ibu ceritain deh, kamu makan aja dulu"
"Okelah"
"Ayahhhh.... sini makan"
"Iya Bu"
Meja makan itu tepat berada di depan kamarku, jadi apabila aku ingin makan sudah tersedia lauk dan nasi di atas meja. Kadang jika lapar aku makan sendiri saat ibu dan ayah sedang tidak ada di rumah, namun makan siangku digabung dengan makan malam. Karena sudah beberapa hari aku masih tak mau makan bersama ibu dan ayah.
Setelah kak diva, ibu dan ayah selesai makan. Kak diva langsung menuju kamarku karena aku telah berjanji akan menceritakan sesuatu kepadanya. Mungkin hanya kak diva yang saat itu aku percaya untuk mencurahkan segala perasaanku.
"Kamu kenapa si dek, ada masalah ya sama ibu dan ayah?"
"Hmmm..." Lalu aku meneteskan air mata lagi didepan kak diva.
"Loh kok nangis" Kak diva memelukku.
"Lara sedih kak"
__ADS_1
"Iya sedih kenapa? cerita aja"
"Lara ga boleh kuliah disana kak"
"Loh bukannya waktu itu ibu dan ayah udah setuju?"
"Engga kak, ibu bilang ga ngizinin" Isak tangis semakin melebur.
"Hmmm... ibu pasti punya alesan kok. Karena kan kaka udah jauh, ibu ga mau kamu juga jauh dek"
"Tapi kak, kapan aku mandirinya kalo ga boleh jauh sama orangtua."
"Kaka juga ga ngerti, tapi entar kaka usahain kamu tetep kuliah dek. Walaupun bukan dikampus itu"
"Kaaa... kalo aku disana, biayanya terjangkau dibanding sama swasta. Aku juga mikirin kok, kenapa aku mau kuliah di negeri."
"Engga gitu dek, ibu pasti punya alesan lain kok. Pokonya kamu tenang aja, entar Kaka cariin kampus yang terdekat dan jurusan yang kamu mau. Udah jangan sedih lagi"
"Hmmm..."
"Dek, kamu harus selalu bersyukur. Karena kaka dulu pengen kuliah aja sembari kerja. Sekarang kalo kamu kuliah, ibu, ayah dan kaka sanggup biayain kamu."
"Iya kak, maafin lara ya kak. Mungkin lara harus ikhlas"
"Iya betul, kamu harus ikhlas. Karena semakin dewasa kamu akan ngerti deh masalah kehidupan. Jangan dikit-dikit marah, kecewa, karena jadi orang dewasa itu beda dek"
"Beda gimana kak?"
"Kalo jadi orang dewasa, masalah tuh harus dihadapi sendiri, cari solusi sendiri, dan kuat untuk bangkit kembali"
"Oh gitu ya kak..."
"Iya, Kaka anak pertama dek. Bahu Kaka harus kuat menopang masalah. Kamu, ibu dan ayah adalah tanggung jawab Kaka."
"Makasih ya kak, aku bisa lebih tenang"
"Ya udah baikan lagi sama ibu dan ayah ya"
"Hmmm.. iya kak, entar bantuin ngomong ya kak"
"Ya udah ayo kita keluar kamar"
"Ayo deh"
Lalu kak diva mengajakku keluar dari kamar untuk menghampiri ibu dan ayah di ruang tamu.
"Ibu, ayah, ada yang udah keluar kamar nih" kata kak diva.
"Ehh lara... kamu makan dulu sana" kata ibu.
"Hmm ibu, ayah, aku mau minta maaf atas sikap aku yang kemarin"
Aku memeluk tubuh ibu yang sedang duduk di sofa, disebelah ada ayah yang juga memelukku.
"Harusnya ibu dan ayah yang minta maaf ke kamu" kata ibu.
"Engga Bu, aku yang udah egois ga ngerti perasaan ayah dan ibu"
"Kita juga belom bisa ngertiin kamu dek dan belom bisa memenuhi keinginan kamu" kata ayah.
"Gapapa Bu, kata kak diva aku harus ikhlas. Dan aku yakin semua ini pasti ada hikmahnya"
"Iya Bu, kita sebagai anak punya banyak salah sama ibu dan ayah. Ga mau nambahin beban pikiran ibu dan ayah.
"Makasih ya kalian udah jadi anak-anak ibu yang terbaik"
"Sama-sama ibu , ayah" Jawab aku dan Kak diva kompak.
Momentum haru saat itu membuat aku semakin bersyukur, karena masih memiliki keluarga utuh. Ketika ada masalah masih bisa diselesaikan dengan baik.
Meskipun harus mengikhlaskan cita-citaku untuk kuliah di perguruan tinggi negeri, namun aku bersyukur masih bisa berkumpul bersama keluarga yang utuh dan itu lebih dari segalanya.
__ADS_1
Masalah ini mengingatkan aku pada kepergian kak Ardian, bahwa aku harus ikhlas melepaskannya demi cita-citanya. Saat itu aku pun harus belajar ikhlas untuk merelakan kampus pilihanku. Keduanya adalah harapanku, namun takdir berkata aku belum bisa menggapainya.