
Beberapa bulan kemudian, ujian nasional dilaksanakan.
Saat kelas XII melaksanakan UN, automatis kelas X dan XI diliburkan.
Aku berinisiatif untuk menyemangati kak Iyan, memberikan motivasi kepadanya agar berhasil dalam ujian.
Pesan terkirim :
"Semangat kak, aku do'ain UN nya lancar dan ga ada kesulitan dalam mengerjakannya"
Lalu tak lama kemudian dia membalas.
Balasan :
"Aaminn... makasih dek udah semangatin dan do'ain kaka" balas kak Iyan.
Beberapa bulan berlalu, aku hanya bisa jadi penyemangat kak Iyan apapun yang dia lakukan. Dia juga menerima untuk disemangati.
Semenjak dia mengizinkan aku untuk sering menghubunginya, aku tak segan lagi untuk sekedar menanyakan apa kegiatannya sampai hobinya. Dia pun membalas dengan senang hati.
Dia selalu memberikan kata-kata motivasi kepadaku, nasihat sederhana yang bahkan itu bisa menjadi obat ketika aku sedang lelah.
Dia pun menyampaikan cita-citanya bahwa nanti setelah lulus dia ingin kuliah di perguruan tinggi negeri. Sampai cita-cita besarnya yang ingin bergabung dalam timnas sepakbola.
Selama ujian berlangsung, aku sengaja tak ingin menggangunya sementara. Karena dia harus fokus belajar. Aku sangat menghargainya dan menghormati privasinya. Semata-mata agar aku hubungan kami tetap baik.
Seminggu kemudian usai ujian nasional, dia berangkat ke luar kota untuk merayakan acara perpisahan sekolah. Bahkan dia pamit kepadaku lewat pesan singkat.
Pesan SMS :
"Hey Lara, besok aku mau berangkat ke luar kota. Do'ain ya biar selamat sampai tujuan" ucapnya.
"Ouhhh iya kak pasti, hati-hati dijalan ya kak dan selamat bersenang-senang" jawabku.
"Terimakasih dek, kamu yang rajin ya belajarnya buat UKK" ujarnya.
"Siap kak" balasku.
Begitulah kira-kira ucapannya sebelum berangkat ke luar kota. Aku senang karena dia sempat menghubungiku sebelum berangkat.
Aku sadar, selama disana pasti dia akan bersenang-senang. Dia akan menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
Tiba-tiba aku kepikiran dengan cewek yang diceritakan kak Ela beberapa waktu lalu. Kak Iyan dan Kak Ela pasti bertemu disana. Mereka akan merayakan perpisahan sekolah bersama-sama.
Flashback :
Aku pernah bertanya padanya mengenai sosok cewek yang pernah disebut kak Ela saat berkemah. Soal kedekatan kak Iyan dengan seorang cewek bernama Sindy.
"Kak, aku mau nanya boleh gak?"
"Nanya apa dek?"
"kak Sindy itu siapanya Kaka?"
"Ouhhh... Sindy mah temen doang"
"Hmm temen doang atau temen tapi mesra ka? hehe"
"Temen biasa kok, emang kenapa dek?"
"Gapapa nanya aja, kirain itu pacar Kaka"
"Ga kok. Lagian dia udah punya pacar juga tapi bukan aku orangnya hehe"
"Hmmm gitu ya"
"Temen aku kebanyakan emang cewek, jadi suka digosipin hehehe.. Btw kok kamu kenal sindy?"
"Bukannya temenan sama cewek itu ribet ya kak.. Hemm iya tau aja hehe"
"Ribet kalo lagi ada masalah, hehe.. Tau dari orang lain yaa?"
"Yaa emang ada yang pernah bilang kalo Kaka Deket sama kak sindy"
"Jangan percaya, Kaka sama dia gak ada apa-apa kok"
"Hehe iya kak aku percaya kok"
__ADS_1
Jawaban tersebut cukup membuat aku yakin kalau kak Sindy bukan siapa-siapa kak Iyan, mereka hanya sebatas teman biasa. Mungkin saja kak Sindy yang terbawa perasaan karena dekat dengan kak Iyan. Namun kak Iyan selalu menganggap cewek-cewek itu teman biasa.
Sepulang dari luar kota kak Iyan nampaknya bahagia karena dia beberapa kali memposting foto moment tersebut difacebook.
Dalam foto tersebut terlihat dia bersama teman-temannya, namun ada yang menarik perhatianku saat foto kak Iyan bersama dua cewek. Salah satu dari cewek itu adalah kak Sindy, tampak tangannya menyender ke bahu kak Iyan sembari tersenyum. Ketika aku melihat foto itu, langsung saja aku lempar ponselku ke kasur.
Deggh... seketika perasaanku seperti ditikam pisau. Sakit rasanya melihat foto itu. Seakan-akan perkataan kak Iyan kemarin itu bohong, foto itu membuktikan kedekatan mereka lebih dari teman.
Bahkan aku tidak mau lagu melihat foto-foto yang diposting kak Iyan. Tanpa sadar air mataku menetes. Apakah ini yang dinamakan cemburu?
Beberapa saat kemudian, ponselku bergetar. Tanda ada pesan masuk.
Pesan Kak Iyan :
"Assalamualaikum Lara... kamu lagi ngapain?"
Oh sial. kenapa tiba-tiba kak Iyan mengirim pesan kepadaku. Apakah dia tau kalau aku sudah melihat beberapa fotonya di Facebook?
Dengan perasaan yang masih diselimuti rasa cemburu. Dan berusaha untuk meredam perasaanku, agar seakan-akan aku baik-baik saja. Agak lama aku memikirkan untuk membalas pesannya.
Lalu aku membalas :
"Lagi tiduran aja kak. Kaka lagi ngapain?"
"Ganggu ga? Kok lama balesnya abis ngapain?"
"Hmm engga kok.. maaf baru buka handphone, soalnya abis ngobrol sama ibu"
"Ouhhh gimana kabar kamu?"
"Alhamdulillah sehat kak. Kaka sendiri gimana?"
"Syukur Alhamdulillah sehat juga"
"Gimana kak acara disana, seru ya?"
"Iya dek seru banget"
"Syukur deh kalo Kaka seneng, soalnya keliatan dari foto juga kalo Kaka lagi seneng hehe"
"Oya, kamu udah liat foto Kaka?"
"Jadi malu, hehe..."
"Kenapa malu?"
"Iya soalnya Kaka narsis banget di foto, sesekali gapapa deh sama teman-teman hehe"
"Iya kak gapapa, aku seneng kok liatnya"
Degh... bisa-bisanya aku bilang "seneng" padahal aku udah nangis liat foto kalian sedekat itu.
Ah sudahlah aku tidak usah menanyakan soal foto itu. Lagian aku sadar, aku bukan siapa-siapa kak Iyan. Aku gak berhak cemburu, apalagi mengintrogasi kak Iyan tentang foto itu. Wajar kan dia lagi bersenang-senang dengan teman lainnya. Mungkin saja dalam foto itu kak sindy refleks menyenderkan tangannya ke bahu kak Iyan. Atau bahkan kak Iyan gak sadar, ada tangannya kak sindy di bahunya.
Sungguh perasaan itu menggangguku, sampai esok harinya aku tidak konsentrasi belajar hanya karena memikirkan hal itu.
Pagi itu disekolah aku berjalan menuju kelas, namun dari belakang ada yang tiba-tiba merangkul aku.
"Selamat pagi lara..." sapaan temanku Lutfia.
"Ehh Luttttt... kangen gue ama lu"
"Lagi mikirin apa sih, kayaknya jalan lesu amat"
"Siapa yang lesu, biasa aja"
"Massa sih??" sambil mencolek daguku.
"Ehh gue pengen nanya sama lu"
"nanya apa?"
"entar aja deh, balik sekolah kita janjian"
"gue ga bisa cuy, mau rapat eskul"
"Yah... ya udah sekarang aja deh nanyanya. Lu kenal sama kak Sindy kan?"
__ADS_1
"Kak Sindy yang satu eskul sama gue?"
"Iya itu dia"
"Kenapa emang dia?"
"Emang dia udah punya pacar?"
"Udah sih kayaknya. Kenapa gitu?"
"Lu tau ga pacarnya yang mana?"
"Hmmm Kaka kelas juga tapi anak IPS deh kalo ga salah"
"Yakin itu pacarnya?"
"Iya, soalnya gue suka liat kok mereka pulang bareng"
"Ouhhh oke syukurlah"
"Kenapa sih emangnya lu kepo banget sama kak Sindy"
"Gini, soalnya dia tuh suka deket-deket sama Kak Iyan"
"Ouh.. si Kaka kelas idola lu itu?"
"Iya. Ngakunya sih mereka temen doang"
"Ya mungkin beneran temen, kan kak Sindy juga udah punya pacar"
"Iya sih, tapi kemarin pas acara perpisahan mereka foto bareng terus deket banget"
"Ya elah biasa, kalo kak Sindy mah emang deket ke semua cowok"
"Ouhhh ya udah kalo gitu, makasih infonya"
"Hemm btw lu udah deket sama kak Iyan?"
"Sejauh ini sih udah komunikasi lewat SMS atau chat"
"Ciee.. Bagus dong, semoga cepet jadian"
"Hemm Ga mungkin deh kayaknya"
"Loh kok ga mungkin?"
"Iya gue dianggap adik kelas doang"
"Jangan pesimis dong, siapa tau entar mah dianggap pacar"
"Aaminn..."
"Semangat mengejar cintanya kak Iyan hehehe"
"Hahaha apaan sih, lebay ah"
"Ya udah gue masuk kelas dulu"
"Yeee daaahh"
Lalu aku melanjutkan langkahku ke kelas. Aku berusaha untuk melupakan tentang foto itu dan fokus belajar disekolah seharian itu.
Dan memang aku hanya cemburu buta, bahaya sekali jika aku benar-benar terlalu memprioritaskan perasaan dibandingkan logika. Aku takut hal ini menjadi berlebihan nantinya.
Semoga kak Iyan juga bisa menjaga perasaanku, meskipun selama ini dia sebenarnya tahu maksud hatiku. Tanpa merubah sikapnya yang baik dan ramah kepadaku.
Aku menyukainya, tapi bagaimana perasaan kak Iyan terhadapku. Aku juga tidak bisa memaksakan kak Iyan untuk selalu memahami perasaanku. Perasaan cemburu itu sungguh diluar kendaliku.
Aku harus menghargai kak Iyan, apapun yang dia lakukan. Sekali lagi jangan sampai membuatnya ilfiil apalagi bosan. Karena selama ini dia sudah menerima dan mempercayai aku sebagai penyemangat dan teman berbagi ceritanya.
Dear Ardian Dinata...
Pertemuan kita berdua memang singkat.
Namun bolehkah selamanya aku mengenalmu.
Happy Reading Gaes ๐
__ADS_1
Terimakasih yang sudah membaca dan vote๐