
Beberapa minggu kemudian aku berangkat ke luar kota untuk mengikuti acara kelulusan.
Aku sibuk mempersiapkan apa saja yang akan dibawa untuk acara nanti. Mulai dari menyewa pakaian kebaya yang akan dipakai diacara nanti, sampai keperluan pribadi lainnya.
Saat hari keberangkatan tiba, aku bangun pagi-pagi sekali untuk menuju ke sekolah. Karena mobil bus yang akan mengantarkan kami menuju ke luar kota, telah menunggu disana.
Aku pamit kepada kedua orangtua dan meminta do'a agar aku selalu terjaga.
***
Sesampainya di daerah puncak nan sejuk, yang hampir tiba ketempat tujuan.
Akhirnya sampai ditujuan pertama wisata kami adalah ke sebuah musium. Sekitar satu jam kami melihat koleksi dalam musium tersebut sekaligus menambah pengetahuan kami akan jejak masa lalu yang dimiliki Indonesia.
Tidak lupa aku dan teman-teman selalu mengabadikan momen dengan ponsel kecil milikku yang hasil gambarnya lumayan bagus.
"Tempat ini dulu juga pernah didatangi oleh kak Iyan, dan mereka berfoto juga disini"
Ah lagi-lagi aku teringat kak Iyan.
Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju tempat menginap. Masih harus melewati jalanan terjal, namun sepanjang jalan kami disuguhkan dengan pemandangan sawah dan kebun teh seperti hamparan permadani berwarna hijau.
***
Setelah kami turun dari mobil bus, nampak sekali ekspresi lelah dari wajah-wajah penumpang termasuk aku.
Sampai disebuah gedung bersusun dua lantai mirip hotel, namun lebih sederhana kelihatannya. Masing-masing kelas dan kelompok berkumpul untuk dibagikan kunci kamarnya.
Aku dengan kelima temanku masuk ke dalam sebuah kamar yang didalamnya tersedia tiga buah kasur, satu lemari, kamar mandi, serta perlengkapan lainnya.
Namun sebelum masuk ke kamar, ada baiknya kami mengucapkan salam ketika baru singgah dalam sebuah gedung dimanapun.
Setelah berada di kamar, aku dan teman-teman segera merapihkan perlengkapan yang dibawa dan ditaruh disebuah lemari yang tersedia. Lalu berbaring sejenak melepas lelah, karena perjalanan yang panjang.
"Ada yang mau ikut gue ga liat pemandangan di luar?" Kata Eni salah satu teman sekamarku.
"Ayoo..." Sahutku.
"Ntar ah, gue masih capek nih" sahut Indah.
"Oh ya udah, gue sama Lara doang nih yang keluar" tegas Eni.
"Yuk ah, gue pengen liat bukit dibelakang" sahut aku.
"Lo ga ngerasa dingin emang?" tanya Ega.
"Dingin lah" sahut Eni.
"Apalagi ntar malam, ampun ampunan kali dinginnya"
"Namanya juga dipuncak"
Lalu aku dan Eni ke luar dari kamar. Suasana di asrama saat itu masih ramai, banyak murid lain yang juga sedang menikmati udara disana.
__ADS_1
Sesampainya dibelakang gedung asrama, kami disuguhkan dengan pemandangan bukit m lalu rumah dibalik pepohonan seperti berundak-undak.
"Ya ampun liat tuh indahhhh bangett pemandangannya" ucap Eni terkesan.
"Iyaa, kalo lama-lama disini betah nih"
"Tapi kerasa dinginnya diluar ya"
"Iya padahal udah pake jaket"
"Ngerasa tenang banget, hirup udara kek gini"
Ya, aku sangat antusias ketika berada disana. Karena pemandangan dan udara yang sejuk dipandang oleh indera penglihatan, hingga merasuk ke relung hati yang membuat tenang. Beberapa saat kemudian gerimis datang, aku dan Eni kembali ke kamar karena saat itu sudah sore.
Namun ketika berjalan-jalan disekitar asrama, ada salah satu tempat yang aku ingat. Tempat itu pernah menjadi spot foto kak Iyan dan teman-temannya. Termasuk foto dia dengan Kak Sindy yang membuat aku cemburu.
Tapi aku tersadar bahwa aku harus berhenti dalam bayang-bayang kak Iyan. Aku berusaha untuk move on.
***
Hingga malam tiba, aku dan teman-teman sibuk mempercantik diri untuk datang ke acara kelulusan malam itu. Namun sebuah keributan terjadi di kamarku.
"Gue udah cantik belom? tanya Indah.
"Udah kok, bajunya cantik" sahut Eni.
"Ehh muka gue, bukan baju"
"Aduh lipstik gue ketebelan nih" Ucap Anis.
"Tadi ketipisan, sekarang ketebelan..." jawabku.
"Iyaa.. ih sebel deh.. mana sini tisu tisu"
"Lu udah 2x ngapus lisptik loh"
"Oke sekarang yang terakhir"
"Yahh abis dah lipstik gue" kata indah.
"Ya elah.. entar gue ganti, pelit amat lu"
"Udah udah.. buruan dandannya... bentar lagi makan malam" tegasku.
"Tau nih, dandan doang sejam " kata Ega.
"Namanya juga cewek" kata Anis.
Setelah selesai berdandan, kami menuju sebuah ruangan untuk makan bersama murid lainnya. Kami disuguhkan dengan berbagai macam makanan yang disediakan perasmanan.
Tampak ramai sekali dalam ruangan tersebut, suara sendok yang beradu dengan piring, serta suara canda tawa yang bersautan bersatu dalam ruangan. Walaupun berisik, namun kebersamaan itu terasa hangat menjelang detik-detik terakhir perpisahan dengan mereka. Hingga kami larut dalam acara makan malam bersama. Selanjutnya kami akan merayakan perpisahan, yang dikemas dalam sebuah acara apik.
Acara tersebut berlangsung didalam sebuah gedung terpisah, namun tak jauh dari asrama penginapan. Penampilan pertama dibuka dengan sambutan kepala sekolah, serta persembahan dari para guru.
__ADS_1
Terharu sekali rasanya melihat guru wali kelasku tampil di panggung membawakan sebuah puisi. Aku dan lainnya selaku murid menangis sejadi-jadinya mendengar bait-bait puisi yang mereka sampaikan.
Mereka para guru mengucapkan salam perpisahan kepada murid-muridnya. Dan tak lupa panjatkan do'a yang tulus agar kelak kami menjadi manusia-manusia berguna setelah lulus SMA.
Selain acara tersebut, persembahan para murid adalah menampilkan upacara adat untuk sungkem kepada para guru.
Ada seorang murid yang dimake up layaknya seorang pengantin wanita, serta murid lainnya menjadi pasangan pengantin pria. Mereka berdua berjalan diiringi beberapa dayang-dayang dengan berpakaian khas dengan aksesoris dikepala serta membawa atribut kerajaan.
Lalu mereka berjalan menuju panggung untuk bertemu kepala sekolah dengan wakilnya yang sedang duduk berpangku tangan. Kemudian sepasang pengantin tersebut sungkem seperti meminta restu kepada kepala sekolah. Mungkin tradisi sungkem itu adalah tanda mereka ingin meminta izin mengarungi kehidupan baru dimasa depan.
Acara tersebut berakhir dengan salam-salaman antara murid dan guru. Berakhir dengan tangis dan peluk perpisahan dengan guru-guru yang selama tiga tahun telah mengajar dan membimbing disekolah.
Ucapan terimakasih pun tak luput kami ucapkan kepada mereka. Satu persatu guru aku salami, tak bisa menahan air mata sampai menetes seiring pelukan hangat dari mereka. Hari itu adalah sebuah perayaan perpisahan yang berkesan. Aku teringat almarhum pak Hari yang telah pergi selamanya. Beliau tak bisa menghadiri acara tersebut. Namun aku yakin nama beliau tak akan pernah lekang oleh waktu dihati para murid.
"Harusnya malam ini pak Hari tersenyum liat kita lulus" kataku sambil berlinang air mata.
"Ya ampun udah Lara, pak Hari pasti liat kok diatas sana" Ega memeluk tubuhku.
"We miss you pak hari, sampai ketemu di alam sana."
"Walaupun pak hari udah ga ada, gue yakin dia ga akan pernah terlupakan" kata indah.
Terimakasih guruku, terimakasih teman-teman kalian adalah hal terindah yang pernah ada dalam hidupku selama tiga tahun. Semoga kita semua dapat berjumpa dilain waktu.
***
Pagi itu udara sejuk menyelimuti, embun sepertinya deras seperti hujan. Namun memang cuaca disana seperti itu setiap hari.
Tak heran kalau pagi itu aku takut menyentuh air di kamar mandi. Sampai aku dan teman-teman di kamar, masih saja berlindung dibalik selimut. Padahal hari itu kami akan segera meninggalkan kamar untuk pulang.
Walaupun dingin sampai ke tulang, aku memaksakan untuk membersihkan diri di kamar mandi. Lalu dilanjutkan memasukkan pakaian kotor ke dalam tas.
Setelah selesai berkemas dan sarapan, pagi itu kami bergegas meninggalkan kamar dan menuju mobil bus yang telah menunggu.
"Dadaaahh kamar, seandainya besok gue pulang kamar berubah jadi kek gini" Kata indah.
"Mimpi dah" sahutku.
"Biarin wlee"
Setelah meninggalkan gedung asrama, mobil bus kami menuju arah jalan pulang. Namun sebelumnya kami menuju salah satu tempat wisata terakhir. Ditempat wisata tersebut, kami disuguhkan dengan air terjun yang indah. Karena hanya diberi waktu sebentar, aku dan teman-teman hanya berfoto bersama ditempat wisata tersebut. Berkeliling tempat wisata sambil menikmati udara segar dengan percikan air terjun.
Namun tak beberapa lama, aku harus kembali ke mobil bus. Kali itu benar-benar perjalanan pulang, menuju daerah asal kami tinggal. Berbeda dengan perjalanan berangkat, didalam perjalanan pulang aku lebih banyak tidur. Sampai tak terasa mobil bus sudah terparkir di sekolah.
Semua murid turun dari mobil bus, sebagian dari mereka sudah dijemput oleh orangtuanya. Saat itu ayahku sudah menunggu didepan gerbang sekolah, karena satu jam sebelum sampai aku sudah menelpon ayah untuk menjemputku.
Ayah melambaikan tangan padaku menandakan keberadaannya, padahal aku juga sudah lihat ayah sebelum turun dari mobil.
Setelah dijemput ayah dan sampai di rumah, aku bersalaman dengan ibu yang sedang duduk di ruang tamu sembari menunggu aku pulang. Karena tubuhku sudah bau keringat, akhirnya aku bergegas untuk mandi.
Setelah mandi dan memakai kaos, aku langsung merebahkan tubuhku di kasur. Rindu sekali rasanya dengan kamarku, karena dua hari telah aku tinggalkan ke luar kota. Hingga malam itu aku ingin merasakan tidur di kamar sendiri, dengan beralaskan kasur yang empuk dan bantal guling milikku. Akupun tertidur lelap sampai lupa mematikan lampu kamar.
Happy Reading Gaes☺️
__ADS_1