Akhir Penantian Cita Dan Cinta

Akhir Penantian Cita Dan Cinta
Keputusan terbaik


__ADS_3

Hari itu aku bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Sibuk mencocokkan pakaian dengan warna kerudung, sampai sendal teplek yang akan aku gunakan.


Berbeda dengan persiapan sebelumnya, kali ini aku harus percaya diri menjadi calon mahasiswa baru nanti.


"Gimana Bu, matching ga warnanya?"


"Matching kok, langsung sarapan aja ya"


"Iya Bu... Oya udah bilang bapak belum?"


"Udah"


"Bu, kok aku deg-degan ya"


"Deg-degan gimana?"


"Ya grogi aja gitu, soalnya kan pertama kalinya aku ke kampus sendiri"


"Apa mau ibu temenin aja?"


"Hmm... ibu kan sibuk di rumah"


"Sibuk apa, kan ibu udah selesai masak"


"Mungkin aja ibu ada kegiatan lain"


"Engga kok, lagian ibu juga khawatir kalo kamu sendirian"


"Iiih ibu so sweet"


"Iya dong, ya udah lanjutin sarapannya"


"Oke Bu"


Setelah menghabiskan sarapan, ibu bergegas mengganti pakaian. Karena ibu benar-benar ingin menemani aku ke kampus baru.


"Loh ibu ikut?" tanya ayah.


"Iya ayah, gapapa kan?" sahut ibu.


"Gapapa, ayah juga kepikiran kalo misalnya Lara sendiri"


"Makasih ya ayah, ibu udah pengertian sama aku" Tegasku.


"Iya sayang, itu udah kewajiban ibu sama ayah"


"Ya udah yuk kita berangkat"


Sesampainya di pangkalan angkutan umum, ibu dan aku berpamitan kepada ayah.


"Ibu sama Lara pergi dulu ya, ayah jagain rumah"


"Siap, hati-hati dijalan"


Perjalanan menuju kampus sekitar 2 jam lebih, ditambah waktu macet.


"Dek, kamu sanggup kalo setiap hari harus lewatin macet kayak gini?"


"Insyaallah sanggup Bu"


"Apa mending kamu ngekos aja dek?"


"Hah? Ngekos?"


"Iya... nanti coba ibu cari kosan yang deket sama kampus deh"


"Hmmm ibu serius?"


Ibu hanya membalas pertanyaanku dengan sebuah senyum.


Sesampainya di kampus, aku segera masuk ke ruang aula karena sudah telat beberapa menit. Sedangkan ibu menunggu di kantin kampus.


Saat memasuki ruangan, nampak beberapa mahasiswa yang sudah duduk dan sedang memperhatikan seorang pembicara didepan mereka.


Aku memilih duduk di sebuah kursi pinggir tembok, namun sebenarnya masih banyak kursi depan yang kosong.


Saat itu aku duduk disamping seorang perempuan berkacamata. Eni namanya, setelah aku ajak untuk berkenalan. Singkat perkenalan, dia ternyata berbeda jurusan denganku.


Beberapa saat kemudian ruangan sudah terisi oleh hampir ratusan mahasiswa.


Acara persiapan ospek saat itu berjalan lancar, sampai selesai. Karena memang perjanjiannya acara tersebut selesai saat adzan dzuhur.


Aku segera beranjak dari kursi, lalu berpisah dengan teman baruku bernama Eni.


"Mbak, aku duluan ya"


"Iya, lara"


"Oya, boleh minta nomer teleponnya mbak"

__ADS_1


"Oh, boleh. Nih aku sebutin 0878********"


aku mengeluarkan ponsel dari tasku, lalu mencatat satu persatu angka yang disebutkan oleh Eni.


"Oke makasih ya mbak"


"sama-sama"


Saat aku melihat ke arah kantin, ternyata ibu masih berada disana.


Lalu aku mencolek bahu ibu yang sedang mengobrol dengan seorang pedagang kantin.


"Ibuu..."


"Eh kamu, udah selesai?"


"Udah kok"


"Ibu ini anak saya" Sambil mengenalkan aku kepada ibu pedagang kantin, Bu Sarmila namanya.


"Oh ini, kenalin ibu yang dagang disini" Sahut ibu Sarmila.


"Iya, salam kenal Bu" jawabku.


"Nitip anak saya ya Bu" sahut ibuku.


"Siap siap, nanti sering-sering jajan disini ya ndok"


"Hehee iya Bu"


"Nih kamu makan soto dulu, enak banget dek sotonya"


"Wah kebetulan, laper hehe"


Setelah berkenalan dengan ibu kantin dan makan soto dagangannya, aku dan Ibu berpamitan pulang.


"Bu, saya mau pulang dulu yaa"


"Monggo, makasih ya Bu udah jajan soto saya"


"Iya Bu sama-sama, enak loh sotonya"


"Hehehe...nanti kalo pengen soto saya, mint titip ke anaknya aja"


"Iya pasti, walaupun nanti sampe rumah udah adem ya sotonya"


"Oh iya bener juga"


"Susah kan bawanya Bu, kalo di taruh ditas takutnya pecah plastiknya"


"Ya udah pegangin aja sampe rumah"


"Iiih ibu"


"Pamit dulu ya bu, assalamualaikum"


"Nggih wa'alaikumsalam"


Aku kira ibu langsung mengajakku pulang, ternyata ibu mengajak aku ke sebuah rumah.


"Dek, tadi tuh ibu cari-cari kosan yang deket sini. Terus ibu nemu nih kosan, yang tempatnya nyaman buat kamu"


"Hah? Ibu serius ngebolehin aku ngekos?"


"Iya serius"


"Perasaan ibu ga pernah bilang kalo aku bakalan ngekos deh"


"Nanti ibu jelasinnya dirumah, sambil diskusi sama ayah"


"Hmmm oke"


Sesampainya di kosan, ada seorang ibu tua pemilik kosan tersebut.


"Assalamualaikum Bu, ini saya ajak anak"


"Wa'alaikumsalam... Monggo, mau cek kamarnya?"


"Iya Bu, sekalian pengen liat yang lain"


"Iya monggo"


Saat itu ibu kos mengajak kami menuju sebuah kamar kosong. Sambil menjelaskan keadaan kamar tersebut.


"Gimana dek? kira-kira nyaman ga disini?" tanya ibu pelan.


"Hmmm... coba aku pikir-pikir dulu boleh ga Bu?"


"Ini pilihan terakhir, dibandingkan kosan yang lain ini lebih bagus dan nyaman" ibu membisikkan telingaku.

__ADS_1


"Emang ibu udah survei berapa kosan?"


"Sekitaran sini aja udah 3 kosan"


"Hmmm... ya udah aku ikut ibu aja"


"Ya udah, ibu yakin ini tempat nyaman kok"


"Insyaallah"


Lalu ibuku memanggil ibu kos yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Gimana mau ngekos disini anaknya?"


"Iya Bu, mau katanya"


"Alhamdulillah... mau langsung booking?"


"Iya Bu, saya kasih uang segini dulu ya Bu" sembari memberikan uang dengan nominal. 150 ribu kepada ibu kos.


"Iya gapapa"


"Nitip anak saya nanti ya Bu, insyaallah saya sering-sering kesini kok nengokin Lara"


"Silahkan, nanti juga lama-lama kita bisa jadi keluarga"


"Aaminn. Kalo gitu saya pamit dulu ya Bu"


"Terimakasih ya Bu, hati-hati dijalan"


"Sama-sama, permisi"


Aku hanya bisa terdiam, merasa bingung dengan sikap ibu saat itu. Karena sebelumnya ibu tidak mengizinkan aku untuk jauh-jauh dari keluarga. Bahkan aku membatalkan kuliah di luar kota hanya untuk memahami perasaan orangtua.


Namun saat itu ibu malah mencarikan aku tempat tinggal atau kos-kosan disekitar kampus. Bukankah sama saja artinya aku jauh dari keluarga, kalau pada akhirnya aku tinggal di kos-kosan.


Bahkan bayang-bayang untuk tinggal di kosan saja tak pernah terpikir olehku, karena aku kira selama kuliah nanti akan pergi dan pulang ke rumah.


Perasaan bingung itu aku pendam saja, ibu akan menjelaskan nanti saat dirumah. Aku menurut saja apa kata ibu. Biar bagaimanapun pilihan seorang ibu pasti yang terbaik untuk anaknya.


Sesampainya dirumah, aku bergegas mandi duluan. Ibu sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu dengan ayah. Mungkin tentang masalah aku tinggal di kos-kosan.


"ayah, kayaknya kita harus rela ngelepas anak kita"


"Maksudnya apa Bu?"


"Iya maksudnya Lara mendingan tinggal di kos-kosan deket kampusnya"


"Loh? bukannya mau Pulang pergi aja?"


"Kasian yah, kalo begitu caranya malah ibu khawatir"


"Kenapa Bu?"


"Perjalanan Lara ke kampus itu sekitar 2 jam lebih, ditambah macetnya jalanan. Ibu khawatir kalo Lara capek dijalan, terus jadinya ga fokus sama kuliahnya"


"Hmmm... Iya juga sih Bu. Kalo pergi dan pulang bisa sekitar 4 jam dijalan"


"Bener yah. Ditambah kekhawatiran ibu tuh kalo diperjalanan ga aman yah, apalagi akhir-akhir ini ibu suka denger berita tindak kejahatan kayak copet atau todong di dalam angkutan umum."


"Astaghfirullah iya Bu, bahaya juga ya"


"Tapi Lara bingung yah, katanya kenapa kok ibu ngerelain dia sampe ngekos"


"Hmmm.. ayah juga awalnya bingung sama keputusan ibu, tapi setelah dapet penjelasannya ternyata bener juga"


Beberapa saat kemudian aku datang menghampiri ibu dan ayah.


"Bu, yah, sebenarnya kenapa sih? kok tiba-tiba lara dibolehin jauh dari kalian"


"Hmm gini lara, ibumu khawatir kalo kamu pulang pergi ke kampus sendiri terus diperjalanan kamu capek setiap hari, belum lagi jaman sekarang banyak tindak kejahatan didalam angkutan umum. Makanya ibu sama ayah ngebolehin kamu ngekos aja"


"Oh jadi gitu... Iya lara juga ngerasain sih, kayaknya perjalanan ke kampus kok makan waktu banyak. Lara takut telat terus sampe kampus, karena lara ga bisa mengatur waktu macet dijalanan juga"


"Iya lara, ibu aja baru sekali ngerasain ke kampus udah capek dijalan. Apalagi kamu nanti setiap hari" sahutt ibu


"Hmm makasih ya ibu sama ayah, udah pengertian banget sama Lara"


"Itu udah tanggung jawab kita kok, yang penting kamu fokus belajar dan bisa raih cita-cita kamu" tegas ibu.


"Insyaallah... cita-cita lara kan pengen banggain ibu sama ayah"


"Aaminn.. semoga tercapai ya nak" jawab ayah.


Sebuah diskusi penting dalam keluarga, akhirnya orangtuaku rela melepaskan aku untuk menuntut ilmu walaupun tinggal berjauhan dari mereka.


Aku akan segera memberikan kabar kepada kak Diva, bahwa aku akan tinggal di kos-kosan nanti.


Aku bersyukur mempunyai keluarga yang selalu mendukung dan pengertian. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2