Akhir Penantian Cita Dan Cinta

Akhir Penantian Cita Dan Cinta
Kaulah Penyemangat


__ADS_3

Hari itu aku akan melaksanakan ospek pertama.


Ibu masih setia menemaniku ke kampus, walaupun sebenarnya aku tak enak hati. Kekhawatiran ibu kepadaku sungguh diluar dugaan.


Kasih sayang seorang ibu melebihi apapun, hingga aku beranjak dewasa.


Mungkin baginya aku masih putri kecilnya yang harus ditemani kemanapun. Aku tahu perasaan ibu seperti apa, detik-detik dia akan merelakan aku tinggal jauh darinya.


Ibu memang tak pernah menampakkan kesedihannya, namun aku merasakan perasaan ibu yang akan kesepian ditinggal anak-anaknya. Setelah kak diva memutuskan untuk bekerja diluar kota, aku juga ternyata harus kuliah dan tinggal berjauhan.


Diperjalanan ibu selalu menyemangati aku agar nanti aku siap mental apapun yang terjadi.


"Dek kamu udah siap kan jadi anak kuliahan?"


"Insyaallah siap bu"


"Kamu harus siapkan mental, supaya nanti pas dimarahin Kaka senior kamu ga nangis"


"Hmm emang jaman sekarang masih ada perloncoan kayak gitu Bu?"


"Ibu sih ga yakin kalo tradisi marahi adik kelas itu udah hilang"


"Walaupun kita ga salah apa-apa?"


"Iya namanya juga ospek, pasti ada aja kelakuan mahasiswa baru yang dianggap salah atau mencari kesalahan"


"Terus nanti aku harus gimana Bu, kalo misalnya dimarahi sama Kaka senior?"


"Tetep hormat dan mematuhi aturan"


"Kalo misalnya aku disuruh yang aneh-aneh gimana?"


"Ya paling disuruh nyanyi didepan mahasiswa lain"


"Mending, kalo disuruh ngerayu Kaka senior gimana?"


"Minta hukuman lain dong"


"Iiih ga mau ah, pokonya aku ga mau kena hukuman"


"Siap-siap aja"


"ibu kok jangan bikin aku ngeri ya"


"ehh ga gitu, kan biar kamu siap mental dek"


"Hmmm "


Tak terasa perjalanan yang cukup lama telah dilewati, aku dan ibu telah sampai di kampus.


Sesampainya dikampus, aku langsung di sidak oleh para senior yang telah berjaga didepan gerbang untuk memeriksa barang bawaanku.


"Barang yang di list udah lengkap?"


"Lengkap kak"


"Ya udah langsung masuk aja, cari kelompokmu"


"Siap kak, terimakasih"


Baru awal saja aku sudah grogi, ketika kakak senior mengecek barang bawaanku.


Lalu aku mencari dimana kelompokku berada, akhirnya aku melihat Mbak Eni teman baruku saat beberapa waktu lalu berkenalan.

__ADS_1


"Hey mbak, kamu udah Dateng dari tadi ya?"


"Baru dateng kok, kamu udah lengkap semua kan barang bawaannya?"


"Udah mbak"


"Langsung dicek lagi nanti sama kakak pembimbing kita"


"Oh gitu, ya udah aku kedepan dulu"


"Ya udah sana"


Lalu aku menurut apa kata Mbak Eni dan bergegas menghampiri kakak pembimbing kelompokku.


"Permisi kak, saya baru dateng"


"Oh oke, mana sini barang-barang yang kamu bawa"


"Ini kak" menyerahkan sekantong plastik berisi barang-barang yang aku persiapkan.


"Kok ini coklatnya persegi, emang yang dicatet coklat apaan?"


"Hmmm segitiga kak, abis saya ga tau coklat apaan yang bentuk segitiga"


"Masa gatau? Coklat merk toleron, tapi ya udah deh gapapa, walaupun salah"


"Maaf ya kak ,saya bener-bener ga tau"


"Ya udah kamu balik lagi ke barisan"


"Terimakasih kak"


Aku salah membawa merk coklat karena aku tak tahu kisi-kisi yang diberikan oleh panitia ospek. Yang disuruh coklat segitiga, namun aku bawanya coklat persegi. Beruntung kesalahan aku tak membuatku dihukum.


"Mbak, itu makanannya buat mereka ya?"


"Iyalah pasti, menang banyak kan mereka"


"Hmm... tadi aku salah bawa merk coklat mbak, soalnya aku ga pernah beli coklat merk toleron itu dan ga memperhatikan kalo bentuknya segitiga"


"Oalah, untung kamu ga beli. Harganya mahalan toleron loh"


"Masa?"


"Iya makanya aku juga nyesel beli coklat kok mahal mbanget toh, malah dikasih ke orang"


"Hehee ikhlasin mbak, aku juga beli coklat persegi itu mahal kok"


"Ya mahalan segitiga"


"Hehe maklum aku ga pernah beli"


Setelah meributkan merk coklat yang mahal, akhirnya acara pembukaan ospek dimulai. Ketua rektor memberikan sambutan dan peresmian akan diadakan acara ospek.


"Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, acara ospek telah dimulai" Ucap rektor sambil melepaskan puluhan balon ke udara.


Gemuruh tepuk tangan meriah dari mahasiswa baru, panitia ospek serta dosen-dosen yang hadir dalam acara tersebut.


Lalu kami mahasiswa baru pindah tempat ke ruang aula.


Saat itu ruang aula berasa sangat panas dan sempit, sehingga duduk pun tak nyaman.


Beruntung seorang pembawa acara sangat komunikatif, jadi tidak terasa membosankan acaranya.

__ADS_1


Ditengah acara berlangsung, ada hal yang menarik. Sang pembawa acara menyuruh seluruh peserta ospek atau mahasiswa baru untuk menghayal. Itu seperti hipnotis atau sugesti saja, misalnya kami mempunyai sebuah mobil mewah. Lalu kami mulai mengendarai mobil tersebut dengan hati yang gembira. Akhirnya kami semua memperagakan menyetir mobil sampai lambaian tangan ketika bertemu dengan orang-orang. Memang seperti orang tak waras namun seru berhayal seperti itu. Andaikan suatu saat memang diberikan rezeki untuk membeli mobil mewah dan mengendarainya, pasti perasaannya sama.


Walaupun sesekali rasa kantuk melanda karena memang waktu ospek hanya duduk didalam ruangan sambil memperhatikan penampilan demo unit kegiatan mahasiswa, serta sambutan dari berbagai kalangan.


Banyak orang-orang hebat yang muncul menjadi motivator, sehingga banyak juga petuah yang aku simpan dalam fikiranku.


Aku ingin mengikuti jejak para motivator tersebut, andai semua bisa terjadi.


Akhirnya acara ospek dihari pertama telah selesai, dan masih ada keesokan harinya.


Aku menemui ibu yang sudah menunggu didepan gerbang, dengan wajah yang sumringah.


"Bu..."


"Gimana tadi, kena hukuman ga?"


"Engga dong hehe"


"Bagus, terus dikerjain sama Kaka senior ga?"


"Dikerjain suruh berhayal bawa mobil mewah Bu"


"Loh, ada-ada aja"


"Iya Bu, katanya sih biar kita termotivasi gitu punya mobil beneran"


"Wah bagus dong, semoga jadi do'a dan harapan ya dek"


"Aaminn... nanti aku mau ajak ibu jalan-jalan"


"Aaminn... kamu aja yang jalan-jalan, ibu mah udah tua"


"Justru dimasa tua ibu harus seneng-seneng terus"


"Ibu senengnya kalo bisa kumpul sama kamu dan kakakmu"


"Hmmm ibu..." seketika peluk ibu.


"Ya udah kita pulang, besok balik lagi"


"Bu, capek ya?"


"Engga kok, capek ngapain coba"


"Nemenin aku gini"


"Ga ada kata capek buat anak"


"Maaf ya Bu, aku masih ngerepotin"


"Dahlah, kamu ga usah minta maaf dulu"


"Lara janji, besok harus bisa mandiri"


"Harus dong"


Diperjalanan pulang aku ketiduran disandaran ibu, terasa saat ibu mengelus kepalaku.


Tak ada kata-kata lagi yang bisa aku ungkapkan untuk ibu. Dialah penyemangatku dan surgaku.


Happy Reading 😉


Terimakasih yang sudah support karyaku, semoga aku bisa lanjut update sampai akhir.

__ADS_1


Tinggalkan kritik atau saran yang membangun ya kak 🙏


__ADS_2