
Ketika aku sedang fokus menjalani tahap masuk perkuliahan. Selain orang tua dan kak Diva, ada seseorang yang setiap hari tak absen menyemangati aku.
Dia adalah sosok lelaki yang sedang berusaha mendekati aku. Umar sepertinya benar-benar ingin dekat denganku.
Walaupun dia juga sedang sibuk dengan kegiatan kuliahnya, namun dia masih sempat untuk menghubungi aku untuk sekedar basa-basi menanyakan keadaan aku.
Awalnya aku memang tak merasa nyaman ketika dia selalu menghubungiku serta kerap kali melontarkan pujian kepadaku. Namun semakin lama, sepertinya cara dia itu berhasil menaklukkan hatiku.
Sikapnya yang sering memuji itu kadang membuatku ragu. Karena beberapa cowok memang mudah membual, aku takut Umar tipe cowok seperti itu. Makanya aku ragu ketika Umar sering memuji diriku.
Bahkan Umar mendekati aku secara diam-diam. Selama beberapa bulan dekat dengannya, dia tak berani datang ke rumahku. Entah saat itu apa alasannya sehingga dia tak berani berkunjung ke rumahku, walaupun jarak rumah kita cukup dekat.
Dibilang serius namun seperti ragu-ragu, dia menyatakan perasaannya kepadaku. Namun ada fase dimana aku cuek, tak mau merespon perkataanya.
Dia meminta hubungannya denganku itu lebih dari sekedar teman. Jujur waktu itu aku belum bisa menerima atau membalas perasaannya. Namun disisi lain aku juga pernah merasakan betapa kecewanya ketika perasaan aku tak direspon oleh seseorang.
Aku takut membuat kecewa Umar saat itu. Sedangkan selepas kak Iyan pergi, memang aku sangat butuh seseorang untuk membuatku move on. Sampai akhirnya aku menerima Umar dan membalas perasaannya.
Meskipun ini bukan cara terbaik untuk sembuh dari patah hati. Namun perasaanku sedikit terobati dengan kehadiran Umar. Karena dia selalu punya cara untuk membuatku tersenyum.
Seiring waktu berjalan semakin aku memahami kegiatannya di kampus, dia bilang kegiatannya cukup padat di kampus. Dia sering menceritakan kegiatannya, sehingga aku percaya apa yang dia lakukan.
Selama itu aku sedang menunggu untuk daftar ulang serta informasi mengenai ospek. Umar menawarkan diri untuk mengantar aku pergi ke kampus, namun aku menolaknya. Aku tidak ingin bergantung padanya, sekalipun dia khawatir denganku. Aku harus berusaha menjadi sosok yang mandiri dan kuat agar cita-citaku tercapai.
Saat malam tiba biasanya aku yang menunggu umar mengabarkan lewat chatting. Beberapa lama kemudian benar saja dia mengirim pesan SMS.
"Selamat malam, sayang" Begitu panggilannya kepadaku, setelah aku mengiyakan kata-katanya beberapa hari sebelumnya.
"Malam juga" balasku biasa.
"Capek nih seharian abis latihan futsal"
"Kasian, ya udah istirahat aja kamu"
"iya ini lagi istirahat, temenin aku chattingan ya"
"bukannya tiap hari juga nemenin ya. Tapi kamu udah sholat isya belum?"
__ADS_1
"maunya sih ditemenin langsung, hehehe... udah kok"
"Belum boleh dong. Bagus deh kalo udah sholat"
"Oya kamu kapan ospeknya?"
"Belum ada informasi lagi, emang kenapa?"
"Gapapa nanya aja. Nanti kalo kamu udah masuk kuliah jangan nakal ya"
"Nakal gimana maksudnya?"
"Yaa kali aja kamu ketemu cowok-cowok di kampus"
"Apa hubungannya ketemu cowok sama nakal?" jawabku polos.
"Iiih kamu mah ga peka, maksudnya jangan sampe kamu tergoda sama cowok-cowok di kampus"
"Ya ampun, ada-ada aja sih. Engga lah"
"Janji ya kamu ga akan tergoda?"
"Namanya juga sayang, aku takut kamu macem-macem"
"Tujuan aku kan menuntut ilmu bukan cari gebetan"
"Iya deh aku percaya" katanya.
Sikap Umar seperti itu membuatku merasa aneh, karena itu tandanya dia curiga terhadapku.
Padahal aku belum aktif kuliah, namun dia sudah bersikap seperti itu. Namun selama itu aku tak pernah curiga balik kepadanya, walaupun kegiatan dia sangat padat di kampus. Aku percaya dia juga tak melakukan hal yang aneh-aneh, seperti mendekati wanita lain.
Setelah chattingan biasanya aku dan Umar menutup obrolan dengan saling mengucapkan selamat tidur. Dia biasanya izin bergadang untuk menonton pertandingan sepakbola di televisi. Tentu saja aku tak bisa melarang hobby dia. Karena memang dia bukan sekedar hobby menonton sepakbola, namun kegiatannya di kampus juga berkaitan dengan sepakbola.
Hal itu yang meyakinkan aku bahwa dia tak mungkin macam-macam dibelakangku. Selama kegiatannya bermanfaat dan positif, aku harus bisa mendukungnya.
Tiba-tiba teringat saat kak Iyan juga pernah berbagi cerita kepadaku tentang hobby yang sama. Mungkin semua lelaki menyukai sepakbola. Kak Iyan bercerita saat kuliah mengikuti unit kegiatan mahasiswa yaitu sepakbola. Bahkan beberapa foto yang dia posting di Facebook juga mengenai kegiatannya di sepakbola. Tentunya hal yang sama juga dilakukan oleh Umar.
__ADS_1
Umar pernah mengajakku untuk menemaninya bertanding futsal. Namun aku tak pernah mau, karena aku bingung untuk mengatakan izin kepada orangtua. Biasanya dia futsal di malam hari, mana mungkin bisa aku keluar rumah di malam hari. Mungkin lama-lama juga Umar bosan karena penolakan aku, sehingga dia tak pernah basa-basi mengajakku lagi. Namun hal itu bisa dimengerti oleh Umar.
Kegiatan aku selama menunggu informasi ospek, lebih banyak diam di rumah. Mungkin sesekali membantu ibu di dapur atau menyapu halaman depan rumah dan lainnya. Sampai rasa jenuh melanda, karena aku ingin segera menjalani kegiatan kuliah.
Untuk menghilangkan rasa jenuh sesekali berkabar dengan teman-teman SMA, mendengar kabar dari mereka ada yang sudah bekerja di suatu perusahaan, ada juga yang sedang menunggu masuk kuliah sama sepertiku. Rencana-rencana pertemuan pun turut di obrolkan.
Ega, sahabatku yang sejak sekolah minta ditemani kemana-mana, sekarang sudah berani pergi sendiri. Dia sudah bekerja disuatu perusahaan, hebatnya dia seringkali menghadapi lembur. Sehingga kadang dia pulang larut malam dari kerjaannya.
Aku salut kepada Ega, karena setelah lulus SMA dia menjadi wanita pekerja keras untuk membantu kedua orangtuanya. Walaupun jarang bertemu dengan Ega, namun kita berdua masih sering menanyakan kabar lewat chatting. Dia selalu bercerita ingin melanjutkan pendidikan kuliah, namun pekerjaannya yang padat ditambah lembur sepertinya dia harus mengurungkan niatnya untuk berkuliah. Namun Ega tetap semangat, dia menjalani semua itu dengan ikhlas. Bahkan sebaliknya Ega juga sering mendukung aku agar tetap kuliah.
Siang itu, aku mendapatkan telepon dari pihak kampus. Memberikan informasi agar hari senin depan, aku bisa datang ke kampus untuk mengikuti persiapan Ospek. Serta membawa berkas daftar ulang yang harus diserahkan kepada kampus.
Aku sangat bersemangat ketika mendengar informasi tersebut, karena itu artinya aku akan segera menjalankan kegiatan perkuliahan.
Tak lupa aku mengabari kak diva, karena dia harus mengetahui kabar baik tersebut. Lalu aku menghubungi kak diva lewat telepon.
"Assalamualaikum kenapa dek?"
"Wa'alaikumsalam.. Kak diva... Nanti Senin depan aku disuruh ke kampus"
"Oh bagus deh, mau ospek?"
"Belum kak, baru teknikal meeting gitu"
"Oh kirain langsung ospek. nanti kamu bisa kan berangkat sendiri?"
"Insya Allah bisa. Kak diva tenang aja"
"Bener nih? soalnya Kaka ga bisa izin, kalo hari Sabtu sih bisa aja Kaka nganterin"
"Gapapa kok, nanti aku berangkat sendiri. Udah ya aku cuma mau ngabarin itu aja"
"Iya, salam buat ibu dan ayah"
"Oke kak"
Setelah kak diva bilang "berangkat sendiri" aku jadi ragu. Mungkin memang sudah waktunya aku kemana-mana sendiri. Aku harus berani melawan rasa takutku. Perjalanan dari rumah ke kampus memang cukup jauh, namun untuk 4 tahun ke depan aku harus terbiasa dengan hal itu.
__ADS_1
Revisi sedikit...