Akhir Penantian Cita Dan Cinta

Akhir Penantian Cita Dan Cinta
Siapa namanya? (Revisi)


__ADS_3

Setelah melewati masa-masa ujian kenaikan kelas, akhir nya tersisa satu hari perjuanganku untuk melewati ujian tersebut. Aku yakin nilai-nilai ujianku memuaskan karena aku sudah giat belajar selama itu.


Dan selama beberapa hari itu aku sudah berusaha untuk mengetahui nama si kakak kelas yang aku suka itu. Rasa penasaran semakin menjadi jadi karena kurang lengkap rasanya jika mengenal seseorang tanpa tau namanya. Ternyata tidak mudah mengetahui namanya secara instan. Harusnya sih melalui seseorang atau bertanya langsung ke orangnya.


Cara Pertama :


Aku mencoba melihat absen kelas XI. Saat kak Akilah yang duduk disampingku sedang bertanda tangan diselembar absen tersebut, aku mencoba memperhatikan sambil mencari nama cowok itu. Namun ada saja halangannya, entah itu absennya ditarik oleh kakak kelas yang berada didepanku atau absennya ditutupi oleh kak Akilah.


Cara Kedua :


Aku berusaha untuk basa-basi kepada teman dikelasku yang duduknya disamping kakak kelas itu. Namun saat aku mengawali pembicaraan, tiba-tiba saja temanku itu diajak pergi temannya. Mungkin caraku agak payah. Tapi aku bingung harus berbuat apalagi.


Cara terakhir adalah sok akrab dengan kakak kelas yang sekelas dengannya. Itu cara yang paling efektif, agar cepat-cepat mengetahui namanya.


Sampai dihari terakhir menjelang ujian dimulai, suasana kelas menjadi rusuh karena candaan kelas XI. Mereka asik berbalas canda tawa, aku hanya bisa memperhatikan mereka dan sesekali aku juga ikut tertawa.


Namun disela-sela candaan mereka tiba-tiba Kak Akilah menyindir salah satu temannya. Lalu dia berkata


"Tuh liat si Iyan, dia aja duduk paling depan diem-diem aja. Tau-tau dikumpulin deh" Ucap kak Akilah.


Lalu aku menengok ke arah siapa yang disindir kak Akilah saat itu. Dan penasaran bertanya siapa orang yang dia maksud, kepada kak Akilah.


"Yang mana kak orangnya?" tanyaku penasaran.


"Itu dek, yang duduk dipojok paling depan"


Saat aku bertanya kepada kak Akilah, dia menunjuk ke arah kakak kelas tampan itu.


Ohhh.. Jadi namanya adalah Iyan !!!


Tapi kan inisialnya dari A, masa namanya Iyan sih. Gak nyambung dong, berarti itu nama panggilan bukan nama asli.


Ah sudahlah, yang penting aku sudah tahu kalau namanya adalah Iyan. Dengan cara yang tak terduga, akhirnya kak Akilah yang memberi tahu namanya.


Class meeting


Setelah ujian selesai, biasanya sekolahku mengadakan class meeting antar kelas. Kegiatan tersebut memang diadakan untuk mengisi kekosongan sebelum pembagian raport.


Pagi itu terlihat cerah.


Aku berniat untuk berangkat sekolah agak siang. Sehingga aku tak terburu-buru lagi seperti biasanya. Namun aku lupa memberitahu ayah, bahwa aku pergi siang.


Ayah sudah menyiapkan motor dan memanggil aku berkali-kali. Dia pikir aku akan terlambat, namun memang aku sengaja berangkat agak siang.


"Lara.... ayo cepetan nanti telat lagi" panggil ayah yang sudah menaiki motornya.


"Lah aku berangkatnya nanti aja yah, soalnya hari ini class meeting." jawabku dari depan pintu.


"Oalah.. kenapa ga bilang daritadi sih. Ayah kira kamu udah mau siap-siap berangkat"


"Maaf yah, lupa ngasih tau hehehe"


"Ya udah kalo gitu ayah lanjut ngopi"


"Okee...."


Lalu aku kembali ke dalam rumah, untuk sarapan. Setiap pagi aku sarapan telur dadar atau nasi goreng buatan ibuku. Tak seperti anak-anak lain yang sarapan dengan roti gandum atau susu. Keluargaku berasal dari keluarga yang sederhana, makan nasi dengan lauk seadanya. Ayahku hanya seorang buruh serabutan, sedangkan ibuku adalah ibu rumah tangga biasa. Namun ayahku rajin berkebun ataupun bertani, sehingga ayah menjual hasil kebunnya untuk membiayai sekolahku.


Selesai sarapan aku pamit kepada ibu untuk berangkat ke sekolah tepat jam 08.00.


Akhirnya aku sampai disekolah, dengan suasana yang berbeda. Tampaknya seminggu itu memang hari bebas bagi siswa. Baru datang saja sudah ramai, melihat siswa duduk dimana saja tanpa takut telat masuk kelas.


Baru sampai depan gerbang, ada seseorang yang memanggil namaku dari kejauhan. Ternyata yang memanggil itu Lutfia.


"Lara... tungguin gue dong" ucap Lutfia.


Akhirnya aku berhenti dan menunggunya. Lutfia tampak gagah berlari-lari ke arahku.


"Biasa aja ga usah lari, gue tungguin kok" ucapku.


"Hahaha itung-itung olahraga" Lutfia tampak kelelahan habis lari.


"Coba nafasnya diatur dulu"


"Yee dikira mau lahiran"

__ADS_1


"Hahahaha... ayo kita ke kelas"


"Duuh gue takut pelajaran Fisika kena remedial nih"


"Selow aja kali"


"Yee lu mah selow-selow aja, gue kan jarang masuk pas pelajaran Fisika"


"Lagian suruh siapa ga masuk"


"Huuu... oh iya Ra, kenapa sih postingan lu kok kayak lagi jatuh cinta gitu. Hayoo ngaku lu lagi suka sama siapa sekarang? Jangan... jangan lu CLBK sama Oji ya??


"Kepo banget deh ahh... Bukan dia lah !! Gue kan udah bilang ga usah bahas si Oji lagi"


"Yee sensi amat sama dia.. Terus siapa dong? Ada yang baru?"


"Entar gue kasih tau orangnya"


"Anak kelas berapa tuh? Atau dia sekelas lagi sama kita?"


"Penasaran yaaa??? ah entar juga lu bakalan gue kasih tau"


"Ah lu mah, bikin gue penasaran aja"


Ketika aku dan Lutfia sedang berjalan di koridor sekolah, ada seseorang dari kejauhan yang membuat aku terpanah.


Dia sedang berdiri dipinggir lapangan, menggunakan seragam futsal dan sepatunya. Seketika aku menyengggol bahu Lutfia, untuk memberi kode padanya.


"Eh apa sih, nyenggol-nyenggol gue aja." ucap Lutfia kaget.


"Ituuuu tuuuh.. cowok yang lagi gue suka" sambil menunjuk ke arah Kak Iyan.


"Yang mana sih? Lu kan tau mata gue minus"


"Ouhhh iya, gue lupa. Entar aja deh kalo dari Deket gue kasih tau"


"Yee dasar. ciri-cirinya kek gimana emang?"


"Ganteng, punya kumis tipis, rada kurus.."


"Kaka Kelas kita Kelas XI, kemarin waktu ujian sekelas sama gue"


"Ouhhh lu suka sama kakak kelas, jadi sekarang selera lu udah beda ya"


"Hemm gak juga, daridulu gue suka cowok yang lebih dewasa."


"Masa sih? Oji kan sekelas sama kita? Berarti gak dewasa dong"


"Bukan dia doang, emang cowok yang pernah gue suka dia doang. Pliss deh"


"Oalah hahaha"


Aku dan Lutfia sampai didepan kelas, namun karena melihat keadaan kelas yang tampak masih sepi, akhirnya aku dan Lutfia duduk didepan kelas. Sambil menonton pertandingan futsal yang akan segera dimulai.


"Eh Lara, lu tau gak kelas kita kapan maen futsalnya ?" tanya Lutfia.


"Mana gue tau, ga ada omongan dari anak-anak. Biasanya kan mereka ngomong atau minta dana"


"Iya juga sih, masa mereka gak daftar futsal. Gak seru dong !!! "


Ketika sedang asik mengobrol dengan lutfia, tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkan aku dan Lutfia.


Orangnya adalah si rambut keribo yang jail, biasa dipanggil Rambo (Rambut keribo).


"Heyyy gaes...kalian berduaan aja nih" sapa Rambo kepada aku dan Lutfia.


"Dih, padahal kita bertiga" ucapku.


"Mana bertiga?" jawab kribo heran.


"Nih disamping gue" ucap Lutfia.


"Samping lu kan tiang" ucap kribo.


"Hahahahaha" aku dan Lutfia tertawa.

__ADS_1


"Lah kok kalian ketawa sih, aneh sekali kalian berdua" lalu dia hendak pergi ke dalam kelas.


"Yee aneh-aneh, padahal lebih aneh dia" ucap Lutfia.


"Oya kribo, kelas kita bakalan tanding futsal gak hari ini?" tanyaku.


"Enggak, besok kayaknya" menjawab dari balik pintu.


"Loh kok besok?"


"Yaa gak kebagian, soalnya banyak kelasnya"


"Oh gitu"


Aku masih memperhatikan kak Iyan dipinggir lapangan, sepertinya dia sedang menunggu giliran untuk bertanding futsal. Dia terlihat sedang menggerakkan tubuhnya, sedang melakukan pemanasan sebelum bertanding.


"Woy jangan bengong lah...Entar kesambet bahaya" kata Lutfia.


"Engga bengong kok, gue tuh lagi memandang masa depan"


"Yang mana sih, coba gue pengen tau orangnya."


"Itu yang pake baju futsal, deket pohon mangga"


"Ouhhh itu toh"


"Ouhhh ouhh aja, Keliatan kaga tuh orangnya?""


"Keliatan kok, iya bener lumayan"


"Lumayan apa? Emang lu udah jelas liatnya?"


"Suruh kesini dong, biar jelas gue liatnya"


"Ye kali gue panggil dia kesini, mau ditaro dimana muka gue"


"Hahaha... namanya siapa?"


"Kak Iyan. Tapi gue belom tau nama lengkapnya"


"Coba entar gue tanyain kakak kelas gue yang di ekskul, kayaknya dia sekelas tuh"


"Hmmm.. Lu mau nanyain apa coba?"


"mau gue tanya, nama lengkap, alamat lengkap, kalo perlu nomer sepatunya"


"Yee ngaco nih bocah, dikira mau sensus penduduk"


"Hahaha... Gue kan mau bantuin lu cari informasi tentang dia, kalo lu ga mau ya udah gapapa"


"Ehh.. ehhh.. mau deh, ya udah lu tanyain yaa"


"Eeittt jangan seneng dulu, perlu lu tau nih dia udah punya pacar apa belom?"


"Hmmm... semoga aja belom punya"


"Yee... Jatuh cinta tuh jangan buru-buru, lu belom tau kan dia punya pacar apa belom. Kalo ternyata dia punya pacar, patah hati lagi deh lu"


"Bener juga sih"


"Ya udah tenang aja, gue bantuin cari tau tentang dia"


"Makasih sobat terbaikku" sambil memeluk Lutfia.


"Tapiiiii hari ini lu traktir gue"


"Belom juga ada hasilnya, masa udah minta ditraktir"


"Yee biar gerak cepat nih dapet infonya"


"Oke oke apasih yang engga buat sobat gue"


Lutfia memang berniat untuk membantu mencari tahu tentang kak Iyan. Jika aku sungguh-sungguh menyukai kak Iyan, mungkin semua jalan akan terbuka untuk mendapatkan informasi tentangnya. Walaupun saat itu aku hanya sebatas kagum dengannya, dari segi fisik dan prestasinya dikelas. Sedikit tau informasi dari kak Akilah waktu itu, aku dapat menyimpulkan bahwa kak Iyan seseorang yang fokus dalam belajar dan bisa jadi dia juga berprestasi dalam akademik. Namun benar kata Lutfia, jangan terburu-buru untuk jatuh cinta kepadanya. Karena takut akhirnya aku kecewa.


Happy Reading gaes 🙏

__ADS_1


__ADS_2