Akhir Penantian Cita Dan Cinta

Akhir Penantian Cita Dan Cinta
Dia Lagi


__ADS_3

POV LARA


Ketika mata itu melihat ke arahku, aku reflek menunduk pura-pura gak ngeliat.


Suara derap sepatunya jelas-jelas menuju ke arahku. Aku pun terus menunduk, sambil sibuk menyoret-nyoret kertas binder.


Drap...drap...drap


aku melihat kakinya melangkah ke arahku.


Dan..


Ternyata cowok melewati aku dan berjalan menuju kursi di belakangku yang kebetulan masih kosong.


Aku membeku ketika dia duduk dan menggeser kursinya ke belakang. Jaraknya jadi agak jauh dari kursi yang aku tempati.


"Yah kenapa mesti dibelakang gue sih duduknya" batinku.


Dia terlihat santai tanpa ada pergerakan apa-apa.


Suara kursinya pun sepi. Wah jangan-jangan dia tidur.


Aku kebiasaan memutar mutar pulpen disela jari, sambil menunggu dosen masuk.


"Ayo dong cepetan dosen masuk, pengen buru-buru selesai nih UAS" batinku.


Tiba-tiba...


Prakkk... Suara pulpen jatuh.


Dan sialnya, malah pulpen yang jatuh itu ketendang kakiku ke belakang. Sekarang pulpen itu ada didepan kursi cowok itu.


Aku refleks menengok dan melihat keberadaan pulpen itu.


Lalu aku beranjak dari kursi ku untuk mengambil pulpen. Aku berdiri dan hendak berjongkok.


Namun belum sempat ku raih pulpennya, ada tangan orang lain yang lebih dulu mengambil pulpen ku.


Ternyata itu tangan cowok yang bernama Chandra.


Aku refleks menoleh ke pemilik tangan itu.


"Ehhh.. punya gue"


Kita saling bertatapan, namun wajahnya datar.


"Nih..." sambil memberikan pulpen itu.


"Hemm makasih" jawabku agak canggung.


*aku berdiri lagi dan kembali duduk di kursi.


"Aahh malu rasanya, lagian nih pulpen segala ke tendang didepan dia" batinku.


POV AUTHOR


Seorang cowok yang bertemu dengan Lara di depan warnet kemarin, dia memang kelas C. Dan saat itu nomer absennya urutan ke 4 jadi automatis dia sekelas dengan Lara.


Setelah mengambil pulpen Lara yang jatuh. Lara merasakan gugup, karena cowok itu bersikap dingin.


Saat mengambil pulpen Lara, cowok itu hanya memasang wajah datar. Tak ada senyum diwajahnya.


Tapi buat apa dia mengambil pulpen itu, kan Lara udah jelas mau ambil pulpennya sendiri.

__ADS_1


Apa sebenarnya cowok itu punya sisi perduli pada orang lain?


**


UAS dimulai, selama ujian Lara benar-benar mengerjakan dengan fokus dan sunyi.


30 menit berlalu, sebagian mahasiswa mudah mengerjakan soal. Sebagian lagi ada yang kesusahan menjawab soal.


Dan seseorang yang sulit menjawab soal saat itu adalah Faisal. Dia baru mengerjakan 2 soal dari 10 soal essai yang diujikan.


Faisal yang duduk di sebelah Lara, beberapa kali memanggil Lara untuk meminta contekan jawaban.


Namun Lara beralasan bahwa dia belum selesai mengerjakan.


Faisal nampak terlihat gugup, karena kesulitan mendapatkan jawaban dari temannya.


Lara yang melihat Faisal gugup seperti itu, merasa kasihan. Akhirnya dia memberikan secarik kertas yang bertuliskan jawaban.


Namun saat ketika Lara hendak memberikan kertas tersebut. Ada suara "ekhemmm" dari mahasiswa lain membuat dosen yang tadinya sibuk dengan ponselnya menjadi berdiri.


"Ah sial..." umpat Faisal yang tadinya siap-siap menerima jawaban dari Lara.


Lara membeku ketika melihat dosen berdiri dan berjalan mengelilingi ruangan.


Ternyata suara itu berasal dari kursi belakangnya, yaitu Chandra.


"Pak...saya udah selesai" ucapnya santai.


"Oh.. ya udah kumpulin" jawab dosen.


"Wahhh.. cepet amat lu Chand, ngisinya bener semua gak tuh" tegur teman sekelasnya.


"Bener lah.. gue kan belajar" jawab Chandra santay.


Lalu orang yang menegurnya kena mental.


Tanpa ragu Chandra mengumpulkan selembar kertas jawabannya dimeja dosen.


Lalu dia pamit keluar kepada dosen pengawas.


Karena dosen terus berkeliling, sehingga Lara tak jadi memberikan kertas jawaban itu pada temannya.


Apa suara Chandra tadi adalah kode menegurnya, agar tidak melakukan hal bodoh.


Faisal terlihat tambah gugup, karena melihat dosen pengawas yang aktif mengawasi mereka.


Akhirnya 20 menit lagi ujian akan berakhir, namun Lara sudah selesai mengerjakan soal-soal tersebut.


Sebenarnya dia kasihan terhadap temannya yang belum selesai mengerjakan, namun apalah daya dia harus bersikap adil pada diri sendiri.


Akhirnya dia mengumpulkan kertas jawabannya.


Beberapa mahasiswa melihat ke arah Lara yang berjalan menuju meja. Dari semenjak Chandra selesai, baru disusul 3 orang termasuk Lara yang mengumpulkan kertas jawaban.


Lalu Lara pamit kepada dosen pengawas dan keluar dari ruangan.


"Uuuhhh akhirnya selesai juga..."


Lara berjalan turun ke lantai 1, dia berniat ke kantin untuk membeli minuman.


Sampai di kantin dia langsung membeli minuman. Dan Lara mencari tempat duduk, agar dia bisa minum.


Dia melihat kursi panjang di lobby, memang ada satu orang yang duduk disana. Namun orangnya sibuk dengan laptopnya. Akhirnya dia duduk disana.

__ADS_1


Sudah duduk di kursi dan minum.


POV LARA.


Aku duduk di kursi panjang, cuma ada satu orang yang duduk. Gapapa deh duduk disana, daripada aku minum berdiri kan gak baik.


Glek... glekk... ahhh


Tiba-tiba orang di sebelah aku bersuara "Haus amat, kayak abis lari maraton" ucap suara misterius.


"ehh" refleks kaget denger suara di sebelah.


Ternyata dia cowok dingin kelas C, siapa lagi kalo bukan Chandra.


"Ha??? Lu disini?"


Dia kembali menatap laptopnya, tanpa membalas ucapanku.


"Oya lu kok tadi cepet banget ngerjain soalnya?"


"emang kenapa? Salah?" jawabnya ketus.


"Hemm gak salah sih, tapi heran aja..."


"Lagian kalo udah selesai ngerjain ya dikumpulin lah, ngapain lama-lama. Gue juga gak bakalan bagi-bagi jawaban ke orang lain" sindirnya.


Wahhh... nih orang nyindir aku kayaknya.


"Hemm gue kasian aja, mereka bingung mau jawab apa." jawabku.


"ngapain kasian sama orang, yang ada dia dapet nilai A elu malah dapet D"


"Heummp" aku diam tak membalas.


Kok tiba-tiba dia ceramah, akrab juga engga.


Membuat aku tersadar bahwa hampir aja melakukan hal ceroboh.


Aku ingin beranjak dari kursi itu, merasa tidak nyaman dan canggung sebenarnya.


Tapi cowok itu tiba-tiba ngomong lagi.


"Lagian tipe orang-orang kek gitu bukan cuma di kelas lu doang, di kelas gue juga banyak. Tapi gue gak perduli, selama gue bener ngapain gue ladenin. Gue lebih baik dimusuhin daripada, punya temen gak guna kayak mereka"


"Ehh.. kok elu ngomong gitu sih? Emang lu gak akrab sama temen-temen di kelas lu?"


"Yaa gue biasa sendiri. Gue kuliah cari ilmu, kalo ada temen syukur, engga ada ya udah"


"Tapi gak gitu juga, suatu saat lu pasti butuh temen. Lagian kita kuliah baru semester 1, masa 4 tahun disini gak mau punya temen sih?"


"Gak tau deh, sejauh ini belum ada yang klop temenan sama gue"


"Yaa semoga semester depan temen lu banyak. Oya lu mau ikut pelantikan ya?"


"Iya. Gue ikut bukan cari temen, tapi cari ilmu. Siapa tau ada senior yang ngasih pencerahan"


"Ohh.. ya bagus deh.. Semoga acaranya lancar dan menyenangkan"


"Lah emang lu gak ikutan?"


"Hemm engga"


"Ohh.."

__ADS_1


Jawaban yang singkat. Gak ditanya kenapa nih?


Kayaknya cowok dingin emang ngomong seperlunya dan jawab seperlunya aja deh. Tapi sekalinya ngomong tuh berisi dan nyelekit di hati.


__ADS_2