
Semenjak kejadian telat datang ke sekolah, keesokan harinya aku tak enak jika harus berangkat bersama Ega. Karena takut gara-gara aku, Ega jadi ikutan terlambat ke sekolah. Jadi, aku memutuskan untuk diantar ayah saja.
"Yah, besok anterin aku ke sekolah lagi yah"
"Iyaa... emang kenapa kalo berangkat sama Ega?"
"Ga enak yah, aku telat mulu sedangkan Ega udah standby terus didepan rumah. padahal aku belum rapih"
"Oh ya udah, kirain kalian lagi berantem"
"Engga lah yah, masa aku berantem sama Ega"
"Kali aja, anak muda kan gampang ngambek" ayah sembari mengacak-acak rambutku.
"Iiiih ayah sok tau"
Usai berbincang dengan ayah diteras rumah. Aku masuk ke dalam kamar dan seperti biasa rebahan di kasur. Lalu aku mengambil ponselku yang tak ada notifikasi sama sekali.
"Ya gini jomblo, ga ada notifikasi spesial gituu" gumamku.
Saat itu aku memang belum pernah berpacaran, namun aku pernah beberapa kali dekat dengan cowok. Endingnya selalu hanya sebatas teman chatting. Terakhir itu ya kedekatanku dengan Oji. Karena dulu hampir setiap hari notifikasi diponselku penuh dengan pesan Oji. Dan setelah mengetahui Oji sudah balikkan dengan mantannya, aku memilih menjauh darinya.
"Aahhhhhh kok gue nyesel ya dulu pernah deket sama Oji" Gumamku.
Aku terpaksa harus menghapus semua chat dari dia. Untuk apa masih disimpan, anggap saja tak pernah terjadi apa-apa.
Saat itu aku iseng membuka aplikasi Facebook, untuk membuka satu persatu pertemanan yang notabene anak-anak yang satu sekolah denganku. Ada satu foto profil yang wajahnya tak asing bagiku. Lalu aku zoom fotonya, aku pikir-pikir lagi seperti mirip dengan siapa ya foto ini?
Ternyata itu foto kak Iyan, karena didalam foto itu kumis tipisnya belum nampak jelas. Jadi seperti kelihatan lebih muda dari aslinya. Coba aku perhatikan lagi, namanya Ardian Dinata. Tapi kan ini namanya bukan Iyan?
Lalu ini Facebook dia atau bukan ya?
Saat aku lihat-lihat foto lainnya, ya memang itu asli foto dia. Lalu ada juga foto dia dengan teman-teman kelasnya, serta foto kegiatan pelantikan kemarin.
"Oh ternyata nama lengkapnya Ardian Dinata.." gumamku.
Ya memang selama ini aku tak tahu nama lengkapnya, orang-orang memanggilnya Iyan. Kenapa tidak dipanggil Ardian saja? Iiihh aku menggerutu sendiri, namun tetap saja penasaran.
Tanpa basa-basi lagi, langsung ku kirim permintaan pertemanan kepadanya. Berharap dia juga mengenalku dan segera dikonfirmasi.
Menunggu.
Aku menunggu sampai keesokan harinya, setiap saat aku buka Facebook tapi belum ada notifikasi konfirmasi pertemanan dari dia.
Saat itu aku hendak berangkat ke sekolah, aku diantar ayah lagi.
"Yah ayo berangkat"
"Iya bentar, ayah abisin kopi dulu"
"hmmmm..."
Lalu aku berangkat dan sesampainya disekolah, aku turun dari motor dan bersalaman dengan ayah.
"Lara...." panggil Lutfia dari kejauhan.
"Ehh Lutttttfia......gue kangen deh sama lu"
"Sombong banget"
"Sombong kenapa coba?"
"Ga pernah ke kelas gue"
"Ngapain coba, malu lah gue"
"Main sama gue gitu"
"Kan lu udah punya temen baruuu"
"Gue kalo dikelas malah main sama cowok"
__ADS_1
"Lah emang kalo sama cewek kenapa?"
"Ceweknya judes judes"
"Ehh... masa sih?"
"Iyaaa....beda lah sama dikelas kita yang dulu"
"Sabar, awal-awal aja kali. Besok-besok mah udah engga"
"Ini udah beberapa bulan masih aja pada begitu"
"Hmmm... ya udah entar lu ke kelas gue aja"
"Yee males, lu aja ya ke kelas gue"
"Tapi kalo ga males juga guenya hahaha"
Lalu tak terasa kita berbincang sampai didepan kelas Lutfia.
"Dahhh yaa gue ke kelas dulu, lu gak mau mampir?"
"Gak ah, kelas lu rame...."
"Yee..."
Lalu Lutfia masuk ke kelasnya, sedangkan kelasku masih jauh.
Saat aku berjalan menuju kelas dan hampir sampai, tiba-tiba aku berpapasan dengan kak Iyan yang datang dari arah lain. Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa dia datang dari arah situ?
"Aah mungkin dia dari kantin.."
Selama berpapasan dia malah fokus ponselnya. Sedangkan aku hanya bisa menunduk, tak ada keberanian untuk menyapanya.
Tak apalah walaupun kami tak saling melihat, aku berharap dia sedang buka Facebook dan menerima permintaan pertemanan dariku, hehe...
Sesampainya didepan kelas, aku masih memastikan dia jalan ke arah kelasnya. Aku berhenti didepan pintu kelas dan menengok ke arahnya.
"Ehh ngagetin aja lu" jawabku ngeles.
"Lagian lu bukannya masuk malah didepan pintu?"
"Suka-suka Eike dong..."
"Lagi ngeliatin siapa hayo?"
"Ada deh"
"Yee sekarang lara punya cem ceman"
"Hahaha kepo, daahh gue mau masuk"
*Cerita Horor disekolah*
Hari itu usai pelajaran penjaskes kelas XI, semua anak murid berisitirahat. Sampai akhirnya bel masuk berbunyi. Namun anak-anak di kelas sebelahku, masih saja berisik. Memang biasanya kelas sebelah selalu berisik ketika jam kosong atau saat istirahat tiba. Tak heran jika ketua kelasku sering menegur kelas sebelah, karena seringkali mengganggu konsentrasi belajar.
Tak lama kemudian suara berisik itu berubah menjadi suara tangis. Semakin keras suara tangisnya sampai akhir kami lama-lama geram. Perwakilan dari kelasku menengok ke kelas sebelah, untuk menegur mereka.
Tapi ternyata satu persatu murid cewek sedang digotong keluar kelas oleh murid lainnya. Ternyata suara tawa, tangis dan teriakan itu bukan berasal dari satu orang saja, melainkan sebagian murid dikelas tersebut. Satu persatu dari mereka digotong keluar kelas karena pingsan, suasana semakin tidak kondusif. Anak-anak kelasku hanya bisa terdiam melihat keadaan mereka, karena kami juga merasa ketakutan ketika mereka satu persatu kesurupan.
Untung saja guru dikelas ku, bisa mengalihkan fikiran anak-anak sehingga fikiran kami tidak kosong. Guru kami berusaha untuk memperingati agar jangan sampai kami juga larut dalam fikiran buruk. Karena katanya penyebab kesurupan itu masuk dalam fikiran yang kosong.
Dari peristiwa itu menjadi suatu peringatan bahwa benar adanya alam ghoib, yang tidak senang dengan perilaku kelas sebelah. Karena mereka setiap hari mengganggu kelasku, juga kelas lainnya dengan suara berisik mereka. Mungkin mereka hanya bercanda tapi bagi kami itu sudah kelewatan.
Peristiwa itu membuat kami semua juga panik, dan pihak sekolah akhirnya menyuruh seluruh siswa untuk pulang dan memberhentikan kegiatan belajar mengajar.
Ada-ada saja kejadian hari itu, sesampainya dirumah malah aku ditanya-tanya oleh ibu.
"Kok jam segini udah pulang?" tanya ibuku yang merasa aneh.
"Iya Bu, gara-gara disekolahku ada kesurupan masal" wajahku menunjukkan tampang datar.
__ADS_1
"Hah? kesurupan?"
"Iyaa bu, kesurupan setan"
"Kok bisa?"
"Jadi gini bu, kelas yang pada kesurupan itu tepatnya disamping WC. Disamping kelasku juga sih. Ya mungkin aja penghuni WC pada marah sama mereka karena tiap hari tuh berisik banget"
"Astaghfirullah... ada-ada aja sih, emang ga ada gurunya apa gimana?"
"Iya pas kejadian itu sih emang lagi jam kosong, habis istirahat tuh kejadiannya. Terus anak-anak cewek ada yang teriak-teriak gitu, kirain kenapa ga taunya kesurupan"
"Awalnya satu orang kan?"
"Iya awalnya satu orang, terus yang nolongin malah kesurupan juga"
"Iiih serem amat sih. Untung kamu ga ikutan dek"
"Iiih masa aku kesurupan sih Bu, ga mau ah"
"Jangan sampe lah"
"Malah tadi ada satu orang yang ga sadar-sadar Bu, katanya orang itu yang awalnya kesurupan"
"Ouhhh terus gimana nasibnya"
"Tadi aku denger sedikit sih percakapannya, katanya ga mau pulang"
"Kasian yang dirasuki kalo gitu mah"
"Iya Bu, pasti capek yang nolongin soalnya berontak mulu"
"Udah dibacain do'a kan?"
"Udahlah Bu, sampe berbusa itu mulut yang nolongin"
"Masaaa? "
"Enggalah, ibu mah percaya aja"
"Ehh dasar. Ya udah sana ganti baju, terus makan siang"
"Dari tadi juga aku mau ganti baju, tapi ini tanya-tanya terus"
"Ya abisnya ibu penasaran"
"Huuu ibu-ibu komplek" lalu aku lari ke kamar, untuk ganti pakaian.
Usai makan siang, aku duduk sembari membuka ponselku. Cek Facebook apakah sudah ada notifikasi dari kak Iyan?
Dengan perasaan yang berharap ditambah jaringan ponselku yang loading, membuat aku semakin penasaran.
Yeyy... akhirnya ada notifikasi konfirmasi pertemanan.
Itu artinya aku bisa leluasa melihat postingannya setiap hari. Ini adalah sumber informasi untuk mengenalnya lebih dekat. Tapi selain ingin mencari tahu tentangnya, rencananya aku ingin menyapanya sekali saja. Siapa tahu dia mau membalas chat dariku. Syukur-syukur dibalas, kalau tidak dibalas ya mundur saja.
Dengan memberanikan diri, aku mulai mengetik satu persatu huruf pada layar ponsel.
Perasaanku berkecamuk, padahal hanya ingin menyapanya. Aku hanya ingin mengetes dia orangnya sombong atau tidak.
Apakah dia berbeda dengan cowok lain?
Bissmillahirrahmanirrahim...
Tidak ada salahnya menyapa duluan, aku hanya ingin mengenal kak Ardian atau kak Iyan.
Dipesan Facebook :
Aku : Assalamualaikum kak...
Terkirim.
__ADS_1
Dipikiran ku saat itu hanya ada perasaan takut diabaikan atau dibalas ketus olehnya.