Akhir Penantian Cita Dan Cinta

Akhir Penantian Cita Dan Cinta
Untuk pertama kalinya...


__ADS_3

Disekolah tanpa kakak kelas.


Hari itu sekolah tampak sepi, karena kakak kelas XII sudah tak aktif belajar. Mereka hadir ke sekolah hanya untuk menunggu pengumuman kelulusan saja, namun keadaan sekolah saat itu sudah terasa berbeda.


Biasanya dikoridor sekolah sudah banyak anak-anak kelas XII nongkrong sambil menggoda adik kelasnya. Atau biasanya saat kelas olahraga, mereka ramai bermain sepakbola dilapangan.


Namun tetap saja yang lebih aku ingat semua kenangan saat masih ada kak Iyan disekolah. Dulu setiap pagi didepan kelas bukannya langsung masuk ke kelas, tapi aku malah duduk didepan kelas hanya untuk menunggu kak Iyan lewat. Bahkan temanku sering bertanya karena heran dengan yang aku lakukan.


"Kenapa sih lu sering nongkrong depan kelas"


Lalu aku hanya menjawab.


"Liat pemandangan indah depan kelas kita, coba tuh tanaman cakep kan?"


Ya aku memang suka punya alasan lain ketika ditanya temanku. Namanya juga jatuh cinta, tingkahnya selalu aneh dimata orang lain.


Atau sesekali aku pura-pura ingin meminjam buku supaya bisa bertemu dengan kak Iyan diperpustakaan. Rindu masa-masa itu, ketika aku masih bisa memperhatikan kak Iyan dari jauh. Namun semua itu hanya sesaat, sebentar lagi kak Iyan lulus akan lulus.


Lamunanku tersadar, ketika Indah mengajakku jajan ke kantin.


"Lara lu ga ke kantin?" tanya Indah.


"Hmm males, nitip aja ya"


"Yee... ya udah mau beli apa?"


"Beliin gorengan sama minuman botol ya" sembari mengeluarkan uang dari saku baju.


"Oke deh" indah menerima uang dariku.


Setelah indah pergi, datang lagi temanku yang lainnya.


"Galau mulu kenapa sih lu?"


"Ehh Lola. Siapa yang galau sih laa"


"Bengong aja lu dari tadi gue liatin"


"Wahh... rajin amat lu perhatiin gue"


"Bukan gitu, entar kalo ada kejadian kesurupan lagi kan ga lucu"


"Yee amit-amit"


"Hahaha makanya jangan bengong"


"Ngegosip yuk biar gue ga bengong lagi"


"nah kan, ga bener ngajak gue ngegosip segala. Ehh tau ga???"


"Apa tuh......???"


Malah diajak ngegosip beneran -_-


Disaat aku sedang mengobrol dengan Lola, indah datang membawa jajanan pesananku.


"Nihh jajanan lu". sembari memberikan jajanan kepadaku.


"Makasih indah, ai lap yu"


"Lebay lu"

__ADS_1


"Parah gue kaga dikasih" kata Lola.


"Maaf nih bukan ga cinta, tapi gue nitip"


"Ya udah mulai sekarang kita ga ngegosip lagi" Lalu dia pergi sembari bercanda.


"Oke byeee" Si Lola malah pergi.


Maklum kalau cewek sudah berkumpul pasti seperti itu. Ada saja tingkah teman-temanku yang aneh dikelas, jadi aku ketularan aneh juga.


Hari-hari berlalu tanpa sosok kehadiran kak Iyan disekolah, yang membuat aku selalu termenung dikelas.


Sesampainya dirumah aku ganti baju, lalu makan siang. Ketika itu Ibu duduk disampingku sembari bertanya-tanya.


"Dek, kamu kapan Ujian Kenaikan kelas?"


"Sekitar dua minggu lagi Bu"


"Bentar lagi kamu kelas XII loh"


"Iya Bu, cepet banget"


"Iya perasaan mah baru kemarin kamu kelas X"


"Iya emang ga kerasa, tapi pusing"


"Entar juga ga kerasa lulus"


"Kelas XII udah tambah pusing pasti"


"Mau UN ya?"


"Bukan cuma UN Bu, tapi praktek-praktek gitu"


"Iya, kemarin aja tuh kakak kelas pada praktek Senam"


"Kamu harus jaga kesehatan ya, biar siap menghadapi kelas XII"


"Siap Bu" jawabku.


Nasehat ibu memang mujarab, walaupun hanya sepatah dua patah kata saja. Namun selama ini aku tak pernah yang aneh-aneh, semenjak SMA aku jarang main ke luar rumah malah lebih banyak waktu dirumah. Entah untuk membantu ibu atau mengajak keponakanku bermain.


Malam itu aku membuka satu persatu buku catatan setiap pelajaran, agar nanti saat ujian kenaikan kelas tak ada yang terlewatkan. Biasanya aku lupa jika ada temanku yang meminjam buku, mereka lupa mengembalikan lalu aku juga bingung dimana buku catatannya.


Sembari cek satu persatu bukunya, ditemani alunan musik. Sengaja aku putar lagunya yang mellow, karena saat itu aku sedang merasa galau. Saat itu yang aku dengarkan lagu D'Masiv dengan judul Merindukanmu. Lirik lagunya seperti ini.


Selama aku masih bisa bernafas.


Masih sanggup berjalan.


Ku kan selalu memujamu.


Meski ku tak tau lagi engkau ada dimana.


Dengarkan aku, ku merindukanmu.


Begitulah kira-kira lirik lagunya, mewakili perasaanku saat itu. Ketika aku dengan kak Iyan tidak lagi dipertemukan disekolah.


***


Beberapa hari kemudian pengumuman kelulusan kelas XII. Semua murid kelas XII datang untuk mengetahui hasil UN mereka selama beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Saat aku baru tiba disekolah, rasanya senang sekali melihat keberadaan kelas XII lagi. Itu artinya kak Iyan juga akan datang ke sekolah. Sudah tak sabar rasanya ingin bertemu dengannya, walaupun hanya sesaat.


Langkah demi langkah menuju kelas, sambil ku perhatikan setiap sudut kelas. Siapa tau ada kak Iyan di sana. Entahlah, apa memang belum datang.


Seperti biasa aku duduk didepan kelas untuk menunggunya lewat. Tapi saat bel masuk berbunyi, belum juga ia nampak lewat. Sudahlah lebih baik aku masuk kelas saja. Mungkin dia agak telat datang ke sekolah.


Ketika sedang fokus belajar, ada beberapa orang lewat depan kelasku untuk menuju ke kantin. Salah satunya ada kak Iyan disana. Dia pun menengok ke arah kelasku.


Seketika itu aku hanya bisa memandangnya dari jauh, aku senyum-senyum dibuatnya. Ingin rasanya aku memanggilnya, tapi keadaan dikelas sedang belajar.


Walaupun hanya sekejap mata, rasanya bahagia melihat kak Iyan kembali ke sekolah.


Saat waktu istirahat tiba, kebetulan guru menyuruhku untuk mengembalikan buku ke perpustakaan. Aku bersama Indah yang membawa beberapa buku itu.


Dari kejauhan aku melihat kak Iyan yang sedang duduk didepan ruang perpustakaan, lalu aku tertegun melihatnya. Dengan perasaan menggebu bercampur bahagia, aku malah gugup ketika hampir sampai diperpustakaan. Apalagi tiba-tiba dia melihat ke arahku, lalu akupun reflek tersenyum dan menyapanya.


"Hai kak" sapaku malu-malu.


"Hai... Lara? Kamu mau ngapain?"


Kok dia nanya mau ngapain, padahal aku bawa buku sebanyak itu di tangan. Hahaha rasanya basa-basi kak Iyan bikin aku ingin tertawa.


"Ini kak mau ngembaliin buku, aku masuk dulu ya" sembari melangkah ke dalam perpustakaan.


"Ouhhh iya..."


Ya ampun.... Jantungku berdebar, untuk pertama kalinya aku menyapa kak Iyan secara langsung. Karena selama itu hanya berani menyapa lewat chatting saja, sungguh rasanya berbeda.


Ketika buku itu aku letakkan di rak dan merapikannya. Tiba-tiba Indah menggodaku.


"Ciee... akhirnya setelah sekian lama, berani nyapa juga" goda indah.


"Ah indah, biasa aja kali"


"Jantungnya deg degan ga?"


"Hmmm gimana ya... indah kepo haha" lalu aku berjalan keluar perpustakaan meninggalkan indah.


"Iiih lara tungguin gue, masa gue ditinggalin..."


Lalu aku berlari keluar untuk menyembunyikan sepatu indah dan menaruhnya didekat tanaman. Ternyata diluar sudah tidak ada kak Iyan. Ketika indah keluar dari perpustakaan dia mencari sepatunya.


"Laraaaa sepatu gue mana"


"Tuh dia atas genteng"


Lalu dia sudah melihat sepatunya di dekat tanaman dan segera mengambilnya.


"Rese lu mah, sepatu gue ditaro disitu"


"Hahaha sorry sengaja"


"Gue bilangin kak Iyan nih, biar tau rasa"


"ssssstttt indahhhh"


"Hehee"


Memang mulutnya Indah itu selalu ceplas-ceplos, padahal disekitar itu mungkin saja masih ada teman kak Iyan. Aku malu jika orang-orang mengetahui aku suka dengan kak Iyan.


Aku tidak tau keberadaan kak Iyan saat itu, padahal aku berharap dia masih didepan perpustakaan sampai aku keluar.

__ADS_1


Walaupun hanya sebentar, pertemuan aku dengan kak Iyan. Namun aku tetao berbahagia. Pertama kalinya aku menyapa kak Iyan, dan kak Iyan menyapaku balik.


Cerita ini di revisi 🤫


__ADS_2