Akhir Penantian Cita Dan Cinta

Akhir Penantian Cita Dan Cinta
Pengalaman seru


__ADS_3

Disaat perjalanan menuju lokasi outbound, ada salah satu anggota kami yang tersandung batang kayu besar dan diapun terjatuh. Hingga telapak tangannya lecet dan kakinya keseleo, dia pun duduk di tanah.


Kemudian aku segera membantunya untuk berdiri kembali.


"Ya ampun, bangun kak" sambil mengangkat tubuhnya dan dia duduk.


"Duuhh sakitttt kaki akuu... aawww" Dia merengek kesakitan, karena melihat telapak tangannya lecet dan kakinya yang keseleo.


"Sini kak diberisihin, pake sapu tanganku" Sambil mengambil sapu tangan didalam kantong celana trainingku.


"Ga usah dek, pake sapu tangan aku aja. Ini aja coba pijitin kaki aku sakit."


"Ada yang bawa kotak P3K ga?" tanya kak Iyan.


"Yah gak ada. Kotaknya ada di pos terakhir" jawab kak Yogi.


"Yahhh...ada balsem atau apa gitu?"


"Aku adanya minyak kayu putih nih kak" jawabku sambil memberikan minyak kayu putih.


"Nah ini aja gapapa, sini saya lurusin kakinya" dengan sigap dia menerima minyak kayu putih dari tanganku, lalu membuka tutup botolnya dan mengurut kaki orang yang terjatuh.


"Emangnya lu bisa yan?" tanya kak Yogi.


"Bisalah, gue kan anak sepakbola. Udah biasa cedera begini" jawabnya optimis.


"Wah keren dah"


"Aww....Pelan-pelan yan" Teriaknya.


"Iya maaf, ini juga udah pelan banget ngurutnya"


"Yang lain lanjutin jalan aja, biar gue sama Lara yang nemenin si Ela" kata kak Yogi.


"Siap kak" jawab aku dan beberapa anggota kami.


"Udah nih, entar juga enakan kakinya" kata kak iyan selesai mengurut kaki.


"Makasih yaan. Maaf jadi ngerepotin kalian". ucap kak Ela.


"Sama-sama, gue lanjut jalan lagi ya" kata kak Iyan.


"Gimana El? lu mau lanjut jalan ke outbound atau balik lagi ke tenda?" tanya kak Yogi ke kak Ela.


"Lanjut deh, soalnya gue mau liat acara intinya" jawab kak Ela.


"Sini kak aku yang mapah jalannya" sahutku.


"Makasih ya dek" sambil berusaha bangun dan berdiri.


Akhirnya aku dan lainnya sampai di lokasi outbound, ternyata disana sudah banyak peserta dan panitia yang berkumpul. Dilokasi tersebut ada beberapa fasilitas yang bisa digunakan untuk para peserta.


Aku dan Kak Ela duduk dipinggir lapangan, sambil menyaksikan siswa yang sedang melakukan kegiatan outbound.


"Rame banget ya dek" kata kak Ela.


"Iya kak, seru banget kayaknya. Pengen nyobain itu tuh aku" jawabku antusias.


"Tapi antrinya panjang begitu"


"Entar kalo mau naik belakangan aja dek"


"Iya kak"


"Si Iyan mana ya"


"Hmm ga tau kak"


"Dia baik banget ya, orangnya perduli bangettt"


"Kaka kenal dia udah lama?"


"Ya baru ini aja sih, soalnya ga pernah sekelas"


"Oh...."


"Tapi dulu sih dikelasku ada yang suka sama dia"


"Siapa kak?"

__ADS_1


"Sindy. Denger-denger sih sempet deket"


"Hmm pacaran gitu?"


"Ga tau pacaran atau engga, soalnya dia kalo ditanya ga ngaku"


"Udah lama deketnya?"


"Lama sih, dari kelas X kayaknya"


"Ouhhh...."


"Iya. Siapa coba yang ga suka sama cowok begitu, udah ganteng, rasa perdulinya tinggi, rajin, pinter, sempurna lah"


"Kaka juga suka dong?"


"Suka sih, cuma kagum aja"


"Ouhhh..."


"Kamu suka juga dek? biar entar aku salamin deh hahaha"


"Iiih kaka bisa aja deh"


Aku kaget ketika kak Ela memberikan aku informasi tentang kak Iyan. Apalagi tentang kedekatan ka Iyan dengan temannya itu. Mendengar kabar tersebut malah membuat nyaliku menciut. Ah, kenapa kak Iyan bisa sedekat itu dengan teman wanitanya. Sedangkan aku siapa?


Kok aku jadi pesimis untuk mengenal kak Iyan lebih jauh, padahal awalnya aku juga hanya kagum dengan rupanya.


Benar kata kak Ela semua cewek pasti kagum dengan kak Iyan, karena dia nyaris sempurna. Pantas saja banyak yang suka atau kagum terhadapnya.


Walaupun aku baru beberapa kali bertemu kak Iyan, tapi memang kak Iyan itu cowok yang punya pesona tersendiri.


Selesai kegiatan outbound dan lainnya, kami kembali ke lokasi berkemah untuk segera membersihkan tubuh dari segala kotoran dan keringat.


Malam hari itu langit dipenuhi bintang-bintang, dan terlihat indah jika dipandang dari tengah hutan tempat perkemahan kami.


Para guru pembina mengumpulkan kami dilapangan untuk kegiatan renungan malam. Pembina memberikan nasihat serta muhasabah agar kita semua merenungkan hidup agar menjadi lebih baik. Suasana yang sunyi, dingin, serta suara jangkrik yang bersahutan menambah suasana menjadi drama.


Bagaimana bisa melihat wajah orang-orang yang berada dilapangan, pencahayaan saja sengaja diredupkan. Hanya bermodalkan lampu disetiap sisi lapangan dan lampu gantung yang berasal dari masing-masing tenda.


Malam semakin larut dan aku yakin semua tertidur dengan lelap, karena lelah seharian mengikuti kegiatan outbound.


Keesokan Harinya.


Sepulangnya dari kegiatan berkemah, aku kembali sekolah seperti biasanya.


Pagi itu pukul 06.30 aku berangkat ke sekolah dengan Ega. Suara klakson motor berbunyi, itu tanda Ega sudah menunggu didepan rumah. Namun aku masih kewalahan mencari kaos kaki.


"Buu.... liat kaos kaki ga?" tanyaku sambil mencari-cari kaos kaki.


"Dilemari kamulah" sahut ibu dari dapur.


"Ga ada bu..."


"Coba cari lagi, masa ga ada?"


"Ini udah aku cari-cari ga ada bu..."


Sampai akhirnya ibu datang, dan membantuku mencari kaos kaki tersebut.


"Ini apa?" mata ibu seketika melotot sambil mengangkat kaos kaki.


"ehh iya Bu, itu kaos kaki... tadi perasaan udah dicari disitu ga ada" sambil meringis.


"Makanya kalo cari pake mata. Ya udah nih pake, itu Ega udah nungguin didepan" keluarlah kata-kata sakti seorang ibu-ibu.


"Iya Buu..."


Aku bergegas memakai kaos kaki dan sepatu, lalu aku lari menghampiri Ega.


"Maaf ya Ega gue kelamaan, tadi nyari kaos kaki dulu."


"Iya gapapa, ayooo berangkat"


"Kita telat ga nih, hari ini kan upacara"


"Masih ada waktu 15 menit"


"Ngebuttt ya Ega"

__ADS_1


"Siapp"


Lalu ibu berteriak dari depan rumahku.


"Jangan ngebut-ngebut ya Ega...."


Sontak aku dan Ega menengok dan hanya tersenyum.


"Ayo gas...."


Saat diperjalanan ada insiden kecelakaan, sehingga jalanan utama macet. Lalu aku dan Ega melalui jalan alternatif.


"Duuh sial, itu didepan macet segala. Ada apaan coba?"


"Waduhh bisa-bisa telat nih kita"


"Lewat gang lain aja deh"


"Nah betul, ayo gas"


"Muter balik dikit deh kita"


Setelah melewati rintangan itu, tepat pukul 06.50 aku dan Ega sampai didepan gerbang sekolah. Namun gerbangnya hampir saja ditutup oleh satpam.


"Paakkk.. jangan ditutup dulu ya pak"


"Huuuhhh... cepet masuk, udah pada kumpul dilapangan tuh"


"Siap pak, ayo Ega cepetan jalan"


"Iyaa... makasih ya pak"


Lalu aku turun dari motor, dan Ega memarkir motornya.


"Ayo cepetan Ega, kita taro tas diruang UKS aja deh"


"Iya iya sabar kali"


Aku dan Ega berlari ke arah ruang UKS. Namun ruang UKS tidak ada orang sama sekali dan pintunya tertutup.


"Yah kok ditutup sih"


"Yahh mau naro dimana ini tas"


"Eh masih banyak tuh yang baru dateng, kita ke kelas aja larii"


"Ayo deh"


Lalu dengan terpaksa kita berdua lari ke kelas, sayangnya kelas juga sudah terkunci. Karena teman-temanku sudah keluar semua dari kelas.


"Ah sial... kenapa udah ditutup juga"


"kita nitio dikantin aja deh"


"Nah ide bagus.... Buu Buu numpang nitip tas yaa"


"Iya neng taro aja disitu"


Kemudian aku dan Ega lari ke arah lapangan dan mencari barisan kelasku.Untungnya upacara baru dimulai dengan aba-aba pemimpin upacara.


"Huuhh.. akhirnya kita selamat" ucapku sambil kelelahan.


"Yee dari mana lu berdua, tumben amat telat dateng" tanya salah satu temanku.


"Dari rumah lah" sahutku.


"Gara-gara dia nyari kaos kaki nih" kata Ega.


"Ehh iya sorry"


"Gue kira abis lari maraton"


"Iya lari maraton dari UKS ke kelas malah ditutup semua"


"Hahahah kasian kalian.."


Suasana menjadi hening ketika pemimpin upacara memberikan komando. Syukurlah aku dan Ega bisa mengikuti upacara hari itu tanpa kena hukuman.


Bab ini Revisi ya gaes 🤗

__ADS_1


__ADS_2