Akhir Penantian Cita Dan Cinta

Akhir Penantian Cita Dan Cinta
Sesingkat itu..


__ADS_3

Beberapa waktu lalu kak Iyan masih rajin menghubungi aku duluan, karena dia mengerti keadaanku saat itu sedang sibuk-sibuknya.


Kadang dia sudah mengirim pesan dari semalam, namun aku baru bisa membaca pesannya ketika aku terbangun pagi-pagi.


Hingga lama kelamaan aku jarang berkomunikasi dengannya. Sering kali aku meminta maaf padanya karena saat itu aku jarang tidur larut malam lagi dan tak bisa menunggu pesannya. Sehingga kesempatan untuk berkomunikasi dengannya begitu sulit.


Namun sekali lagi dia tetap memaklumi keadaanku, karena dia pernah berada diposisi seperti aku yaitu sibuk dengan tugas sekolah.


Sampai akhirnya beberapa hari menjelang UN. Aku sedang fokus belajar dan latihan mengerjakan soal Matematika.


Tiba-tiba ada dering tanda pesan masuk diponselku. Setelah ku lihat itu sebuah pesan dari kak Iyan. Aku sangat antusias untuk membaca pesan darinya, sampai pensil ku lemparkan ke atas buku.


"Assalamualaikum Lara... Maaf sebelumnya udah ganggu. Kaka mau ngomong sesuatu, semoga ini ga bikin kamu kecewa ya. Sebenarnya kaka ga mau bikin kamu kecewa, tapi lebih baik untuk saat ini dan seterusnya kamu jangan menunggu kaka lagi. Karena kamu berhak bahagia, kamu berhak mendapatkan cowok lain yang sayang sama kamu. Kaka mohon maaf kalo selama ini cuma buat kamu kecewa, Kaka ga bisa jadi cowok terbaik buat kamu. Aku takut kamu menunggu terlalu lama demi Kaka, makanya lebih baik kamu lepasin perasaan kamu. Terimakasih untuk perhatian kamu selama ini. Kita masih bisa berkomunikasi kok, biar kita tau kabar masing-masing cuma ga sesering dulu. Sekali lagi maaf Kaka udah buat kamu kecewa"


Deghhh....degh.. perasaan apa ini?


Ketika melihat pesan itu, rasanya seperti tertusuk pisau yang sangat tajam dan menancap tepat dihatiku.


Kata-kata itu kenapa berbanding terbalik dengan kata-kata dia sebelumnya yang beberapa waktu lalu dikirimkan untukku?


Ini mimpi atau bukan?


Saat ku coba cubit tanganku benar-benar terasa sakit rasanya.


Apa maksudnya dia berbicara seperti ini?


Lagi lagi aku Speechless...


Aku tak menjawab pesannya.


Aku diam seribu bahasa, entahlah apa yang akan ku jawab. Karena tak akan mudah menerima kenyataan itu.


Aku melempar ponselku ke kasur dan berusaha untuk melanjutkan kegiatan belajarku.


***


Malam menjelang UN aku benar-benar fokus latihan mengerjakan soal. Ada dering pesan masuk.


"Semangat ya dek, besok mau UN. Semoga lancar dan sukses ngerjain soalnya"


Langsung ku lemparkan ponselku. Dan aku tak memperdulikannya. Aku hanya menghela nafas sedalam-dalamnya, semoga aku tak terpengaruh oleh kata-kata itu.


Aku memutuskan untuk menghilang darinya. Pesan-pesan darinya tak pernah aku balas. Akun Facebook sengaja aku tutup. Itu semua aku lakukan supaya aku merasa tenang saat itu.


Tak perduli dengan perasaan yang berkecamuk dihatiku. Aku lebih fokus terhadap apa yang akan ku hadapi esok harinya yaitu Ujian Nasional.


**


Pagi itu, suasana hening dikelas.

__ADS_1


Lembaran kertas dibagi-bagi ke setiap meja. Diberikan waktu 90 menit untuk mengerjakan soal sebanyak itu.


Detik, menit berlalu. Ku pasrahkan seluruh pikiranku untuk mengingat semua materi yang pernah aku pelajari.


Waktu 90 menit berlalu, aku sudah selesai mengerjakan soal sebanyak itu dengan tepat waktu. Syukurlah satu hari selesai, masih ada hari berikutnya.


"Lara gimana tadi, susah ga?" tanya ibu.


"Alhamdulillah lumayan susah Bu, tapi aku bisa ngerjainnya"


"Syukurlah dek, usaha itu tak akan mengkhianati hasil. Kamu harus lebih serius belajarnya"


"Siap Bu"


Karena aku lebih patuh dengan nasehat ibuku. Hingga setiap malam aku belajar, mengulang mengerjakan soal demi soal.


Entah sudah berapa lama aku tak melihat ponselku. Mungkin sudah sejak sehari sebelumnya aku letakkan ponsel di meja. Ke sekolah pun tak boleh membawa ponsel, jadi untuk apa aku membawanya.


Hari demi hari berlalu dan akhirnya Ujian itu selesai.


Aku berpelukan dengan teman-teman dikelas, pertanda kami semua telah lega melewati masa-masa sulit itu.


Beberapa hari kemudian ada seorang kurir Pos datang ke rumah. Ibu yang menerima surat dari kurir tersebut.


Lalu sesampainya dirumah, sepulang sekolah aku dikabarkan oleh ibu. Namun ku lihat raut wajah ibu seperti datar.


"Hah surat???" tanyaku heran.


"Iya surat, coba buka tuh ibu taruh dimeja suratnya"


"Hmmm...." sambil membaca cover amplop yang tertulis atas nama pengirim disisinya.


Surat yang dibungkus dengan sebuah amplop besar dan isinya terdiri dari beberapa lembar surat.


Saat ku baca surat tersebut, ternyata itu pengumuman bahwa aku diterima di salah satu perguruan tinggi. Yang beberapa bulan sebelumnya aku didaftarkan oleh pihak sekolah untuk seleksi masuk perguruan tinggi negeri.


"Ya ampun Bu, ini kan surat dari Kampus.... Alhamdulillah bu aku diterima...." dengan senyum yang mengembang dibibirku.


Sontak aku kegirangan ketika membacanya. Lalu aku memberikan kabar kepada temanku, bahwa aku telah diterima. Tak lupa juga memberikan kabar kepada guru-guru.


Dalam pernyataan pihak perguruan tinggi tersebut, aku harus mendaftar ulang ke kampus berdasarkan tanggal yang telah ditentukan. Aku telah merencanakan untuk datang kesana.


Namun, ada pertimbangan dari kedua orangtuaku kalau misalnya aku kuliah disana terlalu jauh. Paling tidak aku pasti akan ngekos disana dan tidak mungkin setiap minggu pulang. Kenapa pertimbangan itu jadi bikin aku sedih, sepertinya orangtua mengkhawatirkan aku. Bagaimana bisa aku pergi kuliah, sedangkan orangtuaku tak rela jika anaknya berada jauh.


Saat itu aku galau, entahlah harus berbuat apa. Keputusan memang ada di pihak aku sendiri, namun aku memikirkan hati orangtua yang tak rela seperti itu.


Saat itu aku tak pernah datang ke sekolah, aku takut guruku kecewa terhadapku.


Dan keputusanku adalah....

__ADS_1


Tidak melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri impianku. Aku melawan egoku demi kedua orangtuaku.


Perguruan tinggi negeri itu adalah salah satu impianku. Aku sangat ingin berkuliah disana, jurusannya sudah tepat untukku.


Tuhan kenapa jalan takdirku seperti ini. Aku merenungi nasibku berhari-hari sampai tak ingin makan rasanya.


Sudah gagal memperjuangkan cinta, gagal pula memperjuangkan cita-cita.


Lara.... Lara.... sungguh selalu dalam kelaraan hatiku ini.


***


Aku harus berdamai dengan egoku.


Pelan-pelan aku mulai membuka mata hatiku. Aku harus ikhlas menerima kenyataan ini. Hidup tak selamanya mulus, kadang harus melalui ujian semacam ini. Umurku saat itu belum genap 17 tahun, masih sangat labil bagiku memutuskan suatu masalah.


Dengan hati yang ikhlas aku mulai membuka pesan dari kak Ardian atau Iyan. Sosok yang selama ini memotivasi diriku agar lebih baik, bukankah dari awal aku telah mengenalnya dengan baik.. Maka inilah saatnya berpisah dengan baik-baik. Aku tak mau ada dendam dengannya, pokonya saat itu aku ingin menerima keputusannya.


"Assalamualaikum... Maaf baru bisa balas, karena aku butuh waktu buat nenangin diri aku. Keputusan Kaka mungkin membuat aku kecewa, tapi aku harus ikhlas. Kaka benar aku berhak bahagia, namun selama ini mengenal kak Ardian adalah salah satu alasan bahagiaku. Kalo memang Kaka ga mau aku tunggu lagi, aku bakal nurut kok. Kaka juga berhak bahagia, semoga disana Kaka menemukan cewek yang terbaik. Dan Kaka bisa fokus meraih cita-cita Kaka. Semoga sukses ya kak"


Cukup sampai disini. Sudah selesai tugasku untuk menunggunya. Padahal perjuanganku belum sampai tiga tahun lamanya.


Namun dia sudah memutuskan untuk "jangan ditunggu", apa mungkin jarak dan waktu tak menjanjikan seseorang untuk tetap bertahan. Tapi sesungguhnya didalam hatiku masih tetap ada namanya, tak mudah bagiku melepaskan seseorang yang sudah dua tahun bersamaku. Walau hanya berkomunikasi lewat pesan atau chat Facebook. Aku akan tetap menjadi sosok Lara yang dia kenal, tak akan pernah berubah.


Aku tetap berprasangka baik terhadap kak Ardian. Dia memang pernah berkata padaku tak mudah dekat dengan seorang cewek. Jadi tak mungkin jika dia meninggalkan aku demi cewek lain, mungkin saja memang karena dia tak ingin aku terlalu lama menunggu.


Ada satu lagu yang membuat aku teringat sampai saat ini.


***Pergi lah kasih...


Kejarlah keinginanmu


Selagi masih ada waktu


Jangan hiraukan diriku


Aku rela berpisah demi untuk dirimu


Semoga tercapai segala keinginanmu***


#############################


Happy reading gaes😊


Selamat berbaper riaa di episode ini😭


Kasih like dan vote ya❤️


Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2