Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
Merasa Tak Asing


__ADS_3

Windia menundukkan kepala menahan tangis. tubuhnya sampai bergetar hebat saat menyadari dan mendengar dirinya Dina seperti itu. Jangan Ditanya, sakitnya seperti apa, yang jelas sakit sekali.


Sementara Denis yang tengah duduk di kursi penonton, menatap sinis ke arah Windia. sudut bibirnya terangkat. membentuk senyuman sinis Seraya menatap wanita yang ada di sebelahnya itu.


" jangan keluarkan air mata buayamu itu, kau sendiri kan yang mau masuk ke dalam duniaku. jadi jangan salahkan aku jika aku menghinamu. karena kau memang tak pantas berada di sini," bisiknya Seraya tersenyum mengejek.


Windia yang mendengarnya seketika menoleh ke arah Denis dengan linangan air mata yang membasahi pipi.


" Sudah gue bilang, lu nggak usah nangis. jelek tau nggak!" bentak Denis dengan nada tertahan. Karena isinya tak ingin image selama ini terbongkar begitu saja.


tak lama berselang, pundak Denis seperti ada yang menepuk dari belakang. sontak saja, laki-laki itu segera menoleh.


" Latika, Sejak kapan ada di sini?" tanya Denis Seraya bangkit dari duduknya kemudian menghampiri wanita itu.


Begitupun dengan Windia wanita cantik itu juga ikut menoleh ke belakang. hatinya sedikit merasa nyeri saat melihat sang suami sedang cipika cipika di hadapannya.


Windia tahu memang Denis tak mencintainya. namun Bisakah laki-laki itu menghargai dirinya sedikit saja.


Windia segera mengusap air matanya. dirinya sadar diri Karena dirinya, memang bukan siapa-siapa. tak lama berselang, ada seorang laki-laki tampan yang tiba-tiba saja duduk di sampingnya.


hal itu tentu saja membuat Windia seketika menoleh. Betapa terkejutnya dirinya saat menyadari siapa laki-laki itu.


" Darius, Kenapa kamu ada di sini?" Tanyain dia dengan polosnya.


Hal itu tentu saja membuat laki-laki yang bernama Darius itu tersenyum ke arahnya." tentu saja untuk menghadiri acara fashion show, Ya kali gue ke sini mau kondangan" ucapnya Seraya terkekeh kecil.


Windia yang mendengarnya, juga ikut tersenyum tipis. Kemudian, Darius duduk di sebelahnya." kau ke sini sama siapa?" tanya laki-laki Tampan itu.


Sejenak Windia terdiam. dirinya bingung untuk menjawab pertanyaan dari laki-laki yang ada di sampingnya itu. Jika dirinya menjawab adalah istrinya, Windia takut jika laki-laki kejam yang menjadi suaminya itu akan menghukumnya.


Akhirnya setelah berpikir cukup lama, Windia memutuskan untuk mengaku menjadi pelayannya Denis saja. toh juga dirinya diperkenalkan hanya sebagai pelayan.

__ADS_1


" Oh aku di sini sama Tuan Denis Ricardo." kecapnya tersenyum tipis. hal itu sontak saja membuat Darius yang mendengarnya seketika membulatkan mata.


" kau bekerja pada Tuan Denis,?" tanya Darius akan tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Windia yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala saja.


" Oh pantas saja, tadi aku seperti Tak asing pada siapa orang yang bersama Tuan Denis. ternyata itu kamu" ucap Darius Seraya tersenyum tipis.


Kemudian mereka berbincang-bincang seperti biasa. ya Darius dan Windia adalah dua orang yang saling mengenal di masa lalu.


Karena mereka sempat bersekolah di sekolah yang sama. dan sempat juga mereka menjalin hubungan asmara.


Walaupun hubungan mereka harus Kandas karena keduanya Tak Direstui oleh keluarga masing-masing. Terutama keluarga Darius. karena memandang sebelah mata.


Hal itulah yang memutuskan Darius akhirnya membuka perusahaannya sendiri dan mengelolanya dari bawah.


Dirinya merasa jika kedua orang tuanya sudah sangat keterlaluan. Mereka dengan seenaknya mengatur hidup Darius. hingga akhirnya laki-laki Tampan itu sepakat untuk memulai semua dari awal dengan Mandiri.


hingga akhirnya Darius mendapati wanita yang dulu ia cintai dan menetap di hatinya, kini berada persis di sebelahnya.


" Oh ya Gimana keadaan dari Paman Edward?" tanya Darius dengan menatap ke arah Windia. Gadis itu membalas dengan senyuman tipis.


" Ayah sudah membaik kok, Terima kasih ya atas perhatiannya." ucapnya Seraya mengulas senyum tipis. dan tanpa sadar, tangan lentik Windia mengelus pundak Darius.


hal itu tentu saja membuat keduanya terkejut. dan dengan cepat, Windia menundukkan kepala karena merasa malu.


Dirinya merutuki kebodohan yang baru saja dirinya lakukan." hais Windia bisa-bisanya kamu melakukan itu"rutuknya penuh sesal.


Sementara Darius yang menyadari itu, tersenyum tipis. Dirinya masih berharap jika wanita yang ada di hadapannya itu masihlah Windia yang dulu. yang mencintainya dengan sepenuh hati.


****

__ADS_1


Sementara itu di lain tempat, tampak seorang laki-laki terlihat Tengah mengeram kesal. siapa lagi jika bukan Denis.


Hal itu membuat Latika yang tengah duduk di sampingnya, juga ikut memperhatikan gerak-gerik dari Windia.


" Apakah kau cemburu?" tanya Latika dengan ekspresi wajah jahilnya. hal itu tentu saja membuat Denis seketika menoleh ke arah yang Mantan Kekasih.


" ah Untuk apa aku cemburu, dia itu bukan siapa-siapa aku. kita itu menikah karena terpaksa." ucap Denis acuh tak acuh.


Mendengar hal itu, Latika hanya bisa terkekeh kecil." Aku harap, kau jujur dengan perkataanmu itu. kau masih ingat kan kita kita akan menikah setelah wanita itu memberikan keturunan pada momymu,?" tanya Latika bermaksud untuk mengingatkan.


Seketika itu pula Dennis yang mendengarnya segera menoleh ke arah Latika Seraya tersenyum misterius." Tentu saja aku ingat, maka dari itu setelah ini wanita sialan itu pasti akan mendapatkan hukuman dariku." ucap Denis Seraya menatap tajam ke arah Windia dan juga Darius.


Mendadak tubuh Latika menjadi gemetar. Karena mendapati senyuman Denis yang sangat mengerikan.


" Jangan bilang kau mau mempraktekkan kegiatanmu dulu?" tanya Latika sedikit takut.


Denis yang melihat raut wajah dari mantan kekasihnya itu, seketika terbahak." hahaha kamu tenang aja kali Latika. itu urusanku. lagi pula, Bukankah kamu sangat membenci wanita itu? ingat gara-gara dia kita batal menikah!" ucapnya dengan kilatan penuh amarah.


Setelah mengatakan hal itu, Denis segera bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekati Windia dan juga Darius yang sedang asyik berbincang-bintang dan sesekali tertawa itu.


Ekhem


Denis berdehem cukup kuat. hingga membuat atensi pendengaran Darius dan juga Windia teralihkan. dan seketika itu pula, wajah Windia menjadi pucat Pasi karena melihat ekspresi wajah dari laki-laki psikopat itu.


" Halo Tuan Darius Atmaja, Kebetulan sekali kita bertemu di sini? Bagaimana apa semua baik-baik saja?" tanya Denis Seraya menjabat tangan Darius.


" Tuan Denis Ricardo, Anda juga apa kabar Bagaimana semua perusahaan yang anda kelola baik bukan?" ucapnya ikut berbasa-basi.


Denis yang mendengarnya tersenyum penuh arti Seraya menatap sinis ke arah Windia." tentu baik Tuan, Oh ya ngomong-ngomong dia siapa Anda mengenalnya?" tanya Denis mencoba mengulik.


Darius yang mendengarnya, tersenyum tipis Seraya menatap ke arah Windia." dia adalah gadis yang pernah aku ceritakan dulu tuan. dan sekarang, aku menemukannya." ucap Darius tersenyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2