Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
Semakin Menjadi


__ADS_3

Satu Minggu kemudian,.....


hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Denis dan juga Latika. karena, hari ini mereka akan melangsungkan pernikahan secara besar-besaran. Bahkan, Denis mengundang pemuka agama yang terbaik di kota itu.


Seakan dirinya ingin memperlihatkan jika ini adalah pernikahan pertamanya. Karena pernikahannya dengan Windia dahulu, tidak ada orang yang tahu. karena mereka, hanya datang ke kantor sipil saja.


Setelah prosesi pernikahan inti berlangsung, Denis dan juga Latika digandeng oleh kedua orang tua masing-masing untuk memasuki sebuah ballroom yang telah dihias secantik mungkin. Untuk digunakan sebagai acara resepsi.


hal itu membuat seseorang yang berada di sana, menangis dengan sesenggukan. Bahkan, air matanya mengalir Semakin menjadi.


"kau harus kuat Windia, Kau harus kuat." ucapnya Seraya menyemangati diri sendiri. terlihat sesekali Windia mengelus. karena menahan rasa sesak yang teramat sangat akibat dirinya menahan tangis.


" Wah Bro selamat ya, akhirnya kau dan Latika menikah juga." ucap salah satu teman Denis yang segera menghampiri kedua mempelai yang tengah Bahagia itu.


Denis yang melihat dan mendengarnya, segera menyambut uluran tangan kawan karibnya itu. dengan melakukan salaman ala pria." Terima kasih ya, Aku kira kau tidak akan datang," ucap Denis Seraya kembali ke posisi awal. yaitu, berdampingan dengan sang istri.


" iya Mana mungkin aku tidak datang, apalagi ini kan momen yang paling membahagiakan untukmu kan," ucapnya Seraya menatap ke arah Latika yang tampak begitu Anggun dan menawan dengan balutan gaun pengantin.


Sementara Latika yang dipandang oleh teman dari suaminya itu, hanya tersenyum tipis. tak lama berselang, semua tamu undangan pun telah selesai dengan proses memberi selamat.


Akhirnya tiba juga waktu yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. yaitu acara dansa dan juga wawancara eksklusif dari stasiun TV terkenal di negara A.


alunan musik yang begitu Syahdu dan menenangkan segera terdengar di indra pendengaran semua orang. Hal itu membuat satu persatu tamu undangan, segera naik ke atas panggung bersama kedua pengantin. Karena, mereka akan melakukan prosesi dansa yang begitu romantis.


" sayang, kamu nggak mau ngajak istrimu gitu untuk dansa bersama kita?" tiba-tiba saja Latika melontarkan pertanyaan konyol.


Hal itu tentu saja membuat Denis menautkan alis karena merasa heran dengan tingkah istri kesayangannya itu." astaga! kau bicara apa si Latika" tanya Denis dengan ekspresi wajah herannya.


" Iya aku kan cuma bertanya, Siapa tahu istrimu itu juga ingin dansa. dia kan tidak pernah berdansa seperti ini sebelumnya" ucap Latika penuh dengan makna dan muslihat.

__ADS_1


" nggak usah ikut-ikutan, udahlah lebih baik kita lanjutin aja dansanya." ucap Denis tampak tidak suka jika Latika membahas tentang Windia.


hal itu tentu saja membuat Latika yang mendengarnya, tersenyum smrik. Akhirnya mereka berdua Kembali Berdansa dengan mesra. dan bahkan sesekali, mereka melakukan kissing di depan orang banyak.


hal itu tentu saja membuat semua tamu undangan ikut merasakan kebahagiaan yang telah dirasakan oleh Dennis dan juga Latika.


Namun sepertinya itu tidak berlaku untuk segelintir orang yang ada di sana. siapa lagi jika bukan Windia, Vega dan juga Robert. Karena, mereka bertiga sama-sama merasa muak dengan apa yang ada di hadapannya.


" Astaga Pah, berani-beraninya Denis melakukan ini." ucap Vega dengan nada geramnya. Karena memang, wanita paruh baya itu sedari awal tidak menyukai gadis yang bernama Latika Bella itu.


Entahlah namun yang jelas, Vega sama sekali tidak merasakan kecocokan saat bersama dengan gadis itu. Padahal, Latika pernah tinggal satu atap dengan Vega. saat gadis itu sedang menjalin hubungan dengan Denis. Namun, Vega tak pernah mendapati kecocokan itu.


Berbeda dengan Windia. Walaupun, Vega baru pertama kali melihat gadis itu, namun dirinya sangat yakin jika Windia bisa mengubah sifat dari Putra tunggalnya itu.


Namun, kenyataannya sungguhlah berbeda. karena ternyata Denis, malah tetap menikahi Latika. dan menggelar pesta yang cukup meriah.


Karena sama seperti Vega sang istri, Robert pun sebenarnya tidak menyukai gadis yang bernama Latika Bella itu. Walaupun Gadis itu berasal dari keluarga ternama. namun Entah mengapa, laki-laki paruh baya itu tetap tidak suka.


****


Kini, pesta yang sangat meriah itu pun Usai. para tamu undangan pun, satu persatu mulai pergi meninggalkan ballroom hotel tempat diadakannya pernikahan itu.


Hingga hanya tersisa keluarga besar Latika dan juga keluarga besar dari Denis. di antara dua keluarga itu, ada seorang wanita lansia yang tak lain adalah nenek dari Denis.


hal itu semakin membuat Windia marah nanti kucilkan. Karena, waktu pernikahannya dengan Denis kemarin, wanita sepuh itu tidak ada.


" apa memang nenek Maria tidak merestui hubungan pernikahan antara aku dan Denis?" tanya Windia menerka-nerka.


Perasaan minder pun semakin menjadi. Kala melihat keakraban yang ditunjukkan oleh nenek Maria terhadap Dennis dan juga Latika.

__ADS_1


" nanti akan Mommy Jelaskan ke kamu semuanya." tiba-tiba saja, pundak Windia ditepuk oleh seseorang yang tak lain adalah Vega Ibu mertuanya.


Mendengar hal itu, Windia segera mengulas senyum tipis, kemudian menganggukkan kepala., mereka akan kembali ke rumah masing-masing.


"eh, dia siapa?" tanya Nenek Maria seraya menunjuk ke arah Windia. Hal itu membuat semua orang juga ikut menatap kearah yang di tunjuk oleh Nenek Maria.


"Oh dia anak pembantu di rumah Denis Nek, Ya udah yuk kita pergi aja Dari sini." ucap Denis Seraya menarik tangan nenek Maria.


Sakit


Rasa itu sudah pasti ada saat suaminya sendiri mengatakan jika Windia adalah anak dari pembantu di rumahnya.


Rasanya hatinya semakin menjadi lebih hancur saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut laki-laki yang tak lain adalah Ayah dari anaknya itu.


Akhirnya mereka semua benar-benar pulang dari hotel tempat pesta berlangsung. Sebenarnya, Vega sudah memberikan usul agar Windia pulang bersamanya.


Namun, Windia dengan bersikeras ingin pulang bersama suaminya. walau bagaimanapun, dirinya tetaplah seorang istri yang harus melayani semua kebutuhan suaminya. Walaupun, saat ini posisinya telah diganti oleh Latika.


Entahlah, Apakah Windia sanggup atau tidak untuk menjalani hari-harinya Satu Atap bersama wanita lain. yang tak lain adalah istri baru dari suaminya.


****


Sesampainya di rumah, Denis segera melemparkan koper ke hadapan Windia. Dengan menggunakan kata-kata kasar seperti biasa.


"hei, wanita Mur4h4n! cepat bawakan koper istriku ke kamar kami." ucapnya dengan nada sombong.


Hal itu membuat Windia segera melaksanakan perintah dari laki-laki kejam itu. Namun, langkahnya terhenti saat kembali mendengar ucapan dari Denis.


" mulai saat ini, kamarmu berada di lantai bawah di ruangan belakang." lanjutnya Seraya kembali merangkul pundak Latika dengan mesra.

__ADS_1


__ADS_2